NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tembok Gengsi

Hari-hari berlalu, dan suasana di antara Giovanni dan Ayunda terasa semakin aneh. Secara kata dan sikap di depan umum, mereka masih tetap menjadi musuh bebuyutan. Masih ada saja ejekan, masih ada saja pertengkaran kecil yang meletus di sana-sini. Giovanni masih suka menyebut Ayunda sebagai cewek tidak tahu aturan, otak udang, atau pengacau. Sebaliknya, Ayunda masih sering meledek Giovanni sebagai cowok sok tahu, kaku, atau manusia tanpa perasaan.

Namun, bagi mereka berdua, semua kata-kata tajam itu kini terasa berbeda. Dulu, setiap kali mereka saling mengejek, rasanya penuh kemarahan dan kejujuran. Tapi sekarang? Rasanya seperti topeng belaka. Rasanya seperti pertunjukan yang mereka mainkan hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya ada di dalam hati.

Di saat Giovanni mengejek Ayunda, matanya tidak lagi tajam penuh kebencian. Ada kilatan lembut yang sulit dijelaskan, seolah dia sedang bermain-main saja. Begitu juga dengan Ayunda. Saat dia membentak atau memaki Giovanni, suaranya tidak lagi terdengar serius dan membunuh. Ada nada bercampur malu dan canggung yang membuat bentakan itu justru terdengar lucu di telinga pemuda itu.

Mereka berdua sadar akan perubahan ini, tapi gengsi yang tinggi membuat mereka enggan untuk mengakuinya. Giovanni berpikir: Mana mungkin gue suka sama cewek kayak dia? Nakal, kasar, berisik! Gue pasti cuma kasihan aja atau terlalu sering ketemu jadi terbiasa.

Sedangkan Ayunda berpikir: Jangan gila Yunda! Dia kan musuh lo! Dia orang paling nyebelin sedunia! Mungkin gue cuma merasa terhutang budi karena dia udah baik sama gue sekali itu aja. Iya, pasti cuma itu!

Namun, betapa pun kerasnya mereka mencoba menyangkal, tindak-tanduk mereka justru menunjukkan sebaliknya.

Suatu siang saat jam istirahat, Ayunda sedang berjalan santai di koridor sekolah sambil memakan permen. Tiba-tiba, dia tidak sengaja menabrak salah satu siswa laki-laki dari kelas atas yang dikenal galak dan sering mencari masalah. Buku-buku yang dipegang siswa itu jatuh berserakan ke lantai.

"Heh! Mata lo dipake buat apa hah?!" bentak siswa itu dengan suara keras, langsung menarik kerah baju seragam Ayunda dengan kasar.

Ayunda yang dari tadi santai seketika langsung memasang wajah garangnya. Dia menepis tangan siswa itu dengan keras.

"Mata gue berfungsi dengan baik! Lo sendiri yang jalan gak liat-liat! Berani-beraninya lo nyentuh gue!" balas Ayunda tak kalah keras, siap untuk berkelahi jika diperlukan. Dia memang tidak takut pada siapa pun, tapi siswa di hadapannya ini terkenal jahat dan sering membawa teman-temannya untuk mengeroyok.

"Dasar cewek kurang ajar! Udah nabrak, masih mulutnya tajam gitu! Mau gue ajarin sopan santun ya lo?!" Siswa itu mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Ayunda dengan keras. Ayunda menyiapkan dirinya, menatap tajam tanpa rasa takut, meskipun dalam hati sedikit waspada.

Namun, sebelum tangan itu sempat menyentuh pipi Ayunda, sebuah tangan kekar dan cepat menahan pergelangan tangan siswa itu dengan kuat. Cengkeramannya begitu erat hingga siswa itu meringis kesakitan.

"Kalau lo berani nyentuh dia satu sentimeter aja lagi... lo bakal nyesel seumur hidup lo."

Suara yang rendah, dingin, dan sangat mengintimidasi itu terdengar begitu familiar di telinga Ayunda. Dia menoleh cepat, dan matanya terbelalak kaget. Di sana berdiri Giovanni. Wajahnya terlihat sangat dingin dan menakutkan, jauh lebih seram dari biasanya. Tatapan matanya tajam menusuk, penuh amarah yang meledak, seolah orang di hadapannya ini adalah musuh terbesarnya.

