Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Lingga yang tidak mendengar sahutan jelas kepo. Ia melongok ruang setrikaan dan tidak menemukan siapa pun disana, tetapi melihat alat penghantar panas masih terpasang dengan daya.
“Mbok kemana sih, masa setrika nggak di cabut, ini kan bahaya,” guman pria itu melepas colokan.
Harap-harap cemas Sarah yang ngumpet di balik pintu. Sialnya, kenapa juga tadi kemejanya tidak di taruh saja di gagang pintu, malah ia bawa. Bagaimana caranya memberikan pada pria itu tanpa terlihat.
Saat hendak memikirkan cara, vibrasi handphone gadis itu menyala. Sontak saja terungkap oleh telinga Lingga yang hendak keluar. Pria itu langsung membuka pintunya saat Sarah merijek ponselnya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Lingga datar.
Sarah yang kaget plus melihat pria itu di depan nya bertelanjang dada langsung menjerit spontan.
“Apaan sih! Diem!” geran pria itu merasa gadis di depannya berlebihan. Tidak harus teriak juga setiap kali melihatnya.
Lingga yang gemas menghimpit tubuh gadis itu dan membekap mulutnya. Niat hati ingin memberi peringata pedas agar tidak terlalu lebay. Dirinya bahkan tidak minat melakukan kejahatan kenapa harus sehisteris itu.
Sarah yang di perlakukan seperti itu jelas melakukan perlawanan. Tubuhnya bergetar hebat ketakutan. Dengan intuisi yang tersisa ia spontan menggigit tangan Lingga yang dengan kurang ajarnya membekap mulutnya.
“Aww….. aww…,” desis Lingga mengibaskan tangannya. Sementara Sarah menjatuhkan kemeja di tangannya lalu meleset menjauh.
“Sialan,” umpat Lingga mengibaskan tangannya. Bekas giginya menancap jelas di bagian kiri telapak tangannya. Bahkan sedikit berdarah dan terasa sangat panas.
“Ya ampun …. Dasar kanibal!” geram Lingga terus mengibaskan tangannya yang terasa panas. Pria itu sampai memperban telapak tangannya karna benar-benar berdarah.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, ia terus mengomel tidak jelas. Andai saja tidak ada jadwal bimbingan dengan dosen,Lingga absen, sayangnya sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya.
“Nggak ada akhlak! Gila ya giginya runcing banget.” Seketika Lingga teringat punggungnya yang perih semua setelah malam itu karna Sarah berusaha lepas sembari mencakar-cakar dirinya.
“Shit! Kenapa jadi ingat malam itu sih!” Umpa Lingga tidak berkonsentrasi. Pria itu sampai menepikan mobilnya. Meraup mukanya dengan kesal. Jeritan dan tangisan Sarah di bawah kungkungan dirinya begitu jelas. Namun, nafsu akibat minuman setan itu membuatnya tidak bisa mengontrol hasratnya dengan baik.
“Brengsek!” Lingga memukul bundaran stir saking kesalnya. Kenapa dia bisa sebejat itu, padahal di luar sana dengan mudahnya menunjukkan siapa pun wanita yang pasti mau kalau hanya untuk sekedar tidur dengannya.
“Gila, sial, sial! Kenapa ini harus terjadi sama gue!” umpat Lingga benar-benar tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Terlebih, ia melakukan itu dengan Sarah, perempuan yang sama sekali bukan type dirinya.
Pria itu terdiam menjatuhkan kepalanya di bundaran kemudi. Berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba kacau. Hingga suara ketukan kaca terdengar dari luar mobilnya.
Lingga langsung mengangkat kepalanya dan menurunkan kaca jendelanya dengan wajah tanda tanya.
“Selamat siang pak! Kami petugas kedisiplinan jalan lalu lintas, Bapak telah melanggar dengan parkir di sembarang tempat! Silahkan turun mobil bapak akan kami amankan!” ujar petugas kepolisian yang sedang patroli.
“Eh, tapi pak, saya cuma sebentar, ini sudah mau jalan,” protes Lingga tak terima.
“Sebentar atau pun lama seharusnya anda tidak parkir sembarangan tempat karna bisa menyendat kendaraan lain dan membahayakan pengguna lain. Silahkan turun, mobil anda akan kami amankan!”
“Jangan dong pak! Saya cuma numpang berhenti sebentar, ini sudah mau jalan,nanti saya ke kampus telat,” tolak pria itu jelas beralasan.
“Coba mana surat-surat kendaraannya. Biar saya periksa sebagai acuan bahwa mobil ini dalam penangguhan.” Polisi pasti akan memberikan sanksi agar pengendara tidak seenaknya bertingkah di jalan.