Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Arga merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur empuk kamar kos eksklusifnya.
Dia menatap langit-langit kamar sambil memikirkan misi gila dari sistem yang baru saja diterimanya.
Memancing di selokan perumahan saja sudah membuatnya hampir berurusan dengan petugas keamanan kompleks.
Apalagi sekarang dia harus memancing di area kolam renang VIP lantai atap sebuah hotel bintang lima yang super ketat.
Lamunan Arga seketika terhenti saat ponsel pintarnya bergetar keras di dalam saku celana.
Arga mengambil ponselnya dan melihat nama Mas Yanto berkedip di layar panggilannya.
"Halo, ada apa Mas Yanto telepon siang-siang begini?" sapa Arga setelah menggeser tombol hijau di layar.
"Halo Mas Arga, ini di depan gerbang ada mobil derek bawa mobil SUV hitam baru," lapor Mas Yanto dengan nada antusias.
"Supirnya bilang ini kiriman atas nama Mas Arga dari dealer Sudirman."
"Oh iya Mas Yanto, itu memang pesanan mobil gue yang baru dibeli tadi," jawab Arga sambil bangkit dari kasurnya.
"Gue turun ke bawah sekarang buat tanda tangan surat terimanya ya Mas."
Arga mematikan sambungan telepon itu dan segera berjalan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
Di depan gerbang kos, sebuah mobil SUV hitam legam yang sangat gagah sudah diturunkan dari truk pengantar.
Sinar matahari siang membuat cat bodi mobil itu berkilau memantulkan bayangan pepohonan di sekitarnya.
Seorang petugas dealer berseragam rapi berdiri di samping mobil sambil memegang map dokumen plastik.
"Selamat siang Bapak Arga, saya dari bagian pengiriman dealer Sudirman," sapa petugas itu sangat ramah.
"Siang Mas, surat serah terima kendaraannya mana biar gue tanda tangan sekarang," balas Arga tidak ingin berbasa-basi terlalu lama.
Petugas itu menyodorkan selembar kertas dan sebuah pulpen tinta tebal kepada Arga.
Arga membaca sekilas data plat nomor sementaranya lalu membubuhkan tanda tangannya di kolom pembeli.
"Ini kunci pintar cadangan dan buku panduan kendaraannya ya Pak Arga," kata petugas itu sambil menyerahkan sebuah kantong kecil.
"Terima kasih banyak ya Mas udah diantar cepat hari ini juga," ucap Arga sambil menerima kantong tersebut.
Arga merogoh dompet barunya dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan yang masih kaku.
Dia memberikan uang tip itu langsung ke tangan petugas pengantar yang langsung membelalakkan matanya kaget.
"Wah, ini terlalu banyak Pak Arga, tapi terima kasih banyak atas rezekinya hari ini," ucap petugas itu menunduk berkali-kali.
"Sama-sama Mas, hati-hati bawa truknya di jalan pulang ya," balas Arga tersenyum tipis.
Petugas itu pamit dan segera membawa truk dereknya pergi meninggalkan area depan kos.
Mas Yanto yang sedari tadi menonton dari pos keamanannya langsung berjalan menghampiri Arga.
"Buset Mas Arga, ini mobil harganya pasti nyentuh angka miliaran kan?" tanya Mas Yanto sambil mengelus kap mobil dengan hati-hati.
"Enggak sampai semiliar kok Mas Yanto, masih di bawah itu harganya," jawab Arga merendah.
"Mas Arga ini kerjaannya sebenarnya apa sih kalau boleh tahu?" selidik Mas Yanto dengan dahi berkerut penasaran.
"Kadang bawa pancingan dekil, tapi tiba-tiba beli mobil mewah begini."
Arga tertawa pelan mendengar kebingungan tulus dari penjaga kosnya tersebut.
"Gue cuma pekerja lepas aja Mas Yanto, kebetulan kemarin habis dapat proyek gede dari orang pusat," karang Arga asal-asalan.
"Wah mantap itu Mas, semoga rezekinya lancar terus ya biar bisa parkir mobil mewah lagi di sini," doa Mas Yanto tulus.
