Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.
Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.
Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.
Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.
Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Hasil dari perdebatan itu dibagi menjadi enam area, di mana masing-masing dari mereka harus menjaga jalur mereka sendiri agar tidak ditembus gelombang monster.
Pembagian itu dilakukan berdasarkan titik munculnya mereka masing-masing. Seperti yang Nate alami, dia membuka mata tepat di atas jalan raya yang mengarah lurus ke tengah arena, tempat kristal itu berdiri. Hal yang sama berlaku untuk yang lainnya, sehingga jalur masing-masing menjadi batas wilayah yang mereka jaga.
Setelah mereka berdiri di jalur masing-masing, keheningan menguasai arena untuk sesaat. Lalu tanah mulai bergetar pelan, dan dari kejauhan, asap tebal perlahan-lahan bergerak mendekati mereka. Semakin dekat asap itu, semakin keras guncangan yang terasa, dan semakin jelas siluet dari begitu banyak monster yang datang dari segala penjuru.
[Wave (1/20) Dimulai!]
Nate menghunus sabitnya. Karena dia tidak berniat membiarkan mereka semakin dekat ke kristal, dia memutuskan untuk maju lebih dulu dan menutup jaraknya sendiri.
Begitu mereka saling mendekat, Nate bisa melihat mereka dengan jelas. Monster-monster itu adalah jenis yang sudah familiar, sering dia temui di wilayah berburu sebelumnya, hanya saja kali ini levelnya jauh lebih tinggi dan jumlahnya tampak tidak ada habisnya.
Nate mengangkat sabitnya. Begitu mereka memasuki jangkauan serangannya, dia menebas ke samping.
Sraaang!!
Buum!! Buum!! Buum!!
Asap ungu merembes, dan ledakan beruntun meledak mengikuti jalur tebasan itu. Skill pasifnya segera bekerja, peningkatan statistik dari title dan achievement-nya memberikan keuntungan yang terasa langsung di setiap gerakan.
Senyuman Nate melebar. Pupil matanya memancarkan kilatan kesenangan dan kegilaan sekaligus.
[Monster (Lycanil) Rank F / Lv. 12 Terbunuh!]
[Monster (Murneth) Rank F / Lv. 9 Terbunuh!]
Deretan notifikasi sistem berbunyi tanpa henti, angka EXP dan credit mengalir terus, dan item-item langka yang belum pernah Nate lihat sebelumnya mulai bermunculan.
Nate bergerak ke sana kemari, tersenyum seperti orang gila, terus menghunus sabitnya dan menciptakan kekacauan di mana pun dia berdiri. Dia juga sudah menetapkan garisnya sendiri, dan begitu ada monster yang mencoba melewati garis itu, monster tersebut langsung menjadi prioritas pertama.
Di balik semua kekacauan itu, Nate sempat bertanya-tanya apakah Nine baik-baik saja di jalurnya.
Tapi kekhawatiran itu seharusnya sia-sia. Player yang bisa masuk ke sini jelas bukan player biasa.
---
Nine menatap gelombang monster yang jumlahnya sangat fantastis. Wajahnya yang cantik sedikit berkerut.
"Ugh... Ini pasti akan bikin banyak keringat."
Ditambah darah monster yang pasti akan mengotori tubuhnya, tapi apa yang bisa dia lakukan?
"Aku bersumpah, aku pasti akan mandi selama satu hari penuh kalau omong kosong ini selesai!"
Nine menghunus senjata warisannya. Pedang ramping berwarna putih keemasan muncul di tangannya, bilahnya memancarkan kilau lembut seperti cahaya fajar yang baru terbit.
[First Light Blade]
Begitu monster itu mencapai jarak tertentu, Nine melesat, meninggalkan jejak samar cahaya keemasan di udara.
Sraaang!!
Dia menebas ke samping, memastikan serangannya menjangkau sebanyak mungkin monster sekaligus. Tapi anehnya, monster-monster yang tertebas itu tampak tidak terluka sama sekali dan terus berlari melewatinya menuju kristal. Nine bahkan tidak repot-repot mengejar.
Dia membiarkan mereka berlari.
Lalu dengan langkah yang ringan, dia berbalik dan kembali menebas gelombang berikutnya.
Saat itulah monster-monster yang sebelumnya berlari melewatinya itu tiba-tiba tersentak. Tubuh mereka yang tampak utuh tiba-tiba memancarkan kilau samar dari cahaya keemasan, dan sedetik kemudian, tanpa suara apapun, mereka terbelah menjadi dua bagian dan jatuh.
Serangan Nine baru bereaksi sekarang.
Nine sendiri sudah terus menebas, mengabaikan notifikasi sistem yang mengalir tenang di sampingnya.
Setelah beberapa saat, skill pasifnya aktif, menampilkan perisai keemasan yang menahan seluruh serangan monster yang datang. Dengan perlindungan itu, Nine menempatkan dirinya tepat di tengah-tengah kerumunan monster.
