NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Suara tembakan terakhir bergema di udara malam sebelum akhirnya sunyi yang mencekam kembali menyelimuti halaman rumah Bunda. Di lantai atas, Alisa memeluk Maura erat-erat, sementara Bunda Ratna berdiri di dekat jendela yang gordennya tertutup rapat, memegang sebuah vas bunga berat seolah itu bisa menjadi senjata pelindung.

​"Sudah berhenti?" bisik Maura dengan suara bergetar.

​Alisa tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan pola tertentu—dua ketukan cepat, satu ketukan lambat. Itu sandi yang diberikan Davino sebelum kekacauan dimulai.

​Alisa membuka pintu dengan tangan gemetar. Davino berdiri di sana, napasnya sedikit terengah. Kaus hitamnya kini bercak tanah dan ada noda darah di bahu kirinya. Wajahnya sangat dingin, lebih menyerupai mesin daripada manusia.

​"Situasi terkendali. Alvin dan tim sedang membersihkan area. Kalian tetap di sini sampai aku katakan aman untuk turun," instruksi Davino tanpa basa-basi.

​Bunda Ratna mendekat, wajahnya pucat. "Davino, apa ada yang... mati?"

​Davino menatap ibu mertuanya sejenak, lalu membuang muka. "Dua orang dilumpuhkan, Bunda. Mereka sudah dibawa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."

​"Tidak perlu dikhawatirkan?" Alisa akhirnya bersuara, nadanya meninggi karena syok. "Mas, mereka menembaki rumah masa kecilku! Mereka hampir masuk ke sini! Dan Mas bilang tidak perlu dikhawatirkan?"

​Davino menatap Alisa dengan tatapan tajam yang seolah memerintahnya untuk diam. "Kita bicara nanti, Alisa. Jaga Maura."

​Setelah Davino keluar, Alisa merasa amarahnya mencapai titik didih. Rasa takutnya kini berubah menjadi kemarahan murni terhadap sikap Davino yang seolah menganggap nyawa dan ketenangan keluarganya hanyalah sekadar variabel dalam sebuah misi.

​Satu jam berlalu. Tim Satgas telah mensterilkan area. Maura sudah tertidur karena kelelahan emosional di bawah pengawasan Bunda. Alisa melihat Davino masuk ke kamarnya—kamar lama Alisa—untuk membersihkan diri. Tanpa ragu, Alisa menyusul dan menutup pintu kamar itu dengan bantingan keras.

​Kamar itu adalah salah satu ruangan di rumah ini yang telah direnovasi Ayah Alisa dulu agar menjadi ruang belajar yang tenang; dindingnya dilapisi peredam suara khusus. Di dalam sini, teriakan paling kencang sekalipun tidak akan terdengar sampai ke koridor.

​"Mas Davino, lihat aku!" tuntut Alisa.

​Davino yang sedang membuka kemeja taktisnya, menoleh perlahan. Ia hanya mengenakan kaus dalam hitam yang ketat, menampakkan luka gores baru di lengannya. "Apa lagi, Alisa? Aku lelah. Aku harus membuat laporan untuk Komandan."

​"Laporan? Itu saja yang Mas pikirkan?" Alisa melangkah mendekat, menunjuk ke arah jendela. "Bunda tahu semuanya sekarang. Keamanan rumah ini hancur. Dan Mas masih bersikap seolah ini adalah hari biasa di kantor polisi?"

​Davino menghela napas kasar, ia meletakkan senjatanya di atas meja rias Alisa yang mungil—sebuah pemandangan yang sangat kontras. "Ini memang bagian dari pekerjaanku. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal bahwa menikah denganku berarti masuk ke dunianya para predator. Kamu yang setuju dengan kontrak satu tahun itu."

​"Aku setuju untuk menikah, bukan untuk menjadi umpan!" teriak Alisa. Suaranya bergema di ruangan kedap suara itu. "Mas menggunakan rumah Bundaku sebagai umpan untuk memancing mereka keluar, kan? Mas tahu mereka akan mendeteksi sinyal radio itu, Mas sengaja membiarkan mereka mendekat agar Mas bisa menangkap mereka sekaligus!"

​Davino terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tidak membantah, dan diamnya adalah konfirmasi bagi Alisa.

​"Mas keterlaluan," Alisa menggeleng tak percaya, air mata amarah mengalir di pipinya. "Mas tidak peduli kalau Bunda atau Maura terkena peluru nyasar? Mas menganggap kami semua cuma pion?"

​"Aku tidak pernah membiarkan kalian dalam bahaya tanpa perlindungan!" balas Davino, suaranya kini naik satu oktav, berat dan mengancam. "Ada sepuluh anggota terbaikku yang mengepung rumah ini. Tidak ada satu pun peluru yang mengenai dinding rumah ini, Alisa! Semua kontak senjata terjadi di luar pagar. Aku tahu apa yang aku lakukan!"

​"Mas sombong! Mas pikir Mas Tuhan yang bisa mengatur jalannya peluru?" Alisa mendorong dada Davino dengan kedua tangannya. Davino tidak bergeming sedikit pun, tubuhnya sekokoh tembok. "Mas tidak punya perasaan. Mas cuma robot yang dibayar negara untuk berkelahi."

