NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 ABSEN 5, NYAWA ENAM

Jam 9 pagi. Ruang rektorat.

Kami berlima duduk berjejer. Kaku. Di depan kami ada Bu Rektor, Pak Dekan, sama... satu orang tua.

Paklik Joyo.

Tapi beda. Paklik Joyo yg ini lebih tua. Lebih kurus. Matanya buta sebelah. Pake blangkon, bawa tongkat.

“Ini Paklik Joyo... yg asli,” bisik Rendi. “Kuncen Desa Larangan.”

Terus yg nolongin kami di sumur siapa?

Bu Rektor batuk. “Jadi begini. Pak Kuncen ini datang subuh tadi. Jalan kaki dari desa. Beliau bilang... ada satu mahasiswa kalian yg belum pulang dari Desa Larangan.”

Kami berlima langsung noleh. Hitung lagi. Satu, dua, tiga, empat, lima. Lengkap.

“Maaf, Pak,” kataku. “Kami pulang berlima. Lengkap. Mungkin Bapak keliru...”

Paklik Joyo yg buta sebelah itu ketok-ketok tongkatnya ke lantai. Tuk. Tuk. Tuk.

“Yg pulang memang lima,” suaranya berat, serak. “Tapi yg berangkat tujuh. Yg kembali... enam.”

Dingin. AC rektorat serasa jadi kulkas.

Bu Rektor buka map. “Menurut data, tim KKN Desa Larangan ada 7 orang. 1. Rendi, 2. Bayu, 3. Dina, 4. Fajar, 5. Sinta, 6. kamu,” dia nunjuk gue, “7. Ardi Prakasa. Betul?”

Betul.

“Di laporan kalian, Ardi dinyatakan hilang. Hanyut di sungai. Jenazah belum ketemu.” Bu Rektor menatap kami tajam. “Tapi Pak Kuncen bilang, Ardi... pulang. Kemarin sore. Naik mobil bareng kalian.”

JEDER.

Sinta langsung nangis. Dina genggam tangan Fajar kenceng. Bayu pucat.

Kami yg lihat Ardi di mobil. Di foto DM. Di seberang jalan.

“Pak...” Rendi coba ngomong. “Ardi itu...”

“Ardi itu tumbal pertama,” potong Paklik Joyo. “Tiga belas hari yg lalu. Ditarik ke sumur. Dicatat di Lonceng Kyai Setan Kober. Namanya udah jadi milik Gerbang.”

Bu Rektor keningnya berkerut. “Maksud Bapak?”

Paklik Joyo menatap kosong ke arah kami. Walau buta sebelah, rasanya dia lihat tembus.

“Maksud saya, Bu... anak ini,” dia nunjuk ke gue, “sama empat kawannya... bawa pulang sesuatu yg harusnya mati. Mereka pecahin lonceng. Bebasin tumbal. Tapi ada aturan.”

Dia diam sebentar. Napasnya berat.

“Aturan Kuncen pertama: Saksi yg lihat lonceng pecah, tidak boleh pulang dengan nama lengkap. Harus ada yg ditukar. Nyawa ganti nyawa.”

Nyawa ganti nyawa.

“Terus siapa yg ikut kami, Pak?” tanyaku. Suara gue udah geter.

Paklik Joyo menunjuk ke belakang kami. Ke arah pintu rektorat.

Kami berlima noleh bareng.

Di kusen pintu, berdiri Ardi.

Pake kaos KKN rombeng. Rambut gondrong. Nunduk. Persis kayak yg gue lihat semalem di seberang jalan.

Tapi... tembus pandang. Bening. Kayak asap.

Bu Rektor sama Pak Dekan diem aja. Mereka... tidak lihat.

Cuma kami berlima yg lihat.

Ardi angkat kepala pelan. Senyum. Bibir hitam, mata cekung. Dia lambaikan tangan.

Lalu dia ngomong. Tidak ada suara. Tapi kami denger di kepala.

“Akhirnya... kalian jemput aku...”

Dina pingsan. Bruk. Jatuh dari kursi.

Ruangan rektorat mendadak heboh. Pak Dekan manggil UKS. Bu Rektor panik.

Di tengah heboh, Paklik Joyo mendekat ke gue. Bisik-bisik. Cepat.

“Le, rungokno. Ardi ora bali dadi menungso. Dheweke bali dadi Penagih. Gantine Mbak Dewi. Soale gerbang ditutup, tapi kutukane ora ilang. Butuh Sipir anyar.”

Gue merinding. “Terus... terus gimana, Pak?”

“Penagih butuh lima nyawa. Nggo nambal lima tumbal seng dibebaske kalian. Kalian berlima... saiki dadi tumbal gentenan.”

Lima tumbal. Kurang lima. Balik lagi ke kalimat pertama Mbak Dewi.

Paklik Joyo narik napas. “Carane mungkasi? Salah siji koen berlima kudu gelem dadi Kuncen. Nunggu gerbang 10 tahun. Yen ora... Ardi bakal njupuk siji-siji. Saben purnama.”

Purnama depan... 27 hari lagi.

Paklik Joyo pamit. Dia jalan pincang keluar, ninggalin kami sama rektorat yg chaos.

Sinta udah sadar. Nangis di pojokan. Bayu muntah. Fajar diem, tatapannya kosong. Rendi genggam tangan gue kenceng sampe sakit.

“Jadi...” suara Rendi serak. “Kita tinggal nunggu... siapa yg dijemput pertama?”

Aku lihat ke pintu. Ardi udah hilang.

Tapi di lantai, ada jejak basah. Jejak kaki. Dari pintu... menuju ke arah Sinta.

Berhenti tepat di depan sepatu Sinta.

Tung...

Suara kenong. Pelan. Dari HP Sinta yg geletakan di lantai.

Padahal HP-nya mati. Dari semalem.

Sinta ambil HP-nya, gemeter. Layarnya nyala sendiri.

Ada notifikasi. Kalender.

“Pengingat: Purnama. 27 hari lagi.”

Dibawahnya ada tulisan tangan. Tulisan Ardi.

“Giliran pertama: S.”

S. Sinta.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!