NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Sinar Mentari di Langit London

Lantai marmer Bandara Heathrow yang dingin menyambut langkah kaki Gabriella Queensa Vanessa. Untuk pertama kalinya, napas yang ia hirup terasa berbeda. Bukan lagi udara lembap Jakarta, melainkan aroma khas London yang dingin, bercampur samar dengan wangi kopi dan parfum high-end dari orang-orang yang berlalu-lalang. Gaby memejamkan mata sejenak, membiarkan dadanya menyesuaikan diri dengan debaran gugup sekaligus antusias.

Langkah mungilnya baru saja melewati pintu kedatangan saat dua pria bertubuh tegap menghalangi jalannya. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, dengan alat komunikasi yang tersemat di telinga mereka. Penampilan yang mencolok sekaligus intimidasi.

"Excuse me, Miss. May we confirm if you are Miss Gabriella Queensa Vanessa?" salah satu dari mereka bertanya dengan aksen British yang kental dan sopan.

Gaby terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan penyambutan formal ini. Ia mengangguk pelan sebelum bertanya, "Apakah Kak Emrys ada di sini?"

Dua pria itu saling melempar pandang sekilas, lalu membungkuk hormat. "The Master is waiting for you over there, Miss. Please, follow us."

Gaby berjalan diapit oleh kedua pengawal itu, merasa seperti seorang putri dari kerajaan kecil yang baru saja mendarat. Matanya menyisir kerumunan hingga akhirnya tertuju pada sesosok pria yang berdiri tenang di dekat pilar besar. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan kacamata berbingkai tipis dan setelan formal yang membalut tubuh atletisnya. Jemari panjangnya yang memegang ponsel tampak begitu elegan.

Emrys Aetherion Kaito.

Pria itu menyunggingkan senyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya ditujukan untuk keluarga. "Welcome to London, Gaby," sapanya rendah.

Gaby terpaku. Ia butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa pria di depannya adalah sepupu yang dulu sering ia ajak bermain. "Kakak? Kau... kau banyak berubah ya!" serunya, tak bisa menahan kegembiraan. Tanpa memedulikan tatapan orang sekitar, Gaby langsung berhambur ke pelukan Emrys.

Emrys terkekeh pelan, membalas pelukan gadis yang kepalanya bahkan tidak sampai ke dagunya itu. Aroma parfum woody yang mewah tercium dari jas Emrys, memberi rasa aman bagi Gaby di negeri orang.

"Kau juga," bisik Emrys lembut sembari mengusap kepala sepupunya. "Kau semakin cantik, tapi sayangnya tinggimu tetap tidak pernah bisa menyamaiku."

Gaby segera melepaskan pelukan, wajahnya merona karena kesal. "Kau memang berubah secara fisik, Kak, tapi mulut pedasmu itu tidak! Menyebalkan!" Gaby mendaratkan pukulan cukup keras di dada bidang Emrys, membuat pria itu meringis meski tetap tertawa kecil.

"Ayo, kita pulang sekarang," ujar Emrys seraya merangkul pundak Gaby, menuntunnya menuju area parkir di mana sebuah Bentley hitam berkilat sudah menunggu.

.

.

Mobil Bentley hitam itu melaju dengan tenang, membelah jalanan London yang mulai diselimuti temaram senja. Di kursi belakang, Gaby menempelkan wajahnya ke kaca jendela, menatap deretan bangunan berasitektur klasik yang berpadu dengan modernitas kota.

"Kau akan terbiasa dengan cuaca dinginnya, Gaby. Jangan lupa selalu bawa mantel jika keluar," suara berat Emrys memecah keheningan. Pria itu masih sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya yang panjang bergerak lincah memeriksa beberapa dokumen digital.

Gaby menoleh, menatap profil samping sepupunya yang terlihat sangat serius dari balik kacamata tipisnya. "Aku tahu, Kak. Mama sudah memasukkan sepuluh jaket tebal ke koperku. Rasanya berlebihan sekali."

Emrys menutup tabletnya dan menatap Gaby dengan tatapan yang sulit diartikan. "Paman Melton sangat khawatir melepasmu sendirian ke Inggris. Jika bukan karena aku tinggal di sini, dia mungkin tidak akan mengizinkanmu kuliah di Oxford."

Gaby menghela napas panjang. Ia tahu betul betapa protektifnya sang ayah. Keluarga besar mereka sangat menghormati Victor Aetherion Kaito, ayah Emrys, sehingga ketika Emrys yang sudah mapan dan memiliki pengaruh di London menawarkan diri untuk menjaga Gaby, restu itu pun akhirnya jatuh.

"Terima kasih sudah mau direpotkan olehku, Kak," gumam Gaby pelan.

