NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Mad Terbaik

Dewa Pedang Mad Terbaik

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Epik Petualangan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: jenih

Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Ancaman dari Sekte Tua

Malam turun di pegunungan, menutupi lembah dengan kabut tipis yang bergerak pelan seperti tirai. Goo Yoon berdiri di tepi gua tempatnya berlatih, pedangnya masih terasa hangat dari latihan intensif seharian. Ia menatap bulan yang menggantung tinggi, pikirannya penuh dengan bayangan musuh yang mulai bergerak—sektenya, rahasia darahnya, dan ancaman yang semakin nyata.

Han Seol berdiri di dekatnya, menatap lembah dengan mata yang tajam. “Aku sudah merasakan gerakan mereka,” katanya. “Sekarang bukan hanya sekte biasa yang mengincarmu. Ada beberapa sekte tua yang selama ini tersembunyi, mereka adalah kelompok yang memiliki pengaruh besar dan kekuatan luar biasa. Mereka ingin memastikan bahwa darah Pedang Langit tidak akan bangkit.”

Goo Yoon menelan ludah. “Sekte tua… maksudmu mereka yang legendaris? Yang bahkan para pendekar top pun takut?”

Han Seol mengangguk. “Benar. Mereka tidak akan datang secara terang-terangan. Mereka menggunakan bayangan, mata-mata, dan pendekar elit untuk mengamati dan menilai kekuatanmu sebelum memutuskan apakah kau layak dianggap ancaman. Dan jika mereka menilaimu terlalu berbahaya… mereka tidak akan ragu untuk menyerang.”

Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat. Sejak pertarungan dengan Kang Dae-Rin, ia merasa bahwa dunia para pendekar telah berubah untuknya. Tidak ada lagi waktu untuk latihan biasa atau pertarungan kecil. Sekarang, setiap langkahnya harus diperhitungkan.

“Jadi,” gumamnya, “ini bukan sekadar tentang latihan… ini tentang bertahan hidup.”

Han Seol tersenyum tipis, meski matanya tetap serius. “Benar. Dan kau harus cepat berkembang. Aku akan mengajarkanmu gerakan lanjutan dari Teknik Pedang Langit, sekaligus cara membaca aura lawan, mengenali pola energi, dan mengantisipasi serangan sebelum terjadi. Itu adalah kunci bertahan di dunia ini.”

Goo Yoon mengangguk. Ia menyadari bahwa kesempatan untuk memahami warisan keluarganya juga berarti tanggung jawab besar. Darah Pedang Langit bukan hanya memberikan kekuatan, tetapi juga membuatnya menjadi target utama.

Malam itu, di bawah cahaya bulan, Han Seol mulai melatih Goo Yoon lagi. Ia mengajarkan teknik lanjutan: gerakan cepat yang memanfaatkan aliran energi tubuh secara maksimal, tebasan yang memprediksi gerakan lawan, dan serangan bayangan yang bisa mengecoh musuh bahkan sebelum mereka menyadari keberadaan pedang itu.

Setiap gerakan baru terasa lebih sulit. Tubuh Goo Yoon lelah, namun hatinya semakin fokus. Ia mulai memahami bahwa Teknik Pedang Langit bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang keselarasan energi, pikiran, dan naluri.

Tiba-tiba, Han Seol berhenti. Matanya menatap tajam ke arah hutan. “Ada sesuatu.”

Goo Yoon mengikuti arah pandangnya. Di balik pepohonan, bayangan gelap bergerak cepat. Beberapa sosok pendekar meluncur di antara pepohonan, bergerak dengan kecepatan tinggi dan energi yang menekan.

Han Seol menarik napas panjang. “Mereka datang. Utusan dari Sekte Bayangan Hitam dan dua sekte tua lainnya. Mereka ingin menilai kekuatanmu, dan mungkin… menyerang jika kau menunjukkan potensi terlalu besar.”

Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat. “Aku siap,” katanya pelan, tetapi hatinya tetap berdebar. Ia tahu ini adalah pertarungan yang berbeda dari sebelumnya. Lawannya bukan hanya satu atau dua pendekar, tapi kelompok terlatih yang bisa membaca dan memanfaatkan setiap kelemahan.

Seketika, bayangan-bayangan itu muncul di depan gua. Aura mereka begitu kuat hingga membuat daun-daun bergetar, dan energi mereka terasa menekan seperti badai yang mendekat. Goo Yoon menatap mereka dengan tegas. Ini adalah pertarungan pertamanya menghadapi musuh dari sekte tua—pendekar yang telah berpengalaman bertahun-tahun, yang tahu cara membunuh sebelum lawan memahami serangan itu.

Han Seol melangkah ke depan. “Jangan takut. Ingat latihanmu, ingat aliran energi dalam tubuhmu. Gunakan pedangmu sebagai perpanjangan dari jiwa dan darahmu. Sekali kau menyerang dengan penuh keselarasan, mereka tidak akan mampu mengantisipasinya.”

