NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga yang Harus Dibayar

Bar itu berada di lantai atas sebuah gedung besar yang tampak mewah. Lampu temaram berwarna amber menggantung rendah, memantulkan kilau redup pada botol-botol minuman di belakang meja bar. Musik di dalamnya mengalun dengan ritme yang pelan tapi cukup menghantam dada, bercampur dengan tawa para wanita berpenampilan menarik yang tampak dibuat-buat untuk menyenangkan para pria yang ada di sana.

Tom duduk di sofa kulit berwarna hitam di tengah ruangan, seolah tempat itu memang disiapkan untuknya. Dua wanita penghibur menempel di kanan dan kiri tubuhnya—gaun mereka tampak berkilau dan gerak tubuh mereka terlihat profesional. Tom tampak santai—terlalu santai untuk seseorang yang sedang menagih sebuah hutang dengan nominal yang sangat besar. Tangannya melingkar longgar di pinggang salah satu perempuan itu, sementara perempuan yang lain tertawa di telinganya, membisikkan sesuatu yang membuatnya tersenyum puas. Saat ini, ia benar-benar tampak seperti pria yang sedang berada di habitat aslinya—seorang pria hidung belang yang suka bermain dengan banyak wanita.

Ketika pintu bar terbuka dan Rachel melangkah masuk bersama Sam, suasana di sekitar Tom tidak berubah—kecuali sorot matanya. Pandangan itu berpindah dengan cepat ke sosok Rachel, lalu menetap untuk waktu yang cukup lama. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya, bukan senyuman yang ramah, melainkan ekspresi seseorang yang baru saja melihat barang miliknya tiba.

Rachel melangkahkan kaki dengan perasaan gugup yang menenggelamkannya. Udara di ruangan itu terasa lebih berat dari yang ia perkirakan. Ia menelan ludah, menahan dorongan untuk mundur dan kabur dari sana. Sementara Sam berjalan setengah langkah di depannya, seperti penunjuk jalan yang tahu persis ke mana mereka harus melangkah.

Tom berdiri saat mereka mendekat. Ia mengabaikan kedua wanita di sisinya tanpa permintaan maaf. “Kau membawanya dengan baik, Sam.” kata Tom pada Sam, nadanya ringan, bahkan bersahabat. “Aku menghargainya.”

Sam pun lantas tersenyum kaku. “Aku hanya melakukan bagianku, Tuan.”

Rachel berdiri tepat di belakang Sam dengan kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuhnya. Ia bukan datang sebagai seorang tamu—ia jelas tahu itu. Kalimat Tom baru saja menegaskannya tanpa perlu penjelasan, bahwa ia seperti barang di dalam sebuah transaksi yang belum jelas ujungnya.

“Tuan. Saya minta maaf karena belum mampu membayar hutang seperti yang sudah saya janjikan. Tapi, sungguh, saya janji akan membayarnya pelan-pelan.” kata Rachel akhirnya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Saya hanya perlu waktu tambahan.”

Tom memiringkan kepala, menatapnya dari atas sampai bawah tanpa tergesa. Ia tidak terlihat marah. Namun justru ketenangannya itu yang membuat dada Rachel terasa sesak.

“Sayang sekali,” ucap Tom pelan. “Waktu adalah barang paling mahal yang kumiliki, Rachel.”

Tom mengangkat tangan, memberi isyarat singkat pada kedua wanita penghibur yang ada di sampingnya untuk bangkit dan beranjak pergi dalam hitungan detik. Dan mereka pun pergi tanpa protes, seolah sudah sering menerima isyarat semacam itu.

Tom lalu menepuk sisi sofa di sebelahnya. “Kemarilah.”

Rachel tidak langsung bergerak. Ia menoleh ke arah Sam, berharap ia akan menghalanginya untuk mengikuti perintah Tom. Namun, Sam justru menatapnya tajam, memberinya isyarat untuk patuh.

Dengan langkah kaku, Rachel akhirnya duduk di sisi Tom. Kini jarak mereka terlalu dekat, hingga Rachel bisa mencium aroma minuman keras yang mahal bercampur parfum maskulin yang dipakainya. Tom menyandarkan lengan di belakang punggung Rachel, tidak benar-benar menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuatnya sadar akan keberadaannya.

“Aku tidak tertarik menunggu uangmu, Rachel.” kata Tom. “Tapi...aku tertarik padamu.”

Jantung Rachel berdegup keras. “Tuan. Sepertinya itu bukan sebuah solusi.”

“Bagi siapa?” Tom tersenyum. “Aku pria praktis, Rachel. Aku tahu apa yang kumau.”

Tangannya bergerak, menyentuh lengan Rachel sekilas—ringan, seolah tak sengaja, tapi cukup lama untuk membuat tubuh Rachel menegang. Sentuhan itu bukan sentuhan yang kasar, justru terlalu tenang dan terlalu yakin.

“Aku ingin kau jadi istriku,” lanjut Tom. “Aku menginginkanmu.” Kalimat itu jatuh begitu saja, dengan mudahnya dari mulut Tom—membuatnya lebih terasa seperti sebuah klaim, bukan pernyataan cinta.

