Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Tobias menyandarkan punggungnya di jok kulit mobil hitam yang melaju membelah kegelapan malam. Jari-jarinya mengetuk lutut dengan irama yang gelisah, seiring dengan amarah yang mendidih di dadanya. Bayangan wajah dingin Amara saat menyerahkan surat cerai itu terus berputar di benaknya seperti kaset rusak.
Beraninya dia.
Dulu, Amara hanyalah gadis pemalu yang memandangnya seolah-olah dia adalah pusat semesta. Tapi sekarang, wanita itu tampak seperti orang asing yang tak tersentuh. Tobias mendengus sinis. Ia yakin keberanian Amara hanyalah topeng yang dibiayai oleh pria tua kaya yang ia lihat di klub malam itu.
“Ular tetap saja ular, tak peduli seberapa halus kulit barunya,” gumam Tobias penuh kebencian.
Pikirannya melayang ke masa lalu, saat Amara pertama kali muncul dalam hidupnya. Gadis itu mengaku “kebetulan” menolong kakeknya, Gustavo, saat terkena serangan jantung. Bagi Tobias, tidak ada kebetulan dalam dunia bisnis. Ia yakin Amara adalah seorang penggali emas yang merencanakan segalanya untuk masuk ke keluarga Larsen.
Kebenciannya memuncak saat Celestine kembali dan mengungkapkan bahwa Amara-lah yang menghasut Gustavo untuk membuangnya ke luar negeri. Bagi Tobias, Amara adalah monster manipulatif yang bersembunyi di balik wajah polos.
“Tuan Larsen, kita sudah sampai,” suara Dean memecah lamunannya.
Tobias turun di depan apartemen Celestine yang kini dikerumuni polisi. Begitu masuk, ia melihat sosok pirang yang gemetar di atas sofa. Celestine segera menghambur ke pelukannya.
“Toby... tolong jangan marah pada Amara,” bisik Celestine dengan suara serak, seolah-olah ia sedang melindungi orang yang menyakitinya.
“Apa maksudmu?” tanya Tobias, rahangnya mengeras.
“Polisi bilang... pelaku penyerangan ini terhasut oleh unggahan skandal di media sosial. Dan... orang yang menyebarkan rumor jahat itu adalah Amara.”
Hening. Udara di ruangan itu mendadak mendingin. Amarah Tobias meledak dalam kesunyian. “Dia akan menyesali ini,” desis Tobias dengan mata segelap malam.
Keesokan paginya, di sebuah suite mewah, Melanie mencibir keras saat membaca klarifikasi Celestine di layar laptop. “Lihat wanita ini! Berpura-pura suci padahal hatinya sehitam arang. Dan Tobias... pria bodoh itu malah menggunakan kekuatan Labyrinth untuk membelanya!”
Amara tetap tenang, jari-jemarinya menari di atas keyboard laptopnya sendiri. Ia sedang meninjau dokumen penting dari keluarga Crawford, sama sekali tidak terganggu oleh drama murahan itu.
“Apakah kamu mendengarkanku, Mara?” Melanie merenggut dokumen dari tangan sahabatnya. “Labyrinth baru saja mengeluarkan pernyataan perang untuk melindunginya!”
Amara mengangkat kepalanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. “Biarkan saja. Baik itu Labyrinth atau siapa pun, tidak ada yang bisa menyelamatkannya setelah ini.”
Amara memutar laptopnya, memperlihatkan sebuah foto yang baru saja ia edit. Foto Tobias yang sedang memeluk Celestine dengan mesra, diambil dari sudut yang sangat sugestif. Tanpa ragu, Amara menekan tombol Enter.
“Unggah.”
Dalam hitungan menit, internet meledak. Citra Tobias sebagai “Suami Teladan” hancur dalam sekejap
Di kantor pusat Labyrinth, suasana terasa seperti di dalam bunker perang. Tim PR Tobias gemetar ketakutan.
“Pak, reputasi Anda hancur. Foto itu sudah menyebar ke seluruh negeri,” lapor Silas, kepala PR. “Satu-satunya cara menyelamatkan citra perusahaan adalah... Anda harus tampil di publik bersama Nyonya Larsen. Anda harus menunjukkan bahwa pernikahan kalian baik-baik saja.”
Tobias menggeram. Ia benci harus memohon pada Amara, tapi demi saham perusahaan yang terjun bebas, ia terpaksa melakukannya. Namun, saat ia mencoba menghubungi Amara, panggilannya berkali-kali dialihkan ke pesan suara.
