NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Pagi itu, taman depan kediaman Widjaja tampak sangat asri. Sinar matahari yang hangat menerobos celah-celah daun pohon ketapang kencana, menciptakan pola-pola cahaya di atas rumput hijau yang terpangkas rapi. Aurora duduk di atas kursi rodanya, sebuah kanvas berukuran sedang terpasang di atas easel kayu di depannya. Jemarinya yang lentik memegang kuas dengan lincah, mencampurkan warna biru cerulean dan putih di atas palet.

Meskipun kakinya masih terbungkus gips dan terganjal bantal di tumpuan kursi roda, aura suram yang menyelimutinya kemarin tampak sedikit memudar. Ia mengenakan dress tanpa lengan berwarna putih yang membuatnya tampak kontras di antara hijaunya taman.

"Kak, beneran nggak mau aku temenin di sini?" tanya Haura, yang tadi membantu mendorong kursi roda keluar.

"Nggak usah, Haura sayang. Kamu mending masuk, katanya ada kelas online jam sepuluh kan? Aku mau fokus nyari inspirasi," jawab Aurora tanpa menoleh, matanya terpaku pada sketsa yang mulai ia warnai.

"Ya sudah, kalau ada apa-apa teriak ya! Jangan nekat berdiri lagi," pesan Haura sebelum masuk ke dalam rumah.

Aurora kembali larut dalam dunianya. Ia sedang melukis pemandangan langit malam yang penuh bintang, namun entah mengapa, ia menambahkan bayangan seorang pria tegak di bawah taburan bintang itu. Saat ia sedang asyik memulas warna, suara langkah kaki yang teratur mendekat.

"Lagi apa, Non?" sebuah suara yang ramah namun formal menyapa.

Aurora menoleh sedikit dan mendapati Pak Hendra, sekretaris pribadi ayahnya, berdiri di sampingnya dengan tas kerja kulit di tangan. Pak Hendra adalah orang kepercayaan Anggara yang sudah bekerja selama belasan tahun, tipikal pria paruh baya yang rapi dan selalu bicara terukur.

"Eh, Pak Hendra. Ini lagi... ngelukis. Bosen di kamar terus, Pak. Rasanya kayak dipenjara kalau cuma liatin tembok," jawab Aurora sambil tersenyum tipis. "Bapak baru nyampe? Mau ketemu Papa ya?"

Pak Hendra mengangguk, ia menatap kanvas Aurora sejenak. "Iya, Non. Ada beberapa berkas dari kantor kementerian yang harus ditandatangani Bapak segera. Wah, lukisannya bagus. Sangat tenang. Tapi... sepertinya saya kenal sosok bayangan di lukisan ini?" goda Pak Hendra halus sambil melirik ke arah paviliun ajudan.

Wajah Aurora mendadak merona merah. Ia segera menutup bagian lukisan itu dengan badannya. "Ih, Pak Hendra apa sih! Ini cuma imajinasi, Pak. Nggak ada hubungannya sama siapa-siapa."

Pak Hendra terkekeh pelan. "Hati-hati, Non. Imajinasi kalau terlalu sering dipikirkan bisa jadi kenyataan. Saya masuk dulu ya, Bapak sudah menunggu di ruang kerja."

"Iya, Pak. Silakan," sahut Aurora, merasa lega sekretaris ayahnya itu tidak bertanya lebih jauh.

Di kejauhan, tepatnya di area parkir samping paviliun, Pak Bambang dan Bintang sedang mengawasi situasi. Pak Bambang yang sedang mengelap kaca spion mobil dinas tersenyum lebar melihat interaksi Aurora dan Pak Hendra. Ia memperhatikan bagaimana Aurora mulai kembali banyak bicara dan tidak lagi mengunci diri.

"Liat tuh, Bin," bisik Pak Bambang sambil menyenggol lengan Bintang yang sedang sibuk mengecek tekanan ban motor patroli.

"Liat apa, Pak?" tanya Bintang bingung.

"Non Aurora. Dia sudah bisa bercanda lagi sama Pak Hendra. Kemarin kan mukanya kayak mau nelan orang hidup-hidup. Sekarang dia sudah mau senyum, sudah mau keluar kamar," ujar Pak Bambang dengan nada puas.

Pak Bambang kemudian menepuk bahu Bintang cukup keras sampai pemuda itu hampir terjerembap. "Langsung mau ngomong lagi dia, Bin. Aura 'cegil'-nya sudah balik. Itu tandanya badai sudah lewat, tinggal nunggu pelanginya aja."

