Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa Diatas Bara Api
Suasana kantin semakin memanas. Sorakan mahasiswa yang haus akan drama terdengar seperti dengungan lebah di telinga Zeus Sterling. Di pangkuannya, Nomella Kamiyama masih duduk dengan angkuh, menatapnya dengan binar kebencian yang dibungkus kerlingan menggoda.
Zeus tahu apa yang diinginkan gadis ini. Nomella sedang memancing monster keluar dari sarangnya. Dia ingin Zeus mengamuk, melemparnya ke lantai, atau menamparnya di depan ratusan pasang mata agar citra "Matahari California" itu hancur dan berganti menjadi "Predator Brutal".
Namun, Zeus Sterling adalah seorang aktor yang telah berlatih selama tiga tahun. Rasa terhina di dalam dadanya memang membakar, tapi otak dinginnya segera mengambil alih kendali. Jika Nomella ingin bermain di panggung sandiwara, maka Zeus akan menjadi sutradaranya.
Perlahan, rahang Zeus yang kaku mulai melunak. Tatapan matanya yang tadi sekelam malam, berubah dalam sekejap menjadi teduh dan penuh kasih sayang—sebuah transisi yang begitu halus hingga Nomella sempat terkesiap.
"Sayang," ucap Zeus, suaranya kini terdengar begitu lembut, bergetar dengan nada romantis yang sangat meyakinkan. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nomella, menariknya sedikit lebih dekat seolah mereka adalah sepasang kekasih yang paling dimabuk cinta di kampus.
"Apa tidak cukup waktu kita tadi?" Zeus terkekeh rendah, sebuah tawa merdu yang membuat mahasiswi di meja sebelah menahan napas. Ia membelai pipi Nomella dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen mahal yang mudah pecah.
"Aku tahu kau merindukanku, tapi jangan terlalu nakal di depan teman-temanku."
Deg.
Jantung Nomella berdegup kencang, tapi bukan karena cinta. Ini adalah rasa panik. Ini bukan reaksi yang ia inginkan. Ia ingin Zeus meledak, bukan malah bersikap manis seperti ini.
"Aku berjanji akan melanjutkannya di apartemenku... seperti biasa," bisik Zeus tepat di depan bibir Nomella. Kata 'seperti biasa' itu diucapkan dengan penekanan yang seolah-olah mengonfirmasi bahwa mereka sudah sering melakukan hal itu berkali-kali.
"Woooaaaah! Zeus, kau benar-benar sang legenda!" teriak teman-temannya sambil tertawa cabul dan bersiul.
Nomella merasa darahnya mendidih. Zeus tidak hanya menyelamatkan citranya, tapi dia juga berhasil memutarbalikkan serangan Nomella menjadi sebuah konfirmasi hubungan intim yang justru merugikan reputasi Nomella sendiri. Gadis New York itu merasa terjebak dalam perangkapnya sendiri.
Ia menatap piring kecil di meja di depan Zeus. Ada beberapa buah stroberi merah yang segar di sana. Dengan gerakan nekat untuk merebut kembali kendali, Nomella mengambil satu buah stroberi. Ia menatap mata Zeus dalam-dalam, lalu menggigit setengah buah itu dengan gerakan yang sangat provokatif, membiarkan sari buah merahnya sedikit membasahi bibirnya.
Sisa setengah stroberi yang masih ada di jemarinya ia sodorkan ke depan mulut Zeus.
"Kalau begitu, buktikan janjimu, Zeus," tantang Nomella, suaranya bergetar antara amarah dan gairah yang dibuat-buat. "Makan ini, dan biarkan semua orang tahu kalau kau memang milikku."
Zeus menatap buah stroberi itu, lalu menatap Nomella. Di balik matanya yang terlihat hangat dan penuh cinta, Nomella bisa melihat kilatan murni dari sebuah ancaman. Kau baru saja menggali lubang yang lebih dalam, Mella, seolah itulah yang dikatakan mata itu.
Tanpa ragu, Zeus membuka mulutnya. Ia tidak hanya mengambil stroberi itu dengan tangannya, tapi ia menarik pergelangan tangan Nomella dan memakan sisa stroberi itu langsung dari jemari Nomella. Ia membiarkan bibirnya menyentuh ujung jari gadis itu selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menatap Nomella dengan tatapan lapar yang membuat bulu kuduk Nomella meremang.
"Aku menunggu," bisik Nomella, mencoba tetap terlihat kuat meski tangannya yang berada dalam genggaman Zeus mulai gemetar.
"Jangan hanya menunggu, Sayang," balas Zeus sambil mengunyah buah itu pelan, matanya tidak lepas dari Nomella.
"Bersiaplah. Karena malam ini, aku tidak akan selembut tadi di toilet."
Seluruh kantin meledak dalam sorak-sorai. Bagi orang luar, ini adalah momen paling romantis antara dua primadona kampus. Namun bagi mereka berdua, ini adalah kesepakatan maut. Zeus telah menerima tantangan itu. Dia telah memblokir serangan Nomella dengan cara yang paling licik: dengan berpura-pura menyerah pada pesonanya.
Nomella perlahan berdiri dari pangkuan Zeus. Ia merasa seluruh tubuhnya panas. Ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia ingin menghancurkan harga diri Zeus, tapi ia malah terseret ke dalam narasi sebagai kekasih simpanan sang matahari.
"Sampai jumpa nanti malam, Zeus," ujar Nomella, berusaha mempertahankan martabatnya saat ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kantin.
Zeus hanya duduk di sana, kembali bersandar dengan santai. Ia mengambil kaleng sodanya, menyesapnya, dan kembali tertawa bersama teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, begitu punggung Nomella menghilang di balik pintu kantin, senyum itu tidak lagi sampai ke matanya.
Tangan Zeus yang tadi memegang pinggang Nomella kini meremas kaleng soda di tangannya hingga remuk.
"Kau ingin aku berakting, Nomella?" gumam Zeus sangat pelan hingga tidak ada yang mendengar. "Maka aku akan memberimu pertunjukan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Jika Nomella berpikir dia bisa masuk ke kehidupan Zeus dan keluar dengan membawa kemenangan, dia sangat salah. Zeus Sterling telah memutuskan bahwa cara terbaik untuk membungkam pengganggu adalah dengan menelannya bulat-bulat ke dalam kegelapan yang selama ini ia sembunyikan.
Nomella berjalan menuju tempat parkir dengan napas memburu. Ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan fatal dengan menantang Zeus untuk membawanya ke apartemen pria itu. Tapi bagi Nomella, mundur bukan pilihan. Jika ia harus hancur untuk mengungkap siapa Zeus sebenarnya, maka ia akan memastikan Zeus adalah orang pertama yang jatuh ke jurang itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