"Kau memang merepotkan, tapi aku lebih suka kau ada di bawah pengawasanku daripada di asrama kampus yang berisik," jawab Emrys dengan nada datar, namun ada nada protektif yang tersirat di sana.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan eksklusif dengan keamanan tingkat tinggi. Sebuah penthouse dua lantai yang letaknya sangat strategis, hanya beberapa menit dari kawasan pusat dan memiliki akses mudah menuju lingkungan kampus.

Begitu pintu terbuka, Gaby disambut oleh ruang tamu yang luas dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota London. Interiornya didominasi warna monokrom hitam, putih, dan abu-abu. Sangat mencerminkan kepribadian Emrys yang dingin dan teratur.

"Kamarmu ada di lantai atas, sebelah kiri. Semua barangmu sudah diatur oleh pelayan tadi pagi," Emrys meletakkan kunci mobilnya di meja marmer.

Gaby segera berlari kecil menuju kamarnya. Saat membuka pintu, matanya berbinar. Berbeda dengan bagian rumah lainnya yang terkesan kaku, kamar ini jauh lebih hangat dengan sentuhan warna cream dan balkon kecil yang langsung menghadap ke arah jalanan kota yang sibuk.

"Wah! Kak Emrys, ini luar biasa!" teriak Gaby dari atas.

Emrys berdiri di bawah tangga, menatap ke atas dengan kedua tangan masuk ke saku celana kainnya. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. "Nikmati waktumu minggu ini, Gaby. Karena begitu perkuliahan dimulai, aku tidak akan membiarkanmu bermalas-malasan. Ingat, kau membawa nama besar keluarga di Oxford."

Gaby menjulurkan lidahnya sedikit, mengejek. "Siap, Tuan Besar Emrys! Tapi malam ini, kau harus menemaniku mencari fish and chips terbaik di kota ini!"

Emrys hanya menggelengkan kepala, namun dalam hati, ia tahu rumahnya yang selama ini sunyi akan menjadi jauh lebih berisik mulai hari ini.

.

.

.

Suasana dingin London di luar sana kontras dengan kehangatan di dalam ruang makan penthouse. Emrys sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Di atas meja marmer, pelayan telah menyajikan dua piring steak wagyu dengan siraman saus truffle yang aromanya menggugah selera. Gaby duduk di hadapan Emrys, dengan mengenakan piyama sutra yang baru ia ganti, tampak kontras dengan aura kaku yang biasa menyelimuti ruangan itu.

"Makanlah, Gaby. Aku tahu kau pasti lapar setelah penerbangan belasan jam," ucap Emrys tenang sembari memotong dagingnya dengan presisi yang sempurna.

Gaby menyuap potongan daging pertamanya dan memejamkan mata. "Enak sekali! Kakak benar-benar hidup mewah di sini, ya?"

Emrys mendongak, menatap sepupunya dari balik bingkai kacamatanya yang elegan. "Ini bukan soal mewah, ini soal efisiensi. Aku butuh tempat yang tenang untuk bekerja, dan lingkungan ini paling cocok."

"Dasar kaku," gumam Gaby pelan. Ia lalu menatap Emrys dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kak, bagaimana rasanya tinggal sendirian di London selama ini? Apa Paman Victor tidak sering berkunjung?"

Gerakan tangan Emrys terhenti sejenak. "Ayah terlalu sibuk dengan bisnis di Jakarta. Kami bicara lewat telepon seperlunya saja. Lagipula, aku sudah terbiasa mandiri sejak remaja." Ada nada datar dalam suaranya, seolah emosi telah lama ia singkirkan dari kamus hidupnya.

Gaby terdiam sejenak, merasakan sedikit kesepian di balik kemegahan tempat ini. "Yah, sekarang kau tidak sendirian lagi. Ada aku yang akan membuat dapurmu berantakan dan TV-mu menyala sampai larut malam."

Emrys meletakkan garpunya dan menatap Gaby lurus-lurus. Tatapannya tajam namun tidak dingin. "Aku sudah membuatkan daftar peraturan untukmu selama tinggal di sini, Gaby. Termasuk jam malam dan siapa saja yang boleh kau bawa ke rumah ini."

Gaby memutar bola matanya. "Baru satu jam aku di sini, dan kau sudah jadi diktator!"

"Ini demi keamananmu. Oxford bukan tempat yang kecil, dan aku tidak ingin Paman Melton meneleponku setiap jam hanya untuk bertanya apakah putrinya sudah pulang atau belum," balas Emrys dengan senyum tipis yang tampak menyebalkan sekaligus menenangkan bagi Gaby.

Gaby mendengus, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa di balik sikap otoriter itu, Emrys adalah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan di negeri asing ini.

"Baiklah, Tuan Emrys yang terhormat. Tapi sebagai imbalan atas kepatuhanku, besok kau harus mengantarku melihat gedung kampus. Aku tidak mau tersesat di hari pertama orientasi!"

Emrys kembali menyantap makanannya, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Akan kupikirkan jika kau menghabiskan sayuran di piringmu."

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!