Goo Yoon mengangguk. Matanya menyala dengan tekad. Ia menatap lawannya, merasakan aura mereka, dan mempersiapkan tubuh serta pedangnya untuk gerakan pertama.

Seketika, udara di sekitar mereka terasa berat. Energi dari para pendekar sekte tua itu menyebar, menciptakan medan tekanan yang memaksa Goo Yoon dan Han Seol mundur beberapa langkah. Namun Goo Yoon tetap berdiri, menenangkan napasnya, memusatkan energi dalam tubuhnya.

WHOOSH!

Pertarungan dimulai. Bayangan pedang meluncur ke arah Goo Yoon, masing-masing tebasan membawa tekanan energi yang mengerikan. Namun setiap kali mereka menyerang, Goo Yoon menggunakan pelajaran dari Han Seol untuk membaca gerakan mereka, mengantisipasi serangan, dan melancarkan counter dengan presisi.

CLANG!

Benturan pedang menggema di hutan malam. Percikan energi menari di udara, dan tanah di bawah kaki mereka retak sedikit karena kekuatan benturan.

Utusan sekte tua itu terlihat terkejut. Mereka tidak menyangka pemuda ini bisa menangkis serangan sekaligus membaca gerakan mereka. Goo Yoon bergerak cepat, tubuhnya mengikuti aliran energi pedangnya. Ia tidak menyerang dengan kasar, tapi dengan presisi, memanfaatkan celah kecil yang ditinggalkan lawan.

“Ini baru permulaan,” bisik Han Seol di telinga Goo Yoon. “Jangan lengah. Sekali mereka mulai serius, mereka tidak akan memberi ampun.”

Goo Yoon mengangguk. Setiap gerakan terasa lebih cepat, lebih kuat, lebih harmonis. Ia mulai menyadari bahwa darah Pedang Langit bukan sekadar kekuatan fisik—itu adalah kemampuan untuk menyatu dengan pedang dan energi di sekitarnya, menciptakan gerakan yang tidak dapat diprediksi oleh lawan.

Di tengah pertarungan, Goo Yoon menatap lawan utamanya, seorang pendekar tua dengan aura gelap yang hampir menutupi tubuhnya. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, Goo Yoon merasakan tantangan sejati: ini adalah ujian untuk melihat apakah ia benar-benar pewaris Pedang Langit.

Ia menarik napas dalam, mengalirkan seluruh energi tubuh ke pedangnya. Detik berikutnya, pedang itu berkilau dengan cahaya biru tipis, seolah memancarkan kekuatan yang berasal dari darah legendarisnya.

WHOOSH!

Ia menyerang dengan gerakan bayangan naga yang telah dipelajari dari Han Seol. Serangan itu cepat, presisi, dan mengikuti aliran energi lawan. Pendekar tua itu tampak terkejut, menangkis dengan keras, namun tekanan dari tebasan Goo Yoon memaksa ia mundur beberapa langkah.

Malam itu di hutan, pertarungan antara pewaris Pedang Langit dan utusan sekte tua dimulai. Setiap tebasan, setiap gerakan, adalah ujian bagi Goo Yoon—ujian untuk membuktikan bahwa ia mampu bertahan, berkembang, dan menghadapi dunia yang kini mulai menaruh perhatian padanya.

Dalam hati Goo Yoon, satu tekad membara: ia akan menjadi lebih kuat, menguasai Teknik Pedang Langit, mengungkap rahasia darahnya, dan menghadapi setiap ancaman yang muncul, tidak peduli dari sekte mana atau seberapa tua dan kuat musuh itu. Perjalanan ini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya, dan setiap langkahnya kini akan menentukan nasibnya serta warisan legendaris keluarganya.

1
Suarlan
betul...awalnya pedang kayu, tiba tiba berubah jadi tongkat kayu, tanpa suatu narasi.
Shen shandian luo
tiap bab terputus..pertarungan tak pernah sampai selesai..novel sampah..
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Iya, baru saja dimulai /Determined/, AYOOOO!
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Kan memang ada batu besar di sepunggungnya, Thor🙃
Nh4Fi
brasa ky meloncat.i bbrapa chapt
Nh4Fi
itu pedang kayu knp brubah jd tongkat kayu?
yg bner mn nih?
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Semangat Goo Yoon /Smile/
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
BAGUS BANGET! Dalam beberapa kata aja aku udah suka dengan Goo Yoon. Dia itu MC yang benar-benar zero to Hero, gak ada usaha yang gak ada bayarannya.

Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Goo Yoon itu tipe MC yang manusiawi banget, bukan seorang jenius, tapi gak berhenti untuk usaha, aku merasa kayak melihat diriku yang hampir menyerah dulu. Rasanya ingin mengikuti jejak dua/Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Goo Yoon, aaah, aku suka banget dinamika mu😭
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Go Goo Yoon, kalau orang lain pasti sudah mundur kalau enggak mati/Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Hiatus)
Aku suka dengan penggambaran Gu yang terus berusaha untuk berkembang dan lebih fokus ke perkembangan diri daripada balas dendam /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!