NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Ulat Racun

Sore itu, setelah pertemuan singkat dengan Wei Kuan di luar Blue River Auction House, Shou Wei tidak langsung kembali ke River Lantern Lodge.

Ia berjalan lebih dulu menyusuri jalan batu samping rumah lelang, memutari dua blok, lalu berhenti di depan kios teh kecil yang menghadap persimpangan. Ia tidak masuk. Hanya berdiri di bawah bayang atap sambil mengamati pantulan kaca jendela, arus orang, dan suara langkah yang mungkin terlalu sering muncul di belakangnya.

Tak ada yang mencolok.

Lanhe City memang lebih besar, tapi juga lebih rapi menyembunyikan mata. Itu membuatnya lebih sulit membaca apakah seseorang sedang mengikuti, atau sekadar hidup di kota seperti biasa.

Saat ia baru hendak bergerak lagi, seorang pelayan perempuan berjubah biru pucat berhenti di sampingnya.

“Wei Shou?”

Shou Wei menoleh.

Pelayan itu yang tadi berdiri di belakang Lan Xue di paviliun timur. Sikapnya rapi, wajahnya tenang, dan suaranya cukup pelan untuk tidak menarik perhatian orang sekitar.

“Young Miss wishes to speak with you. Alone.”

Jantung Shou Wei bergerak sedikit.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Ia tidak bertanya kenapa. Jika Lan Xue ingin memanggilnya, berarti sudah ada keputusan atau rencana. Orang seperti dia tidak memanggil hanya untuk berbasa-basi.

Shou Wei mengikuti pelayan itu kembali ke rumah lelang, tapi bukan lewat paviliun timur. Mereka masuk dari lorong samping yang lebih sempit, lalu naik ke lantai dua lewat tangga kayu gelap yang tidak dipakai tamu biasa. Semakin ke atas, suasana makin sunyi. Suara pasar dan aula depan tertinggal jauh di bawah.

Akhirnya mereka sampai di sebuah ruang kecil berbentuk memanjang, dengan jendela kisi menghadap sungai utama Lanhe City. Di dalamnya hanya ada meja teh, rak gulungan, lampu batu kecil, dan satu lukisan tinta hitam tentang aliran sungai di musim dingin.

Lan Xue sudah ada di sana.

Ia berdiri dekat jendela dengan tangan di belakang punggung. Hari ini ia mengenakan jubah biru tua lebih gelap dari biasanya, tanpa hiasan selain ikat pinggang perak tipis. Wajahnya tetap cantik, tapi seperti biasa kecantikan itu terasa dingin dan jauh—indah untuk dilihat, sulit untuk didekati.

Pelayan perempuan itu membungkuk dan keluar, menutup pintu dari luar.

Tinggallah mereka berdua.

Lan Xue tidak langsung duduk. Ia menatap sungai di luar beberapa detik, lalu berkata tanpa berputar, “Kau tidak menjawab satu pertanyaan penting tadi.”

Shou Wei tetap berdiri. “Pertanyaan yang mana?”

“Apa kau punya hubungan dengan sebuah clan formasi terkenal.” Ia menoleh perlahan. “Keluarga Shou.”

Dunia seolah menyempit sepersekian detik.

Shou Wei tidak bergerak. Tapi di dalam dirinya, bayangan rumah yang terbakar, tambang batu roh, dan nama lamanya bergerak bersamaan seperti luka yang disentuh tiba-tiba.

Lan Xue mengamati wajahnya.

Ia tidak tampak puas, tidak tampak curiga berlebihan. Hanya melihat.

Shou Wei akhirnya menjawab, suaranya tetap tenang meski lebih pelan dari biasanya. “Aku tidak bisa menjawab.”

Itu bukan ya.

Bukan juga tidak.

Jawaban yang justru lebih berbahaya daripada kebohongan sederhana.

Namun Lan Xue tidak mendesak.

Ia berjalan ke meja teh dan duduk dengan gerakan rapi, lalu menunjuk kursi di depannya. “Duduk.”

Shou Wei duduk.

Beberapa saat hening.

Lan Xue menuang teh ke dua cawan kecil, tapi tidak langsung menyentuh miliknya. Matanya tetap pada Shou Wei.

“Jawaban seperti itu biasanya berarti dua hal,” katanya. “Kau memang punya kaitan. Atau kau cukup cerdas untuk tidak menyerahkan lehermu pada pertanyaan pertama.”

“Dan menurutmu yang mana?”

Lan Xue mengangkat cawan tehnya sedikit, lalu meletakkannya lagi tanpa minum. “Keduanya tidak mengubah hal yang kulihat.”

