Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Sore itu, perpustakaan Saint Vladimir Academy terasa lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari senja yang mulai meredup menyelinap melalui celah-celah rak buku oak yang menjulang tinggi, menciptakan siluet panjang di atas meja kayu tempat Theodore dan Felicya duduk berhadapan. Tumpukan jurnal ekonomi, kliping berita internasional, dan catatan hukum berserakan di antara mereka.
Sudah tiga jam mereka terjebak dalam simulasi argumen. Namun, bagi Theodore, tiga jam itu terasa seperti ujian pengendalian diri yang paling berat dalam hidupnya.
Setiap kali Felicya berbicara, mengutarakan argumennya tentang etika korporasi dengan nada suara yang tenang dan terstruktur, mata Theodore seolah memiliki magnet tersendiri. Ia berusaha fokus pada poin-poin yang ditulis Felicya, namun pandangannya terus-menerus jatuh pada bibir gadis itu.
Bibir Felicya tidak dipulas gincu merah menyala seperti Stevie; ia hanya menggunakan sedikit pelembap yang membuatnya tampak sehat dan alami. Theodore memperhatikan bagaimana bibir itu bergerak dengan ritme yang sempurna—terkatup saat ia berpikir, dan sedikit melengkung saat ia menemukan poin yang kuat. Ada sebuah ketenangan yang magis di sana.
Apa yang salah denganku? batin Theo berteriak. Ia teringat bagaimana kemarin ia menolak mentah-mentah ajakan Stevie untuk berciuman di atap sekolah, namun kini, hanya dengan melihat Felicya bicara tentang "transparansi finansial", Theo merasa ada dorongan aneh yang jauh lebih dalam dan berbahaya.
Felicya, di sisi lain, benar-benar buta akan pergolakan batin Theo. Baginya, Theodore adalah rekan debat yang luar biasa jenius. Ia hanya fokus pada materi, mencatat setiap sanggahan Theo dengan teliti. Ia adalah definisi gadis "baik-baik" yang dedikasinya pada ilmu pengetahuan tidak perlu diragukan.
"Jadi, jika kita menggunakan teori Stakeholder, kita bisa mematahkan argumen lawan tentang profit murni," ucap Felicya sambil mendongak, menatap Theo dengan mata teduhnya yang jernih.
Theo tertegun sejenak, tenggelam dalam tatapan itu sebelum berdehem pelan. "Ya... benar. Analisis yang tajam, Felicya."
Theo menutup bukunya, mencoba mengalihkan perhatian dari wajah Felicya yang terlalu dekat. "Bicara soal analisis... aksenmu sangat rapi. Cara kau menyusun kalimat sangat teratur. Apa kau asli Rusia, Felicya? Maksudku, namamu terdengar internasional, tapi kau fasih sekali di sini."
Felicya tertawa kecil, sebuah tawa yang sangat langka dan terdengar seperti denting lonceng kecil. "Tidak, Theo. Aku sama sekali bukan asli Rusia. Aku asli Amerika. Chicago, tepatnya. Nama belakangku Thompson."
Deg.
Jantung Theodore terasa berhenti berdetak sesaat. Amerika. Chicago. Thompson. Nama yang sangat familiar dengan tanah yang selama ini coba ia lupakan.
"Jadi... kau dari Amerika?" tanya Theo, suaranya sedikit serak.
"Iya," jawab Felicya dengan senyum manisnya yang khas. "Tapi aku sudah sangat lama tidak tinggal di sana. Ayahku adalah seorang konsultan hukum internasional untuk perusahaan-perusahaan minyak. Pekerjaannya membuat kami harus berpindah-pindah negara setiap tiga atau empat tahun sekali."
Theodore menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Felicya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia merasa seperti menemukan cermin dari hidupnya sendiri.
"Berpindah-pindah?" pancing Theo.
