Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Dia menangis sesenggukan setelah menahan semua emosinya di depan pria tadi. Ada perasaan tidak nyaman yang mendadak mencubit dadaku melihat pemandangan itu.
"Pak Hadi, tunggu di sini sebentar," ujarku sambil membuka pintu mobil.
Aku melangkah keluar, mengabaikan fakta bahwa setelan jas mahalku terasa sangat salah berada di lingkungan seperti ini. Aku berjalan masuk ke dalam minimarket yang tampak sepi, melewati lorong-lorong produk, sampai mataku tertuju pada deretan minuman di dalam lemari pendingin.
Aku mengambil satu kotak susu rasa pisang, lalu membayarnya di kasir. Setelah itu, aku keluar dan berjalan pelan menuju meja tempat Aruna berada. Langkah sepatuku sengaja dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang mengejutkannya.
Aku berhenti tepat di depan mejanya. Dengan gerakan tenang, aku meletakkan kotak susu rasa pisang yang masih dingin itu di atas permukaan meja besi, tepat di sela lipatan lengannya yang bergetar.
Aruna tampak tersentak. Merasa ada sesuatu yang diletakkan di dekatnya, dia perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab, merah, dan basah oleh air mata langsung mendongak menatapku.
Kedua matanya melotot sempurna karena kaget, mulutnya sedikit terbuka, menatap sosok bos besarnya berdiri di depannya malam-malam begini lengkap dengan setelan kerja mewahnya.
Aku menarik kursi besi di hadapannya dan duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Melipat tangan di atas meja, aku menatap wajah gadis itu yang kini dipenuhi noda air mata.
"Kenapa lagi?" tanyaku langsung, memecah keheningan malam. "Kalau diperhatikan, sepertinya hidupmu cuma diisi dengan menangis, marah-marah, dan menggosipkan bosmu di kantin."
Sengatan sindiranku yang biasanya langsung dialih-alihkan dengan bantahan galak, kali ini gagal total. Aruna tidak merespons. Dia hanya diam, menundukkan kepala dalam-dalam hingga poni rambutnya menutupi wajah. Jemari kecilnya bergerak lambat, menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar. Keheningan itu justru membuat rasa penasaranku makin terusik.
“Kenapa diam? Biasanya mulutmu itu paling pintar menjawab," tanyaku lagi, mendesaknya karena tidak terbiasa diabaikan seperti ini.
Pertanyaanku rupanya menjadi sumbu pendek yang memicu bom waktu di dalam dadanya.
Aruna mendadak mendongak. Matanya yang merah menyala menatap lurus penuh amarah yang meledak-ledak.
"Bisa gak sih Bapak gak usah ikut campur?!" bentak Aruna keras, suaranya melengking membelah kesunyian teras minimarket.
"Bapak itu bos saya di tempat kerja, bukan bapak kandung saya! Kenapa sih di kantor Bapak hobi banget ngerjain saya, terus malam-malam begini Bapak masih muncul cuma buat ngejek saya?! Saya lagi capek, Pak! Capek!"
Napasnya memburu naik-turun. Suara amukannya yang menggelegar itu sukses membuat penjaga kasir di dalam minimarket menempelkan wajahnya ke kaca, mengintip keluar dengan pandangan ngeri-ngeri sedap melihat kami.
Aku tertegun di tempat. Untuk pertama kalinya, seorang Adrian Wiratama dibentak habis-habisan oleh bawahannya sendiri di tempat umum.
Setelah mengeluarkan semua lahar amarahnya, bahu Aruna kembali bergetar hebat. Dia meremas ujung kemejanya kuat-kuat, lalu berkata dengan nada yang mendadak serak dan runtuh.
"Saya... saya baru aja mutusin pacar saya, Pak," cicitnya lirih, akhirnya mengaku sambil kembali menyembunyikan wajah basahnya di atas meja.
Pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, dan entah mengapa, sensasi aneh menjalar di dadaku. Ada rasa lega yang tidak bisa kujelaskan muncul tiba-tiba, seolah beban yang tidak kusadari sedang menekan pikiranku mendadak hilang begitu saja.
Aku berdeham, berusaha menetralkan ekspresi wajahku. "Minum susunya. Jangan cuma diliatin."
Aruna ragu. Dia menatap kotak susu pisang itu, lalu menatapku dengan mata yang masih merah. Namun, kelelahan sepertinya menang melawan gengsinya. Dia meraih kotak susu itu, menusukkan sedotannya, dan meminumnya pelan. Gesturnya yang tadinya meledak-ledak kini berubah menjadi sangat rapuh.
"Habis ini pulang sama siapa?" tanyaku lagi.
"Ojek online, Pak," jawabnya pelan tanpa mendongak.