Rachel menarik napas cepat. “Saya minta kesempatan, Tuan. Tolong. Saya janji akan melunasi semuanya.”

Tom menatapnya lama, lalu tertawa pendek. “Kau masih berpikir ini soal uang, Rachel?”

Melihat tubuh Tom yang menegang seperti sedang menahan rasa kesal dan kecewa, karena penolakan secara tidak langsung yang dilakukan Rachel itu pun akhirnya membuat Sam angkat bicara. “Rachel itu gadis yang penurut, Tuan. Dia pasti akan menuruti permintaan Anda.” katanya cepat, seolah sedang menambahkan nilai jual Rachel. “Dia gadis yang polos. Dan terlebih lagi dia masih...perawan.”

Kata itu menggantung di udara seperti sebuah kembang api yang menunggu waktunya dinyalakan. Dan seketika, wajah Tom pun berubah. Senyumnya melebar, matanya berbinar terang, dan tampak lebih antusias dari sebelumnya.

“Benarkah?” Tom menoleh pada Rachel, jelas menikmati perubahan ekspresinya yang runtuh, lalu berpaling menatap Sam. “Itu kabar yang sangat bagus, Sam. Aku menyukainya.”, katanya.

Saat itu juga Rachel merasa sedang ditelanjangi. Bukan secara fisik, melainkan psikis. Sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya dan menyangkut harga dirinya sedang dipreteli perlahan oleh dua pria hidung belang di depannya. Dadanya sontak terasa panas dan matanya perih.

“Biarkan saya pergi,” pintanya dengan suara bergetar. “Saya mohon.”

Tom mendekat—terlalu dekat dengan tubuh Rachel yang menegang cemas. “Aku sudah memberimu solusi, Rachel.”

Rachel tidak menangis. Itu hal pertama yang ia sadari tentang dirinya sendiri saat Tom mencondongkan tubuh lebih dekat. Namun, tubuhnya tampak gemetar dan napasnya tercekat. Ia hanya ingin keluar dari ruangan itu secepatnya dengan sisa harga diri yang masih bisa ia pertahankan.

Saya minta kesempatan lagi, Tuan.” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Bukan untuk kabur, tapi untuk membayar hutang di lain kesempatan. Saya benar-benar akan mengusahakannya, Tuan. Saya mohon.”

Tom tersenyum—senyum tipis yang syarat makna. “Kau terus kembali berputar kesana, Rachel,” ujarnya. “Sebuah kesempatan.”

Ia menggeleng kecil, seolah mengasihani kebodohan Rachel. “Aku tidak hidup dari memberi kesempatan. Aku hidup dari mengambil apa yang aku mau, Rachel.”

Rachel menggeser tubuhnya menjauh setengah inciz dengan gerakan kecil yang hampir tak terlihat, tapi Tom menangkapnya. Tangannya yang tadi hanya bertengger di sandaran sofa kini bergerak lebih dekat, jari-jarinya menyentuh punggung Rachel hingga membuat Rachel tersentak. Sentuhan itu ringan, tapi menguasai ruang di antara mereka, dan menandai kepemilikannya atas tubuh Rachel.

“Jangan,” ucap Rachel cepat. Suaranya tidak bergetar kali ini. “Tolong.”

Tom mencondongkan wajahnya, hingga jarak mereka semakin terkikis. Rachel bahkan bisa melihat detail wajahnya—garis halus di sekitar mata, rahang yang dipenuhi rambut-rambut tipis, juga senyumannya yang tampak seperti sebuah predator yang siap memakan mangsanya.

Saat itu, Ton memang tidak menciumnya, lebih tepatnya belum. Tapi niatnya jelas tergambar pada wajahnya. Dan saat itulah tubuh Rachel bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Tangannya mendorong dada Tom dengan lemah, sebagai sebuah gerakan refleks dan defensif—sebagai upaya untuk menciptakan jarak di antara dirinya dan Tom, juga upaya untuk bertahan.

“Jangan sentuh saya!” katanya tegas.

Ruangan pun seakan membeku sesaat. Ekspresi Tom berubah drastis, seolah penolakan itu tampak menghancurkan harga dirinya. Senyumnya lenyap, digantikan dengan tatapan dingin yang tajam. Ia berdiri terlalu cepat, membuat Rachel tersentak.

"Rachel! Jaga sikapmu!", pekik Sam, tampak panik.

“Perempuan tidak tahu diri,” kata Tom rendah, tapi penuh tekanan. “Kau pikir kau sedang ada di posisi untuk bisa menolak?”

Rachel ikut berdiri, lalu melangkahkan kakinya perlahan untuk mundur. “Saya tidak pernah setuju dengan iniƙ.”

Tom tertawa pendek, lebih seperti mengejek. "Di dunia ini tidak ada yang datang dengan cuma-cuma, Rachel. Semua punya harga yang harus dibayar."

