NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaget nikah 4

Dua bulan kemudian.

Akhirnya, setelah menjalani perkenalan yang sangat singkat, aku pun dengan penuh keyakinan menerima perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua orang tua kami. Dan tepat dua bulan dari awal pertemuanku dengan Samudra, aku melangsungkan pernikahanku dengannya, pernikahan yang sangat didambakan oleh Ibu selama ini.

Aku menangis haru melihat kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah kedua orang tuaku saat ini. Setidaknya aku bisa membuat mereka bahagia dengan pernikahanku ini.

Resepsi pernikahan dirayakan dengan sederhana, hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat saja. Aku tidak mempermasalahkan itu, sebab aku sendiri juga tidak terlalu suka yang berlebihan. Bagiku, semua ini sudah lebih dari cukup.

Seperti biasa, Samudra selalu tersenyum. Entah karena dia benar-benar bahagia atau karena Samudra memang orangnya seperti itu: selalu murah senyum, ramah, dan bersahaja. Entahlah, aku tidak tahu, dan aku tidak peduli akan hal itu. Setidaknya untuk saat ini, yang terpenting adalah aku sudah bisa memenuhi keinginan terbesar kedua orang tuaku, yaitu menikah.

Akhirnya selesai juga resepsi yang melelahkan ini. Tidak terbayang bagaimana pasangan-pasangan yang merayakan pernikahannya dengan begitu meriah, bahkan sampai berpesta berhari-hari. Pasti seribu kali lebih melelahkan dari ini. Aku saja baru seperti ini sudah sangat kelelahan.

Selesai resepsi, aku pulang ke rumahku. Rencananya, baru besok aku akan dibawa pulang oleh Samudra, karena aku belum menyiapkan apa pun. Dan ini adalah malam pertama aku akan tidur bersama seorang laki-laki. Ya Tuhan... Tiba-tiba jantungku berdebar tidak karuan, menyadari kalau saat ini aku telah berstatus sebagai seorang istri, dan itu artinya...

"Argh..." gerutuku sambil menutupi wajah dengan kedua tanganku sendiri.

"Kamu kenapa, Ras?" tanya Samudra yang tanpa kusadari sudah ada di sebelahku, membuatku sangat terkejut.

"Tidak apa-apa, Mas, aku cuma kecapekan saja. Sepertinya aku mau mandi dulu," kataku, berusaha menyembunyikan kegugupanku sendiri.

Aku langsung ke kamar mandi, melepas pakaian, dan langsung menyiram tubuhku dengan air dingin. Pikiranku tetap saja tidak menentu. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak. Entahlah bagaimana aku harus bersikap. Aku bahkan tidak berpengalaman sama sekali. Aku telah menjadi istri, tapi begitu tidak mengerti tentang apa pun, atau lebih tepatnya belum siap sepenuhnya mendalami peran baruku ini.

Aku memasuki kamarku. Lagi-lagi aku dibuat terkejut karena mendapati Samudra tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku. Aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya, dan bodohnya lagi aku masih belum sadar jika Samudra telah menjadi suamiku.

Aku mendekatinya, tapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya aku hanya memandanginya saja. Samudra menyadari kehadiranku. Dia pun kemudian duduk dan mengajakku duduk di sampingnya. Ya Tuhan, jantungku serasa mau melompat dari tempatnya ketika Samudra meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Jangan sekarang, aku belum siap." Spontan kata-kata itu meluncur dari mulutku. Samudra malah terkekeh mendengar ucapanku. Aku jadi malu sekali dibuatnya.

"Apanya yang jangan sekarang, Ras?" tanyanya menggodaku, sementara aku semakin tersipu saja mendengar ucapannya. Demi Tuhan, aku belum pernah sedekat ini dengan seorang laki-laki sebelumnya, apalagi disentuh. Sungguh hal ini membuatku merasa sangat ketakutan dan cemas.