“Dean! Cari tahu di mana wanita itu sekarang!” bentak Tobias.
“Dia di Blu~room, Pak. Hotel paling eksklusif di kota ini.”
Tobias segera meluncur ke sana. Ia masuk ke lobi hotel dengan aura yang mampu membekukan siapa pun yang melihatnya. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah teriakan membelah keheningan lobi.
“Mara, kamu di sini!”
Tobias menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, Amara—istrinya yang seharusnya sedang meratapi perceraian mereka—berlari dengan wajah berseri-seri. Ia tidak menuju ke arahnya. Ia menghambur ke pelukan seorang pria muda yang tampak sangat tampan dan berkelas.
Pria itu menangkap tubuh Amara, memutar tubuhnya di udara dengan tawa bahagia, sementara Amara melingkarkan tangannya di leher pria itu seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.
Melihat pemandangan itu, darah Tobias mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa cemburu yang liar dan tak terkendali mencabik-cabik logikanya. Tanpa sadar, ia mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol.
“Amara!” suara Tobias menggelegar di lobi hotel, membuat semua orang terdiam.
Amara perlahan melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Tobias dengan tatapan dingin dan senyum meremehkan. Pria di sampingnya justru merangkul pinggang Amara dengan posesif, menatap Tobias seolah-olah pria itu hanyalah gangguan kecil.
“Oh, Tuan Larsen,” ucap Amara dengan nada malas. “Sedang apa kau di sini? Bukankah kau seharusnya sedang mengurus kekasihmu yang malang itu?”
Wajah Tobias memerah padam. “Lepaskan tanganmu darinya!” teriaknya pada pria asing itu.
Namun Amara justru semakin merapat pada pria di sampingnya. “Kenalkan, Tobias. Ini adalah seseorang yang jauh lebih berharga daripada semua hartamu.”
Dunia Tobias seakan runtuh. Ia datang untuk menuntut penjelasan, namun ia justru mendapatkan kenyataan bahwa ia bukan lagi pusat semesta bagi wanita yang dulu begitu mencintainya.Lorenzo menarikkan kursi untuk Amara dengan gerakan yang begitu luwes, sebuah gestur bangsawan yang telah mendarah daging dalam keluarga Crawford. Ia menatap adiknya dengan binar mata cokelat yang hangat, namun menyelidik.
"Sudah berapa lama, Amara? Tiga tahun?" tanya Lorenzo lembut saat ia duduk di hadapan adiknya.
"Empat," sahut Amara pelan, nyaris seperti bisikan yang tertelan hiruk-pikuk lobi Blu~room. "Bagaimana hidupmu di Italia, Lorenzo?"
"Luar biasa," Lorenzo tersenyum tipis. "Tapi aku tidak akan kembali ke sini jika bukan karena instruksi Kakek. Beliau memintaku membantumu sedikit, terutama setelah kau... sadar sepenuhnya dari permainan rumah-rumahan ini."
Senyum Amara memudar. Ia tahu apa yang dimaksud kakaknya. Lorenzo selalu menjadi pelindungnya, sosok yang tahu segala rahasia yang ia simpan rapat dari dunia luar, termasuk dari suaminya sendiri.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Amara?" Lorenzo memajukan tubuhnya, raut wajahnya berubah serius. "Mengapa kau menyembunyikan identitasmu dari Tobias begitu lama? Mengapa harus berpura-pura menjadi gadis yatim piatu yang malang?"
Amara menghela napas panjang, matanya menerawang menatap cangkir kopi yang belum disentuh. "Karena aku bodoh, Lorenzo. Aku mencintainya. Aku pikir, aku bisa membuat Tobias mencintaiku karena diriku sendiri, bukan karena gelar Crawford yang melekat di belakang namaku. Aku hanya ingin membangun keluarga yang tulus, seperti Ayah dan Ibu dulu."
"Dan sekarang? Kau tidak ingin memberitahunya? Mungkin kau masih bisa menyelamatkan pernikahan ini dengan kekuasaan keluarga kita," saran Lorenzo.
"Tidak," potong Amara tegas. "Aku tidak menginginkan hati yang diberikan karena rasa takut atau rasa hormat pada gelarku. Aku sudah selesai, Lorenzo. Ini bukan menyerah, ini adalah melanjutkan hidup."
