Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng
Persiapan pernikahan berubah menjadi sirkus nasional. Nama Arka dan Laras ada di setiap kolom gosip, dihiasi kata-kata seperti "Pasangan Serasi Tahun Ini". Namun, di balik layar, perang perebutan kendali justru makin memanas. Kali ini, konfliknya bukan lagi soal foto atau masa lalu, melainkan soal domisili.
"Papa sudah membelikan kalian rumah di Menteng," ujar Baskoro dalam pertemuan makan siang keluarga yang kaku. "Tepat di sebelah rumah dinas kolega Papa. Keamanannya terjamin, dan lingkungannya sangat... terjaga."
Laras melirik Arka. Menteng artinya beradadi bawah pengawasan ketat. Setiap tamu yang datang, setiap jam mereka pulang, akan dilaporkan kembali ke telinga Jenderal. Itu bukan rumah; itu adalah sangkar emas dengan CCTV manusia di setiap sudutnya.
"Terima kasih, Pa," Arka menjawab dengan nada yang terlalu tenang. "Tapi Laras dan aku sudah memutuskan untuk tinggal di griya yang kami bangun sendiri. Di daerah selatan."
Ibunya Laras nyaris tersedak air putihnya. "Selatan? Bukannya itu daerah yang terlalu ramai dan... tidak se-eksklusif Menteng?" "Kami butuh tempat yang dekat dengan kantor Laras dan akses mudah ke proyek-proyekku," tambah Arka. "Lagi pula, rumah itu sudah hampir selesai. Laras sendiri yang mendesain strukturnya."
Baskoro meletakkan garpunya. Bunyi denting porselen itu terdengar seperti lonceng peringatan. "Rumah di Menteng itu adalah simbol. Kalian ingin tinggal di rumah hasil desain sendiri? Itu hobi, Arka. Pernikahan ini bukan soal hobi."
Laras merasa ini adalah saatnya ia menggunakan suaranya. Ia tidak ingin Arka terus-menerus menjadi sasaran tembak ayahnya sendirian.
"Pak Baskoro," Laras memulai, suaranya mantap tanpa ada nada ragu. "Sebagai seorang insinyur, saya tidak bisa tinggal di rumah yang fondasinya tidak saya pahami. Rumah di Menteng itu luar biasa, tapi rumah yang kami bangun di selatan adalah simbol bahwa kami memulai hidup ini sebagai unit yang mandiri. Bukankah Bapak ingin Arka menjadi pemimpin yang berdiri di atas kakinya sendiri?"
Baskoro menatap Laras tajam. Ia benci argumennya diputarbalikkan, tapi ia tidak bisa membantah prinsip "kemandirian" yang selalu ia agung-agungkan.
"Baik," desis Baskoro. "Tinggallah di sana. Tapi jangan salahkan Papa kalau suatu saat kalian sadar bahwa kebebasan yang kalian cari itu hanya akan merepotkan kalian sendiri."
Sore harinya, Arka dan Laras meninjau lokasi rumah tersebut. Bangunannya belum jadi sepenuhnya—masih berupa struktur beton yang telanjang dan tumpukan material. Namun bagi mereka, tempat ini lebih indah daripada istana mana pun.
" "Kenapa kamu bersikeras kita tinggal di sini, Ka?" tanya Laras sambil berjalan di atas lantai semen yang berdebu.
"Karena di sini, nggak ada mata-mata Ayahku," Arka bersandar di tiang struktur. "Dan karena aku tahu, kamu menaruh seluruh jiwamu di desain rumah ini. Aku ingin tinggal di tempat yang 'nyata', Laras. Bukan di tempat yang hanya dijadikan etalase untuk pamer kekuasaan."
Mereka berjalan ke arah balkon yang menghadap ke arah kota yang mulai meremang. Di tengah puing-bangunan itu, Arka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan kotak perhiasan mewah seperti yang dibayangkan orang-orang. Isinya adalah sebuah kunci dengan gantungan besi sederhana.
"Kunci gerbang depan," kata Arka. "Aku ingin kamu yang memegangnya. Karena secara teknis, kamu yang membangun benteng ini."
Laras menerima kunci itu. Logamnya terasa dingin namun memberikan rasa aman yang aneh. "Kamu tahu kan, Ka? Begitu kita pindah ke sini setelah pesta pernikahan nanti, kita nggak punya jalan kembali. Kita benar-benar akan menjadi ' 'suami-istri' di mata hukum, tapi orang asing di balik pintu tertutup."
Arka mendekat, berdiri cukup dekat hingga Laras bisa merasakan aroma parfumnya yang bercampur dengan bau debu bangunan. "Apakah kita masih merasa seperti orang asing, Laras? Setelah semua yang kita lalui sebulan terakhir?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Laras terdiam. Ia teringat saat Arka membelanya di depan Doni, dan Arka teringat saat Laras menenangkannya di tengah serangan panik. Mereka bukan lagi sekadar dua orang dalam kontrak. Ada sesuatu yang tumbuh di antara retakan-retakan hidup mereka. Sesuatu yang belum berani mereka beri nama.
"Aku nggak tahu," bisik Laras jujur. "Aku cuma takut kalau ini semua hanya karena kita sedang berada di bawah tekanan yang sama. Gimana kalau tekanan itu hilang? Apa yang tersisa dari kita?"
Arka menatap ke arah lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala. "Mungkin itu yang harus kita cari tahu di rumah ini nanti." Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan proyek. Seorang pria turun dengan tergesa-gesa bukan Doni, tapi sekretaris pribadi Jenderal Baskoro.
"Maaf mengganggu, Pak Arka, Mbak Laras," pria itu tampak pucat. "Ada perubahan rencana. Bapak Jenderal meminta acara akad nikah dipercepat. Minggu depan."
"Minggu depan?" Laras terperangah. "Tapi persiapannya belum selesai!"
"Bapak bilang, ada isu politik yang mengharuskan pernikahan ini segera diumumkan secara resmi agar posisi Bapak aman. Beliau tidak menerima alasan apa pun."
Sekretaris itu pergi secepat ia datang, meninggalkan Arka dan Laras dalam kesunyian yang mencekik. Arka mencengkeram besi di depannya hingga buku jarinya memutih.
"Dia melakukannya lagi," gumam Arka. "Dia menjadikan pernikahan kita sebagai tameng politiknya."
Laras menggenggam tangan Arka. Kali ini, ia yang memberikan kekuatan. "Kalau dia mau mempercepat permainan ini, ayo kita ikuti. Tapi dengan aturan kita, Arka. Bukan aturan dia."
Malam itu, di tengah bangunan yang belum jadi, mereka menyadari bahwa waktu mereka untuk bersiap-siap telah habis. Perang yang sesungguhnya akan segera dimulai di atas pelaminan, dan mereka harus memastikan bahwa topeng mereka tidak akan pecah saat seluruh dunia menonton.