NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejujuran

Di sisi lain—

Yoga akhirnya sampai di rumah sakit.

Langkahnya cepat menuju ruang rawat VVIP tempat ibu Arabella dirawat.

Tanpa banyak pikir, ia langsung membuka pintu.

Suasana ruangan tenang.

Hanya suara alat medis yang terdengar pelan.

Yoga menatap ke arah tempat tidur—

ibunya Arabella masih terbaring, belum sadar.

Lalu pandangannya bergeser.

Arabella.

Ia tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur.

Kepalanya bersandar miring, tangannya masih menggenggam tangan ibunya.

Wajahnya terlihat lelah.

Sisa air mata masih tampak di pipinya.

Yoga menghela napas pelan.

Ada rasa tidak tega.

Ia mendekat perlahan.

“Bela…”

Tidak ada respon.

Tidurnya terlalu lelap.

Dengan hati-hati, Yoga mencoba melepaskan genggaman tangan Arabella dari tangan ibunya.

Lalu ia mengangkat tubuh Arabella perlahan.

“Maaf ya…”

Bisiknya pelan.

Ia memindahkan Arabella ke sofa panjang di sudut ruangan.

Sofa itu cukup untuknya berbaring.

Saat tubuh Arabella baru saja dibaringkan—

kelopak matanya bergerak.

“Hmm…”

Perlahan ia membuka mata.

“Yoga…?”

Suaranya masih lemah.

Yoga langsung duduk di sampingnya.

“Iya, aku.”

Arabella langsung bangun setengah duduk.

“Ibu… ibu aku udah sadar?”

Nada suaranya panik lagi.

Yoga menggeleng pelan.

“Belum.”

Arabella langsung menunduk.

Wajahnya kembali tegang.

“Tapi dokter bilang 6 sampai 12 jam, kan?” lanjut Yoga lembut.

Ia melirik jam.

“Ini baru sekitar 5 jam.”

Arabella mencoba mencerna.

Napasnya masih tidak tenang.

Yoga menatapnya dalam.

“Jadi kamu harus sabar, ya…”

Suaranya lembut.

Menenangkan.

Arabella menatapnya beberapa detik.

Lalu—

perlahan ia mendekat.

Yoga langsung memeluknya.

Pelukan itu hangat.

Lebih tenang dibanding sebelumnya.

Seolah keduanya sama-sama lelah.

“Aku takut…” bisik Arabella.

Yoga mengusap rambutnya pelan.

“Aku di sini.”

Arabella memejamkan mata.

Menyandarkan seluruh lelahnya pada Yoga.

Ia tidak menolak.

Tidak menjaga jarak lagi.

Karena saat ini—

ia benar-benar butuh.

Dan Yoga—

memberikan itu tanpa diminta.

Beberapa saat berlalu.

Suasana semakin hening.

Pelukan itu tidak terlepas.

Dan tanpa mereka sadari—

mata mereka perlahan terpejam.

Keduanya tertidur.

Masih dalam pelukan yang sama.

Beberapa waktu kemudian—

suara alat medis sedikit berubah.

Perlahan—

ibunya Arabella mulai sadar.

Kelopak matanya bergerak.

Membuka perlahan.

Pandangan pertama yang ia lihat—

ruangan itu.

Lalu—

ke arah sofa.

Di sana—

Arabella dan Yoga.

Tertidur.

Bersandar satu sama lain.

Masih dalam pelukan.

Ibunya terdiam.

Menatap mereka cukup lama.

Di hatinya—

ada rasa hangat.

Anaknya…

tidak sendiri.

Ada seseorang yang menjaga.

Yang menenangkan.

Yang menemani di saat seperti ini.

Namun—

di balik itu semua—

rasa takut tetap ada.

Ia menatap lebih dalam.

Mengingat semua yang pernah ia alami.

Perbedaan dunia.

Perbedaan status.

Rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan.

Tangannya bergerak pelan.

Menggenggam seprai.

“Ibu harap…”

Suaranya sangat lirih.

Hampir tidak terdengar.

“…kamu tidak terluka, Bela…”

Matanya kembali tertuju pada mereka berdua.

Pelukan itu terlihat begitu nyata.

Begitu tulus.

Dan justru karena itu—

rasa khawatirnya semakin besar.

Karena ia tahu—

jika ini berakhir—

yang hancur nanti…

bukan hanya satu hati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Beberapa saat setelah suasana hening itu—

Yoga sedikit bergerak dalam tidurnya.