Lorenzo mengangguk, menghargai keteguhan hati adiknya. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan, memperlihatkan foto pertunangannya dengan Maria yang selama ini dirahasiakan atas perintah Kakek mereka. Ia juga menceritakan segala hal yang dilewatkan Amara selama enam tahun terakhir—masa di mana Amara mengisolasi diri demi menjadi istri yang sempurna bagi seorang bajingan.
Mendengar cerita itu, rasa sesal menghujam dada Amara. Ia merasa seperti orang bodoh yang paling malang di dunia. Demi Tobias, ia pernah melawan keinginan kakeknya. Demi Tobias, ia membuang harga dirinya. Dan sekarang, ia berdiri di atas puing-puing pengorbanannya yang sia-sia.
Melihat mata adiknya berkaca-kaca, Lorenzo segera berdiri dan menarik Amara ke dalam pelukan hangatnya. "Amara, kau adalah seorang Crawford. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Berhenti mencemaskan masa lalu, dan fokuslah pada apa yang akan kau hancurkan mulai besok."
Air mata Amara tumpah di bahu kakaknya. "Terima kasih, Lorenzo..."
Namun, momen haru itu hancur seketika. Sebuah tangan kasar merenggut bahu Amara, menariknya menjauh dari pelukan Lorenzo dengan kekuatan yang menyakitkan.
"Apa—"
Amara terhuyung dan mendapati dirinya menatap sepasang mata kelam yang menyala karena cemburu dan amarah. Tobias Larsen berdiri di sana, rahangnya mengeras, menatap Lorenzo seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kita pergi, sekarang!" perintah Tobias dingin. Ia mencengkeram pergelangan tangan Amara, namun Lorenzo lebih cepat. Dengan gerakan tangkas, Lorenzo memelintir tangan Tobias dan membebaskan adiknya.
"Kau pikir kau siapa, berani menyentuhnya sekasar itu?" desis Lorenzo, matanya menajam seperti mata elang.
"Aku suaminya!" gertak Tobias. "Ingat itu sebelum kau berani menyentuh istriku di depan umum!"
Tobias kembali meraih tangan Amara. Lorenzo nyaris melayangkan pukulan, namun tatapan Amara menghentikannya. Amara menggeleng pelan, memberi isyarat agar kakaknya tidak membuat keributan lebih jauh. Ia memilih untuk menyelesaikan ini sendiri.
Di sepanjang jalan menuju pintu keluar, Amara berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku, Tobias! Kau tidak punya hak menarikku seperti ini!"
"Tidak punya hak?" Tobias tertawa sinis, menyeretnya menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu. "Kau memfitnah Celestine, menyebarkan skandal di internet, dan sekarang kau bermesraan dengan pria lain di hotel? Kau akan belajar apa artinya hukuman dariku, Amara."
"Kau kehilangan hak untuk menghukumku sejak kau meminta cerai!" bentak Amara.
Tobias tidak peduli. Ia mendorong Amara masuk ke kursi belakang mobil, lalu mengusir Dean dan sopirnya keluar. Suasana di dalam mobil mendadak mencekam saat Tobias mengunci pintu secara otomatis.
"Apa yang kau lakukan?!" panik mulai merayapi suara Amara.
"Membuktikan sesuatu," jawab Tobias datar.
Tanpa peringatan, Tobias menerjangnya. Ia menarik tubuh Amara hingga menempel erat pada dadanya, lalu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan. Itu bukan ciuman cinta; itu adalah klaim kepemilikan yang arogan.
Amara terbelalak. Rasa jijik dan amarah meledak di dalam dirinya. Dengan refleks, ia menggigit bibir bawah Tobias hingga pria itu meringis, lalu mendorongnya sekuat tenaga.
PLAKKK!
Tamparan keras mendarat di pipi Tobias, meninggalkan bekas merah yang mencolok.
Amara menyeka bibirnya dengan punggung tangan, matanya menyala penuh api peringatan. "Ini peringatan pertama dan terakhir, Tobias Larsen. Lakukan itu sekali lagi, dan aku akan memastikan kau kehilangan segala hal yang kau banggakan dalam semalam."
Suara Amara tidak lagi gemetar. Itu adalah suara seorang ratu yang baru saja bangun dari tidurnya, siap untuk meruntuhkan kerajaan siapa pun yang berani menghinanya.
"Buka pintunya. Sekarang."
Tobias tertegun, menatap Amara seolah baru pertama kali melihat wanita itu. Dan untuk pertama kalinya, ada kilatan ketakutan yang terselip di balik kemarahannya.