NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

​Bunyi deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan lobi mansion terdengar seperti lonceng kematian bagi Briella. Ia sedang berada di lantai bawah, mencoba meregangkan kakinya setelah berjam-jam menatap layar laptop untuk memantau situs kampusnya. Langkah kakinya membeku di atas karpet Persia yang tebal saat monitor keamanan di lorong memperlihatkan sosok yang sangat ia kenal.

​"Geovani, itu Ayah. Ayah Prilly ada di sini!" seru Briella dengan nada yang nyaris tenggelam oleh kepanikan.

​Geovani yang baru saja keluar dari ruang kerjanya segera menyambar lengan Briella dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi. Wajahnya tetap tenang, seolah-olah kedatangan penguasa keluarga Adijaya itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwal medisnya. Namun, sorot matanya yang tajam mengisyaratkan bahwa situasi ini jauh dari kata aman.

​"Masuk ke dalam ruang kerjaku, sekarang. Jangan mengeluarkan suara sedikit pun kalau kau masih ingin melihat matahari besok," bisik Geovani dengan suara bariton yang dalam dan menekan.

​Geovani menyeret Briella masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, tepat beberapa detik sebelum suara bel pintu menggema ke seluruh penjuru mansion. Ia mendorong Briella menuju sebuah lemari besar berbahan kayu mahoni yang berisi deretan buku medis dan dokumen rahasia. Dengan satu gerakan dominan, ia membuka pintu lemari tersebut.

​"Masuk ke sana. Sembunyi di balik jubah operasiku. Jangan bergerak bahkan jika paru-parumu terasa meledak karena menahan napas," perintah Geovani tanpa bantahan.

​Briella memanjat masuk ke dalam ruang sempit yang beraroma kayu tua dan wangi parfum maskulin Geovani yang menyengat. Ia meringkuk di antara gantungan jubah putih panjang, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Geovani menutup pintu lemari itu hingga menyisakan celah yang sangat tipis, nyaris tidak terlihat dari luar.

​"Ingat, Briella. Satu desahan saja, dan aku tidak bisa menjamin keselamatanmu dari tangan pria itu," Geovani memberikan peringatan terakhir sebelum melangkah menjauh.

​Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka dengan suara dentuman pelan. Briella bisa mendengar langkah kaki yang berat dan penuh wibawa masuk ke dalam ruangan. Itu adalah langkah kaki Ayah Prilly, pria yang pernah membiarkannya disiksa di gudang bawah tanah tanpa rasa iba sedikit pun.

​"Geovani, kau tampak sangat sibuk hingga harus mengabaikan telepon dari calon mertuamu selama seminggu ini," suara berat Ayah Prilly menggema, penuh dengan otoritas yang mengancam.

​"Aku memiliki beberapa operasi bedah saraf yang sangat krusial, Tuan Adijaya. Etheria tidak akan membiarkan dokter terbaiknya bersantai hanya karena masalah pertunangan yang gagal," sahut Geovani dengan nada santai namun tetap sopan.

​Briella menahan napasnya dengan telapak tangan menutupi mulut. Ia bisa melihat bayangan Ayah Prilly melalui celah tipis lemari. Pria tua itu berjalan mendekati meja kerja Geovani, berdiri hanya beberapa senti dari tempat persembunyian Briella. Bau cerutu mahal yang melekat pada pakaian ayahnya mulai meresap masuk ke dalam lemari.

​"Jangan bercanda denganku. Pembatalan pertunangan itu membuat saham keluarga kami terguncang. Prilly menangis setiap malam karena kau lebih memilih melindungi jalang kecil itu di depan media," suara Ayah Prilly kini terdengar lebih tajam.

​"Jalang kecil yang Anda maksud adalah variabel penting dalam penelitianku. Saya tidak suka aset saya dihancurkan oleh emosi Prilly yang tidak stabil," jawab Geovani sambil menuangkan minuman ke dalam gelas kristal.

​Briella memejamkan mata erat-erat saat mendengar langkah kaki Ayah Prilly bergerak mendekati lemari. Ia merasa jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut suara detaknya akan terdengar sampai ke luar. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding kayu yang dingin, berusaha sekecil mungkin di antara kain-kain jubah Geovani.

​"Aset? Katakan padaku di mana kau menyembunyikannya. Prilly yakin kau membawanya ke suatu tempat yang terpencil," Ayah Prilly meletakkan tangannya di atas permukaan kayu lemari tempat Briella bersembunyi.

