Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh juta
"Kantin yuk, Ran," ajak Bintang pada Rania. Ia memang ingin mencoba lebih dekat dengan Rania sebagai seorang teman.
"Ayo," ucap Rania singkat sambil berdiri dari bangkunya.
"Lara, kantin yuk," Bintang juga tak lupa mengajak Lara.
"Tunggu sebentar," balas Lara sambil merapikan buku-bukunya di atas meja. Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan rapi.
Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajahnya. "Ayo."
Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin sekolah yang saat ini cukup ramai. Suara percakapan para murid bercampur dengan suara peralatan makan yang beradu, membuat suasana kantin terasa hidup seperti biasanya.
Sesampainya di kantin, seperti kebanyakan murid lainnya, mereka mencari tempat duduk yang kosong. Namun hampir semua meja terisi. Pandangan mereka bertiga menyapu seluruh kantin hingga akhirnya berhenti pada satu meja—tempat Freya, Balqis, dan Bunga duduk. Hanya di sana kursi yang masih tersisa.
"Kita ke sana saja. Cuma di sana yang kosong," ajak Lara sambil mulai berjalan ke arah meja tersebut.
Bintang mengikuti di belakang bersama Rania. Sebenarnya Rania sedikit enggan bertemu mereka, mengingat kejadian kemarin masih membekas di hatinya. Namun memang hanya tempat itu yang tersisa.
"Gue boleh gabung gak di sini? Soalnya yang lain penuh," ucap Lara pada Freya.
Freya yang sedang mengunyah makanannya langsung berhenti sejenak, lalu menatap mereka bertiga. Balqis dan Bunga juga ikut menoleh.
"Boleh aja kok," balas Freya.
"Terima kasih," ucap Lara sambil tersenyum, lalu duduk di kursi kosong di samping mereka. Rania dan Bintang ikut duduk setelahnya.
"Gue Bintang, salam kenal," ucap Bintang menyapa dengan ramah.
"Hai," balas mereka bertiga sambil tersenyum tipis.
"Gue Flora."
"Gue Balqis."
"Dan gue Bunga."
Bintang tersenyum kecil. Ia merasa lega karena sahabat-sahabat Rania tidak mempermasalahkan kehadirannya.
"Kalian mau pesan apa? Gue pesanin deh?" tanya Bintang pada Lara dan Rania.
"Gak usah, Bin. Gue bisa pesan sendiri," jawab Rania.
"Nggak apa-apa kok, sebut saja," balas Bintang.
"Ya udah, gue bakso sama es teh," ucap Rania.
"Lo?" tanya Bintang pada Lara.
"Samain aja sama Rania," jawab Lara.
Bintang mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju tempat pemesanan.
Setelah Bintang pergi, suasana di meja itu terasa sedikit canggung. Tak ada percakapan yang benar-benar dimulai. Hanya suara sendok yang beradu dengan mangkuk dan piring yang terdengar pelan.
"Ran, ngumpul yuk sebentar malam. Udah lama nih kita gak ngumpul," ucap Bunga pada Rania. Ia berusaha sebisa mungkin melupakan masalah mereka sebelumnya.
Rania terdiam sejenak. Ia menatap Bunga beberapa detik, seolah mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya ia mengangguk. "Boleh."
Sementara itu Freya dan Balqis hanya fokus pada makanan mereka, meskipun sesekali mereka melirik ke arah Rania.
Mereka ini kenapa ya? gumam Lara dalam hati. Dari kemarin gue lihat seperti ada masalah. Tapi sekarang kelihatan seperti gak ada apa-apa.
Ia diam-diam memperhatikan interaksi mereka di meja itu.
Beberapa saat kemudian Bintang kembali dengan membawa nampan berisi pesanan mereka, dibantu oleh ibu kantin yang berjalan di belakangnya.
Setelah makanan diletakkan di meja, Rania dan Lara langsung mulai makan. Di sela-sela makan, mereka sempat berbincang ringan. Percakapan kecil itu membuat suasana perlahan mencair, seakan-akan masalah kemarin tidak pernah terjadi.
"Gue duluan ya," ucap Rania sambil berdiri setelah makanannya habis.
"Mau ke mana lo?" tanya Freya.
"Lo mau ketemu pacar lo?" sahut Bunga.
Rania mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Oh," ucap Freya singkat.
Rania hanya menatap sekilas ke arah Freya. "Gue duluan," ucapnya lalu meninggalkan mereka.
Langkah Rania menjauh dari kantin, sementara yang lain masih duduk di tempat mereka.
"Gue boleh nanya gak sama kalian?" tanya Lara sambil menatap sahabat-sahabat Rania.
"Tanya aja," jawab Bunga.
"Kalian sahabatan ya sama Zia?" tanya Lara, memberanikan diri.
"Iya," jawab Balqis singkat.
"Kenapa emangnya?" tanya balik Freya.
"Gak kenapa-napa sih, cuma nanya doang," jawab Lara sambil tersenyum kaku, meskipun di dalam hatinya rasa penasaran masih belum hilang.