Pedangnya terangkat ke langit. Kilauan keemasan yang sangat terang memancar dari bilahnya, naik dan melambung tinggi beberapa meter ke udara.
Swaaah!!
Nine menekuk tubuhnya, menggeser pedang ke samping, lalu memutar dan melancarkan tebasan melingkar ke seluruh monster yang mengelilinginya. Serangan itu berakhir dalam sedetik.
Lima detik kemudian, seluruh monster yang berada dalam lingkaran itu terbelah menjadi beberapa bagian dan mati begitu saja, satu per satu, seperti efek yang baru selesai berjalan.
Nine melirik sekelilingnya. Dia berdiri di tengah lautan darah hitam, tubuhnya penuh dengan percikan darah monster yang menjijikkan, diikuti bau busuk yang menyengat dari segala arah.
Tapi gelombang pertama itu masih belum habis. Masih ada begitu banyak monster yang terus berdatangan.
Nine mendecakkan lidahnya.
"Berapa banyak lagi?!"
---
"Woah... Aku tahu aku tampan, menawan, dan luar biasa. Tapi sial, apa-apaan dengan jumlah yang mengerikan ini? Apa kalian tidak punya hati nurani terhadap wajahku? Bisakah kalian mundur saja?"
Rome berbicara dengan dramatis sambil menatap gelombang monster yang tampak tidak ada habisnya, wajahnya meringis dengan senyuman yang susah payah dia tahan.
"Bagaimana bisa seseorang begitu kejam terhadap keindahan ini?"
Dia mendecakkan lidahnya, lalu dengan satu lambaian tangan, bayangan-bayangan di sekitar lingkungan itu tiba-tiba bergerak. Satu per satu makhluk bayangan muncul ke permukaan, menampakkan wujud mereka yang menyerupai monster-monster yang sudah terbunuh sebelumnya.
Perbedaannya sederhana. Mereka adalah bayangan, terbuat dari gema dan sisa energi dari monster yang telah mati. Selama ada monster yang terbunuh di sekitarnya, Rome bisa langsung membangkitkan mereka menjadi pasukan bayangan di bawah kendalinya. Dan jika salah satu bayangan itu ikut terbunuh, level dan pengalaman mereka bisa diwariskan ke bayangan baru yang dia bangkitkan berikutnya.
Itu adalah kekuatan yang rusak.
Tanpa disadari, sudah hampir lima ratus bayangan berdiri di sekitar Rome. Belum sampai setengah dari jumlah gelombang monster, tapi itu bukan masalah.
Pada dasarnya, pasukan bayangannya akan terus tumbuh dan berevolusi semakin kuat seiring waktu.
"Bunuh mereka semua."
Bayangan-bayangan itu melesat seketika, memulai perang mereka sendiri terhadap ribuan monster yang terus mengalir.
Baam!! Baam!!
Ledakan dari area lain menarik perhatian Rome. Dia tersenyum mendengarnya.
"Sepertinya yang lainnya sedang bersenang-senang."
Tawa kecilnya muncul, dan bersamaan dengan itu, begitu banyak energi menyerbu masuk ke tubuhnya. Deretan notifikasi sistem mengalir menunjukkan EXP dan credit yang terus bertambah, mengalir dari kerja keras para bayangan yang tidak pernah berhenti.
Rome mencubit dagunya.
"Dengan kecepatan pemulihan ini, mungkin tidak masalah meski aku menggunakan kekuatan yang menguras energi besar. Toh, jumlah mereka sangat banyak hingga aku mungkin tidak akan kelelahan sedikit pun."
Itu karena salah satu skill pasif dari aspeknya memungkinkan dia mengembalikan setiap Mana yang terkuras dari setiap monster yang terbunuh. Itulah mengapa Rome jauh lebih menyukai pertarungan melawan sangat banyak monster sekaligus daripada melawan satu bos yang jumlahnya hanya satu dan tidak memberikan pemulihan Mana yang berarti.
Dengan pemikiran itu, Rome mengangkat satu tangannya.
Sraaabb!!
Bayangan besar berbentuk lingkaran tiba-tiba muncul di tengah jalan raya, tepat di antara garis medan perang. Dari dalam bayangan itu, ribuan tangan mulai naik ke permukaan, lalu dengan halus menyeret satu per satu monster ke dalam kegelapan di bawahnya.
Notifikasi sistem mengalir tiga kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.
Rome merasakan bahwa dia akan menyelesaikan bagiannya lebih cepat dari yang dia perkirakan.
Lalu dari arah jalur yang lain, suara ledakan yang memekakkan telinga bergema cukup keras hingga Rome reflek menutup telinganya.
"Wah, wah, apa yang sialan berotot itu lakukan di sana?"
Dia terkejut, lalu tertawa dengan senyum getir.
***