NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Keesokan harinya, agenda promosi bergeser ke sebuah studio foto profesional berskala besar di daerah Jakarta Selatan. Studio bertaraf internasional itu dipenuhi oleh lampu-lampu strobe raksasa, latar belakang kain kelabu yang megah, serta dentuman musik bertempo cepat yang sengaja diputar untuk membakar semangat para personel Tim Aether. Hari ini adalah jadwal untuk pemotretan komersial jersi edisi terbatas bertajuk “Golden Champion”. Di dalam ruang rias yang diterangi barisan lampu bohlam putih, atmosfer terasa begitu padat. Jasmine duduk diam di depan cermin besar sementara seorang penata rias profesional sibuk menyapukan kuas pemerah pipi ke wajah cantiknya. Melalui pantulan cermin, Jasmine bisa melihat Axel yang duduk di sofa sudut ruangan, mengenakan jersi hitam emas terbarunya yang tampak sangat pas menonjolkan postur tegapnya. Sejak insiden di lorong rumah sakit kemarin, rahasia mengenai identitas asli Liam sebagai dr. Liam Buana Darel murni hanya menjadi konsumsi rahasia antara Jasmine dan Axel. Anak-anak tim yang lain Bryan, Kenzie, dan Ilias sama sekali belum mengetahui latar belakang agung sang barista seberang jalan. Mereka hanya mengira Liam adalah pemilik kafe biasa yang punya keberanian ekstra untuk menantang ego Axel. Jasmine sengaja menyimpan kebenaran itu untuk sementara waktu, menunggu momen yang tepat saat mereka semua berkumpul santai di kafe nanti.

"Baik, Mbak Jasmine dan Mas Axel, silakan masuk ke set utama!" seru seorang asisten fotografer dari balik pintu tirai. "Kita akan mengambil sesi Duo Tombak Aether terlebih dahulu!"

Jasmine mengembuskan napas perlahan, merapikan kerah jersinya sebelum berdiri. Saat melangkah masuk ke tengah area lampu sorot, atmosfer canggung dan kaku langsung menyergap. Konsep pemotretan kali ini menuntut mereka untuk berpose saling memunggungi, lalu berbalik setengah badan seolah-olah siap menembak ke arah kamera penonton sebagai duet maut tak terkalahkan.

"Oke, Mas Axel, letakkan tangan kanan Mas di bahu Mbak Jasmine, agak ditarik sedikit agar kesannya protektif dan solid!" instruksi sang fotografer dari balik lensa kameranya.

Axel melangkah mendekat. Ketika telapak tangannya yang besar dan hangat mendarat di bahu mungil Jasmine, Jasmine bisa merasakan tubuh sang kapten sedikit menegang. Axel mencoba mengerahkan seluruh profesionalitas terbaiknya sebagai ikon esports dunia, memasang ekspresi wajah yang tajam dan penuh karisma di depan lensa. Namun, setiap kali mata elangnya tidak sengaja berpapasan dengan manik mata Jasmine dari jarak dekat, sorot mata itu tidak bisa berbohong. Ada seberkas pancaran kerinduan yang sangat dalam, sebuah rasa kehilangan yang sunyi, dan penyesalan yang terlambat dari seorang pria yang tersadar bahwa ia telah meremukkan hati orang yang ingin ia lindungi. Jasmine tetap menjaga profesionalitasnya, mengarahkan tatapan matanya lurus ke arah kamera dengan ekspresi dingin seorang penembak jitu papan atas. Jarak emosional di antara mereka kini terasa begitu nyata, sebuah pembatas tak kasat mata yang menegaskan bahwa hubungan mereka kini murni hanya sebatas rekan satu tim di dalam arena pertandingan.

---

Ketegangan yang kaku di dalam set pemotretan itu mendadak hancur berkeping-keping menjadi sebuah ledakan lucu yang menggelikan ketika pintu ruang ganti pria terbuka dengan kasar.

"Tolong... panggil ambulans... atau siapa aja... dada gue... mau meledak..."

Sesosok tubuh berjalan terhuyung-huyung keluar dari ruang ganti dengan posisi tangan yang mencengkeram perut dan lehernya sendiri. Itu adalah Bryan. Namun, pemandangan duelis andalan mereka sore ini benar-benar berada di luar akal sehat. Jersi hitam emas baru yang dikenakannya tampak sangat ketat, menempel super ketat di kulit tubuhnya hingga menyerupai baju selam, membuat perutnya yang rata tercetak jelas dan lengannya terjepit kaku tidak bisa digerakkan.

"Astaga, Bryan! Lo ngapain pake baju adek lo?!" pekik Kenzie yang langsung melompat dari kursi pengawas dengan wajah panik sekaligus menahan tawa yang luar biasa hebat.

"Gue... gue gak tahu!" rintih Bryan dengan suara yang melengking tinggi dan super tipis karena pasokan oksigen ke paru-parunya tersumbat total. "Tadi di dalam lemari kostum... gue langsung ambil aja jersi yang ada nama 'BRYAN'. Gue gak liat kalau label ukurannya itu XS! Ini kainnya jahanam banget, gak bisa melar! Gue gak bisa napas dari dua menit yang lalu!"

"Ya ampun, itu kan jersi pajangan contoh untuk manekin ukuran anak-anak yang mau dikirim ke pameran!" omel Kenzie sambil bersusah payah menarik bagian bawah jersi Bryan yang menjepit pinggangnya, sementara Ilias yang baru kembali dari toilet langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai berjongkok di lantai studio.

