NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Permainan Pura-Pura

Tiga hari berlalu sejak Maya membuka rahasia hutangnya.

Ardi sudah mentransfer lima puluh juta—cicilan pertama, bukan sekaligus. Maya berjanji bayar kembali tiap bulan, meski Ardi tahu uang bulanan dari Bram tidak akan cukup untuk itu. Dia tidak membantah. Biarlah Maya merasa dia mengendalikan hidupnya sendiri.

Pagi itu, Ardi duduk di kantor dengan laporan yang tidak sanggup dia baca. Pikirannya terbelah—Sari yang semakin sering bertanya, Maya yang kini terasa lebih dekat tapi juga lebih berat.

Ponselnya berdering. Sari.

"Di, aku makan siang sama Kak Maya. Kamu ikut?"

Ardi menegang. "Kamu makan siang sama Maya?"

"Iya. Aku mampir ke rumah Menteng, kebetulan Kak Maya mau ke mall. Ajak aku." Suara Sari ceria, tidak curiga apa pun. "Kamu bisa ikut kalau sempat."

"Aku ada meeting."

"Meeting lagi?" Ada nada kesal, ditutup cepat dengan tawa kecil. "Ya sudah. Nanti aku ceritain."

Telepon ditutup.

Ardi menatap layar. Sari dan Maya. Satu meja. Dua wanita yang sama-sama dia bohongi, sama-sama dia sakiti—duduk bersama, tertawa, saling bercerita tentang hidup yang tidak mereka tahu saling bertabrakan.

Pesan dari Maya masuk: Sari ajak aku makan siang. Dia bilang kita harus akrab, calon ibu mertua dan menantu.

Ardi membalas: Kamu gugup?

Kenapa harus gugup? Aku sudah hafal perannya.

Ardi menatap kalimat itu. Ada sesuatu di sana yang tidak nyaman—kesadaran bahwa Maya sudah terlalu terlatih berpura-pura. Bahwa dia juga sudah terlalu terlatih berbohong.

Hati-hati, ketiknya.

Maya membalas dengan stiker bunga.

Mall di kawasan Menteng tidak terlalu ramai di siang hari kerja.

Sari memilih restoran Jepang di lantai dasar—pencahayaan hangat, kursi empuk, aroma kaldu dashi yang samar dari dapur. Maya duduk di hadapannya, memesan ocha dan salmon teriyaki dengan senyum yang sudah dia pasang sejak parkiran.

"Kak Maya jarang keluar, ya?" Sari membuka percakapan, jari-jarinya memainkan sumpit.

"Iya. Rumah cukup besar, biasanya aku sibuk di dalam." Maya tersenyum. "Yuni masih perlu diawasi."

"Aku suka rumah itu. Taman belakangnya indah." Sari menyesap air mineral. "Ardi bilang dulu ibunya yang mendesain taman itu."

"Iya." Maya mengangguk, tidak terlihat terganggu. "Aku coba merawat sebisaku."

"Kak Maya nggak pernah cemburu sama almarhumah?"

Pertanyaan itu keluar santai, tapi mata Sari tajam. Maya tidak terkejut. Dia sudah belajar membaca orang sejak kecil—terutama wanita yang sedang jatuh cinta dan mulai was-was.

"Cemburu?" Maya tersenyum kecil. "Aku tidak pernah bertemu almarhumah. Tidak ada yang bisa dicemburui."

Sari tertawa, terdengar lega. "Maaf, aku mungkin terlalu banyak tanya." Tangannya memainkan gelas. "Akhir-akhir ini Ardi berbeda. Aku cemas."

"Berbeda bagaimana?"

Sari menunduk, seperti menimbang apakah harus lanjut bicara. Ketika mendongak, matanya jujur—jenis kejujuran yang membuat Maya tidak bisa menatapnya terlalu lama. "Dia lebih sering di rumah Menteng. Jarang ke apartemenku. Setiap aku tanya, dia bilang rapat atau urusan keluarga."

Maya menyesap ochanya pelan. "Urusan keluarga memang banyak akhir-akhir ini. Ayah Ardi sering menelepon, mengawasi perusahaan."

"Aku tahu. Tapi—" Sari menggigit bibir. "Aku merasa ada yang dia sembunyikan."

Jantung Maya berdegup lebih cepat. Wajahnya tidak bergerak. Dia meletakkan gelas, menatap Sari dengan mata yang sudah dia latih untuk terlihat tenang. "Sari, aku mungkin tidak mengenal Ardi selama kamu. Tapi satu hal yang aku tahu: dia anak yang bertanggung jawab. Ayahnya memberinya tekanan besar. Mungkin dia hanya lelah."