"Gio...?" gumam Ayunda pelan, terkejut setengah mati. Apa yang dilakukan Giovanni di sini? Kenapa dia membela gue?

Siswa itu menatap Giovanni dengan wajah pucat. Dia tahu siapa Giovanni. Anak orang paling berpengaruh di kota ini, siswa teladan yang dihormati semua guru dan ditakuti semua siswa karena latar belakang dan karakternya yang tegas.

"Gio... lepasin! Ini urusan gue sama cewek kurang ajar ini!" seru siswa itu berusaha berani, meskipun suaranya terdengar gemetar.

"Urusan lo sama dia, berarti urusan gue juga," jawab Giovanni dingin, menekan pergelangan tangan itu semakin kuat hingga siswa itu menjerit pelan kesakitan. "Denger baik-baik. Jangan pernah sekalipun lo berani kasar sama Ayunda. Atau sama siapa pun yang berhubungan sama dia. Karena kalau lo lakuin itu, lo lakuinnya sama gue. Dan lo tau kan apa akibatnya kalau musuhin gue?"

Ancaman itu begitu jelas dan berat. Giovanni melepaskan tangannya dengan kasar hingga siswa itu mundur terhuyung-huyung.

"Pergi dari sini sebelum gue berubah pikiran!" hardik Giovanni tegas.

Siswa itu tidak berani melawan lagi. Dia menatap Giovanni dan Ayunda dengan tatapan marah dan takut, lalu dengan cepat memunguti bukunya dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah suasana menjadi sepi kembali, Giovanni langsung berbalik menatap Ayunda. Wajahnya masih terlihat serius, tapi amarah di matanya kini berganti dengan kekhawatiran yang nyata.

"Lo gila ya?! Kenapa lo berani banget ngelawan dia?! Lo tau kan siapa dia? Dia gak segan-segan nyakitin orang, Ayunda!" bentak Giovanni, suaranya terdengar marah tapi sebenarnya penuh kepanikan. Dia memegang bahu Ayunda dengan kedua tangannya, menatap gadis itu lekat-lekat, memastikan tidak ada luka sedikitpun.

Ayunda hanya diam terpaku menatap wajah Giovanni. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan karena takut, tapi karena perasaan haru yang luar biasa. Dia melihat ketakutan yang tulus di mata Giovanni. Dia mendengar kekhawatiran yang begitu nyata dalam nada bicaranya.

"Kenapa lo belain gue?" tanya Ayunda lirih, matanya berkaca-kaca. "Bukannya lo benci sama gue? Bukannya lo seneng kalau gue kena masalah? Bukannya lo mau liat gue menderita?"

Giovanni terdiam. Dia menatap mata Ayunda yang basah itu, dan amarahnya perlahan menguap begitu saja. Dia menghela napas panjang, lalu mengusap bahu Ayunda dengan lembut, cengkeramannya melembut seketika.

"Gue emang benci kelakuan lo," jawab Giovanni pelan, suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Gue benci cara lo bicara, gue benci cara lo bertindak sembarangan, gue benci cara lo gak pernah mikirin keselamatan diri lo sendiri. Tapi... gue gak akan pernah biarin orang lain nyakitin lo. Gak ada yang berani nyentuh lo selain gue. Ngerti?!"

Kalimat itu terdengar seperti ancaman, tapi bagi Ayunda, itu adalah kalimat paling manis yang pernah dia dengar seumur hidupnya. Matanya semakin berkaca-kaca, dan kali ini air matanya benar-benar jatuh menetes di pipinya.

"Kenapa?" tanya Ayunda lagi, suaranya bergetar. "Kenapa harus lo yang belain gue? Kenapa lo peduli banget sama keselamatan gue?"

Giovanni menatapnya lekat-lekat. Dia ingin sekali mengatakan: Karena gue sayang sama lo! Karena gue udah jatuh cinta sama lo bodoh! Tapi egonya masih terlalu tinggi, dan rasa takut ditolak atau diejek oleh Ayunda membuatnya menelan kembali kata-kata itu.

"Karena..." Giovanni terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada setengah bercanda namun serius, "Karena lo itu musuh gue. Kalau lo sakit atau kenapa-napa, nanti siapa lagi yang bakal ribut sama gue? Siapa lagi yang bakal bikin darah gue mendidih tiap hari? Gue gak mau musuh seberat lo ilang gitu aja."

