NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJAGANYA

Sore itu, setelah luka-luka Angkasa bersih dan sudah diobati, Pak Bimo dan Bu Saras sama sekali tidak mengizinkan pemuda itu pulang. Mereka berdua sudah tahu betul kondisi kehidupan Angkasa,sendirian di rumah besar yang sepi, tanpa sanak saudara, tanpa siapa pun yang akan mengurus atau sekadar mengecek keadaannya kalau-kalau ada apa-apa. Melihat luka di lengan dan bibir Angkasa yang cukup parah, mereka tidak tega membiarkan pemuda itu kembali ke kesendiriannya.

"Angkasa, kamu nginap di sini aja dulu ya," kata Pak Bimo dengan nada tegas namun penuh kelembutan, tidak memberi ruang untuk menolak.

"Sampai lukamu benar-benar sembuh dan pulih total . Di belakang ada kamar tamu, bersih dan lengkap fasilitasnya. Daripada kamu di rumah sendirian, kalau sakit atau butuh apa-apa susah, lebih baik di sini sama kami."

Bu Saras mengangguk setuju sambil merapikan peralatan obat-obatan di meja. "Betul kata Bapak. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri. Kami sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri, masa iya kami biarkan kamu sakit sendirian? Gak usah mikirin apa-apa, istirahat saja."

Angkasa menatap mereka dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dan menurut. Di dunia ini, selain mendiang orang tuanya, baru Pak Bimo dan Bu Saras yang begitu tulus memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Menolak rasanya sama saja menolak kasih sayang yang begitu hangat.

"Matur suwun sanget, Pak, Bu. Angkasa minta maaf kalau merepotkan sekali," jawab Angkasa sopan.

Malam pun tiba. Angkasa beristirahat di kamar tamu yang letaknya agak terpisah sedikit dari kamar utama keluarga itu. Awalnya rasa sakit di lengan dan bibirnya terasa biasa saja, tapi seiring malam semakin larut, tubuh Angkasa mulai merasakan perubahan. Tulang-tulangnya terasa ngilu luar biasa, kepalanya terasa berat berdenyut, dan suhu tubuhnya perlahan meninggi. Efek dari luka lecet yang cukup luas dan guncangan saat jatuh tadi akhirnya bereaksi.

Namun, karena pintu kamarnya tertutup dan letaknya agak jauh, Pak Bimo, Bu Saras, maupun Arum sama sekali tidak tahu kondisi Angkasa yang makin memburuk itu. Mereka semua mengira Angkasa hanya butuh istirahat dan tidur nyenyak seperti biasa.

Pagi pun datang. Matahari sudah bersinar terang, menembus celah jendela-jendela rumah. Bu Saras yang sedang sibuk di dapur memanggil Arum yang baru selesai merapikan diri.

"Arum... Nak, tolong bangunkan Angkasa ya di kamar tamu. Suruh dia cuci muka dulu, terus suruh ke sini buat sarapan. Masakan bunda sudah jadi semua nih," perintah Bu Saras sambil mengaduk masakannya.

Arum mengangguk patuh, lalu berjalan santai menuju kamar tamu di bagian belakang rumah. Hatinya sedikit berdebar. Semalam ia susah tidur karena terus memikirkan keadaan Angkasa. Di depan pintu kayu itu, Arum mengetuk pelan tiga kali.

Tok... tok... tok...

"Mas Angkasa... Mas Angkasa... sudah pagi, ayo bangun Mas, sarapan," panggil Arum lembut.

Namun hening. Tidak ada jawaban, tidak ada suara langkah kaki, sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.

Arum mengerutkan kening bingung. Ia mengetuk lagi sedikit lebih keras dan memanggil lebih lantang. Tetap saja sunyi senyap. Perasaan cemas mulai menjalar di hati Arum. "Ada apa ya? Biasanya kalau dipanggil pasti langsung jawab..." batinnya khawatir.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arum mencoba mendorong daun pintu itu. Ternyata pintu itu tidak dikunci, terbuka pelan menampakkan suasana kamar yang masih agak remang karena tirai jendela tertutup rapat.

"Mas Angkasa?" panggil Arum lagi pelan sambil melangkah masuk.

Di atas tempat tidur, Angkasa masih terbaring telentang dengan posisi yang sama seperti semalam. Selimut menutupi sampai dada, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Wajahnya tampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Arum mendekat perlahan, rasa khawatirnya makin menjadi-jadi. Ia berniat menggoyangkan bahu Angkasa pelan untuk membangunkannya, tapi saat tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Angkasa yang tergeletak di luar selimut...

Arum langsung menarik tangannya sedikit karena kaget. Panas. Tangan itu terasa sangat hangat, bahkan hampir panas menyengat. Dengan cepat Arum menempelkan punggung tangannya ke jidat dan pipi Angkasa. Benar saja, tubuh pemuda itu panas luar biasa. Angkasa demam tinggi.

"Ya ampun... Mas Angkasa!" Arum langsung berbalik badan, berlari kecil keluar kamar dengan wajah pucat pasi. Ia bergegas menuju ruang tengah tempat orang tuanya duduk menunggu.