​Davino menangkap kedua pergelangan tangan Alisa dengan satu tangan, menguncinya dengan kekuatan yang membuat Alisa meringis. Ia menarik Alisa mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

​"Dengar baik-baik, Dokter Alisa yang terhormat," bisik Davino, suaranya rendah namun penuh tekanan yang mengintimidasi. "Dunia tempatku berada tidak mengenal kata 'maaf' atau 'perasaan'. Jika aku tidak bertindak taktis seperti tadi, mereka akan terus mengintai dan mungkin akan meledakkan rumah ini saat kita semua tidur. Dengan menangkap mereka malam ini, aku memutus satu jalur komunikasi Black Cobra. Itu namanya efisiensi."

​"Efisiensi yang mengorbankan mental keluargaku!" Alisa berusaha melepaskan tangannya, namun genggaman Davino terlalu kuat. "Lepaskan, Mas! Mas menyakitiku!"

​Davino segera melepaskan tangan Alisa seolah tersengat listrik. Ia membuang muka, mencoba mengendalikan emosinya yang jarang sekali meledak. "Keluar dari sini, Alisa. Tidurlah di kamar Maura."

​"Ini kamarku! Mas yang harusnya keluar!" balas Alisa sengit.

​"Aku harus tetap di sini untuk memantau monitor," Davino menunjuk laptopnya yang menampilkan CCTV perimeter. "Jangan kekanak-kanakan. Situasi di luar masih siaga satu."

​Alisa tertawa hambar, suara tawa yang penuh luka. "Kekanak-kanakan? Mas menyeret seorang dokter ke dalam perang antar geng, melibatkan ibunya yang sudah tua, dan Mas bilang aku kekanak-kanakan karena aku marah?"

​Alisa berjalan menuju sudut ruangan, mengambil sebuah bantal dan melemparkannya ke arah Davino. Davino menangkapnya dengan mudah tanpa melihat.

​"Mas tahu kenapa Bunda bilang tidak melihat cinta di mata Mas?" Alisa menatap Davino dengan tajam. "Karena memang tidak ada apa-apa di sana. Kosong. Mas tidak mencintai pekerjaan Mas, Mas tidak mencintai keluarga Mas, Mas bahkan tidak mencintai diri Mas sendiri. Mas cuma mencintai rasa bersalah Mas atas kematian wanita di foto itu!"

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Nama 'wanita di foto itu'—Sarah—adalah tabu yang paling dilarang untuk disentuh. Davino meletakkan bantal itu perlahan, lalu berbalik menatap Alisa dengan mata yang memancarkan kebencian murni.

​"Jangan pernah... berani-beraninya kamu membawa-bawa dia," suara Davino bergetar karena amarah yang ditahan.

​"Kenapa? Karena itu satu-satunya hal yang membuat Mas merasa menjadi manusia?" tantang Alisa, meski hatinya menciut melihat kemarahan Davino. "Mas menghukum diri sendiri dengan cara membuat hidup semua orang di sekitar Mas menjadi sulit. Mas menikahiku bukan untuk menjalankan wasiat Ayah, tapi untuk mencari cara baru agar Mas punya alasan untuk terobsesi pada keamanan dan misi."

​Davino melangkah maju, memojokkan Alisa ke dinding. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Alisa, mengurungnya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, Alisa. Kamu cuma dokter yang hidup di lingkungan steril. Kamu tidak pernah melihat rekanmu mati bersimbah darah karena kesalahan kecil. Jadi jangan berlagak seperti kamu bisa mendiagnosis jiwaku."

​"Aku tidak perlu jadi psikiater untuk tahu bahwa Mas sedang hancur!" balas Alisa tepat di depan wajah Davino. "Dan Mas berusaha menghancurkan orang lain bersamamu."

​Mereka berdua terengah-engah, saling menatap dengan penuh permusuhan. Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya ada suara napas mereka yang memburu dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur ledakan emosi berikutnya. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan. Yang ada hanyalah dua orang yang terpaksa bersatu oleh keadaan, saling melukai dengan kata-kata karena mereka tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan ketakutan mereka.

​"Satu tahun," gumam Davino, suaranya kini kembali datar dan dingin. "Setelah satu tahun, kamu bisa pergi sejauh mungkin dariku. Aku tidak akan menahanmu. Tapi sampai hari itu tiba, kamu adalah tanggung jawabku. Dan aku akan menjagamu dengan caraku, suka atau tidak."

​"Aku benci cara Mas," bisik Alisa pedih.

​"Bagus. Kebencian akan membuatmu tetap waspada. Itu lebih baik daripada rasa aman palsu," sahut Davino. Ia melepaskan kurungannya dan berjalan kembali ke meja kerjanya, seolah perdebatan hebat tadi tidak pernah terjadi.

​Alisa duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa sangat lelah. Fisiknya, mentalnya, semuanya terkuras. Di sudut ruangan, Davino kembali fokus pada layar monitornya, kembali menjadi robot yang kaku.

​Malam itu, di dalam kamar yang kedap dari suara dunia luar, Alisa menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak hanya takut pada musuh yang ada di luar sana, tapi ia mulai takut pada kehampaan yang ada di dalam diri pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Dan yang lebih menakutkan lagi, ia merasa bahwa satu tahun akan terasa seperti selamanya jika setiap malam mereka harus berperang di balik dinding yang sunyi ini.

​Di luar, hujan turun semakin deras, menghapus jejak darah di halaman, namun tidak mampu menghapus luka yang baru saja mereka torehkan satu sama lain di dalam kamar itu.

Bersambung

Jangan lupa di like teman-teman😁

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!