"Amin Mas Yanto, gue masuk ke atas dulu ya mau siap-siap ada urusan lagi di luar," pamit Arga.
Arga kembali ke kamarnya dan segera menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk menuntaskan misi harian sistem.
Joran karbon mahalnya dia lipat menjadi empat bagian pendek agar muat dimasukkan ke dalam tas olahraga hitam.
Tas olahraga itu terlihat sangat biasa dan tidak akan menimbulkan kecurigaan bahwa di dalamnya ada alat pancing panjang.
Arga menggendong tas olahraganya dan berjalan turun menuju area parkir kos.
Dia masuk ke dalam kursi pengemudi mobil SUV barunya dan menekan tombol penghidup mesin di sebelah setir.
Suara mesin tiga ribu cc itu menderu sangat halus dan hampir tidak terdengar dari dalam kabin yang kedap suara.
Aroma kulit asli dari jok mobil membuat Arga merasa sangat rileks saat dia memutar setir meninggalkan halaman kos.
Tujuan Arga sore ini adalah Hotel Grand Sentral yang terletak di jantung kawasan bisnis ibu kota.
Jalanan Jakarta sedang cukup lengang sehingga Arga bisa menikmati fitur mengemudi santai dari mobil barunya.
Selama di perjalanan, Arga terus memutar otak mencari cara paling masuk akal untuk menembus area kolam renang VIP.
'Gue punya nomor Haris Kusuma, tapi utang budi dari konglomerat pantang dipakai buat hal sepele begini,' batin Arga menganalisis situasinya.
'Gue harus pakai kekuatan uang gue sendiri buat beli akses masuk secara resmi dari lobi depan.'
Setengah jam kemudian, mobil Arga berbelok masuk ke pelataran lobi Hotel Grand Sentral yang sangat megah.
Air mancur besar dengan patung kuda perunggu menyambut setiap tamu yang datang berkunjung.
Arga menghentikan mobilnya tepat di depan pintu kaca otomatis lobi utama.
Seorang petugas valet berseragam merah marun langsung membukakan pintu pengemudi untuk Arga.
"Selamat sore Bapak, apakah ingin menggunakan jasa parkir valet kami?" sapa petugas itu dengan sikap tubuh membungkuk sopan.
"Iya Mas tolong diparkirkan yang aman ya, ini sekalian tolong jangan sampai bodi mobilnya lecet," pesan Arga menyerahkan kunci pintarnya.
"Baik Bapak, ini karcis pengambilan kendaraannya, silakan dinikmati waktu kunjungannya di hotel kami."
Arga menerima karcis itu dan melangkah masuk melewati pintu putar kaca lobi hotel.
Hawa dingin yang sangat sejuk dipadukan dengan aroma parfum lobi yang mewah langsung menyapa indera penciumannya.
Lantai marmer putih yang memantulkan cahaya lampu kristal raksasa membuat suasana tempat ini terasa sangat eksklusif.
Arga berjalan dengan langkah percaya diri menuju meja panjang resepsionis di sisi kanan lobi.
Seorang resepsionis wanita cantik bernama Clara berdiri dengan postur sempurna menyambut kedatangannya.
"Selamat sore Bapak, selamat datang di Hotel Grand Sentral, ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa Clara dengan suara lembut yang sangat terlatih.
"Sore Mbak Clara, gue mau tanya cara buat akses masuk ke kolam renang VIP di lantai atap itu gimana ya?" tanya Arga langsung ke tujuannya.
Clara menatap pakaian Arga yang terlihat rapi namun tetap tergolong kasual untuk ukuran tamu VIP mereka.
"Mohon maaf sebelumnya Bapak, untuk area kolam renang atap itu merupakan fasilitas eksklusif terbatas," jelas Clara dengan senyum yang tidak memudar sedikit pun.
"Area tersebut hanya dikhususkan bagi tamu yang menginap di kamar tipe Penthouse atau pelanggan yang memiliki kartu member VVIP tahunan."
"Kalau gue mau bikin kartu member VVIP tahunannya sekarang syaratnya butuh apa aja Mbak?" tanya Arga santai.
Clara sedikit mengubah posisi berdirinya karena mulai merasa tidak enak harus menolak permintaan tamu.