Ayunda menunduk, tersenyum tipis di sela tangisnya. Dia tahu Giovanni hanya beralasan. Dia tahu pemuda itu sebenarnya peduli lebih dari sekadar sebagai musuh. Tapi dia pun sama, dia juga masih terlalu gengsi untuk mengakuinya.

"Dasar... cowok aneh," bisik Ayunda, memukul pelan dada Giovanni. "Mulutnya masih aja jahat, tapi kelakuannya malah bikin gue terharu."

Giovanni tersenyum tipis, senyum yang hangat dan tulus. Dia mengangkat tangannya, lalu dengan lembut mengusap air mata di pipi Ayunda dengan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut dan hati-hati, seolah Ayunda adalah kaca yang mudah pecah.

"Udah jangan nangis. Muka lo jelek banget kalau basah gini," goda Giovanni pelan, meskipun dalam hatinya dia berpikir: Lo tetep cantik kok, malah makin cantik.

Ayunda mendengus kesal, langsung mengusap matanya kasar. "Siapa nangis?! Gue cuma kegetekan debu aja! Awas lo ya, jangan kira karena lo udah nolongin gue, lo bisa seenaknya sama gue! Kita tetep musuh!"

Giovanni tertawa kecil mendengar jawaban itu. Suaranya terdengar renyah dan bahagia.

"Iya iya. Kita tetep musuh, Putri Nakal."

"Dan lo tetep Raja Kaku!" balas Ayunda tak kalah cepat, lalu dia berbalik pergi dengan langkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam karena malu dan bahagia.

Giovanni menatap punggung Ayunda yang menjauh dengan tatapan penuh kasih sayang yang mendalam. Dia bersandar di dinding koridor, tersenyum sendiri dengan perasaan yang sangat damai.

Musuh ya... batinnya bergumam. Kalau jadi musuh lo rasanya seindah ini, gue rela jadi musuh lo seumur hidup.

Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Perubahan sikap Giovanni terhadap Ayunda perlahan mulai diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama oleh wanita-wanita yang mengagumi Giovanni. Bagi banyak gadis di sekolah ini, Giovanni adalah idaman. Tampan, kaya, pintar, dan sopan. Dan melihat sosok sempurna itu justru melindungi dan peduli pada Ayunda, gadis yang dianggap liar dan kasar oleh banyak orang, tentu saja menimbulkan rasa iri dan dengki yang besar.

Suatu sore, sepulang sekolah, Ayunda dihadang oleh sekelompok gadis yang populer dan terkenal sombong di sekolah. Mereka mengepung Ayunda di ujung jalan sepi dekat gerbang sekolah. Di antara mereka ada Laras, gadis yang selama ini dikenal paling dekat dengan Giovanni dan diam-diam menyukai pemuda itu.

Ayunda menatap mereka dengan tatapan malas dan dingin. Dia tidak takut, tapi dia kesal karena waktunya disita oleh orang-orang yang menurutnya tidak penting.

"Apa sih mau kalian? Minggir! Gue buru-buru!" seru Ayunda ketus.

Laras melangkah maju, menatap Ayunda dengan tatapan meremehkan dan penuh kebencian.

"Jangan sok jual mahal lo, Ayunda! Cuma lo aja yang bikin-bikin perhatian Giovanni. Lo pikir lo siapa hah?! Cewek nakal, jelek, kasar... mana pantas lo deket-deket sama Gio?! Dia itu milik orang baik, bukan sampah kayak lo!" kata Laras dengan nada tajam dan menyakitkan.

Ayunda tersenyum sinis, menatap Laras dengan tatapan merendahkan.

"Terus apa urusannya sama lo? Giovanni milik siapa itu hak dia, bukan hak lo atau hak gue. Dan kalau lo mau ngatain gue, silakan aja. Mulut lo kan mulut lo. Tapi inget satu hal... gue gak takut sama ancaman lo atau siapa pun. Kalau lo mau nyari masalah sama gue, siapin diri lo buat nyesel seumur hidup!" tantang Ayunda berani.

Laras semakin marah mendengar jawaban itu. Dia mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Ayunda dengan keras.