Aku tidak suka mendengar jawabannya. "Tidak perlu. Saya mau balik ke kantor sebentar, ada dokumen penting yang tertinggal di ruang kerja. Saya antar kamu sekalian."
Kebohongan yang sangat halus, tentu saja. Ruang kerjaku di pusat kota, dan ini sudah malam. Tidak ada alasan logis bagiku untuk kembali ke sana, tapi aku tidak peduli.
Aruna menyimpan kotak susu itu di atas meja, lalu terdiam sejenak. Suasana menjadi hening. Aku berdiri dari kursi, kemudian mengulurkan tangan ke arahnya sebuah gestur yang mungkin terlalu sopan untuk bos yang baru saja dibentak bawahannya, tapi aku ingin dia segera bangkit.
Aruna masih diam membeku. Dia menatap tanganku dengan tatapan bingung. Aku menggenggam tangannya dan mulai berjalan menuju mobil sambil menuntunnya.
Baru beberapa langkah, langkah kaki di belakangku yang tiba-tiba berhenti dan melepaskan tangannya dari genggamanku. Aku menoleh dan melihat Aruna sedang berbalik arah dengan terburu-buru.
"Kenapa lagi?" tanyaku.
Dia tidak menjawab, hanya berlari kecil kembali ke meja minimarket tadi. Ternyata dia kembali untuk mengambil kotak susu pisangnya yang baru dia minum sedikit. Dia menggenggam kotak itu erat-erat dengan wajah yang tertunduk malu, lalu berjalan mengejarku kembali mengulurkan tangannya lagi seperti anak kecil yang ingin di gandeng.
Melihat tingkahnya yang sangat tidak terduga itu, aku tidak bisa menahan tawa. Aku tertawa kecil, suara tawa yang jujur dan terasa ringan. Aruna benar-benar unik. Di saat sedang sedih karena putus cinta dan baru saja memaki bosnya, dia masih sempat-sempatnya khawatir susunya tertinggal.
"Cepat," ucapku sambil menahan senyum, mencoba tetap menjaga wibawaku. "Pak Hadi sudah menunggu.”
Suasana di dalam mobil mendadak senyap begitu pintu ditutup. Aruna duduk di kursi belakang bersamaku, sengaja mengambil posisi yang paling mepet dengan jendela kiri, seolah-olah dia ingin menenggelamkan diri ke dalam pintu mobil. Tangannya masih memegang erat kotak susu pisang yang tadi.
"Pak Hadi, kita balik ke kantor dulu. Ada dokumen saya yang ketinggalan di ruangan," ujarku memecah keheningan, memberikan instruksi pada sopir pribadiku.
"Baik, Pak," sahut Pak Hadi.
Meski menjawab patuh, aku bisa melihat dari kaca spion tengah kalau mata Pak Hadi sesekali melirik ke arahku dengan pandangan bingung. Dia sudah bekerja denganku bertahun-tahun dan tahu persis kalau aku jarang sekali kembali ke kantor malam-malam begini hanya untuk urusan dokumen, apalagi sambil membawa seorang gadis yang matanya sembab habis menangis. Tapi, sebagai sopir yang profesional, dia memilih untuk tetap bungkam.
Perjalanan dilalui tanpa ada obrolan lagi. Aruna hanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong sambil sesekali meminum susunya itu.
Begitu mobil sudah mendekati area kantor yang mana merupakan kawasan dekat gang rumahnya Aruna, tiba-tiba dia menegakkan duduknya.
"Pak, berhenti di depan gang itu aja, Pak," ujarnya agak terburu-buru sambil menunjuk sebuah gang yang sedikit remang.
Pak Hadi menginjak rem perlahan hingga mobil berhenti sempurna di pinggir jalan.
Aruna kemudian menoleh ke arahku dengan canggung. "Pak Adrian, makasih banyak untuk tumpangannya. Dan... makasih juga buat susunya," ucapnya lirih.
Aku hanya mengangguk pendek tanpa bersuara.
Aruna kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Aku menurunkan kaca mobil sedikit, memperhatikan sosoknya yang berjalan masuk ke dalam gang tanpa menoleh ke belakang lagi. Langkahnya masih tampak berat, tapi dia tidak menangis lagi seperti tadi.
Begitu punggungnya benar-benar hilang di balik tikungan gang, aku kembali menaikkan kaca mobil.
"Pak Hadi, kita langsung pulang ke rumah saja. Gak jadi ke kantor," perintahku santai.
Gerakan tangan Pak Hadi di atas setir sempat tertahan sesaat. Dia pasti merasa bosnya ini mendadak aneh dan labil malam ini. Baru saja bilang ada barang tertinggal, sekarang setelah menurunkan karyawannya, tujuan langsung dibatalkan.
"Baik, Pak," jawab Pak Hadi akhirnya, memutar kemudi tanpa berani membantah sepatah kata pun.