Sari menatapnya, mencari sesuatu di wajah Maya. Lalu tersenyum—senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu, senyum percaya yang membuat Maya merasa seperti orang paling jahat di ruangan ini.

"Kak Maya baik banget. Aku seneng Ardi punya ibu tiri kayak Kakak."

Ibu tiri. Kata itu seperti jarum kecil yang masuk tanpa suara. Maya tersenyum, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang teriris tipis.

"Sari," Maya mengganti topik. "Kamu sama Ardi sudah berapa lama?"

"Empat tahun." Mata Sari berbinar. "Pacaran sejak kuliah. Dia selalu sibuk, tapi aku mengerti. Pewaris perusahaan, pasti tanggung jawabnya besar."

"Kamu sabar sekali."

"Aku belajar." Sari tertawa kecil. "Dulu sering marah kalau janji makan malam dibatalkan. Tapi lama-lama aku sadar, kalau mau sama dia, aku harus terima semuanya."

Maya mengangguk. Di benaknya, dia menghitung: empat tahun. Sari yang sabar, Sari yang setia, Sari yang mencintai Ardi dengan cara yang tidak pernah meminta apa-apa.

Sementara Maya—baru beberapa bulan. Tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun dia menunggu seseorang yang mau melihatnya. Bukan sebagai istri Bram. Bukan sebagai pencari harta. Sebagai Maya—yang takut sendirian, yang punya hutang, yang mimpinya mati tanpa suara.

"Kak Maya," Sari memecah keheningan. "Aku mau cerita sesuatu."

"Apa?"

Sari meraih tangan Maya di atas meja. Tangannya hangat. Di jari manisnya ada cincin kecil—cincin yang Ardi berikan dua tahun lalu. Maya tidak tahu itu, tapi matanya berhenti di sana lebih lama dari yang seharusnya.

"Ardi bilang dia akan menikah denganku tahun depan. Tapi dia terus menunda." Mata Sari mulai basah. "Setiap aku tanya, dia bilang 'kita bicarakan nanti'. Aku takut dia berubah pikiran."

Maya membalas genggaman itu. Tangannya dingin di antara kehangatan Sari. "Kenapa kamu takut? Ada tanda dia berubah pikiran?"

Sari menggeleng. "Tidak. Dia tetap baik. Tapi—" suaranya turun. "Aku takut kehilangan dia."

Maya menatap gadis di depannya. Polos. Tulus. Mencintai Ardi dengan seluruh hidupnya tanpa pernah ragu. Sari adalah semua yang Maya tidak bisa jadi: wanita yang pantas, wanita yang tidak perlu menyembunyikan perasaannya.

Dan Maya, di meja yang sama, dengan tangan yang sama, sedang mengambil pria itu darinya.

"Sari," kata Maya pelan. "Kamu tidak akan kehilangan dia. Ardi anak yang bertanggung jawab. Kalau dia berjanji, dia tepati."

"Kamu yakin?"

"Yakin."

Sari tersenyum, air mata yang ditahan akhirnya jatuh. "Maaf, aku cengeng."

"Tidak apa-apa." Maya menyodorkan tisu. "Menunggu itu tidak mudah. Aku mengerti."

Mereka menghabiskan sisa makan siang dengan percakapan ringan—film, butik kecil yang ingin Sari buka, restoran baru di Kemang. Maya mendengarkan, mengangguk, tersenyum di tempat yang tepat. Dia memainkan perannya dengan sempurna.

Di parkiran, Sari memeluknya lama. "Kak Maya, makasih ya. Aku jadi lega."

Maya menepuk punggungnya. "Sama-sama."

Di dalam mobil, Maya tidak langsung menyalakan mesin.

Dia duduk, memegang setir. Tangannya gemetar. Di kaca spion, wajahnya sendiri menatap balik—mata sedikit sembab, pipi pucat, senyum yang sudah lama lepas.

Monster, pikirnya. Aku monster yang sama seperti Ardi.

Ponselnya berdering. Ardi.

"Gimana?" Suaranya cemas.

"Baik. Dia cerita banyak."

"Cerita apa?"

Maya menarik napas. "Sari ingin menikah tahun depan."

Hening di ujung sambungan. Ardi tidak menjawab. Maya menunggu, mendengar napasnya yang tertahan.

"Kau dengar?" tanya Maya.

