Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 22
Kereta kuda itu berhenti dengan suara ringkikan pelan di depan paviliun.
Ilwa turun dengan langkah yang cepat, tangannya menggenggam erat tas berisi bahan obat dan bungkusan senjata barunya. Tanpa memedulikan sapaan para pelayan yang berlalu-lalang,
ia langsung melesat masuk ke dalam kamarnya dan memutar kunci pintu dengan bunyi *klik* yang tegas.
Ia tidak ingin ada interupsi sekecil apa pun untuk ritual yang akan ia jalani.
Ilwa meletakkan bilah hitam barunya di atas meja kerja, lalu beralih ke kamar mandi pribadinya.
Di sana, sebuah bak mandi batu besar telah menanti.
Ia memutar keran, membiarkan air jernih mengalir deras memenuhi bak tersebut hingga uap tipis mulai naik.
-------
Sambil menunggu air penuh, Ilwa mulai membuka kotak-kotak obatnya. Ia melakukannya dengan presisi seorang alkemis agung.
Pertama, ia mengambil **Kristal Garam Vulkanik**.
Begitu kristal merah membara itu menyentuh air, suara desisan tajam terdengar, dan air yang tadinya jernih mulai mendidih secara tidak alami.
Kemudian, ia memasukkan **Akar Naga Hitam** yang sudah ia potong tipis-tipis. Air yang mendidih itu seketika berubah warna menjadi hitam pekat seperti tinta, mengeluarkan aroma tanah yang berat dan purba.
Namun, Ilwa tidak berhenti di sana. Ia segera memasukkan **Bunga Es Teratai**.
Begitu kelopak putih transparan itu masuk, suhu air yang tadinya panas menyengat mendadak turun secara drastis, menciptakan keseimbangan termal yang aneh; air itu tampak mendidih namun terasa dingin di saat yang bersamaan.
Terakhir, ia menuangkan **Ekstrak Daun Mandrake**.
Cairan hijau kental itu menyatukan semua elemen, mengubah warna air menjadi hijau gelap yang berpendar redup.
Ilwa mengaduk campuran itu dengan tongkat kayu, merasakan densitas air yang kini terasa lebih berat, seolah air itu telah berubah menjadi cairan merkuri yang penuh energi.
---
Sebelum melangkah masuk, Ilwa terhenti. Ia teringat akan kehadiran Lina, pelayan baru yang tatapannya terasa terlalu tajam untuk seorang pelayan biasa.
Ia tidak boleh membiarkan suara sekecil apa pun keluar dari ruangan ini, apalagi jika ia harus mengerang menahan sakit.
"**Silent Sphere**," bisik Ilwa.
Jari-jarinya membentuk pola di udara, dan seketika, sebuah riak transparan menyebar dari titik ia berdiri, menyelimuti seluruh dinding kamar dan kamar mandi.
Sihir ini memastikan bahwa frekuensi suara apa pun tidak akan menembus keluar, dan sebagai tambahan,
ia memanipulasi cahaya pada jendela agar siapa pun yang mencoba mengintip hanya akan melihat kegelapan pekat yang statis.
Setelah merasa aman, Ilwa menanggalkan seluruh pakaiannya.
Ia melangkah masuk ke dalam bak mandi hijau gelap tersebut.
Begitu tubuhnya tenggelam hingga batas leher, Ilwa tersentak hebat. Matanya melebar, dan urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Argh..."
Rasanya seperti ribuan jarum es ditusukkan ke pori-porinya, hanya untuk digantikan oleh sensasi lava panas yang merambat masuk ke dalam tulang-tulangnya.
Cairan obat itu mulai meresap, menghancurkan deposit mana yang menyumbat sumsum tulangnya dan memaksa sirkuit mananya yang "berkarat" untuk melebar secara paksa.
Rasa sakitnya luar biasa; seolah-olah seluruh tulangnya sedang dipatahkan dengan palu, lalu disambung kembali dengan besi panas. Ilwa mencengkeram pinggiran bak batu itu hingga jemarinya memutih, menahan jeritan yang seharusnya bisa terdengar hingga ke seluruh paviliun jika bukan karena sihir *Silent Sphere*.
---
Sementara Ilwa sedang bertarung dengan rasa sakit di dalam kamarnya, di luar paviliun, sebuah bayangan bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi seorang pelayan biasa.
