Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudahlah, Keysa!
Aroma alkohol dan karbol yang menyengat selalu menjadi teman akrab Keysa selama enam bulan terakhir. Di sebuah kamar kelas tiga yang pengap dan penuh sesak oleh ranjang pasien lain, Keysa duduk di kursi plastik kecil dan menggenggam jemari Ayahnya yang kini tinggal tulang berbalut kulit pucat.
"Ayah... minum sedikit ya?" bisik Keysa lembut.
Ayah Arman hanya mampu memberikan senyum tipis yang getir, penyakit leukemia telah merenggut kegagahan pria itu, wajahnya yang dulu hangat kini dipenuhi lebam kebiruan akibat jumlah trombosit yang merosot tajam.
"Maafkan Ayah, Keysa... Ayah malah jadi beban," suara Arman terdengar serak dan hampir hilang ditelan bunyi mesin vital sign yang membosankan.
"Jangan bicara begitu, Yah. Keysa bakal lakukan apa pun supaya Ayah sembuh," balas Keysa, meski hatinya perih.
Kenyataannya, tabungan Keysa sudah ludes. Gajinya sebagai pelayan toko roti dan buruh cuci panggilan setiap akhir pekan hanya cukup untuk membayar biaya sewa kamar rumah sakit dan obat-obatan yang tidak ditanggung asuransi.
Sementara itu, di rumah, Ibu Siska dan Donny, adiknya hanya tahu meminta uang tanpa mau mengerti betapa berdarah-darahnya Keysa di luar sana.
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras, seolah langit ikut merasakan sesak di dada Keysa. Di dalam bangsal yang hanya dibatasi tirai kain kusam, Keysa mengusap kening Ayahnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Kondisi Ayah Arman menurun drastis sejak sore tadi, napasnya pendek-pendek dan tersengal. Namun, matanya yang sayu terus menatap Keysa dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah tatapan penuh permohonan maaf.
"Keysa," panggil Ayah Arman dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan angin.
"Iya, Yah? Keysa di sini. Ayah butuh sesuatu?" tanya Keysa dan mendekatkan telinganya ke bibir sang Ayah, menahan isak tangis yang sudah menggunung di pangkal tenggorokan.
"Berjanjilah sama Ayah... kamu harus kuat. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus tetap hidup dengan baik," ucap Ayah Arman dengan tangannya yang gemetar berusaha menggapai pipi putrinya itu.
"Ayah bicara apa? Ayah harus sembuh supaya bisa melihat Keysa bahagia," balas Keysa, air matanya akhirnya luruh juga dan jatuh membasahi sprei rumah sakit yang kasar.
Namun, Ayah Arman hanya bisa meneteskan air mata dari sudut matanya yang kering, ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tenaganya sudah habis, penyakit sialan itu telah menggerogoti hingga ke sumsum tulang dan jiwanya.
Tiba-tiba, bunyi monitor vital sign yang tadinya beraturan berubah menjadi nada panjang yang melengking dan membelah kesunyian malam di bangsal itu.
"Ayah? Ayah!" Keysa berteriak panik, ia mengguncang bahu pria itu. Namun, mata Arman telah tertutup perlahan dengan sebuah garis lurus di layar monitor.
Para perawat berlarian datang dan mencoba melakukan tindakan resusitasi jantung, Keysa didorong keluar dari tirai. Ia berdiri terpaku di koridor yang sepi dan dingin, ia memeluk dirinya sendiri. Di tengah kepanikan itu, ia merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Siska dan sayangnya panggilannya ditolak.
Setelah itu, Keysa menghubungi Donny berkali-kali, namun adiknya itu justru mematikan ponselnya. Di saat Ayah mereka melawan penyakitnya, kedua orang yang dianggapnya keluarga itu entah berada di mana.
Beberapa menit kemudian, seorang Dokter keluar dengan wajah lesu dan melepas masker medisnya, ia hanya menatap Keysa dengan iba dan menggeleng pelan.
"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Pak Arman tidak berhasil diselamatkan, beliau sudah tiada," ucap Dokter.
