NovelToon NovelToon
My People

My People

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.

Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.

Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.

"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"

Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.

Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"

Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.

"Kamu bangun..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuang Barang

Di kamar Hu Lian

Setelah pulang dari rumah sakit, Hu Lian beristirahat sebentar di sofa besar yang berlapis kain sutra dalam kamar tidurnya yang luas dan mewah.

Dinding kamar dihiasi lukisan indah, sementara jendela besar menghadap taman hijau yang menenangkan.

Dia bangun perlahan, menggeser rambut yang sedikit kusut, lalu mengambil foto bingkai kayu yang terletak di meja samping tempat tidur.

Dalam foto itu, gadis muda pemilik asli Hu Lian mengenakan gaun pesta berwarna merah muda dengan renda yang cantik, rambutnya ditata rapi dengan aksesori kecil yang berkilau.

Dia tersenyum lebar ke arah kamera, sementara di sisinya berdiri Bai Xuning dengan tinggi badan yang mencolok kontras dengan tubuh kecil gadis itu.

Ekspresi pria itu terlihat tenang bahkan sedikit dingin, tak ada ekspresi bahagia yang jelas di wajahnya. Hu Lian menghela napas pelan—ini adalah foto saat perayaan pertunangan mereka setahun yang lalu.

Tanpa berpikir panjang, dia berjalan menuju ruang pakaian yang terhubung dengan kamar tidurnya, wajahnya sudah menunjukkan ketegasan.

Dia tahu pemilik asli telah menyimpan semua barang pemberian Bai Xuning selama enam bulan mereka bersama sebagai bukti perhatian yang dia harapkan dari pria itu.

Sekarang, barang-barang itu hanya akan menjadi beban yang tidak perlu.

"Dapatkan kotak kardus dan bantu saya mengemas semua barang yang diberikan oleh Bai Xuning," perintahnya pada dua pelayan yang sedang bersih-bersih di dekat pintu kamar. Wajahnya serius, tanpa sedikit pun keraguan.

Sementara itu, sore hari

Bai Xuning dan ibunya tiba di rumah sakit dengan bunga dan keranjang buah, hanya untuk diberitahu oleh perawat bahwa Hu Lian sudah dipulangkan oleh orang tuanya sejak pagi hari.

"Kenapa tidak ada yang memberitahu saya?"bisik Bai Xuning dengan wajah sedikit bingung,tangannya terkepal tanpa sadar.

Ibu Bai menepuk punggungnya dengan lembut. "Jangan khawatir terlalu banyak, Nak. Ayo kita pergi ke rumah Hu saja untuk menjenguknya. Ini juga kesempatan bagus untuk menunjukkan bahwa kita peduli."

Bai Xuning mengangguk, keduanya sehingga meninggalkan kawasan rumah sakit.Mobil mereka segera bergerak menuju kediaman keluarga Hu di pinggir kota.

Saat mobil berhenti di parkiran yang luas, Ibu Bai segera turun dan disambut ramah oleh pelayan.

Keduanya diajak masuk ke ruang tamu yang megah, di mana Ibu Hu sudah menunggu dengan senyum ramah,saat diperjalanan Ibu Bai sempat menghubungi Ibu Hu jika mereka akan berkunjung.

Kedua wanita segera mulai berbincang,sementara Bai Xuning duduk dengan tenang, namun matanya sering melirik ke arah lantai dua—tempat kamar Hu Lian berada.

Dia tidak melihat tanda-tanda gadis itu turun, tak lama dia melihat dua pelayan yang sedang membawa kotak kardus besar berjalan menuruni tangga.

Pelayan pertama yang sudah sampai di lantai dasar tiba-tiba terkejut saat melihat Bai Xuning, langkahnya terhenti mendadak.

Pelayan kedua yang mengikutinya dari belakang tidak sempat berhenti, tubuhnya menabrak punggung pelayan pertama.

"Bruk!"

Kotak kardus di tangan pelayan pertama terjatuh ke lantai dengan suara keras. Isinya pun tersebar—jam tangan mewah dengan tali kulit, tas desainer berwarna merah, set perhiasan permata kecil, dan beberapa baju dengan label merek terkenal menyebar di atas karpet tebal ruang tamu.

Suara itu membuat percakapan antara Ibu Hu dan Ibu Bai terhenti sejenak, semua mata kini tertuju pada kotak yang jatuh dan barang-barang mahal yang terpampang di depan mata.

Bai Xuning berdiri perlahan, wajahnya tampak bingung dan sedikit gelap .Dia mengenali barang-barang itu dengan jelas—semuanya adalah pemberiannya untuk Hu Lian selama masa pertunangan mereka.

Ibu Bai membungkuk sedikit, melihat beberapa barang yang tersebar di lantai—dia mengenali tas dan jam tangan itu, karena saat itu dia yang membantu memilihnya karena Bai Xuning terlalu acuh tak acuh terhadap hal-hal seperti hadiah.