Lina, dengan gerakan yang sunyi dan terlatih, memanjat dinding batu paviliun tersebut. Tujuannya hanya satu: jendela kamar Ilwa.
Ia ingin memastikan apa yang sebenarnya dilakukan oleh anak itu setelah pulang membawa belanjaan misterius.
Lina berhasil mencapai amban jendela dan perlahan mengangkat kepalanya untuk mengintip ke dalam.
Namun, dahi Lina berkerut. Ia tidak melihat apa pun kecuali kegelapan yang pekat, seolah-olah ruangan itu telah ditelan oleh jurang tanpa dasar.
Ia mencoba memicingkan mata, namun tetap nihil.
"Aneh sekali... padahal matahari masih terik, tapi kenapa di dalam sana sama sekali tidak ada pantulan cahaya? Apakah dia menutupnya dengan kain yang sangat tebal?" pikir Lina dengan heran.
Merasa tidak mendapatkan informasi apa pun, Lina segera melompat turun dengan sangat ringan, mendarat di atas rumput tanpa suara sedikit pun.
Ia berdiri tegak, membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor, sambil terus berpikir bagaimana cara menembus privasi bocah misterius itu.
"Apa yang sedang kau lakukan di situ, Lina?"
Lina tersentak.
Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya dengan cepat berubah menjadi topeng kepolosan yang sempurna.
Ia berbalik dan melihat Martha berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan penuh keheranan.
"Ah... Bibi Martha!" Lina tersenyum malu-malu, dengan cepat ia menyambar sebuah sapu lidi yang tersandar di dinding dekat sana.
"Saya... saya sedang menyapu halaman belakang. Tadi saya melihat ada sarang laba-laba besar di dekat jendela Tuan Muda, jadi saya mencoba membersihkannya."
Martha menyipitkan mata, menatap sapu di tangan Lina lalu menatap jendela kamar Ilwa yang tinggi di atas.
"Menyapu jendela setinggi itu? Kau benar-benar rajin ya, Lina. Tapi sebaiknya kau berhati-hati, Tuan Muda Ilwa tidak suka jika ada orang yang mengganggu ketenangannya saat ia sedang istirahat."
"Tentu, Bibi. Saya mengerti," jawab Lina dengan nada rendah yang patuh.
"Sudahlah, setelah kau selesai menyapu, segera siram bunga-bunga di taman depan. Cuaca hari ini sangat panas, mereka akan layu jika terlambat," ucap Martha sebelum akhirnya berbalik pergi menuju dapur.
Lina menghela napas lega setelah Martha menghilang di balik pintu. Ia menatap kembali ke jendela kamar Ilwa dengan tatapan dingin dan penuh selidik.
"Bocah itu... ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dan aku akan mencari tahu, cepat atau lambat."
Di dalam kamar mandi, di balik perlindungan sihir kedap suara, Ilwa masih berendam dalam cairan hijau yang kini mulai berubah menjadi keruh karena kotoran dari dalam tubuhnya mulai keluar.
Keringat hitam keluar dari dahinya, namun di balik rasa sakit yang menyiksa itu, Ilwa bisa merasakan bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.
--------
Dua jam telah berlalu sejak Ilwa menenggelamkan dirinya ke dalam cairan hijau berpendar itu.
Di dalam kamar mandi yang terisolasi oleh sihir *Silent Sphere*, suasana terasa begitu menyesakkan.
Uap yang mengepul dari bak mandi kini bukan lagi beraroma herbal segar, melainkan berubah menjadi bau amis yang tajam dan pekat, seperti bau logam yang berkarat bercampur dengan busuknya sisa-sisa energi yang mati.
Warna air yang tadinya hijau gelap perlahan-lahan bertransformasi.
Sedikit demi sedikit, gumpalan zat berwarna hitam legam muncul dari pori-pori kulit Ilwa, menyebar ke seluruh air hingga akhirnya mengubah seluruh isi bak mandi menjadi seperti genangan tinta hitam yang kental dan menjijikkan.
Fenomena menghitamnya air ini adalah hasil dari proses pembuangan **Impuritas Medular** (kotoran sumsum) yang selama ini mengendap di dalam raga Ilwa.
Sebagai seorang *Omni-Overlord* yang terperangkap dalam tubuh bocah berpenyakit, Ilwa membawa beban fisiologis yang sangat berat.