"Aku dengar."

"Apa kau siap?"

Diam lagi. Di luar, mobil-mobil berlalu lalang, orang masuk keluar mall, dunia berjalan seperti tidak ada yang salah. Tapi di dalam mobil ini, Maya merasa seperti duduk di tengah badai yang tidak bergerak.

"Aku tidak tahu," jawab Ardi akhirnya. Berat. Seperti orang yang baru sadar dia sudah jatuh terlalu jauh.

Maya tertawa pahit. "Jawaban yang jujur."

"Maya—"

"Aku tidak akan memintamu memilih." Dia memotong, suaranya tenang, lebih tenang dari yang dia rasakan. "Tapi kalau kau menikah dengan Sari, aku akan pergi."

"Kemana?"

"Entahlah. Jauh." Maya menatap langit-langit mobil. "Aku tidak bisa melihat kau menikah dengan wanita lain. Aku tidak sekuat itu."

"Kau tidak perlu pergi."

"Aku juga tidak perlu tinggal."

Maya menutup telepon sebelum Ardi sempat menjawab. Tangannya gemetar, dadanya sesak. Tapi dia tidak menangis. Dia sudah terlalu lelah untuk itu.

Malam itu, Ardi pulang ke rumah Menteng.

Yuni baru selesai membersihkan dapur, pamit dengan senyum ramahnya yang tidak pernah berubah. Ardi mengangguk, tidak benar-benar melihatnya. Kakinya langsung ke tangga.

Di depan pintu kamar Maya, dia berhenti. Lorong redup, hanya lampu kecil di ujung yang menyala. Dia mengetuk.

Pintu terbuka.

Maya berdiri di ambang—rambut tergerai, baru mandi, wangi sabun dan pelembab. Wajahnya tenang. Tidak ada sisa kemarahan dari telepon siang tadi, tidak ada air mata. Hanya ekspresi yang tidak bisa Ardi baca.

"Masuk," katanya.

Ardi masuk. Kamar Maya berbau sesuatu yang sudah terlalu dia kenal—campuran sabun, pelembab, dan udara kamar yang tidak pernah terlalu dingin. Dia duduk di kursi dekat jendela. Maya di tepi ranjang. Jarak di antara mereka cukup, tapi udara terasa pekat.

"Kau marah?" tanya Ardi.

"Tidak." Maya menggeleng. "Aku hanya jujur."

"Tentang pergi."

"Iya." Matanya menatap Ardi—bukan dengan tuduhan, tapi dengan kelelahan yang lebih menyakitkan dari kemarahan mana pun. "Aku tidak akan jadi orang yang menunggu di samping sementara kau hidup dengan wanita lain."

"Aku tidak pernah menganggapmu simpanan."

"Tapi itu yang terjadi." Suaranya datar. Bukan menyerang—hanya menyatakan fakta yang sudah lama ada. "Kau punya Sari, kau punya aku. Kau bilang tidak bisa memilih. Tapi tidak memilih itu juga pilihan. Dan pilihanmu adalah menikah dengan Sari—karena dia yang sah, dia yang pantas di mata dunia."

Ardi tidak menjawab.

Karena Maya benar.

"Aku belum bilang iya," katanya akhirnya.

"Tapi kau juga belum bilang tidak."

Ardi mengusap wajahnya. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Ada empat tahun dengan Sari. Ada keluarga. Ada perusahaan."

"Aku tahu." Maya berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, lampu taman menyala di antara bunga-bunga yang dia tanam beberapa minggu lalu. "Aku tidak minta kau putuskan sekarang. Aku hanya bilang—kalau kau memilih Sari, aku pergi. Bukan ancaman. Aku hanya harus melindungi diriku sendiri."

Ardi berdiri, berjalan ke arahnya. Dari belakang, dia bisa mencium wangi sampo Maya, melihat garis lehernya yang diam di bawah cahaya.

"Apa kau mencintaiku?" bisiknya.

Maya tidak bergerak. "Apa definisi cinta?"

"Kau tahu maksudku."

Maya berbalik. Jarak mereka sangat dekat. Ardi bisa melihat bulu matanya, sisa lelah di sudut matanya, bibirnya yang sedikit terbuka.

"Aku mencintaimu," bisiknya. "Dan itu masalahnya. Karena aku juga mencintai hidup yang kau berikan—rumah ini, rasa tidak sendirian." Senyumnya pahit. "Aku egois. Sama sepertimu."