"Ya. Sebelum ke Saint Petersburg, kami tinggal di Zurich selama lima tahun," lanjut Felicya. "Itulah sebabnya aku berteman dekat dengan Stevie. Kami dulu bertetangga di Zurich. Rumah kami hanya terpisah oleh satu taman kecil. Aku cukup kaget, jujur saja, saat Ayah bilang kami pindah ke Rusia dan ternyata aku bertemu kembali dengan Stevie di sekolah yang sama. Dunia ini terasa sangat kecil, bukan?"
Theodore terpaku. Jadi, itulah alasan kenapa Stevie selalu membawa Felicya ke mana-mana. Mereka memiliki sejarah yang panjang di Swiss. Ia membayangkan dua gadis itu tumbuh besar di Zurich—Stevie yang meledak-ledak dan Felicya yang menjadi penenang di sampingnya.
"Zurich adalah kota yang indah," gumam Theo. "Tapi Rusia... Rusia adalah tempat yang sangat berbeda untuk kalian berdua."
"Memang," Felicya mengangguk. "Stevie sedikit kesulitan beradaptasi dengan dinginnya Rusia, itu sebabnya dia sangat bergantung padamu, Theo. Dia butuh kehangatan. Sedangkan aku... aku terbiasa menjadi pengamat. Di mana pun aku berada, aku hanya perlu sebuah perpustakaan untuk merasa di rumah."
Felicya kemudian menatap Theo dengan tatapan menyelidik yang lembut. "Lalu kau, Theo? Kau bilang ayahmu pengusaha logistik menengah di sini, tapi kau memiliki aura yang... sulit kujelaskan. Kau tidak terlihat seperti remaja Rusia pada umumnya."
Theodore tersenyum getir. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga dari Amerika. Ia ingin mengatakan bahwa ia adalah pelarian dari Texas. Namun, ia menahan lidahnya. Terlalu berisiko.
"Aku hanya anak yang tumbuh dengan banyak rintangan, Felicya. Seperti katamu tadi, dunia ini kecil, tapi terkadang ia cukup luas untuk menyembunyikan rahasia besar," jawab Theo diplomatis.
Felicya tidak mendesak. Ia hanya mengangguk, lalu kembali merapikan lembar kerja mereka. Namun, atmosfer di antara mereka telah berubah. Bukan lagi sekadar dua rekan debat, tapi dua jiwa yang menyadari bahwa mereka memiliki luka dan sejarah yang serupa, jiwa-jiwa yang berpindah tempat demi mengikuti jejak orang tua mereka.
Saat Felicya berdiri untuk mengambil buku di rak atas, Theo ikut berdiri untuk membantunya. Saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan di atas punggung buku, Theodore merasakan aliran listrik yang membuatnya terpaku.
Felicya mendongak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Theo. Untuk pertama kalinya, Felicya tampak sedikit gugup. Mata teduhnya sedikit bergetar.
Theodore kembali mencuri pandang ke arah bibir Felicya. Kali ini, gairah itu bukan lagi sekadar fisik, tapi sebuah ketertarikan intelektual dan emosional yang mendalam. Ia merasa Felicya adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang bisa memahami arti "pindah" dan "kehilangan".
"Terima kasih, Theo," bisik Felicya, suaranya hampir hilang ditelan sunyinya perpustakaan.
"Sama-sama," balas Theo dengan suara berat.
Tepat saat itu, ponsel Theo di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan dari Stevie masuk:
“Aku masih marah! Tapi jika kau menjemputku sekarang dan membawakan aku cokelat Swiss, aku mungkin akan memaafkanmu. Jangan telat, Theo!”
Theodore menatap pesan itu, lalu kembali menatap Felicya yang sudah kembali duduk dengan tenang. Sebuah jurang besar kini terbentang di depannya. Di satu sisi ada Stevie, sahabat masa kecil Felicya yang kini menjadi kekasihnya yang posesif. Di sisi lain ada Felicya, gadis Amerika bermata teduh yang baru saja ia sadari memiliki koneksi jiwa dengannya.
Theodore Volkov sadar, latihan debat ini bukan hanya soal memenangkan argumen di sekolah, tapi soal memenangkan pertempuran di dalam hatinya sendiri yang kini mulai terbagi secara berbahaya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