NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Setelah meneguk gelas kelima, tangan Novita akhirnya berhenti bergerak. Lima gelas kosong kini berbaris rapi di atas meja pantry kecil di dekat ruang kerja Pak Andra. Aroma kopi yang sejak tadi terasa begitu kuat kini justru membuat kepalanya sedikit berdenyut.

Perutnya terasa penuh.

Terlalu penuh.

Rasa mual perlahan naik dari perut menuju tenggorokannya.

Novita menelan ludah, mencoba menahan rasa tidak nyaman itu. Ia sempat memejamkan mata beberapa detik, berharap tubuhnya mau sedikit bersabar.

Namun tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi lagi.

Tanpa berkata apa-apa kepada siapa pun, Novita segera berbalik dan berjalan cepat menuju toilet di ujung lorong. Langkahnya semakin tergesa ketika rasa mual itu semakin kuat dan tak tertahankan.

Begitu pintu toilet tertutup, ia langsung membungkuk di depan wastafel.

Suara muntah memecah keheningan ruangan.

Semua kopi yang baru saja diminumnya keluar begitu saja, bercampur dengan sarapan yang ia makan pagi tadi. Cairan pahit itu memenuhi wastafel. Napasnya terengah-engah, dan tangannya mencengkeram pinggir wastafel kuat-kuat seolah tubuhnya bisa jatuh kapan saja.

Beberapa saat ia hanya diam di sana.

Air keran dibiarkannya mengalir deras.

Novita membilas mulutnya berkali-kali, mencoba menghilangkan rasa pahit yang masih tertinggal di lidahnya. Dadanya masih naik turun tidak beraturan.

Perlahan napasnya mulai kembali stabil.

Ia akhirnya mengangkat kepala dan menatap bayangannya sendiri di cermin.

Wajahnya tampak pucat.

Mata yang biasanya tenang kini terlihat sedikit lelah.

“Lima gelas…” gumamnya pelan. “Benar-benar keterlaluan.”

Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya.

Beberapa menit kemudian rasa mual itu mulai mereda. Dadanya tidak lagi terasa sesak seperti tadi.

Novita membuka keran dan mencuci wajahnya. Air dingin menyentuh kulitnya dan membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengambil tisu dan mengeringkan wajahnya.

Tatapannya kembali jatuh ke cermin.

“Tidak ada waktu untuk terlihat lemah,” bisiknya pelan.

Beberapa detik kemudian, ia berbalik dan keluar dari toilet.

Langkahnya kembali menuju kantor administrasi.

---

Begitu Novita melangkah masuk ke ruangan administrasi, Yanti yang sedang duduk di depan komputer langsung menoleh.

Matanya menyipit.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Belum sempat Novita duduk, Yanti sudah berdiri dan berjalan cepat menghampirinya.

“Vi!”

Novita baru saja meletakkan tasnya ketika tiba-tiba Yanti menarik tangannya dan membawanya sedikit menjauh dari meja kerja.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Yanti dengan nada serius.

Novita terlihat sedikit terkejut dengan reaksi itu. Namun ia segera memasang senyum tipis.

“Apa maksudmu?”

Yanti menatapnya tajam.

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

Novita menghela napas kecil lalu perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Yanti.

“Tidak ada apa-apa,” katanya santai. “Aku cuma lagi belajar membuat kopi yang enak.”

Yanti langsung mengerutkan dahi.

“Kamu pikir aku percaya?”

Novita tertawa kecil seolah itu bukan masalah besar.

“Kenapa tidak?”

Yanti melipat tangan di depan dada.

“Karena aku sudah dengar ceritanya.”

Senyum Novita sedikit memudar.

“Cerita apa?”

Yanti mendekat sedikit dan menurunkan suaranya.

“Kemarin kamu disuruh membawa barang-barang Pak Andra, kan?”

Novita tidak langsung menjawab.

Yanti melanjutkan dengan nada kesal.

“Katanya kamu bolak-balik dari kantor Pak Andra sampai beberapa kali.”

Novita masih diam.

“Dan sekarang?” lanjut Yanti. “Sekarang kamu disuruh membuat kopi? Serius?”

Ia menunjuk ke arah pantry.

“Padahal ada Pak Ali! OB yang setiap hari memang tugasnya membuatkan kopi untuk para atasan.”

Nada suaranya semakin naik.

“Ini jelas tidak masuk akal!”

Novita tersenyum lagi, meskipun kali ini terlihat sedikit dipaksakan.