"Dasar cewek tidak tahu diri!!"

PLAK!

Suara tamparan keras terdengar nyaring di udara. Namun, bukan pipi Ayunda yang merah, melainkan pipi Laras. Ayunda dengan sigap dan cepat menangkis tangan Laras, lalu membalasnya dengan tamparan yang jauh lebih keras dan kuat.

Laras terhuyung mundur memegang pipinya yang terasa perih dan panas, matanya terbelalak kaget dan marah. Teman-temannya pun ikut kaget melihat keberanian Ayunda.

"Gue udah bilang, jangan main-main sama gue!" bentak Ayunda dengan suara lantang dan mengintimidasi. "Lo pikir lo cantik dan kaya terus lo berhak sembarangan nyakitin orang?! Ingat ya Laras... Giovanni gak bakal pernah ngelirik lo karena hatinya udah milik orang lain. Dan orang itu bukan lo!"

Ayunda berbalik hendak pergi, tapi Laras yang sudah hilang kendali emosinya memberi isyarat pada teman-temannya. Mereka langsung menyerbu Ayunda. Meskipun Ayunda pandai berkelahi, tapi melawan lima orang sekalipun tentu saja sulit. Ayunda akhirnya terdesak, rambutnya teracak, seragamnya kusut, dan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit karena cakaran dan pukulan mereka.

Di tengah kepungan itu, Ayunda mencoba sekuat tenaga untuk melawan, tapi tenaganya mulai habis. Di dalam hatinya, satu nama yang terlintas: Giovanni... kenapa lo gak ada di sini?

Seolah mendengar panggilan hatinya, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang sangat dia kenal.

"HEI!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"

Suara itu penuh amarah yang meledak-ledak, membuat seluruh gadis yang sedang menyerang Ayunda seketika berhenti dan menoleh. Di sana berdiri Giovanni. Wajahnya merah padam, matanya menatap mereka dengan kemarahan yang mengerikan, seolah dia siap membunuh siapa saja yang menyakiti Ayunda.

Giovanni berlari mendekat, langsung mendorong kasar gadis-gadis itu menjauh dari Ayunda. Dia langsung memeluk tubuh Ayunda yang gemetar dan terluka itu ke dalam dekapannya dengan sangat erat dan protektif. Dia memeriksa wajah dan tubuh Ayunda dengan panik, matanya terlihat basah karena marah dan khawatir.

"Ayunda... Ayunda lo gapapa kan? Sakit di mana? Siapa yang nyakitin lo?!" tanyanya panik, suaranya bergetar hebat. Dia melihat luka gores di pipi Ayunda dan rambutnya yang berantakan, rasanya hatinya terasa hancur berkeping-keping.

Ayunda menatap wajah Giovanni dengan mata berkaca-kaca, rasanya kelegaan yang luar biasa memenuhi dadanya. Dia merasa aman lagi.

"Gio..." bisiknya lemah.

Giovanni menoleh tajam ke arah Laras dan teman-temannya yang kini tampak ketakutan setengah mati melihat kemarahan Giovanni.

"Siapa yang nyuruh kalian lakuin ini?!" bentak Giovanni dengan suara menggelegar, membuat seluruh orang di sana menunduk takut. "Kalian pikir kalian siapa berani-beraninya nyerang dia?! Kalau ada sesuatu yang terjadi sama Ayunda, gue jamin kalian gak bakal bisa sekolah di sini lagi! Gue bakal pastiin kalian nyesel seumur hidup!"

Giovanni tidak pernah semarah ini sebelumnya. Dia selalu tenang dan dingin, tapi saat melihat Ayunda terluka, rasanya dia kehilangan kendali atas dirinya. Dia tidak peduli siapa yang ada di depannya, dia tidak peduli siapa orang tua mereka, dia siap menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.

"Gio... gue cuma..." Laras mencoba bicara, tapi Giovanni langsung memotongnya dengan tajam.

"Denger baik-baik! Jangan pernah sekali pun kalian sentuh Ayunda lagi! Atau berurusan sama gue.

Giovanni tidak pernah semarah ini sebelumnya. Dia selalu tenang dan dingin, tapi saat melihat Ayunda terluka, rasanya dia kehilangan kendali atas dirinya. Dia tidak peduli siapa yang ada di depannya, dia tidak peduli latar belakang atau siapa orang tua mereka, dia siap menghancurkan siapa saja yang menyakiti gadis yang begitu berharga baginya.