"Yah... Bun... Mas Angkasa demam! Badannya panas banget, dia nggak bangun-bangun!" seru Arum dengan napas terengah-engah dan mata berkaca-kaca karena panik.

Pak Bimo dan Bu Saras langsung bangkit berdiri kaget. Mereka bertiga segera bergegas masuk ke kamar tamu itu. Benar dugaan Arum, saat Pak Bimo mengecek suhu tubuh dan membuka selimut sedikit, terlihat jelas kalau kondisi Angkasa sedang tidak baik-baik saja. Kulitnya kemerahan, napasnya berat, dan sesekali bibirnya bergerak-gerak seolah berbicara sendiri.

"Bun... lihat ini, dia mengigau," bisik Pak Bimo pelan.

Mereka mendekatkan telinga ke bibir Angkasa yang kering. Suara lirih dan serak terdengar samar dari mulut pemuda itu.

"Bu... Pak... dingin... badan Angkasa sakit... Bu... Pak..." Angkasa bergumam tidak jelas, matanya terpejam rapat namun wajahnya terlihat sangat sedih dan merindukan.

Mendengar itu, hati Arum langsung perih sekali. Mungkin semasa orang tuanya masih hidup, kalau Angkasa sakit atau demam begini, pasti ibunya yang akan mengompres keningnya, ayahnya yang akan membuatkan obat.

Bu Saras ikut meneteskan air mata melihat pemuda gagah dan tegar ini terbaring lemah, merindukan pelukan orang tuanya. Pak Bimo mengusap dadanya pelan, merasa sangat iba.

"Kasihan sekali dia... rindu orang tuanya," gumam Pak Bimo pelan. Tanpa menunggu lama, Pak Bimo langsung mengambil ponselnya.

"Bun, Arum, kalian urus dulu di sini ya. Ayah telepon Dokter Rina, suruh datang ke sini sekarang juga. Nggak enak kalau dibiarkan demam begini."

Tak lama kemudian Dokter Rina datang. Ia memeriksa suhu tubuh, memeriksa luka di lengan dan bibir Angkasa, serta mendengarkan napas dan detak jantungnya. Setelah pemeriksaan singkat itu, Dokter Rina berdiri dan menatap ketiga orang yang menunggu dengan cemas itu.

"Tenang saja, Pak, Bu. Demam ini reaksi wajar dari tubuhnya karena infeksi ringan pada luka lecetnya, ditambah guncangan fisik pas jatuh kemarin. Makanya suhunya naik cukup tinggi. Nanti saya kasih resep obat penurun panas dan antibiotik. Dijaga kebersihan lukanya, rutin diminumkan obatnya, insyaallah besok atau lusa sudah membaik," jelas dokter itu tenang.

Setelah dokter pamit pulang, Pak Bimo langsung berpamitan juga. "Ayah ke apotek dulu ya, nebus obatnya. Arum, kamu temani dan jaga Mas Angkasa di sini ya. Kompres terus keningnya pakai air hangat atau air biasa saja, biar suhunya turun."

Bu Saras mengangguk, lalu menatap Arum dengan tatapan penuh arti dan kepercayaan. "Iya, yah. Arum, kamu sini dulu sebentar."

Arum mendekat. Bu Saras berbisik pelan, "bunda ke dapur dulu bikinin bubur ayam hangat sama teh manis. Nanti kalau buburnya sudah jadi dan ayah belum pulang, kamu yang suapi ya Angkasa. Kalau nanti dia bangun, suruh makan sedikit dulu biar ada isi perutnya, baru minum obat nanti kalau obatnya sudah ada. Paham?"

Arum mengangguk mantap, meski ada rasa malu sedikit membayangkan harus menyuapi Angkasa, tapi rasa khawatir dan sayangnya jauh lebih besar. "Siap Bu, Arum ngerti. Arum jaga di sini."

Pak Bimo pun berangkat naik sepeda motor ke apotek terdekat. Bu Saras bergegas ke dapur menyelesaikan masakannya. Kini tinggal Arum sendirian menemani Angkasa di kamar itu. Arum mengambil kain lap bersih, merendamnya di air hangat yang sudah disiapkan ibunya, lalu memerasnya hingga kering.

Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, Arum mengompres kening, leher, dan lipatan-lipatan tangan Angkasa. Ia duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, matanya tak lepas menatap wajah Angkasa yang masih terpejam.

Tak lama berselang, Bu Saras masuk kembali membawa nampan berisi mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas, segelas teh manis hangat, serta sendok dan piring kecil. Aroma gurih bubur memenuhi ruangan.

"Ini Arum, buburnya sudah jadi.Nanti kalau dia bangun, bangunkan pelan-pelan, terus suapi. Biar ada tenaga," kata Bu Saras sambil menaruh nampan di meja samping tempat tidur.

"Ibu ke bawah dulu ya, nunggu Ayah pulang. Panggil Ibu kalau butuh apa-apa."

"Siap Bu, makasih ya," jawab Arum pelan.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!