~~
Di sisi lain, Rania sudah melihat Adrian yang duduk sendirian di taman tempat mereka janjian. Adrian tampak duduk di bangku taman dengan wajah yang terlihat sedikit lelah, seolah banyak hal yang sedang ia pikirkan.
Rania berjalan perlahan dengan langkah mengendap-endap dari belakang agar Adrian tidak menyadari kehadirannya. Senyum kecil terukir di wajahnya, berniat sedikit mengerjai sang kekasih.
Saat sudah tepat di belakang Adrian, Rania langsung menutup mata Adrian dengan kedua tangannya.
"Coba tebak ini siapa," ucap Rania dengan suara dibuat seperti anak kecil.
Adrian tersenyum tipis mendengar suara itu. "Siapa lagi kalau bukan pacar aku," ucap Adrian santai.
Rania langsung melepaskan tangannya lalu berjalan memutar hingga berdiri di hadapan Adrian.
"Kamu kok tahu sih?" ucap Rania dengan wajah cemberut.
"Dari aroma kamu saja aku sudah tau," ucap Adrian ringan, lalu menepuk bangku di sampingnya, memberi isyarat agar Rania duduk di dekatnya. "Kamu sudah makan?"
"Iya, udah. Kamu?" tanya balik Rania.
Adrian hanya menggeleng pelan.
"Kenapa belum sih? Nanti kamu sakit loh," ucap Rania dengan nada khawatir.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis menatap Rania, lalu berkata dengan suara pelan, "Aku tidak punya uang, sayang."
"Gak punya uang?" ucap Rania memastikan.
Adrian mengangguk. "Iya, sayang."
Mendengar itu, Rania langsung berdiri dari duduknya tanpa berkata apa-apa lagi dan meninggalkan Adrian.
"Rania, kamu mau ke mana?" ucap Adrian memanggil Rania yang sudah berjalan menjauh.
"Tunggu aku bentar. Kamu jangan pergi," ucap Rania sedikit berteriak sambil terus berjalan.
Rania melangkah cepat menuju kantin. Di sana ia membeli beberapa camilan—roti dan susu—untuk Adrian. Setelah membayar, ia segera kembali ke taman tempat Adrian menunggunya.
Begitu sampai, Rania langsung menyodorkan plastik kecil berisi roti dan susu itu.
"Nih, makan dulu," ucap Rania sambil memberikan roti dan susu yang ia beli.
"Kamu pergi cuma untuk beli ini?" tanya Adrian sedikit terkejut.
Rania mengangguk. "Iya. Kamu makan ya, aku gak mau kamu sakit," ucap Rania penuh perhatian.
Adrian menatap Rania sejenak dengan tatapan haru. Ia kemudian membuka roti itu dan mulai memakannya.
"Makasih ya sayang, kamu memang pacar yang baik," ucap Adrian.
"Iya, sama-sama," ucap Rania sambil tersenyum lembut.
Beberapa menit kemudian, Adrian sudah menyelesaikan makanannya. Suasana taman kembali hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan di antara pepohonan.
"Sudah bisa cerita gak?" tanya Rania dengan lembut.
Adrian mengangguk pelan. "Semalam yang kamu dengar itu dept collector."
"Dept collector?" tanya Rania, sedikit terkejut.
"Iya, kamu tidak salah dengar. Bapak pernah pinjam uang sama dept collector yang lumayan banyak, dengan jaminan rumah. Bapak sudah lama tidak membayar karena bapak di PHK di perusahaan tempat dia kerja, jadi bapak gak bisa bayar. Singkatnya bapak gak bisa bayar, sehari-hari pun kami gak punya. Ini uang SPP-ku saja Tante yang nolongin. Kalau kami gak bayar, rumah kami akan disita. Kami tidak tahu harus ke mana. Kalau kami mau tinggal di tempat Tante pun kami gak bisa, rumah mereka juga kecil, keluarga mereka juga banyak."
Adrian menghela napas panjang sejenak, mencoba menenangkan dirinya sebelum melanjutkan.
"Aku pusing sekarang, Ran. Aku tidak tahu harus pinjam ke siapa lagi. Mau kerja juga gak bisa, aku belum bisa kerja sebelum lulus sekolah."
Rania yang melihat Adrian begitu sedih hanya terdiam. Ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Adrian. Hatinya terasa ikut sesak melihat orang yang ia sayangi berada dalam kesulitan seperti itu.
"Emangnya pinjam bapak kamu berapa?" tanya Rania akhirnya.
"Dua puluh juta, Ran. Di mana aku mau dapat uang sebanyak itu selama sebulan," jawab Adrian dengan wajah putus asa.
Rania tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Adrian dengan lembut.
"Kamu pakai tabungan aku dulu," ucap Rania.
Adrian langsung menggeleng cepat. "Gak usah, sayang. Aku gak mau ngerepotin kamu."
"Kamu tidak ngerepotin aku sama sekali, sayang," ucap Rania menenangkan.
"Tidak sayang, aku tidak bisa," tolak Adrian lagi.