"Gio... gue cuma mau ngajarin dia sopan santun," cicit Laras mencoba membela diri, wajahnya pucat pasi melihat tatapan tajam Giovanni yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Sopan santun?!" ulang Giovanni dengan nada mengejek yang terdengar sangat mengerikan. "Kalau kalian mau ngajarin sopan santun, liat diri kalian sendiri dulu! Nyerang orang banyak-banyak kayak pengecut itu yang kalian sebut sopan?! Jangan bikin gue ketawa, Laras!"

Giovanni melangkah maju satu langkah, mendekati Laras hingga gadis itu mundur ketakutan. Suasana di sana menjadi sangat menyesakkan. Semua orang terdiam, takut bernapas terlalu keras.

"Denger baik-baik dan inget sampe mati ya," ucap Giovanni perlahan namun penuh penekanan, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Laras. "Ayunda itu orang yang paling berharga buat gue. Kalau ada sehelai rambutnya pun rontok gara-gara kalian atau siapa aja... gue jamin kalian bakal ngerasain hal yang jauh lebih buruk dari ini. Gue punya kuasa buat bikin hidup kalian hancur seketika. Dan percaya sama gue... gue gak bakal ragu buat ngelakuin itu kalau itu demi dia."

Ancaman itu begitu nyata dan berat, membuat seluruh tubuh Laras gemetar hebat. Dia sadar, Giovanni bukan sekadar mengancam. Dia benar-benar sanggup melakukan apa saja. Air mata ketakutan mulai mengalir di pipi Laras.

"Pergi! Sebelum gue beneran marah dan lupa diri!" hardik Giovanni tegas.

Tanpa menunggu diucapkan dua kali, Laras dan teman-temannya segera berbalik dan lari menjauh dari sana secepat mungkin, meninggalkan Giovanni dan Ayunda yang masih diam di tempat.

Begitu mereka pergi, wajah Giovanni yang tadinya penuh amarah seketika berubah menjadi panik dan khawatir luar biasa. Dia segera berlutut di hadapan Ayunda yang masih berdiri lemas, matanya menelusuri setiap inci wajah dan tubuh gadis itu dengan tangan yang gemetar.

"Ayunda... ayolah liat gue," pinta Giovanni lembut namun terdengar sangat cemas. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh pipi Ayunda dengan sangat hati-hati, persis di tempat yang ada goresan merah bekas cakaran kuku. "Sakit nggak? Siapa yang lakuin ini sama lo? Ceritain ke gue, biar gue urus mereka sampe bener-bener kapok!"

Ayunda menatap wajah Giovanni yang tampak begitu cemas itu, dan rasanya hatinya meleleh sepenuhnya. Semua rasa sakit fisik yang dia rasakan seketika lenyap berganti dengan rasa hangat yang memenuhi seluruh dadanya. Dia tidak peduli dengan lukanya, dia tidak peduli dengan rasa sakitnya, karena melihat Giovanni yang begitu mengkhawatirkannya seperti ini, dia merasa bahwa semua itu sepadan.

Ayunda menggeleng pelan, tersenyum tipis meskipun senyum itu terlihat menyakitkan karena bibirnya juga sedikit terluka.

"Gak apa-apa Gio... cuma luka kecil kok. Gak sakit beneran," jawabnya lirih. "Udah biasa juga sih..."

Kalimat terakhir itu terdengar samar, tapi telinga Giovanni mendengarnya dengan sangat jelas. Hati Giovanni terasa teriris tajam mendengarnya. Udah biasa... Jadi selama ini Ayunda sering mengalami hal buruk seperti ini? Sering disakiti, sering dipukul, sering terluka sendirian tanpa ada yang peduli?

Rasa sakit hati dan rasa kasihan yang luar biasa bercampur aduk di dada Giovanni. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik tubuh Ayunda ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah takut jika dia melepaskan, gadis itu akan hilang atau terluka lagi. Dia memeluknya sekuat tenaga, menyembunyikan wajah Ayunda di dadanya agar tidak melihat betapa matanya mulai berkaca-kaca.