Shou Wei diam.

Lan Xue melanjutkan, “Matamu untuk formasi terlalu baik untuk bocah tanpa akar. Caramu melihat utility scraps dan broken plates bukan cara orang yang hanya mengandalkan keberuntungan. Kau mungkin tidak punya guru sekarang. Tapi entah masa lalumu apa, kau membawa jejak sesuatu yang lebih dalam.”

Ia berhenti, lalu suaranya turun setingkat. “Aku tidak tertarik menggali rahasia masa lalumu selama rahasia itu tidak merugikan rumah lelangku.”

Kalimat itu masuk seperti pisau tipis.

Dingin, jelas, dan sangat Lan Xue.

“Aku punya tawaran,” katanya.

Shou Wei tahu bagian ini jauh lebih penting dari pertanyaan sebelumnya.

Lan Xue memberi isyarat kecil ke pintu. Sesaat kemudian, pelayan tadi masuk sambil membawa sebuah kotak kayu hitam panjang. Ia meletakkannya di meja, lalu pergi lagi.

Lan Xue membuka kotak itu sendiri.

Di dalamnya terbaring sebuah kitab kuno berwarna abu-abu tua, dibungkus kain tipis yang sebagian besar telah menguning. Kulit luarnya tidak memuat judul yang bisa dibaca Shou Wei. Justru ada rangkaian simbol dan huruf patah yang sama sekali asing.

Bukan bahasa umum.

Bukan tulisan pasar.

Bukan juga tulisan formasi sederhana yang pernah ia lihat.

Namun saat kitab itu dibuka beberapa lembar, jantung Shou Wei berdetak lebih berat.

Di balik teks asing itu, ada diagram.

Formasi.

Banyak.

Sebagian kecil.

Sebagian luas.

Sebagian tampak seperti utility arrays kuno.

Sebagian lain jauh lebih rumit, seolah hanya inti dari sesuatu yang besar.

“Ini?” tanya Shou Wei pelan.

Lan Xue menatap reaksinya. “Harta yang tidak berharga.”

Ia menyentuh salah satu halaman dengan ujung jari. “Kitab ini dibeli ayahku bertahun-tahun lalu dalam satu paket warisan kuno. Para penilai kami bisa memastikan bahwa ini memang kitab formasi, dan di dalamnya ada berbagai array yang nilainya mungkin besar. Masalahnya...” sudut bibirnya nyaris bergerak tipis, “tidak ada orang yang mengerti bahasanya.”

Shou Wei memandang tulisan-tulisan itu lagi.

Aneh.

Asing.

Tapi entah kenapa, saat matanya mengikuti susunan simbol di sekitar diagram, ia merasa ada pola ritme tertentu di sana. Belum bisa dibaca. Namun tidak sepenuhnya mati bagi pikirannya.

Lan Xue melihat itu. Matanya menyipit sangat halus.

“Interesting,” katanya hampir tak terdengar.

Ia menutup kitab itu kembali, tapi tidak segera memasukkannya ke kotak.

“Aku tidak menawarkan ini sebagai hadiah. Aku juga tidak memberi sedekah pada orang berbakat.” Tatapannya lurus dan dingin. “Aku menawarkan perjanjian.”

Shou Wei mengangguk pelan. “Katakan.”

Lan Xue berbicara seolah sedang membacakan butir kontrak di aula bisnis.

“Kitab ini akan kuserahkan padamu. Kau pelajari. Kau pecahkan kalau bisa. Apa pun hasil ciptaan formasi darinya—utility marks, array plates, modified patterns, atau formasi kuno tingkat rendah—harus dijual melalui Blue River Auction House.”

Masuk akal.

“Pembagian hasil?” tanya Shou Wei.

“Fifty-fifty.”

Ia mengatakannya tanpa malu, tanpa mencoba terlihat murah hati.

“Rumah lelangku menyediakan tempat jual, identitas, pembeli, perlindungan pasar, dan jaringan distribusi. Kau menyediakan hal yang lebih langka: pemahaman.”

Shou Wei menimbang cepat. Setengah sangat besar.

Tapi tanpa rumah lelang besar, barang hasil kitab semacam ini mungkin memang sulit dijual aman.

Lan Xue melanjutkan sebelum ia bicara. “Selama kau berada di Lanhe City di bawah perjanjian ini, aku akan melindungimu. Kau akan diberi penginapan. Jika kau butuh modal bahan, alat, atau pelat latihan, itu akan disediakan dalam batas wajar. Jika kau butuh pengawal tingkat tinggi untuk pengiriman, pengambilan barang, atau urusan yang menyentuh pasar kelam, itu juga bisa disediakan.”