​Briella merasakan getaran dari tangan ayahnya yang menyentuh kayu lemari itu. Ia membeku, bahkan tidak berani menelan ludahnya sendiri. Suasana di dalam lemari itu terasa sangat sesak dan panas, sementara keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya yang terbalut sutra tipis.

​"Mansion ini kosong, Tuan. Anda bisa memeriksanya sendiri jika Anda tidak percaya pada kata-kataku. Tapi perlu diingat, meragukan integritasku sama saja dengan memutus kontrak suplai medis untuk rumah sakit Anda," ancam Geovani secara halus.

​Ayah Prilly terdiam sejenak. Briella bisa mendengar helaan napas berat ayahnya yang menunjukkan rasa frustrasi. Pria itu tampaknya masih curiga, namun ia tidak berani mengambil risiko kehilangan dukungan medis dari klan Geovani yang memonopoli teknologi kesehatan di Metropolis.

​"Kau bermain api, Dokter. Jika aku menemukan bahwa kau menyembunyikan Briella untuk kepentingan pribadimu, aku tidak akan segan untuk meratakan bukit ini," ucap Ayah Prilly dengan nada yang sangat dingin.

​"Saya selalu bermain dengan api, itulah sebabnya saya menjadi dokter bedah terbaik. Silakan selesaikan urusan bisnis kita, dan jangan biarkan imajinasi Prilly mengganggu profesionalisme kita," Geovani memecahkan ketegangan dengan suara denting gelas.

​Briella terus meringkuk di dalam kegelapan lemari, menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit. Ia mendengar mereka mulai mendiskusikan angka-angka saham dan proyek pengembangan rumah sakit baru. Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Briella yang sedang bertaruh nyawa di balik pintu kayu itu.

​"Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, mataku ada di mana-mana di Etheria. Kau tidak bisa menyembunyikan apa pun selamanya dariku," Ayah Prilly akhirnya melangkah menjauh dari lemari.

​Suara langkah kaki itu perlahan menghilang menuju pintu keluar. Briella masih tidak berani bergerak sampai ia mendengar pintu ruang kerja ditutup dan dikunci dari dalam. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun Briella masih merasa tangannya gemetar hebat di dalam kegelapan.

​"Keluar, Briella. Dia sudah pergi," suara Geovani terdengar tepat di depan lemari.

​Pintu lemari terbuka lebar, memperlihatkan wajah Geovani yang masih tanpa ekspresi. Briella jatuh tersungkur keluar dari lemari, ia merangkak di atas lantai sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa sangat melegakan setelah tekanan yang hampir membunuhnya tadi.

​"Dia... dia hampir menemukanku. Dia berdiri tepat di sana," isak Briella dengan suara parau.

​Geovani berjongkok di sampingnya, meraih dagu Briella dan memaksanya untuk menatapnya. "Tapi dia tidak menemukanku, bukan? Aku sudah katakan padamu, selama kau mematuhi perintahku, kau aman di sini. Ketakutanmu adalah satu-satunya hal yang bisa mengkhianatimu."

​"Kau gila! Bagaimana kau bisa bersikap setenang itu di depannya?" Briella mencengkeram kemeja hitam Geovani, mencari tumpuan agar tubuhnya tidak limbung.

​"Karena aku memegang kendali atas semua orang di ruangan ini, termasuk kau. Sekarang, kembali ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memberimu izin. Kedatangan ayahmu membuktikan bahwa Prilly semakin dekat dengan kegilaannya," Geovani mengangkat tubuh Briella dengan mudah.

​Briella hanya bisa pasrah saat Geovani membimbingnya kembali menuju lorong. Ia menoleh ke arah pintu ruang kerja, menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di bawah atap mansion ini. Ayah Prilly mungkin sudah pergi, namun aroma cerutunya masih tertinggal, menjadi pengingat bahwa bayang-bayang masa lalu selalu mengintai di balik kemewahan Upper-Chrome.

​"Apakah kau akan terus menyembunyikanku seperti ini?" tanya Briella saat mereka sampai di depan pintu kamarnya.

​Geovani menatapnya dengan pandangan yang gelap dan mendalam. "Aku akan menyembunyikanmu sampai kau melahirkan anak ini, atau sampai aku merasa bosan dengan permainan ini. Dan saat ini, aku sama sekali belum merasa bosan, Little One."

​Briella masuk ke dalam kamarnya dan mendengar suara kunci otomatis berbunyi. Ia bersandar di balik pintu, merasakan jantungnya yang perlahan mulai berdetak normal kembali. Ia selamat hari ini, namun ia tahu bahwa ini hanyalah awal dari tamu-tamu tak diundang lainnya yang akan mencoba menghancurkan kedamaian palsunya di sangkar emas ini.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!