"Jangan ngomong gitu... tolong jangan ngomong gitu," bisik Giovanni parau, suaranya terdengar gemetar menahan tangis. "Gue sakit dengernya. Kenapa lo selalu mau kelihatan kuat? Kenapa lo selalu nanggung semuanya sendirian? Lo tau gak, setiap kali lo terluka, rasanya kayak gue yang ngerasain sakitnya berkali-kali lipat lebih parah?"

Ayunda terdiam di dalam pelukan itu, tangannya perlahan naik dan memegang erat kemeja seragam Giovanni. Air matanya akhirnya jatuh lagi, menetes membasahi kain baju pemuda itu.

"Karena gue gak punya siapa-siapa, Gio..." isaknya pelan, suaranya terasa begitu menyedihkan. "Gak ada orang tua yang nungguin gue di rumah, gak ada saudara yang nanyain kabar gue, gak ada temen yang beneran peduli sama gue. Jadi mau gak mau, gue harus kuat. Gak boleh lemah. Kalau gue lemah, gue bakal hancur sendiri."

Mendengar pengakuan itu, Giovanni semakin mengeratkan pelukannya. Dia baru sadar betapa beratnya beban yang dipikul oleh gadis kecil di dalam dekapannya ini. Di balik sikapnya yang liar, kasar, dan pemberani itu, ternyata dia hanyalah seorang gadis yang kesepian, yang berjuang sendirian menghadapi dunia yang keras.

"Gak lagi, Ayunda..." bisik Giovanni dengan suara yang tegas namun lembut. "Mulai hari ini, lo gak sendirian lagi. Ada gue. Gue bakal jadi orang tua lo, gue bakal jadi saudara lo, gue bakal jadi temen lo, gue bakal jadi apa aja yang lo butuhin. Gue janji, mulai sekarang gue gak bakal biarin siapa pun nyakitin lo. Gue gak bakal biarin lo nangis sendirian lagi. Dan gue gak bakal biarin lo nanggung beban berat itu sendirian lagi."

Ayunda mengangkat wajahnya, menatap mata Giovanni yang basah dan penuh ketulusan. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apakah benar? Apakah dia benar-benar tidak sendirian lagi?

"Kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kenapa lo mau lakuin semua ini buat gue? Padahal dulu lo benci banget sama gue..."

Giovanni menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan mengusap air mata di pipi Ayunda dengan lembut. Napasnya terasa berat, seolah dia sedang berjuang melawan egonya yang terakhir kali. Tapi melihat wajah Ayunda yang polos dan terluka itu, semua pertahanan dirinya runtuh seketika. Dia sadar, dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Dia tidak mau lagi menyebutnya sebagai musuh. Dia ingin lebih dari itu. Jauh lebih dari itu.

"Karena..." Giovanni terdiam sejenak, menelan ludahnya dengan susah payah, lalu menatap lurus ke manik mata Ayunda dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus. "Karena gue sayang sama lo, Ayunda. Gue jatuh cinta sama lo."

Detik itu, waktu seolah berhenti berputar. Angin yang bertiup pun seolah berhenti berhembus. Dunia di sekitar mereka seolah menghilang, dan hanya menyisakan mereka berdua di sana.

Ayunda membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap Giovanni dengan tak percaya. Jantungnya berdegup sangat kencang, rasanya hampir meledak karena campuran antara bahagia, kaget, dan rasa tidak percaya.

"Lo... lo bilang apa?" bisiknya terbata-bata.

"Gue bilang, gue jatuh cinta sama lo," ulang Giovanni dengan suara yang lebih tegas dan jelas, seolah ingin menanamkan kalimat itu ke dalam hati Ayunda sedalam-dalamnya. "Gue gak tau kapan mulainya. Awalnya gue pikir itu benci. Gue pikir gue cuma kesel sama kelakuan lo. Tapi makin lama kita ketemu, makin lama kita bertengkar, gue sadar... rasa benci itu cuma cara gue buat nutupin perasaan sebenernya. Gue suka liat lo marah, gue suka denger suara lo, gue suka cara lo ngelawan gue. Dan gue sadar... gue gak bisa hidup tenang kalau gak ada lo di sebelah gue."

Giovanni memegang erat kedua tangan Ayunda, menatapnya dengan tatapan yang sungguh-sungguh.