Itu bukan tawaran kecil lagi.

Itu hampir seperti sponsor penuh.

Dan justru karena itulah, Shou Wei tahu pisau sebenarnya belum keluar.

Ia menunggu.

Lan Xue menatapnya cukup lama, lalu akhirnya berkata, “Sebaliknya, aku tidak pernah memberi semua itu tanpa jaminan.”

Dari lengan bajunya, ia mengeluarkan tabung giok kecil seukuran jari.

Saat tutupnya dibuka, sesuatu di dalam bergerak halus.

Seekor ulat kecil.

Putih pucat.

Hampir bening.

Dengan garis tipis ungu di sepanjang punggungnya.

Shou Wei langsung merasakan naluri waspada bangkit.

“Ini poison marker worm,” kata Lan Xue tenang. “Ia tidak membunuhmu sekarang. Ia hanya tinggal di dalam darahmu sebagai penanda kontrak.”

Shou Wei tidak mengatakan apa-apa.

Lan Xue tetap lanjut, seolah ini bagian biasa dari negosiasi. “Dalam tiga puluh hari, aku ingin melihat hasil yang memuaskan. Tidak harus menguasai seluruh kitab. Tapi harus ada bukti nyata bahwa kau memang bisa membuka nilainya. Kalau dalam tiga puluh hari kau gagal memuaskan, kabur, berbohong, atau mencoba menjual hasil di luar rumah lelangku... ulat ini akan membunuhmu.”

Ruangan jadi sangat sunyi.

Di luar jendela, sungai tetap mengalir.

Di dalam, hanya suara lampu batu kecil yang hampir tak terdengar.

Shou Wei memandang ulat kecil itu, lalu ke wajah Lan Xue.

Tidak ada rasa bersalah di sana.

Tidak ada ancaman emosional.

Tidak ada kegembiraan kejam.

Hanya keputusan bisnis yang dibungkus ketenangan.

Ia serius.

Ini bukan gertakan.

“Kenapa kau pikir aku akan setuju?” tanya Shou Wei akhirnya.

Lan Xue menjawab tanpa ragu, “Karena kau cukup cerdas untuk tahu bahwa tanpa pelindung, bakatmu di kota ini akan cepat dicium terlalu banyak orang. Karena kau tidak punya guru. Tidak punya faksi. Tidak punya nama yang bisa melindungimu.” Ia berhenti sesaat. “Dan karena kalau kau benar-benar punya kaitan dengan keluarga Shou... maka alasanmu untuk menyembunyikan diri justru membuat kontrak ini lebih berguna daripada berbahaya.”

Kalimat terakhir itu tajam sekali.

Shou Wei tidak menunjukkan perubahan apa pun di wajahnya, tapi ia tahu Lan Xue baru saja menaruh bidak tepat di tengah papan.

Ia belum memaksanya mengaku.

Tapi ia sudah menunjukkan bahwa dirinya mengerti cukup banyak.

Shou Wei bertanya, “Kalau aku berhasil?”

“Kalau kau berhasil,” jawab Lan Xue, “maka ulat itu akan diambil. Kontrak diperpanjang atau diubah dengan syarat baru. Dan kau akan berdiri jauh lebih tinggi di kota ini daripada posisi seorang asisten barang sungai.”

Tidak ada janji kosong.

Tidak ada kalimat manis.

Tidak ada “aku akan menjagamu selamanya.”

Hanya jalan yang jelas:

bekerja,

hasilkan,

naik.

Shou Wei menatap kitab kuno itu lagi.

Ia membutuhkan:

manual lebih baik,

formasi lebih baik,

akses bahan,

tempat aman,

dan pelindung dari orang seperti Wei Kuan atau yang lebih besar.

Lan Xue menawarkan semuanya.

Dengan harga racun tiga puluh hari di dalam darahnya.

Secara logika, ini berbahaya.

Secara peluang, ini terlalu besar untuk dilewatkan.

Ia bertanya satu hal terakhir. “Kalau kitab ini benar-benar tidak bisa dipahami?”

Lan Xue menjawab dengan sangat tenang, “Maka kita berdua salah menilai nilaimu.”

Itu jawaban yang kejam.

Dan jujur.

Shou Wei menghembuskan napas pelan. “Aku setuju.”

Lan Xue tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk satu kali, seolah sebuah transaksi besar baru saja disahkan di pikirannya.

“Good.”