Dunia Keysa runtuh seketika, ia jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Tidak ada pelukan dari Ibu, tidak ada sandaran dari Adik dan ia berduka sendirian di tengah aroma karbol yang menusuk.
Langit masih menyisakan mendung setelah prosesi pemakaman selesai, gundukan tanah merah itu masih basah dan satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Keysa masih bersimpuh di sana, jemarinya mengusap nisan kayu yang bertuliskan nama Ayah Arman, ia merasa separuh jiwanya ikut terkubur di bawah sana.
Ketika Keysa sampai di rumah, suasana sunyi yang ia harapkan untuk berduka justru pecah oleh suara tawa kecil dari ruang tamu, Keysa terpaku di ambang pintu. Di ruang tamu, Ibu Siska sedang asyik membolak-balik majalah fashion, sementara Donny sibuk dengan game di ponselnya sambil mengunyah camilan.
Rasa sesak yang sejak semalam ia tahan, kini memuncak hingga ke ubun-ubun. "Ibu... Donny," panggil Keysa dengan suara yang bergetar dan serak karena terlalu banyak menangis.
Ibu Siska hanya melirik sekilas tanpa mengubah posisinya, "Oh, sudah pulang kamu? Sana bersihin rumah, rumah jadi kotor gara-gara orang datang melayat tadi," ucap Ibu Siska.
Mendengar perkataan Ibu Siska, Keysa mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Ibu sama Donny ke mana semalam? Kenapa Ibu tolak telepon Keysa? Kenapa Donny matiin ponselnya? Ayah kritis, Bu! Ayah meninggal sendirian di bangsal itu tanpa kalian!" tanya Keysa.
Donny mendecak kesal, matanya tetap tertuju pada layar ponsel. "Aduh, Kak. Berisik banget sih, kan ada Kak Keysa di sana. Lagian kalau gue dateng juga emangnya Ayah bakal langsung hidup lagi? Enggak kan? Rumah sakit itu bau, gue nggak suka," jawa Donny.
Mendengar jawaban itu, jantung Keysa serasa diremas. Ia menatap ibunya dan berharap ada pembelaan atau setidaknya rasa bersalah, namun Ibu Siska justru menutup majalahnya dengan kasar.
"Sudahlah, Keysa! Jangan berlebihan, Ayahmu itu sudah sakit dari lama, menghabiskan uang dan membuat kita susah. Sekarang dia sudah mati, ya sudah. Itu sudah jalannya, Ibu sengaja nggak angkat telepon karena Ibu butuh tidur, Ibu pusing mikirin cicilan yang nunggak gara-gara biaya rumah sakit Ayahmu," ucap Siska dengan nada santai yang sangat menyakitkan.
"Tapi itu Ayah, Bu! Suami Ibu! Ayah berjuang sampai napas terakhirnya!" teriak Keysa tak percaya.
"Suami yang hanya meninggalkan hutang dan beban!" balas Siska tajam dan matanya menatap Keysa dengan dingin, seolah Keysa adalah benda asing yang mengganggu pemandangannya.
"Daripada kamu marah-marah nggak jelas, lebih baik kamu pikirin gimana caranya cari uang tambahan. Seminggu ini kamu bolos kerja terus karena ngurus Ayahmu, kita butuh uang buat bayar hutang, buat makan terus Donny butuh uang sekolah dan Ibu juga ada keperluan," ucap Ibu Siska.
Keysa terdiam seribu bahasa, ia menatap dua orang di depannya dengan tatapan kosong, hatinya hancur berkeping-keping melihat bagaimana sikap Ibu dan adiknya.
"Keysa capek, Bu. Keysa pengen istirahat, kalau Ibu butuh uang, Ibu cari kerja juga jangan cuma andalin Keysa, Keysa juga mau ngerasain gaji Keysa," ucap Keysa.
"Berani kamu melawan? Kamu pikir siapa yang membesarkanmu selama ini?" tanya Ibu Siska dengan membentak Keysa.
"Keysa capek, Bu. Keysa pengen istirahat, apa-apa harus Keysa, terus Ibu ngapain?" tanya Keysa yang memberanikan diri untuk melawan.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...