Bintang ikut menoleh ke arah taman. "Iya ya, Pak. Syukurlah. Berarti Mas Langit kemarin sukses besar ya ngebujuknya? Hebat juga si Bang Kaku itu, bisa naklukin naga yang lagi pms dan patah hati sekaligus."

"Langit itu punya caranya sendiri, Bin. Dia mungkin diam, tapi tindakannya itu lho... sekali gerak langsung kena sasaran," Pak Bambang tertawa kecil. "Tapi kita tetap harus waspada. Bapak Anggara masih memonitor. Jangan sampai mereka terlalu terang-terangan di depan lobi begini."

Tak lama kemudian, Langit keluar dari paviliun. Ia sudah mengenakan seragam safari hitamnya, siap untuk bertugas mendampingi Anggara yang akan berangkat ke kantor bersama Pak Hendra. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Aurora di tengah taman.

Aurora, yang seolah punya radar khusus, langsung menoleh saat Langit keluar. Ia mengangkat kuasnya tinggi-tinggi ke udara, melambai ke arah Langit dengan senyum jenaka yang sudah lama tidak terlihat.

"MAS LANGIT! SINI BENTAR!" teriak Aurora, mengabaikan fakta bahwa suaranya bisa terdengar sampai ke ruang kerja ayahnya.

Bintang dan Pak Bambang langsung pura-pura sibuk. "Tuh kan, baru diomongin udah mulai kambuh rewelnya," gumam Bintang menahan tawa.

Langit menarik napas dalam. Ia melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada Anggara di dekat sana. Ia berjalan menghampiri Aurora dengan langkah yang tetap dijaga kewibawaannya.

"Ada apa, Non? Saya sedang bersiap untuk berangkat," ucap Langit saat sudah berdiri di dekat kursi roda.

"Liat deh," Aurora menunjuk lukisannya. "Bagus nggak? Warnanya udah pas belum menurut Mas?"

Langit menatap kanvas itu. Matanya terpaku pada bayangan pria di bawah bintang yang tadi sempat dilihat Pak Hendra. Sudut bibirnya bergetar halus, mencoba menahan senyum. "Bagus. Tapi... kenapa pria di lukisan ini tidak pakai senjata? Kalau dia ajudan, dia harus siaga."

Aurora memutar bola matanya. "Ya ampun, Mas! Ini lukisan seni, bukan simulasi pengamanan! Di sini dia lagi jadi manusia biasa, lagi istirahat sambil liatin bintang. Mas tahu nggak siapa model aslinya?"

Langit menatap mata Aurora yang berkilau jahil. "Tidak tahu."

"Bohong! Mas pasti tahu itu Mas sendiri kan?" desak Aurora. Ia menaruh kuasnya dan menatap Langit dengan serius. "Tadi malem makasih ya, Mas. Udah nggak blokir aku lagi. Dan... makasih udah dengerin ocehan aku."

Langit terdiam sejenak. "Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan Non tenang."

"Halah, kewajiban terus alasannya," cibir Aurora. Ia kemudian meraih sebuah stiker kecil bergambar bunga matahari dari kotak peralatannya dan menempelkannya di punggung tangan Langit sebelum pria itu sempat menghindar.

"Ini apa, Non?" tanya Langit heran, melihat stiker kuning cerah di tangannya.

"Tanda kalau hari ini Mas harus senyum. Kalau Mas nggak senyum pas di kantor Papa nanti, aku bakal kirim stiker yang lebih aneh lagi ke WA Mas. Mau?" ancam Aurora dengan kedipan mata.

Langit menatap stiker di tangannya, lalu menatap Aurora. Untuk pertama kalinya di tempat terbuka, Langit memberikan senyum yang cukup jelas—meski hanya sesaat. "Saya harus berangkat sekarang. Jangan terlalu lama di bawah matahari, nanti Non pusing."

"Siap, Mas Ajudan!" seru Aurora riang.

Langit berbalik dan berjalan menuju mobil dinas yang sudah siap. Di sana, Pak Bambang dan Bintang kompak memberikan jempol secara sembunyi-sembunyi. Langit hanya menggelengkan kepala, namun ia sama sekali tidak melepas stiker bunga matahari itu dari tangannya.

Aurora kembali ke kanvasnya, menggoreskan warna terakhir dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia tahu, meskipun gips di kakinya masih ada dan peringatan ayahnya masih membayangi, tapi warna-warna di hidupnya kini tidak lagi hanya hitam dan putih. Ada biru bintang, kuning bunga matahari, dan sedikit warna merah muda yang mulai tumbuh di hatinya.

***

Tinggalin jejak ya. Like+ comment dung biar aku semangat nulisnya♥️

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!