Ardi mengangkat tangan, menyentuh pipinya. Hangat, lembut. Maya menutup mata, bersandar di telapak tangannya.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa," bisik Ardi.

"Aku juga tidak tahu." Maya membuka mata. "Tapi malam ini, aku tidak ingin memikirkan Sari, atau pernikahan, atau hutang. Aku hanya ingin kau di sini."

Ardi mencium Maya. Pelan. Tidak putus asa seperti semalam di lorong—ini lebih seperti keputusan untuk berhenti berpikir, setidaknya untuk malam ini.

Maya membalasnya, tangannya meraih pinggang Ardi, menariknya mendekat. Di depan jendela, dengan lampu taman menyala dan bulan yang tersembunyi di balik awan, mereka berciuman seperti dua orang yang tahu ini salah tapi tidak bisa berhenti.

Ardi membawa Maya ke ranjang—bukan dengan tergesa, tapi dengan kesadaran penuh bahwa Sari mungkin sedang menunggu telepon, bahwa Bram akan pulang akhir pekan, bahwa dunia ada di luar pintu itu dan tidak peduli pada mereka.

Malam ini, dia memilih untuk tidak peduli.

Malam ini, dia memilih Maya.

Setelahnya, mereka berbaring diam. Maya bersandar di dada Ardi, jarinya menggambar lingkaran kecil di kulitnya.

"Sari cerita banyak tentang kalian," bisiknya.

"Cerita apa?"

"Empat tahun. Janji menikah." Maya mendongak, menatap Ardi. "Cincin di jari manisnya. Dia sangat mencintaimu."

Ardi menatap langit-langit. Tidak menjawab. Hanya mendengar napas Maya yang teratur, merasakan hangatnya yang menempel.

"Aku tidak pantas dicintai dia," kata Ardi akhirnya.

"Atau aku," sambut Maya.

Diam. Tidak ada yang bisa menjawab lebih dari itu.

Dari kejauhan, terdengar suara adzan. Ardi tidak tahu sudah jam berapa. Mungkin sudah malam. Mungkin dunia di luar sana terus berputar tanpa peduli bahwa di kamar ini, dua orang sedang hancur perlahan—dan memilih untuk tidak berhenti.

Ponsel Ardi bergetar di meja samping.

Maya mengambilnya, menatap layar. Lalu menyerahkan tanpa berkata apa-apa.

Sari.

Ardi melihat foto profil Sari—diambil dua tahun lalu di pantai Bali, rambutnya terbang ditiup angin, matanya bahagia. Dia menekan tombol merah.

Ponsel bergetar lagi. Pesan: Di, aku masak tumis kangkung kesukaanmu. Kamu ke sini? Aku tunggu.

Maya juga melihatnya. Tidak berkata apa-apa.

Ardi mengetik: Ada rapat. Besok aku ke kamu.

Terkirim. Sari membalas stiker cemberut. Lalu: Oke. Aku simpen buat besok. Jangan lupa, aku sayang kamu.

Ardi meletakkan ponsel, menutup mata. Maya meraih tangannya, menggenggam erat.

"Kau pembohong yang handal," bisiknya.

"Aku belajar."

Maya tertawa kecil—tawa yang sama seperti di dapur dulu, tawa orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

"Besok kau ke Sari?"

"Iya."

"Kau akan berbohong lagi?"

"Iya."

Maya menghela napas, menggenggam lebih erat. "Kita monster, Ardi."

"Aku tahu."

Diam lagi. Hanya suara napas mereka, AC yang berputar pelan, dunia di luar yang tidak pernah tahu.

"Tapi monster ini tidak mau berhenti," bisik Maya.

Ardi membuka mata, menatapnya. Di bawah lampu redup, wajah Maya lembut, matanya basah, bibirnya sedikit mengerucut. Cantik. Salah. Segalanya yang tidak seharusnya dia inginkan.

"Aku juga," jawabnya.

Malam itu mereka tertidur dalam pelukan. Tidak ada yang bicara tentang Sari, pernikahan, atau hutang. Hanya kehadiran. Hanya kehangatan yang salah namun terasa seperti satu-satunya yang nyata.

Besok, Ardi akan bangun. Pergi ke apartemen Sari. Mencium keningnya. Berbohong lagi.

Dan Maya akan tersenyum di dapur, menyajikan sarapan, menunggu Ardi pulang dengan perasaan yang belum berani dia beri nama.

Permainan pura-pura terus berjalan.

Dan tidak ada yang tahu kapan—atau apakah—mereka akan berhenti.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!