ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16—Ajakan Pentas Seni
Pagi harinya, halaman SMA Garuda mendadak seperti zona perang saraf yang mencekam.
Pemandangan yang tersaji di depan gerbang sekolah adalah kombinasi sempurna antara kemewahan yang mengintimidasi dan romansa yang memicu dengki. Di antara deretan motor sport standar dan mobil jemputan kelas atas, sebuah Ducati Panigale V2 berkelir hitam legam berhenti dengan raungan mesin yang rendah namun berwibawa. Garis tajam motor itu seolah membelah udara pagi, menegaskan kasta yang berbeda bagi siapapun yang melihatnya.
Semua siswa sudah tahu siapa pengemudinya—Rahmat Pratama, sang "Sultan SMA" yang belakangan ini seolah tak henti-hentinya mengguncang kestabilan sosial sekolah. Namun, yang membuat suasana benar-benar meledak adalah sosok yang duduk di boncengan belakang.
Alya. Sang primadona sekolah yang terkenal dengan sikap dingin dan standar tingginya, kini terlihat duduk begitu akrab, bahkan jemarinya melingkar santai di pinggang Rahmat saat motor itu perlahan berhenti.
Melihat kedekatan bidadari sekolah itu dengan Rahmat membuat para pria di halaman sekolah mengumpat dalam hati. Memang, desas-desus tentang hubungan mereka sudah menyebar seperti api di atas rumput kering, tapi melihatnya secara langsung adalah konfirmasi yang menyakitkan.
Masalahnya, "dosa" Rahmat di mata mereka tidak berhenti di situ. Kanaya, sang idol nasional yang baru pindah di sekolah ini, terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya, bahkan sang Iron Lady Ketua OSIS, Anissa, dirumorkan memiliki agenda pribadi dengan pemuda kelas 11 IPA 2 ini, terbukti dari seringnya dia dipanggil pakai toa sekolah secara privat.
Baru kali ini mereka melihat pemandangan seberani ini secara live. Rahmat seolah-olah sedang mendeklarasikan perang terbuka terhadap seluruh populasi pria di SMA Garuda.
“Bangsat! Iri gue.”
“Jadi ganteng sama kaya enak, ya!”
“Kapan gue dapet my kisah, anjir. Satu aja nggak dapat, si bangsat ini udah lebih dari 3 heroine di embat semua!”
Rahmat mematikan mesin Ducatinya. Keheningan yang mengikuti mesin yang mati itu justru terasa lebih bising karena bisikan-bisikan tajam di sekitarnya.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: SOCIAL PRESSURE]
Status: Pusat Perhatian (Extreme).
Deteksi Emosi Sekitar: 70% Iri, 20% Kagum, 10% Haus Darah.
━━━━━━━━━━━━━━━
Alya turun dari motor dengan gerakan yang anggun, melepas helm full-face mahal yang dipinjamkan Rahmat. Ia menyisir rambutnya dengan jari, sebuah tindakan sederhana yang membuat setengah siswa laki-laki di sana lupa cara bernapas.
"Makasih ya, jemputannya," ucap Alya pelan, namun cukup keras untuk didengar orang-orang di dekat mereka. Ia memberikan senyum kecil yang jarang diperlihatkan—sebuah senyum yang hanya ditujukan untuk Rahmat.
Rahmat hanya mengangguk santai sambil menyampirkan tasnya. "Sama-sama. Lagian rute kita sekarang kan searah."
Dari kejauhan, di dekat tangga lobi, sosok Kanaya Arcelia berdiri kaku. Wajah cantiknya yang biasa menghiasi layar televisi kini tampak mendung. Ia mencibirkan bibirnya kecil, matanya menatap tajam ke arah tangan Alya yang baru saja melepas pegangan dari jaket Rahmat.
[ WARNING! ]
[ Target: Kanaya. ]
[ Status: Cemburu Level Menengah. ]
[ Pikiran: "Kenapa bukan aku yang dijemput? Padahal aku yang memberinya hadiah ciuman duluan!" ]
Tak jauh dari Kanaya, Anissa yang sedang melakukan patroli rutin OSIS berhenti melangkah. Ia , menatap pemandangan di gerbang dengan raut wajah yang sulit ditebak. Namun, pulpen yang ia pegang di atas papan jalan tampak ditekan sedikit lebih kuat dari biasanya.
DI DALAM KELAS: INTROGASI 11 IPA 2
Begitu Rahmat masuk ke kelas, suasana yang tadi ramai mendadak sunyi sesaat sebelum meledak. Danu, si kepala plontos yang selalu tahu gosip terbaru, langsung melompat ke meja Rahmat.
"Gila lo, Mat! Boncengin Alya?!" Danu berseru histeris. "Lo mau bikin satu sekolah demo apa gimana? Tadi gue lihat Kanaya mukanya udah kayak mau menelan orang hidup-hidup pas lo lewat!"
Raefka yang duduk di belakang ikut menimpali sambil memutar pulpennya. "Gue akui, Mat. Game lo gila. Lo baru aja nge-trigger dua faksi terbesar di sekolah ini: Faksi Pemuja Alya dan Faksi Fans Kanaya. Lo nggak takut dikeroyok pas pulang sekolah?"
