Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tepat saat Pak Baskoro hendak menyodorkan map berwarna biru, pintu ruang rapat terbuka dengan bantingan keras.
Regas berdiri di sana. Rambutnya berantakan, matanya menyalang merah, dan auranya begitu gelap. Di tangannya, ia memegang sebuah alat perekam suara.
"Jangan berani-berani menandatangani surat itu jika kalian tidak ingin seluruh Jakarta tahu bagaimana cara keluarga Adhitama menjebak menantunya sendiri agar bisa mendapatkan ahli waris!" suara Regas menggelegar, membuat Elena tersentak dan Nyonya Adhitama memucat.
Tangan Azzalia tidak bergetar sedikit pun saat ia meraih pena perak di atas meja kayu yang mengilap itu. Di depannya, Pak Baskoro menatap dengan pandangan iba yang justru terasa lebih menyakitkan daripada makian Elena.
Sret. Sret.
Goresan tanda tangan itu mengakhiri karier yang ia bangun dengan darah dan air mata di London. Dengan gerakan tenang, Lia menutup map biru tersebut dan mendorongnya perlahan ke tengah meja, tepat di hadapan Nyonya Adhitama yang tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah selesai?" tanya Lia, suaranya sedatar garis cakrawala. Tidak ada kemarahan, tidak ada isakan. Hanya kekosongan yang sangat dalam.
"Lia! Apa yang kamu lakukan?!" Regas berteriak, langkahnya tertahan di ambang pintu. Ia menatap map itu seolah benda itu adalah bom yang baru saja meledakkan seluruh masa depan mereka. "Aku bisa membereskannya! Aku punya buktinya!"
Lia berdiri, merapikan tasnya dengan perlahan. Ia menoleh ke arah Regas, menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sangat asing—tatapan seorang guru kepada wali muridnya, bukan seorang kekasih.
"Terima kasih atas niat baiknya, Pak Regas. Tapi saya tidak ingin mempertahankan posisi di tempat di mana martabat saya terus-menerus diukur dengan uang dan status keluarga Anda," ujar Lia. Kalimatnya tajam, menusuk tepat di jantung ego Regas.
Lia kemudian beralih menatap Nyonya Adhitama dan Elena yang masih mematung. "Anda boleh mengambil pekerjaan saya, Nyonya. Anda boleh mengambil reputasi saya di negeri ini. Tapi satu hal yang tidak bisa Anda ambil: saya tidak akan pernah menjadi bagian dari kekacauan keluarga Anda lagi. Selamat, Anda menang. Anda mendapatkan putra Anda kembali sebagai mayat hidup."
Lia melangkah menuju pintu. Saat melewati Regas, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Jangan kejar aku, Regas. Jika kamu melakukannya, kamu hanya akan membuktikan bahwa kamu memang penghancur mimpiku, dulu dan sekarang. Hiduplah untuk Ghea dan bayimu. Itu hukuman terbaik untuk kita berdua."
Lia keluar dari ruang rapat itu dengan kepala terangkat tinggi. Di koridor, ia melihat Ghea sedang berdiri bersama asisten rumah tangganya. Anak itu menatapnya dengan bingung.
"Bu Lia mau ke mana? Kenapa bawa tas?" tanya Ghea polos.
Lia berlutut sebentar, mencium kening Ghea untuk terakhir kalinya. "Ibu harus pergi menulis sajak di tempat yang lebih jauh, Ghea. Jadilah anak baik, ya?"
Lia berdiri dan terus berjalan menuju gerbang sekolah, tidak memedulikan teriakan Regas yang memanggil namanya di belakang. Ia tidak tahu harus ke mana, tapi ia tahu satu hal: bab ini benar-benar harus berakhir dengan titik, bukan koma yang dipaksakan.
Regas berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap pintu yang perlahan menutup di balik punggung Lia. Suara langkah kaki wanita itu yang semakin menjauh di koridor terasa seperti palu yang menghancurkan seluruh dinding harapannya. Di tangannya, perekam suara yang berisi bukti kebusukan Elena dan ibunya kini terasa tidak ada gunanya lagi. Lia tidak butuh pembelaannya. Lia hanya ingin pergi.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat, sebelum akhirnya Regas memutar tubuhnya. Matanya kini berkilat penuh kemarahan yang meluap, menatap dua wanita yang paling bertanggung jawab atas hancurnya hidupnya.
"Puas?" suara Regas rendah, bergetar karena emosi yang menumpuk selama lima tahun. "Puas kalian melihat dia menyerah? Puas kalian melihat aku kembali menjadi mayat yang tidak punya jiwa?"
"Regas, kendalikan dirimu! Ini demi martabat keluarga kita!" Nyonya Adhitama mencoba mempertahankan suaranya yang mulai goyah.
"Martabat apa?!" Regas menggebrak meja kerja Pak Baskoro hingga semua orang di ruangan itu berjengit. "Martabat yang dibangun di atas penderitaan orang lain? Martabat yang kalian gunakan untuk mematikan mimpi wanita yang paling aku cintai?"
Ia beralih menatap Elena yang kini menunduk, gemetar sambil memegangi perutnya. "Dan kau, Elena. Jangan pernah sekali-kali menggunakan bayi itu sebagai tamengmu lagi. Aku akan bertanggung jawab penuh pada anak itu, tapi jangan harap satu detik pun aku akan memberimu cinta atau kehadiran seorang suami."
Regas berjalan mendekati ibunya, menatap tepat di matanya dengan ekspresi yang sangat asing—dingin dan tak tersentuh. "Mulai hari ini, aku mengundurkan diri dari seluruh operasional Adhitama Group. Ambil kembali semua sahammu, ambil semua fasilitas mewahmu. Aku tidak akan membiarkan kalian membeliku lagi dengan uang."
"Regas! Jangan gila! Kamu mau membuang semuanya demi wanita itu?" pekik ibunya.
"Aku membuang semuanya untuk menemukan kembali diriku yang kalian curi lima tahun lalu," jawab Regas tajam.
Regas membalikkan badan, berjalan keluar ruangan tanpa memedulikan teriakan ibunya atau tangisan Elena yang pecah. Ia berlari menuju parkiran, namun mobil taksi yang membawa Lia sudah tidak terlihat lagi.
Ia menyambar ponselnya, menghubungi Abimana dengan napas memburu. "Bi, cari tahu jadwal penerbangan ke London atau luar negeri mana pun atas nama Azzalia dalam 24 jam ke depan. Kerahkan semua orang. Kalau dia pergi tanpa aku sempat meminta maaf, aku akan benar-benar menghilang dari dunia ini."
Regas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, bukan menuju rumah besarnya, melainkan ke apartemen mereka. Ia berharap, meski kecil, ada satu titik yang masih bisa ia ubah menjadi koma untuk sebuah penjelasan terakhir.