Ia bangkit dan berjalan ke sisi meja. “Tangan.”

Shou Wei mengulurkan tangan kirinya.

Lan Xue tidak menyentuhnya langsung. Ia memakai jarum perak tipis dari tabung kecil lain, menusuk ujung jari Shou Wei sekali sampai setetes darah keluar. Lalu tutup tabung giok dibuka penuh, dan ulat kecil putih itu menyentuh darah tersebut.

Shou Wei merasakan sensasi dingin menjalar cepat ke bawah kulit.

Sangat cepat.

Ulat itu lenyap dari pandangan dalam hitungan napas.

Tapi rasa dingin tipis tertinggal di pergelangan tangannya, lalu menghilang seolah tenggelam lebih dalam.

Ia menatap Lan Xue.

“Sekarang kita punya kontrak,” kata gadis itu.

Pelayan perempuan dipanggil masuk lagi.

“Bawa Wei Shou ke Courtyard Seven,” perintah Lan Xue. “Mulai hari ini dia tinggal di sana. Beri satu ruang kerja kecil, alat tulis, lampu, dan tiga set pelat latihan tingkat rendah. Qin Mo akan menyiapkan daftar scraps yang bisa dia akses.”

Pelayan itu membungkuk. “Ya, Young Miss.”

Lan Xue lalu mendorong kotak kitab hitam itu ke arah Shou Wei.

“Kitab ini tidak boleh keluar dari properti rumah lelang tanpa izinku. Salin dalam kepala kalau perlu. Jangan bodoh dengan tinta.” Ia berhenti sejenak. “Dan Wei Shou...”

Shou Wei mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya, nada suaranya sedikit berubah. Masih dingin, tapi lebih rendah, lebih pribadi.

“Aku tidak suka membuang sumber daya. Jadi jangan membuatku menyesal memilihmu.”

Bukan kata-kata lembut.

Tapi entah kenapa, justru itu membuat hubungan mereka terasa lebih nyata.

Shou Wei mengambil kotak kitab itu dengan kedua tangan. “Aku tidak berniat mati sia-sia dalam tiga puluh hari.”

Lan Xue menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan bahwa jawaban itu layak.

“Good,” katanya lagi.

Courtyard Seven terletak di bagian belakang kompleks rumah lelang.

Tempat itu bukan mewah seperti paviliun utama, tapi jauh lebih baik dari penginapan barang sungai. Ada dinding batu rendah, halaman kecil dengan pohon plum muda, dan bangunan samping yang cukup tenang untuk dipakai bekerja. Kamar yang diberikan kepadanya sempit tapi bersih. Ruang kerjanya punya meja rendah, rak kecil, dan lampu batu lebih baik daripada lampu minyak murahan.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari tambang, Shou Wei memiliki sesuatu yang mendekati tempat tinggal tetap.

Tapi di bawah rasa aman itu, ada garis dingin:

ulat racun di dalam darahnya,

dan hitungan tiga puluh hari yang mulai berjalan.

Malam itu, saat akhirnya sendirian di ruang kerja kecilnya, ia membuka kotak hitam dan mengeluarkan kitab kuno itu lagi.

Lampu batu memantul di halaman pertama.

Tulisan asing.

Diagram kuno.

Simpul-simpul yang jauh lebih rumit dari utility marks pasar kecil.

Shou Wei duduk perlahan, menenangkan napas.

Tarik.

Tahan.

Turunkan.

Putar.

Lepaskan.

Darah naga di tubuhnya mengalir sunyi.

Ulat racun entah di mana, tersembunyi di dalam dirinya seperti jarum waktu.

Dan di hadapannya terbuka kitab yang mungkin bisa membuatnya naik jauh lebih cepat... atau membunuhnya kalau ia gagal.

Ia menatap simbol pertama cukup lama.

Aneh.

Asing.

Tapi setelah beberapa saat, ia menyadari sesuatu yang sangat kecil.

Bahasa ini memang tidak ia kenal.

Namun posisi simbol di sekitar diagram tidak sepenuhnya acak.

Mereka mengikuti ritme.

Seperti arah aliran.

Seperti urat.

Seperti sungai.

Jantungnya berdetak lebih berat.

Di luar ruang kerja kecil Courtyard Seven, Lanhe City tetap hidup.

Di dalam, seorang anak dua belas tahun dengan nama samaran Wei Shou membuka halaman pertama dari jalan yang mungkin akan mengubah seluruh masa depannya.

Dan di bawah kulitnya, racun tiga puluh hari mulai menghitung dalam diam.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!