Rania berpikir sejenak, lalu mencoba memberi solusi lain.
"Bagaimana kalau kamu anggap saja utang sama aku. Nanti kalau kamu sudah punya uang baru kamu bayar," saran Rania.
"Aku malu, sayang, kalau aku pinjam sama kamu. Seharusnya aku yang kasih kamu, ini malah kebalikannya," ucap Adrian merasa tidak enak.
"Gak apa-apa. Sekarang aku TF ya," ucap Rania sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Secepat itu, Ran?" ucap Adrian tidak percaya.
"Iya. Setelah pulang kamu harus kasih ini ke dept collector supaya rumah kamu gak jadi disita," ucap Rania sambil mulai menekan layar ponselnya.
Beberapa detik kemudian—
Ting!
Notifikasi masuk ke ponsel Adrian. Ia langsung membuka ponselnya dan melihat layar dengan wajah terkejut. Ia pikir Rania hanya bercanda, tetapi ternyata tidak. Ia sama sekali belum tahu bahwa Rania sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup kaya.
"Makasih ya, sayang. Setelah pulang sekolah aku akan bayar utang bapak. Aku janji akan mengembalikan uang kamu. Aku juga akan cari kerjaan paruh waktu," ucap Adrian dengan nada bersungguh-sungguh.
"Iya, santai saja," balas Rania dengan senyum kecil, meskipun dalam hatinya ia hanya berharap masalah Adrian benar-benar bisa segera selesai.
~~
Tidak jauh dari tempat Rania dan Adrian duduk di taman, tepat di balik sebuah pohon besar, beberapa pasang mata diam-diam memperhatikan mereka. Sahabat-sahabat Rania berdiri di sana, tanpa sengaja mendengar percakapan yang terjadi di antara keduanya.
Sebenarnya mereka tidak berniat menguping. Awalnya mereka hanya melihat Rania yang tiba-tiba kembali ke kantin setelah meninggalkan meja mereka. Rasa penasaran membuat Freya mengajak yang lain untuk mengikuti Rania.
Awalnya Lara dan Bintang enggan ikut. Mereka merasa tidak enak jika harus mengikuti Rania secara diam-diam. Namun setelah Freya berkata, "Lo bakal nyesel kalau gak ikut," akhirnya mereka berdua ikut juga.
Sekarang mereka berdiri di balik pohon itu, menyaksikan semuanya—dari Rania yang membelikan makanan untuk Adrian, hingga percakapan serius yang barusan terjadi.
"Gue gak nyangka Rania langsung sat set gitu tanpa mikir terlebih dahulu," ucap Lara pelan dengan wajah terkejut.
"Kok Kak Adrian bohong ya," sahut Bintang dengan nada bingung.
"Bohong maksud lo apa?" tanya Bunga sambil menoleh ke arah Bintang.
"Bohong itu maksudnya… Kak Adrian itu orang tuanya sudah pisah. Sekarang dia tinggal sama neneknya. Neneknya juga termasuk orang yang bisa dibilang berada—gak miskin, tapi gak kaya juga," jawab Bintang menjelaskan.
"Lo kok tau?" tanya Freya dengan kening berkerut.
"Sepupu gue sekelas sama Kak Adrian, jadi sedikit tahu," jawab Bintang.
Mendengar itu, Balqis langsung mendengus kesal.
"Dasar kutukupret. Sudah gue duga dia tidak akan bisa berubah, tapi Rania ngeyel banget," ucap Balqis dengan nada jengkel.
Raut wajah mereka semua terlihat tegang. Apa yang mereka dengar barusan jelas membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kita harus gimana, guys? Kita gak bisa biarin Rania termakan hasutan Adrian lagi," ucap Bunga dengan nada khawatir.
Freya berpikir sejenak, matanya masih tertuju ke arah Adrian yang kini tampak berbicara santai dengan Rania di bangku taman.
"Bun, suruh mata-mata kita ikutin si brengsek itu setelah pulang sekolah. Gue yakin dia pasti mau happy-happy setelah dapat uang dari Rania," ucap Freya dengan tegas.
"Iya, gue hubungi sekarang," ucap Bunga sambil langsung mengeluarkan ponselnya dan menjalankan perintah tersebut.
Freya menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya masih tertuju ke arah Adrian dari kejauhan. Rahangnya mengeras, jelas ia menahan kesal.
“Gue udah cukup lihat kelakuan dia,” ucap Freya dingin.
Lara dan yang lain menoleh ke arahnya.
Freya menghela napas pendek, lalu berkata tegas, “Kali ini kita gak bisa cuma diam.”
“Apa maksud lo?” tanya Bunga.
Freya menatap mereka satu per satu sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah Adrian.
“Kita harus kasih pelajaran ke brengsek itu,” katanya pelan tapi penuh tekanan.
Balqis langsung mengangguk setuju. “Gue juga udah muak lihat dia mainin Rania.”
Freya menyeringai tipis. “Makanya. Biar dia tahu, Rania gak sendirian.”