“Ya sudah, anggap saja aku lagi belajar hal baru.”

Yanti menggeleng keras.

“Vi, aku ini bukan orang bodoh.”

Novita menatapnya sebentar, lalu berjalan kembali menuju mejanya.

Ia duduk dengan tenang dan menyalakan komputer seperti biasa, seolah percakapan tadi tidak terlalu penting.

“Aku harus kerja,” katanya ringan.

Namun Yanti masih berdiri di sampingnya.

“Novita.”

Nada suara Yanti kini jauh lebih serius.

“Kamu dipermainkan.”

Jari Novita yang sedang menekan tombol keyboard berhenti sejenak. Ia menoleh pelan.

“Tidak juga.”

“Jelas iya!” balas Yanti cepat. “Ini bukan tugasmu!”

Novita kembali menatap layar komputer.

“Aku tidak mau terganggu hanya karena hal-hal yang tidak penting.”

Kalimat itu membuat Yanti semakin kesal.

“Tidak penting?”

Ia mencondongkan tubuhnya ke meja Novita.

“Kamu disuruh bolak-balik membawa barang, disuruh bikin kopi sampai lima gelas, dan kamu bilang itu tidak penting?”

Novita menarik napas pelan.

“Yanti…”

“Aku serius,” potong Yanti. “Ini sudah keterlaluan.”

Novita menggeleng kecil.

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Kita kerja di sini, kan?” jawab Novita dengan nada tenang. “Selama itu masih pekerjaan, aku tidak masalah.”

Yanti menatapnya tidak percaya.

“Kamu terlalu baik.”

Novita tersenyum kecil.

“Atau mungkin kamu yang terlalu khawatir.”

Namun Yanti jelas tidak bisa menerima penjelasan itu.

“Aku akan bicara dengan Bu Dewi.”

Novita langsung menoleh cepat.

“Jangan.”

Yanti terdiam.

“Aku serius,” lanjut Novita pelan. “Jangan lakukan itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau ada masalah.”

Yanti menghela napas kesal.

“Justru kalau kamu diam saja, masalahnya akan terus ada.”

Novita menggeleng lagi.

“Aku cuma ingin bekerja dengan tenang.”

Ruangan administrasi perlahan menjadi sunyi. Beberapa karyawan sempat melirik mereka, tetapi segera kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Yanti masih berdiri di sana dengan ekspresi kesal sekaligus khawatir.

“Vi… kamu ini kenapa sih?”

Novita berhenti mengetik.

Ia menoleh dan menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yang lebih lembut.

“Dengar,” katanya pelan. “Ini cuma sementara.”

“Maksudmu?”

Novita bersandar sedikit di kursinya.

“Pak Andra mungkin cuma sedang kesal.”

Yanti mengerutkan dahi.

“Kesal?”

“Iya.”

Novita tersenyum tipis.

“Kalau dia sudah bosan, pasti berhenti sendiri.”

Yanti menghela napas panjang.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Tapi—”

“Yanti,” potong Novita lembut.

Yanti akhirnya terdiam.

Novita melanjutkan dengan nada yang sangat tenang.

“Aku benar-benar cuma ingin kerja dengan tenang. Tidak lebih.”

Yanti menatapnya beberapa detik, mencoba membaca wajahnya.

Ia berusaha mencari tanda bahwa Novita sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun wajah Novita terlihat begitu biasa.

Terlalu biasa.

Akhirnya Yanti menyerah.

Ia menggeleng pelan lalu berkata, “Kalau dia keterlaluan lagi, aku tidak akan diam.”

Novita hanya tersenyum tipis.

“Kita lihat nanti.”

Yanti kembali ke mejanya dengan langkah berat. Ia masih tidak sepenuhnya percaya dengan semua yang dikatakan Novita.

Sementara itu, Novita kembali menatap layar komputernya.

Jarinya mulai bergerak lagi di atas keyboard, menyelesaikan laporan administrasi seperti biasa.

Dari luar, ia tampak tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun jauh di dalam hatinya, rasa pahit yang tadi ia muntahkan di toilet seakan masih tertinggal. Semua itu memang terasa keterlaluan, tetapi Novita masih mencoba menoleransi keadaan itu.

Ia masih berusaha memahami sikap dingin dan keras dari direktur yang seolah sengaja mengincarnya.

Dan untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan… sambil tetap bekerja seolah semuanya baik-baik saja.

1
viellia
next yuuuk kaaak
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!