"Gue cinta sama lo, Ayunda. Cinta banget. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Air mata bahagia mengalir deras di pipi Ayunda. Dia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Dia hanya bisa menangis dan menatap pemuda di hadapannya ini dengan tatapan penuh cinta yang tak terbatas.

Orang yang dulu paling dia benci. Orang yang dulu selalu mengejek dan menyakitinya. Orang yang dulu dia anggap musuh abadi... ternyata adalah orang yang paling mencintainya, dan orang yang paling dicintainya juga.

Ayunda melepaskan tangannya dari genggaman Giovanni, lalu memeluk leher pemuda itu dengan erat, menyandarkan wajahnya di ceruk leher Giovanni dan menangis sejadi-jadinya. Tangis kali ini bukan tangis kesedihan atau rasa sakit, melainkan tangis bahagia yang meluap-luap.

"Gila... Gio lo beneran gila ya..." isaknya di sela tangisnya. "Kenapa lo harus ngomong gitu sekarang? Kenapa lo harus bikin gue nangis kayak gini? Gue... gue juga..."

Ayunda menarik wajahnya sedikit, menatap mata Giovanni yang menunggu dengan cemas dan penuh harapan.

"Gue juga sayang sama lo, Gio. Gue cinta sama lo banget..." akui Ayunda dengan suara lantang namun bergetar, kali ini dia tidak mau menyembunyikannya lagi. "Gue pikir gue gila. Gue pikir ada yang salah sama diri gue. Kok bisa gue suka sama cowok yang paling nyebelin, paling kaku, dan paling jahat sedunia?! Tapi ternyata... ternyata gue emang cinta sama lo. Gue gak bisa bohongin hati gue sendiri lagi."

Mendengar pengakuan itu, senyum paling indah dan paling tulus pun merekah di wajah Giovanni. Rasanya seluruh beban berat di dadanya lenyap seketika, berganti dengan kebahagiaan yang begitu besar hingga rasanya dia bisa terbang tinggi ke langit. Tanpa membuang waktu lagi, Giovanni menarik wajah Ayunda mendekat, lalu mendaratkan ciuman lembut di kening gadis itu, menanamkan rasa cinta dan perlindungan yang tak terhingga.

"Terima kasih... makasih udah mau nerima gue, Ayunda," bisiknya lembut di bibir kening Ayunda. "Mulai sekarang, kita gak ada lagi musuhan. Kita gak ada lagi benci-bencian. Kita cuma punya satu sama lain. Gue bakal jaga lo, gue bakal sayang sama lo, sampe nafas terakhir gue."

Ayunda mengangguk pelan, tersenyum bahagia di dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa lengkap. Dia merasa memiliki rumah. Dia merasa memiliki tujuan hidup. Dan semuanya berawal dari rasa benci yang perlahan berubah menjadi cinta yang begitu indah dan mendalam.

Di bawah langit senja yang mulai gelap itu, dua hati yang dulunya saling menolak dan saling membenci kini bersatu dalam ikatan cinta yang tulus dan kuat. Mereka berjanji dalam hati masing-masing, bahwa apa pun yang terjadi di masa depan, betapa pun beratnya rintangan yang menghadang, mereka akan tetap bersama. Mereka akan saling melengkapi kekurangan satu sama lain, dan menertawakan masa lalu mereka yang penuh dengan pertengkaran manis itu.

Karena bagi Giovanni dan Ayunda, cinta mereka bukanlah cinta yang mudah dan datang begitu saja. Cinta mereka tumbuh dari api permusuhan, dibentuk oleh kesalahpahaman, dan diuji oleh waktu. Dan justru karena itulah, cinta mereka menjadi begitu kuat, begitu abadi, dan begitu berharga.

1
Wisnu Mahendra
ooiii...ni cerita ngalor ngidul ya? mereka kan dinikahkan karena dijodohkan? gimana sih? kok jadi sepupuan...dan baru kenalan dengan ortu masing2...pantesan yg like dan komen jutaan...ceritanya asal2an
Wisnu Mahendra
nggak ngerti ceritanya, diawal bilang sudah nikah sudah tidur bareng, trus bilang pacaran, skrg baru kenalan sama ortunya yunda...ini gimana ceritanya?
Wisnu Mahendra
kok pacaran? bukannya udah nikah?
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!