Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 02
Clarissa bekerja di sebuah caffe yang cukup terkenal di ibukota, para pengunjung di sana tidak pernah kosong, apalagi di jam-jam istirahat atau jam pulang kantor sangat ramai.
Clarissa bekerja dengan gesit, senyum manis dan dan wajahnya yang cantik sangat mendukung karirnya, ia sangat ramah dan tidak kaku saat ada pengunjung yang datang.
"Sa, kamu yang antar kopinya ya," pinta Mira sahabatnya.
"Lho kenapa? " ujar Clarissa yang juga sedang sibuk membuat kopi.
"Ada pesanan yang harus di antar ke meja no 9. Tapi kan orang itu galak banget, Aku takut Sa," ujar Mira dengan wajah memelas, beberapa hari lalu orang tersebut datang, namun tanpa sengaja Mira membuat kesalahan, hingga pria tersebut memakinya.
Clarissa hanya tertawa kecil, memang ada pelanggan yang sikapnya kurang di sukai. Tapi mau bagai mana lagi karena di setiap pekerjaan ada pahit manisnya.
"Udah gak usah khawatir, kan ada Aku," ujar Clarissa lalu membawa nampan yang sudah di siapkan.
Bukan hanya mereka berdua staff di caffe tersebut, namun Mira lebih leluasa meminta bantuan Clarissa, begitu juga yang lainnya, karena Clarissa wanita yang kuat dan pemberani yang sangat bisa di andalkan.
Clarissa berjalan ke arah meja No 9, namun tiba-tiba aroma parfum yang ia sukai tercium olehnya, hingga senyum manisnya semakin indah di pandang. Jantungnya berdebar-debar hanya dengan mencium aroma parfum yang selalu di gunakan seorang pria yang Clarissa sukai.
Setelah menaruh pesanan dan tidak ada kesalahan Clarissa segera pergi, matanya yang indah melihat sekitar mencari sosok pria yang sudah lama ia kagumi.
Pandangan mereka bertemu, membuat Clarissa jadi salah tingkah dan ingin menjerit karena terlalu senang. Jarak mereka tidak terlalu jauh, membuat hidung Clarissa penuh dengan aroma parfum pria tersebut.
Pria tersebut adalah Zayn Austin, Pria dingin yang memang berwajah tampan dan bertubuh atletis dengan tinggi 178, dari tubuhnya saja sudah menunjukkan betapa gagah dan tampannya Zayn Austin, apalagi saat melihat wajahnya, ah siapapun yang melihat pasti jatuh cinta.
Zayn Austin sudah berumur tiga puluh tahun, namun ketampanannya semakin menjadi, membuat Clarissa semakin sulit mengendalikan hatinya.
Meski ia selalu mengacuhkan Clarissa, namun bagi Clarissa itu bukan masalah, yang penting Clarissa masih bisa menatapnya.
Clarissa bagaikan wanita gila, ia terus-terusan tersenyum seakan telah mendapatkan sebuah lotre. Padahal hanya karena bertemu pandang tanpa di sengaja, bahkan sering di alami orang lain. Tapi bagi Clarissa itu adalah hal yang luar biasa.
.
Clarissa baru saja keluar dari caffe, hari sudah sore ia memilih untuk pulang jam lima sore, ia tidak menginginkan lembur meski gajinya sangat menggoda. Sehari saja sudah melelahkan.
Bruk!
Tanpa sengaja Clarissa menabrak seseorang, Clarissa segera mundur, lalu berkata sambil mengusap keningnya yang terasa sakit karena menabrak punggung, "Maaf, maafkan Aku, Aku sungguh tak sengaja."
"Modus! "
Mendengar suara yang familiar itu Clarissa langsung mendongak menatap seseorang yang tidak sengaja di tabrakannya, mata Clarissa langsung berbinar dan berkata lirih, "Zayn Austin."
"Ck! kamu sengaja menabrak ku! " tuduh Zayn Austin dengan penuh percaya diri.
Clarissa tidak membantah ia justru menunjukkan senyum, seperti orang bodoh di marahi justru menunjukkan senyuman.
Zayn Austin menggeleng melihat tingkah Clarissa, wanita yang selalu saja berusaha menyapa dirinya. Meski dengan lambaian tangan atau senyum manisnya.
Clarissa menghirup wangi parfum Zayn sepuasnya, karena jaraknya hanya sekitar satu meter, jika boleh bahkan Clarissa ingin langsung memeluk pria tersebut tanpa melepaskannya lagi.
Zayn Austin bergidik ngeri melihat prilaku Clarissa yang tidak ada malu-malunya, baru kali ini ia melihat wanita yang tak tahu malu.
"Sepertinya Kau harus mengecek kesehatan mentalmu," ujar Zayn Austin berkata tanpa perasaan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Clarissa.
"Zayn Austin... ingin rasanya Aku memeluk pinggang kuat mu... " lirih Clarissa sambil melotot melihat pinggang Zayn Austin, dan sedikit membayangkan dirinya bisa meraba pinggang kuat itu.
.
.
Hari-hari yang Clarissa lewati berjalan dengan lancar bagi Clarissa, asal di saat sulit ia membayangkan wajah tampan Zayn Austin, maka hatinya akan kembali semangat.
Clarissa ingin segera sampai di rumah kakinya sudah pegal, karena terus berdiri dan mondar-mandir kesana-kemari, ia ingin segera membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang kini sudah berganti dengan kasur matras lapuk, yang bahkan per/pegasnya sudah terasa menonjol.
Uang di ATM-nya sudah mulai menipis, padahal gajian masih lama, setelah turun dari transportasi umum, Clarissa hanya membeli sebungkus roti bakar untuk di bawa pulang.
Di rumah.
"Loh? Sa kamu cuma bawa segini doang? mana cukup? " ujar ibu tidak senang.
"Di cukup-cukup pin aja lah Bu," ujar Clarissa tanpa beban.
"Kamu gimana sih? dari pada segini mending gak usah bawa sekalian," ketus ibu Mulan.