Ia menoleh ke arah sudut ruangan dan mengangkat tangannya—sebuah gerakan sederhana yang syarat akan perintah. Pada detik berikutnya, dua pria berbadan besar yang sejak tadi berdiri di sana seperti bagian dari bayangan pun langsung bergerak. Rachel menyadari bahaya itu sepersekian detik sebelum tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya.

“Lepaskan aku!” teriaknya. Ia memberontak, mendorong dan menendang dengan segenap tenaga yang tersisa di tubuhnya yang jauh lebih kecil dibandingkanp mereka. Jelas tidak ada keseimbangan dan tidak ada peluang untuk menghentikan tindakan mereka.

“Rachel! Berhenti!” suara Sam terdengar semakin panik, tapi ia tidak mendekat. “Kau membuat semuanya jadi lebih buruk!”

Rachel menoleh ke belakang dengan mata membelalak. “Tolong,” katanya, bukan lagi pada Tom, tapi Sam. “Sam, tolong.”

Sam hanya terdiam dan wajahnya tampak pucat. Tangannya gemetar, tapi kedua kakinya tetap menapak di tempat ia berpijak. Ia tidak bergerak, hanya menyaksikan upaya pemberontakan Rachel di depannya.

Rachel diseret menuju pintu keluar khusus tamu VVIP. Bahunya membentur meja kecil hingga membuat gelas-gelas yang ada di atasnya bergetar dan hampir jatuh. Musik di sekitar mereka tetap mengalun, bahkan tawa para pengunjung bar di sisi yang lain pun tetap terdengar. Dunia seakan tidak peduli bahwa Rachel sedang dibawa paksa oleh dua orang berbadan besar menuju mobil mewah yang sudah menunggunya di luar bar.

“Berteriak saja,” kata Tom dari belakang, suaranya santai. “Tidak akan ada yang menolongmu.”

Rachel tetap berteriak. Bukan karena berharap akan ada yang menolongnya, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan. Suaranya pecah saat pintu terbuka dan udara malam menyergap wajahnya.

Di luar, mobil hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Pintu belakang dibuka, dan Rachel didorong paksa untuk masuk ke dalamnya, hingga tanpa sengaja tubuhnya menghantam jok. Lalu, pintu mobil ditutup keras, hingga ia terkurung di dalamnya tanpa bisa melepaskan diri lagi.

Sementara itu, di luar mobilnya, Tom merapikan jas hitam yang melekat di tubuhnya. Ia mengambil dompet dari saku celana, menarik segepok uang tanpa menghitung, lalu mendekati Sam.

“Terima kasih atas barang bagusnya, Sam.” ucap Tom datar sambil menekan uang itu ke dada Sam.

Sam menelan ludah. Tangannya terangkat ragu, lalu menerima uang pemberian Tom dengan jumlah yang terlihat tidak sedikit itu. “Saya… saya hanya ingin membantu, Tuan.”

“Ya. Kau sudah membantu,” jawab Tom. “Dan kau bisa mendapatkan lebih banyak imbalan lagi.”

Sam mengangkat kepala. “Lebih banyak?”

Tom mencondongkan tubuhnya sedikit, cukup dekat untuk membuat kalimat berikutnya terasa seperti ancaman yang dibungkus janji. “Imbalanmu akan bertambah… jika dia mau menjadi istriku.”

Sam mengangguk terlalu cepat. Ia jelas mengerti apa yang akan menjadi tugasnya nanti. "Baik, Tuan. Saya akan pastikan Rachel menuruti apa keinginan Tuan.", katanya, diakhiri senyuman yang penuh arti.

Setelah menyampaikan keinginannya pada Sam, Tom pun masuk ke dalam mobilnya, bergabung dengan Rachel yang duduk kaku di kursi belakang, seraya menahan air mata yang sejak tadi hendak terjatuh. Pergelangan tangannya terasa sakit, napasnya tidak teratur, dan jantungnya berdegup keras, tapi pikirannya dipenuhi oleh bayangan Anna yang menunggunya di rumah. Ia pasti akan kebingungan keesokan pagi karena Rachel tidak ada di sana. Bahkan Mrs. Portman pun tidak sempat ia beritahu untuk menjaganya di rumah itu. Ia jauh lebih khawatir tentang Anna yang ia tinggalkan sendirian bersama Sam, dibanding takdir yang akan membawanya bersama pria bernama Tom di sebelahnya.

"Tenangkan dirimu, Rachel. Aku akan membawamu ke tempat yang aman.", kata Tom, sembari tersenyum menjijikkan.

Lampu-lampu kota berlari mundur di balik kaca jendela mobil di sampingnya. Rachel tidak tahu kemana mereka akan membawanya pergi. Jalanan yang ia lewati terasa asing, meski ia yakin pernah melewati beberapa di antaranya.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela. Wajahnya tampak pucat, matanya lelah, dan rambutnya berantakan. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu—bukan barang, tapi kendali atas dirinya.

Rachel menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain mengikuti kemauan Tom. Di dalam mobil yang melaju tanpa tujuan yang ia kenal, Rachel akhirnya mengerti bahwa hutang itu tidak pernah tentang uang, melainkan tentang transaksi yang lebih besar, yaitu kepemilikan atas dirinya.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!