NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berjemur di Ruang Santai

Livinia datang membawa dua piring makanan dan meletakkannya di depanku dan Vloo.

Di tengah makan, Nyonya Rose bertanya, "Kenapa kamu gak kasih restu?"

"Aku punya rencana lain untuk Cherry," jawab Cavell dengan nada gak sabar.

Aku fokus pada makanan di depanku dan mulai makan. Livinia mendekat dan bertanya pelan, "Kamu mau jus, kopi, atau teh?"

Aku tersenyum padanya. "Kopi."

Saat dia meletakkan secangkir kopi panas di depanku, aku berkata pelan, "Terima kasih."

"Kamu terlihat sangat muda. Berapa umurmu, Cherry?" tanya Nyonya Persie.

Dengan sopan aku menjawab, "Dua puluh tiga."

Nyonya Rose memalingkan wajah ke arahku. "Kita akan saling mengenal lebih dekat setelah sarapan."

Aku melirik Cavell lalu kembali pada Mamanya.

"Aku akan senang."

Saat aku makan, Nyonya Rose bertanya pada Cavell, "Kamu bakal tinggal di rumah beberapa lama?"

"Aku bakal bolak-balik antara SCBD dan mansion selama beberapa minggu," jawabnya sebelum mengelap sudut mulutnya dengan serbet.

Dia berdiri.

"Semoga harimu menyenangkan, Mama." Dia mencium puncak kepala ibunya lalu keluar dari ruang makan.

Begitu Cavell pergi, sebagian besar ketegangan di ruangan itu langsung menghilang. Bahuku sedikit rileks.

Seorang penjaga masuk ke ruang makan dan duduk di samping Nyonya Persie. Matanya berpindah antaraku dan Vloo.

"Ini Cherry Anabell. Dia akan tinggal bersama kita untuk sementara," kata Vloo. "Ini Riffe. Dia yang mengawasi keamanan mansion. Dia juga penjaga Nyonya Rose dan Mamaku."

"Selamat datang," kata Riffe sebelum perhatiannya beralih ke Livinia yang membawa sarapannya.

"Senang bertemu denganmu," kataku pelan.

"Riffe, berikan kata sandi WiFi ke Cherry," kata Vloo sambil berdiri.

Nyonya Persie juga berdiri dan mengikuti anaknya keluar dari ruang makan.

Setelah aku selesai makan, aku gak tahu apakah aku harus menunggu semua orang selesai atau boleh pergi.

Aku menatap Riffe dan Nyonya Rose. Saat dia mendorong kursinya mundur, dia berkata, "Cherry, ikutlah denganku ke ruang santai."

Aku langsung berdiri dan, gak yakin apakah harus membantunya, aku hanya mengikuti dia dengan gugup.

Aku cukup terkejut saat dia berjalan menyusuri koridor menuju ruang santai yang dipenuhi cahaya matahari.

Dia duduk lalu menoleh ke arahku. "Silakan duduk."

Aku memilih kursi di depannya dan duduk di tepi dengan tangan terlipat di pangkuan.

"Jangan gugup," katanya.

Aku hampir mengatakan iya, tapi hanya menjawab pelan, "Oke."

"Kamu pernah ke Jakarta sebelumnya?"

"Gak. Ini pertama kalinya aku keluar dari Langkawi."

"Bahasa Indonesiamu bagus," katanya.

"Dari orang tuaku," jawabku.

"Kamu sudah menelepon mereka untuk memberi tahu kamu sudah sampai dengan selamat?"

Aku menggeleng.

"Belum. Aku harus beli kartu SIM dulu."

"Kamu bisa pakai telepon rumah."

Aku ragu sejenak. Tapi terlalu takut berbohong pada Mama Cavell.

"Aku rasa mereka gak khawatir tentang aku. Mereka akan bertanya hal-hal yang gak bisa aku jawab, jadi lebih baik aku gak menelepon."

Alis kirinya terangkat dan kerutan muncul di dahinya.

"Kamu gak dekat dengan orang tuamu?"

"Sama sekali gak."

"Sayang sekali," katanya pelan.

Nyonya Persie masuk ke ruangan lalu duduk di dekat Nyonya Rose. Saat kedua wanita itu menatapku, aku kembali merasa gugup.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Nyonya Persie.

"Kami sedang mengenal Cherry," jawab Nyonya Rose. Dia menoleh ke arahku. "Apakah kamarmu sudah nyaman?"

"Iya. Terima kasih. Kamarnya sangat indah."

"Kalau kamu butuh apa pun, bilang saja pada Livinia."

"Terima kasih."

Nyonya Persie menatapku dengan rasa ingin tahu, lalu sedikit mendekat.

"Kamu tahu kenapa Cavell membawamu ke mansion? Aku tanya Vloo tapi dia gak mau memberi tahu."

Aku menggeleng. "Sayangnya gak."

Ekspresi Nyonya Rose juga berubah penasaran. "Apa yang terjadi saat pertemuan itu?"

"Gak banyak," jawabku. "Tuan Rose gak berada di rumah orang tuaku lebih dari satu jam sebelum dia menyuruh pengawalnya mengemas barang-barangku. Semuanya terjadi sangat cepat. Dia gak memberi penjelasan kenapa dia gak memberi restu."

"Kamu bilang kamu dua puluh tiga tahun?" tanya Nyonya Rose.

"Iya."

Dia mengerutkan hidungnya.

"Luke hampir lima puluh tahun. Itu dua kali lipat umurmu."

Aku menelan ludah lalu mengangguk. "Iya."

"Cavell melakukan hal yang benar," kata Mamanya sambil bersandar di kursi. "Apa yang Luke inginkan dari pengantin yang begitu muda?"

"Tahu gak," gumam Nyonya Persie.

Nyonya Rose menggeleng. "Luke seharusnya menikah dengan wanita seusianya." Dia kembali menatapku. "Apa pun rencana Cavell untukmu, itu pasti jauh lebih baik daripada menikah dengan keponakanku."

Kata-katanya membuat aku merasa lega sekaligus sedikit terharu. Aku menatap mereka saat perasaan aneh mengalir di dadaku.

"Aku benar-benar berharap begitu," bisikku.

"Ceritakan pada kami, apa yang kamu suka lakukan di waktu luang?" tanya Nyonya Persie.

"Aku bikin tutorial skincare dan makeup di media sosial."

"Oh, kamu belajar jadi ahli kecantikan?" tanya Nyonya Rose.

Aku mulai lebih santai dan menikmati percakapan.

"Gak. aku belajar semuanya dari video di YouTube."

Sebelum mereka sempat bertanya lagi, Livinia masuk ke ruang santai.

"Boleh aku membongkar barang-barang mu, Nona Anabell?"

"Oh, biar aku bantu," kataku sambil berdiri. Aku menatap kedua wanita itu. "Boleh aku pergi dulu?"

"Tentu," kata Nyonya Rose. "Setelah kamu selesai, kembali bergabung dengan kami."

"Oke."

Aku mengikuti Livinia keluar dari ruang santai. Perasaanku jauh lebih ringan setelah pagi yang menyenangkan itu.

Namun saat kami sampai di kamarku, perasaan nyaman itu perlahan menghilang.

Kekhawatiran kembali muncul. Karena aku masih gak tahu apa yang Cavell rencanakan untuk aku.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!