"Ayo Bryan, pose menembak coba! Sumpah, muka lu kalau lagi nahan napas begini estetik banget buat dijadiin meme di sosmed!" goda Ilias di sela-sela tawa renyahnya, sementara para kru fotografer dan penata rias ikut meledak dalam tawa massal, meruntuhkan seluruh atmosfer kaku backstage tension yang sempat dibangun Axel beberapa menit lalu.

---

Pukul empat sore, sesi pemotretan hampir memasuki bagian akhir. Seluruh anggota tim sedang beristirahat di sofa tunggu sambil menikmati minuman dingin, kecuali Bryan yang masih cemberut setelah bersusah payah digunting jersinya oleh kru kostum agar bisa bernapas kembali. Tepat saat suasana studio mulai tenang, pintu masuk kaca studio profesional itu mendadak terbuka. Kehadiran sosok pria yang melangkah masuk langsung menarik perhatian seluruh pasang mata di dalam ruangan, terutama Axel dan Jasmine. Liam berjalan masuk dengan langkah kakinya yang jangkung dan santai. Sore ini, ia tidak mengenakan pakaian formal dokternya, melainkan kembali ke setelan kasual andalannya, kemeja flanel hitam merah longgar yang kancing atasnya dibuka santai, dipadukan dengan celana jins gelap. Di kedua belah tangan panjangnya, Liam menenteng dua buah boks kardus besar yang memancarkan aroma kopi espresso yang sangat pekat dan menggugah selera.

"Permisi, selamat sore semuanya," sapa Liam dengan suara renyahnya yang khas, menyunggingkan seulas senyuman miring yang begitu menawan. "Saya mengantarkan pesanan kopi katering kusus dan camilan sore atas nama manajemen Darel Hospital untuk seluruh kru dan Tim Aether. Katanya biar sesi fotonya semakin semangat."

"Wah! Kopi gratis! Sumpah, kakak barista seberang jalan ini emang malaikat penyelamat!" seru Bryan yang langsung melompat gembira, melupakan rasa malunya dan langsung menyambar satu cup es kopi susu dari boks yang diletakkan Liam di atas meja. Kenzie dan Ilias pun ikut mendekat, menyapa Liam dengan ramah tanpa menaruh curiga sedikit pun bahwa pria di depan mereka ini adalah dokter di rumah sakit mewah tempat mereka membawa Bryan kemarin.

Liam melayani mereka dengan sikap ramah seorang pemilik kafe yang profesional. Namun, begitu tugas logistiknya selesai, sepasang mata teduh Liam langsung mengunci posisi Jasmine yang sedang duduk di dekat meja rias. Liam melangkah lebar, mengikis jarak di antara mereka, mengabaikan tatapan mata Axel yang seketika berubah menjadi sangat dingin dan mematikan dari sudut sofa seberang. Liam berdiri tepat di hadapan Jasmine, menurunkan sedikit posisi tubuh tingginya hingga mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.

"Bagaimana sesi pemotretannya, Penembak Jitu? Melelahkan?" tanya Liam, nada suaranya berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian.

Jasmine mendongak, merasakan debaran hangat yang familier merayap di dadanya. "Sedikit kaku, Kak. Tapi untungnya ada kelakuan konyol Kak Bryan tadi.

Liam tersenyum tipis. Matanya kemudian bergerak memperhatikan wajah Jasmine yang dipenuhi riasan tipis, lalu tatapannya berhenti pada beberapa helai anak rambut Jasmine yang tampak sedikit berantakan di dekat pelipisnya akibat aktivitas pemotretan yang padat. Tanpa ragu-ragu, dan dengan gerakan tangan yang luar biasa berani namun sangat lembut, Liam mengulurkan jari-jemari tangannya yang ramping. Di depan mata seluruh kru studio, dan tepat di hadapan pandangan mata Axel yang sedang menyaksikan dengan rahang yang mengatup keras menahan ledakan cemburu, Liam menyelipkan anak rambut berantakan itu ke belakang daun telinga Jasmine dengan kelembutan yang teramat sangat. Ibu jarinya sempat mengusap lembut ujung pipi Jasmine selama sepersekian detik, sebuah sentuhan protektif yang sangat intim dan menenangkan.

"Riasan kamu bagus banget hari ini. Tapi aku lebih suka lihat wajah alami kamu saat meminum teh chamomile di kafe," bisik Liam dengan suara baritonnya yang rendah namun terdengar begitu tegas, sengaja menegaskan sebuah garis batas baru yang sangat mutlak di antara dirinya, Jasmine, dan masa lalu kaku bersama Axel. "Aku ke sini sebenarnya bukan cuma mau antar kopi, Jasmine. Aku mau jemput kamu pulang setelah urusan studionya selesai. Mobil aku udah terparkir di depan."

Jasmine merasakan pipinya merona kemerahan, namun ia tidak menolak sedikit pun sentuhan tersebut. Ia memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat mantap dan penuh rasa percaya seutuhnya kepada Liam. Di sudut ruangan, Axel hanya bisa menyaksikan pemandangan tersebut sambil meremas cangkir kertas kopinya hingga hancur di dalam genggaman tangannya. Ia tahu, perisai besarnya kini telah benar-benar patah seutuhnya. Di dalam studio foto ini, ia mungkin memegang status sebagai kapten dunia yang bersanding bersama Jasmine di dalam poster komersial, namun di kehidupan nyata yang sesungguhnya, Jasmine telah memilih untuk berjalan pulang bersama sang barista yang memegang janji masa kecilnya tersebut.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!