“Si Alfian bakal mulai perang!”
“Si Rozak kelas sebelas fans kanaya juga bakal join perang.”
“Bro sedang memulai perang dua waifu.”
Rahmat hanya tersenyum tipis, membuka buku pelajarannya dengan tenang. Super Social Skill-nya membuat ia tetap terlihat elegan di tengah serangan pertanyaan. "Gue cuma antar teman. Masa nggak boleh?"
"Teman apaan yang antar-jemput pakai motor seharga rumah subsidi, dodol!" umpat Danu gemas.
Dia kerumunan kelas itu, Kanaya Arcelia dengan rambut kuncir duanya tampak memalingkan wajah kesal. Tangannya menyembunyikan sebuah kertas poster di dalam laci meja.
Itu adalah sebuah poster pentas seni untuk sekolah ini. Sekarang sedang diadakan event hiburan untuk penutupan sekaligus permisahan kelas 12. Disitu tertulis bagi siapapun yang berminat menjadi peserta pentas seni bisa segera mendaftar.
Awalnya kanaya ingin mengajak Rahmat—mantan bodyguard yang pernah bekerja melindungi dia selama 7 hari untuk ikut bersama. Semaca duet nyanyi, namun melihat kejadian di halam sekolah membuat dia kesal sendiri dan terhenti.
“Kana, ada apa?” Tanya Rahmat yang menyadari sesuatu.
“Tidak kenapa-kenapa!” Dustanya.
Rahmat hanya bisa mengangkat bahu melihat Kanaya yang mendadak menjadi sedingin kutub utara. Ia tahu, dibalik kata "Tidak kenapa-kenapa" seorang wanita, biasanya ada gunung berapi yang siap meletus. Namun, sebelum ia sempat membujuk lebih jauh, bel masuk berbunyi, memaksa Danu dan Raefka kembali ke habitat masing-masing.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, namun Rahmat bisa merasakan tatapan menusuk dari beberapa sudut kelas. bukan karena ancaman nyawa, tapi karena aura kompetisi yang mencekam di antara para pengagum rahasianya.
***
Sesuai janji, Ducati hitam itu membelah jalanan menuju warung Bakso Pak Kumis. Di sana, suasana jauh lebih rileks. Aroma kuah kaldu yang gurih dan uap panas dari panci besar seolah mencairkan ketegangan yang terjadi di sekolah tadi pagi.
"Akhirnya..." Alya menghembuskan napas lega, duduk di bangku kayu panjang yang sedikit bergoyang. "Makan di sini jauh lebih tenang daripada harus dengarkan bisikan orang-orang di koridor."
Rahmat memperhatikan Alya yang mulai meracik sambal dengan lihai. Tangannya yang putih bersih tampak kontras dengan meja kayu yang kusam.
"Jadi, Alya," Rahmat memulai pembicaraan setelah dua mangkok bakso panas terhidang. "Kamu bilang ada permintaan ketiga yang 'memalukan'. Kita sudah di sini, tanpa gangguan siapapun. Apa itu?"
Alya terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia merogoh tas sekolahnya, lalu mengeluarkan selembar kertas poster yang sedikit terlipat—poster yang sama persis dengan yang disembunyikan Kanaya di laci meja tadi pagi.
[PENTAS SENI SMA GARUDA: FAREWELL PARTY CLASS 12]
"Ini?" Rahmat mengerutkan kening.
Alya menunduk, wajahnya merona merah hingga ke telinga. "Aku... aku mau kamu daftar pentas seni bersamaku. Aku ingin kita duet di atas panggung di depan seluruh sekolah."
Rahmat tertegun. "Duet? Kamu mau bernyanyi, Alya?"
"Iya aku mau!" Alya memotong cepat, suaranya naik satu oktav karena malu. "Sebenarnya aku mau mencoba melakukan hal seperti ini … mimpiku sejak kecil adalah menjadi idol seperti kanaya, tapi aku agak malu. Jadi kurasa kalau kamu ikut dan duet bersamaku, ini bisa debut yang menarik.”
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: CRITICAL CHOICE]
Target: Alya.
Tujuan: Duet Pentas Seni.
Progress Ending: 86% -> 94%
Peringatan: Jika Tuan Rumah menerima, Kanaya akan mengalami Mental Breakdown level rendah. Jika menolak, loyalitas Alya akan stagnan.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menyandarkan punggungnya, menatap poster itu dengan pikiran yang berputar cepat. Ia baru saja ingat bahwa Kanaya juga memiliki poster yang sama.
Lalu dia melihat poster itu lebih seksama. “Maaf Alya. Kurasa kita tidak bisa melakukan duet.”
“Eh? Kenapa kamu sudah janji—-”
Ramat segera menggelengkan kepala. Ia menunjukan ke salah satu syarat poster itu. Entah karena terlalu bersemangat atau gimana, tampaknya gadis ini jadi minim literasi.
“Syarat pendaftaran adalah minimal tiga orang untuk satu kelompok. Kita kekurangan anggota.”