"Maaf, Mas, aku merasa masih asing dengan semua ini. Beri aku waktu," kataku dengan nada datar dan sedikit gemetar.

"Tidak apa-apa, aku ngerti. Aku juga tidak akan meminta kalau kamu tidak menginginkan. Aku cuma mau mengajakmu duduk di sini sambil bicara, itu saja. Tidak usah khawatir," jelasnya, mencoba menenangkanku dari kecemasan yang sebenarnya tidak beralasan sama sekali.

Aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.

"Makasih ya, Mas," ucapku.

"Aku lihat kamu belum makan dari tadi. Makan dulu, ya. Setelah itu, istirahat. Pasti kamu lelah sekali," kata Samudra penuh perhatian.

"Iya, Mas. Kamu belum makan juga, kan, Mas?"

"Iya, kita makan bareng, ya," katanya sambil meraih tanganku lagi dan mengajakku keluar. Aku pun mengikutinya tanpa banyak bicara.

Setelah menikah, Samudra mengajakku tinggal bersamanya. Tentu saja, aku harus menurutinya, karena sekarang aku adalah istrinya. Kami pun tinggal hanya berdua saja di rumah kontrakan untuk sementara ini, sebab Samudra dipindah tugaskan dari tempatnya semula bekerja. Untungnya, tempat kerja Samudra lumayan dekat dari tempat kerjaku yang dulu, jadi aku masih tetap bisa menjalankan aktivitasku seperti semula, seperti sebelum menikah dengannya.

Samudra memang sangat sabar sekali menghadapiku. Buktinya, dia selalu mengiyakan apa pun yang aku lakukan tanpa banyak berkomentar. Tapi, sungguh, meskipun kami telah hidup bersama, tetap saja aku masih merasa terlalu asing dengan kehadiran Samudra di sampingku. Rasanya, aku masih belum terbiasa berbagi apa pun dengannya. Untungnya, dia sangat baik dan memaklumi serta menerima semua kebiasaan-kebiasaanku. Semoga, dia tidak terpaksa melakukannya dan benar-benar tulus menerima aku apa adanya.

Seperti malam ini, aku pulang agak larut dari bekerja. Aku sudah bilang lewat pesan yang kukirimkan kalau aku akan pulang sedikit terlambat malam ini, dan dia pun mengizinkan tanpa banyak tanya. Baik sekali, kan, dia? Dan itu belum seberapa. Setelah aku pulang dari kesibukanku, dia bahkan sudah menyiapkan semua keperluanku di rumah. Samudra menyiapkan air hangat untukku mandi dan juga menyiapkan makan malam untukku. Dan semua hal dia kerjakan sendiri tanpa mengeluh sedikit pun.

Selesai makan, aku merasa sangat kelelahan. Tapi, kulihat Samudra masih duduk di depan TV. Aku menghampirinya dan ikut nonton di sampingnya. Lucu sekali, meskipun sudah menjadi suami istri, tapi aku masih merasa sangat canggung berada dekat dengannya.

Samudra tersenyum melihatku, dan hatiku dibuat berdebar kencang karenanya. Sebenarnya, aku sudah merasa mengantuk, tapi film yang diputar lumayan bagus, jadi sayang buat dilewatkan. Samudra pun juga sama sepertiku, begitu fokus menonton film yang tengah diputar. Dia hanya sesekali menatapku dan mengajakku berbicara hal-hal yang tidak begitu penting.

Hingga malam mulai larut, rasa kantuk pun tidak lagi dapat kutahan. Akhirnya, tanpa sadar, aku telah tertidur pulas di samping Samudra. Dan ini adalah pertama kali aku sedekat itu dengan Samudra. Sebab setelah menikah, aku masih belum membiarkan Samudra menyentuhku. Aku tahu aku kejam, tapi aku merasa benar-benar belum siap melakukannya. Dan Samudra sepertinya tidak merasa keberatan, atau mungkin sebenarnya dia hanya terpaksa menurutiku, entahlah aku tidak tahu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!