"Ini barang-barang yang kami berikan untuk Lian waktu itu..." ucapnya dengan suara yang sedikit terkejut.Kedua pelayan segera jongkok, membereskan barang-barang dengan gerakan cepat dan cemas.

"Maaf, Nyonya! Maaf, Tun Bai!" ucap mereka berulang kali sambil mengemas kembali barang-barang ke dalam kotak.

Ibu Hu mendekat beberapa langkah, wajahnya menunjukkan kejutan yang jelas. Dia menatap pelayan dengan tatapan yang penuh pertanyaan. "Bukankah ini barang-barang Lian? Mau di bawa kemana?"

Pelayan yang lebih tua mengangkat wajah dengan hati-hati, bibirnya bergetar sedikit karena ketegangan. "Nyonya... Nona meminta kami untuk menyimpannya di gudang..."

Kata itu membuat wajah Ibu Bai memucat.

Dia menoleh pada Ibu Hu dengan ekspresi khawatir. "Apakah ada sesuatu yang salah? Bukankah Lian baru saja bangun dari koma? Mungkin dia belum mengingat dengan jelas tentang barang-barang ini?"

Ibu Hu mengangguk perlahan, namun kerutan di dahinya menunjukkan kekhawatiran. "Kita tidak tahu pasti,Dokter bilang dia mengalami amnesia dan hanya ingat sebagian hal. Mungkin dia merasa barang-barang ini asing baginya."

Sementara itu, Bai Xuning berdiri dengan wajah yang tidak bisa ditebak emosi.Matanya mengelap dari barang-barang yang sedang dipaket kembali ke arah lantai dua.

Pikirannya berputar kencang—Kenapa? Apa alasannya Hu Lian menyingkirkan barang-barang pemberiku? Apakah... apakah dia ingat tentang pertemuan kita dengan Zhao Lili di pantai? Tapi bukankah dia mengalami amnesia?

Rasa bingung dan sedikit rasa sakit yg asing menyelimuti hatinya.

Dia ingat Hu Lian dulu selalu menyimpan barang-barangnya dengan sangat hati-hati, bahkan sering memakai tas dan jam tangan itu saat mereka keluar bersama.

Namun sekarang, gadis itu malah meminta untuk menyembunyikan semua barang itu seperti tidak ingin melihatnya sama sekali.

Tanpa sadar, tangannya sudah menggenggam ujung meja di sebelahnya.

Dia ingin segera bertemu Hu Lian dan menanyakan alasan di balik semua ini, namun rasa hormat pada kedua orang tua membuatnya tidak bisa langsung naik ke kamar gadis itu.

Langkah kaki perlahan terdengar menuruni tangga kayu yang berkilau. Bai Xuning beserta kedua ibu mereka segera mendongak, dan mata semua orang tertuju pada sosok gadis yang baru saja muncul.

Hu Lian mengenakan piyama katun bergambar karakter kartun lucu berwarna biru muda, rambut panjangnya agak berantakan seperti baru saja bangun tidur.

Sekarang pukul 5 sore, dia baru saja terbangun dari tidur siang yang panjang dan berniat mencari cemilan di dapur sebelum makan malam, sama sekali tidak menyangka ada tamu di ruang tamu.

Bai Xuning melihatnya dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sulit ditebak. Wajahnya menunjukkan sedikit kejutan—tampilan santai bahkan sedikit "kekanakan" ini belum pernah dia lihat sebelumnya.

Pemilik asli Hu Lian dulu selalu sangat memperhatikan citranya di depan Bai Xuning; dia hanya akan mengenakan pakaian yang elegan dan bersikap seperti wanita dewasa yang matang, tak pernah sekali pun menunjukkan sisi yang lebih santai atau ceria.

Namun Hu Lian saat ini sama sekali tidak mau melakukan hal yang dia anggap konyol seperti menyesuaikan diri atau pura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan siapapun, termasuk Bai Xuning.

Dia hanya tersenyum pada ibu nya lalu berjalan dengan langkah santai melewati pria itu, bahkan tidak meliriknya sama sekali seolah-olah Bai Xuning tidak ada di sana.

Bai Xuning menundukkan kepalanya, jari-jarinya sedikit menggenggam ujung lengan kemejanya. Rasa tidak nyaman dan kebingungan semakin menguasainya.

"Nak, kamu sudah bangun..." sapa Ibu Hu dengan senyum hangat, memanggilnya untuk menghampiri. Hu Lian duduk di kursi dekat ibunya."Ya aku agak lapar jadi ingin makan cemilan dulu....."

Ibu Bai melihat putranya yang sedang terdiam, lalu mengalihkan pandangannya pada Hu Lian dengan nada yang hati-hati.

"Lian, sayang... kami baru saja melihat beberapa barang yang dulunya diberikan oleh Xuning padamu.Pelayan bilang kamu ingin menyimpannya di gudang. Apakah ada masalah dengan barang-barang itu? Atau mungkin kamu tidak ingat lagi dari siapa barang itu datang?"

Hu Lian menatap Ibu Bai dengan wajah yang tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah karena apa yang dia lakukan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!