*Aura-Lock* bukan hanya mengunci mana, tetapi juga menyebabkan sirkulasi darah yang stagnan, meninggalkan endapan racun metabolisme dan sisa-sisa mana yang membusuk di dalam tulang-tulangnya selama delapan tahun.
Mandi obat ini bekerja seperti tekanan hidrolik magis yang memaksa setiap racun, kotoran, dan energi negatif yang menyumbat saluran mikro-sirkulasi untuk keluar melalui kelenjar keringat.
Zat hitam itu adalah akumulasi dari "sampah" yang menghambat pertumbuhan sel otot dan kepadatan tulang.
Dengan keluarnya kotoran ini, struktur tubuh Ilwa bukan lagi sekadar tubuh anak kecil biasa; ia kini sedang merestrukturisasi dirinya menjadi wadah yang lebih murni, lebih padat, dan lebih kuat.
Rasa sakit yang tadinya terasa seperti tulang yang dipatahkan, perlahan-lahan mereda, berganti dengan sensasi denyut hangat yang menjalar ke seluruh saraf.
Ilwa menarik napas panjang, membuka matanya yang kini tampak lebih jernih dan tajam.
Ia melangkah keluar dari air hitam yang keruh itu, kulitnya tampak sedikit lebih pucat namun memiliki kilau yang lebih sehat, seolah-olah lapisan kusam dari dirinya telah dikuliti habis.
Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk linen dan mengenakan kembali pakaian santainya, Ilwa berdiri di depan cermin, mengepalkan tinjunya.
"Ringan..." bisiknya. Suaranya terdengar lebih stabil.
Sensasi berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah terangkat.
Meskipun *Aura-Lock* masih ada di sana, tersembunyi di dalam sirkuit mananya, fondasi fisik Ilwa kini jauh lebih tangguh.
Tujuan utama dari ritual menyakitkan ini memang bukan untuk menyembuhkan penyakitnya secara instan—karena itu hampir mustahil dengan bahan tingkat rendah—melainkan untuk memperkuat "wadah" tersebut.
Jika fisiknya kuat, maka ketika penyakit itu kambuh dan mencoba menghantam tubuhnya dari dalam, Ilwa memiliki ketahanan yang cukup untuk tidak langsung pingsan atau mengalami kerusakan organ permanen.
---
Mandi obat ini, dalam sejarah dunia saat ini, sebenarnya bukanlah sebuah teknik beladiri atau sihir aktif.
Ini adalah sebuah **Metode Kultivasi Eksternal** yang telah hilang ditelan zaman. Di era modern klan Eldersheath, orang-orang lebih berfokus pada peningkatan mana secara langsung melalui meditasi atau penggunaan batu sihir.
Mereka melupakan bahwa mana yang kuat membutuhkan wadah fisik yang setara.
Hampir tidak ada tabib atau alkemis di benua ini yang mengetahui rasio presisi antara Akar Naga Hitam dan Kristal Garam Vulkanik yang digunakan Ilwa.
Kebanyakan orang akan menganggap kombinasi itu sebagai kegagalan eksperimen. Namun, bagi Ilwa, ini adalah pengetahuan dasar dari masa jayanya sebagai Albus.
Mandi obat ini adalah jembatan antara manusia biasa dan manusia super, sebuah proses evolusi pasif yang tidak membutuhkan sirkulasi mana aktif, sehingga sangat aman bagi penderita *Aura-Lock* jika dilakukan dengan benar.
"Jika aku ingin benar-benar menekan rasa sakit ini sampai nol, aku butuh bahan seperti Jantung Salamander atau Darah Phoenix,"
batin Ilwa sambil menatap sisa air hitam di bak mandi.
"Tapi untuk saat ini, peningkatan kekuatan fisik ini sudah lebih dari cukup untuk memulai latihan pedang pribadiku."
Ia berjalan menuju jendela, menghentikan sihir *Silent Sphere* dan membiarkan cahaya sore masuk kembali ke kamarnya.
Ilwa tahu bahwa di luar sana, mata-mata seperti Lina mungkin masih berkeliaran, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam ruangan ini.
Namun, dengan tubuh yang kini sudah "dibersihkan", Ilwa merasa lebih siap menghadapi permainan intrik apa pun.
Ia mengambil bilah hitam yang baru dibelinya dari meja, merasakan beratnya yang kini terasa jauh lebih pas di genggamannya.
Persiapan untuk latihan inti lima tahun kedepan telah dimulai dari dasar sumsum tulangnya sendiri.
Bersambung....