Alisnya mengernyit.

Rasa geli di lehernya membuatnya tidak nyaman, seperti ada serangga kecil yang mengganggu.

“Hmm…”

Ia mengangkat tangan pelan, mengusirnya, lalu perlahan membuka mata.

Pandangannya masih buram.

Namun beberapa detik kemudian—

ia tersadar.

Arabella masih tertidur di pelukannya.

Kepala gadis itu bersandar di dadanya, napasnya tenang.

Wajahnya terlihat lebih damai dibanding sebelumnya.

Yoga terdiam.

Tidak berani bergerak.

Seolah takut membangunkannya.

Namun kemudian—

ia merasa ada tatapan.

Yoga mengangkat wajahnya.

Ibunya Arabella.

Sudah sadar.

Dan sedang menatap mereka.

Yoga langsung sedikit kaku.

Refleks ingin bicara—

namun ibunya Arabella mengangkat jari telunjuk ke bibirnya.

Isyarat untuk diam.

Yoga langsung mengangguk pelan.

Ia menoleh lagi ke Arabella.

Masih tertidur lelap.

Perlahan, ia menyesuaikan posisi agar tidak mengganggu.

Ibunya Arabella menatapnya dalam.

Tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu, dengan suara sangat pelan—

“Yoga…”

Yoga sedikit mendekat agar bisa mendengar.

“Iya, Bu…”

Suaranya rendah.

Hampir berbisik.

Ibunya Arabella menarik napas pelan.

Matanya meneliti wajah Yoga.

“Kamu… serius sama Bela?”

Pertanyaan itu lembut.

Namun berat.

Yoga terdiam sesaat.

Lalu menjawab—

jujur.

“Iya, Bu.”

Tidak ada ragu.

Ibunya Arabella kembali bertanya,

“Perasaan kamu ke dia… bagaimana?”

Yoga menelan pelan.

Ia melirik Arabella sekilas—

lalu kembali menatap ibunya.

“Aku nyaman sama Bela.”

Suaranya pelan.

“Terlalu nyaman malah…”

Ada sedikit senyum tipis di wajahnya.

Namun matanya serius.

“Aku… jatuh cinta sama dia.”

Ibunya Arabella tidak bereaksi langsung.

Hanya mendengarkan.

Yoga melanjutkan.

“Aku ingin jaga dia.”

Tatapannya melembut.

“Aku nggak mau dia sedih.”

Suaranya semakin dalam.

“Kalau lihat dia nangis… rasanya sakit.”

Ia menunduk sebentar.

Seolah mengingat sesuatu.

Lalu kembali menatap.

“Aku pengen dia bahagia.”

Sederhana.

Tapi tulus.

Hening.

Ibunya Arabella menatapnya lama.

Mencari sesuatu di wajahnya.

Kejujuran.

Kesungguhan.

Dan ia menemukannya.

Namun—

di balik itu—

ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Perbedaan.

Dunia mereka.

Status.

Masa lalu yang pernah ia alami.

Hatinya sedikit ragu.

Takut sejarah akan terulang.

Namun ia tidak mengatakan itu.

Ia hanya memandang Arabella yang tertidur.

Lalu kembali ke Yoga.

“Jangan sakiti dia…”

Suaranya lirih.

Yoga langsung mengangguk.

“Tidak akan, Bu.”

Ia menjawab tanpa ragu.

Tanpa tahu—

bahwa di hati ibu itu masih ada kekhawatiran.

Dan di sisi lain—

ibunya Arabella juga tidak tahu.

Bahwa hubungan yang ia lihat begitu tulus itu…

awalnya hanyalah sebuah perjanjian.

Bahwa kedekatan ini…

dibangun dari sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata.

Namun kini—

perasaan yang tumbuh di antara mereka—

justru menjadi sesuatu yang paling nyata.

Dan di sanalah—

masalah yang sebenarnya mulai terbentuk.

Karena dua hati sudah terlibat—

tanpa mengetahui seluruh kebenaran.

Dan jika suatu hari semuanya terungkap—

yang dipertaruhkan…

bukan hanya kepercayaan.

Tapi juga cinta yang sudah terlanjur dalam.

...----------------...

Dan tanpa ibu dan yoga sadari di pelukan yoga Arabella mendengar seluruh percakapan yoga dan ibunya.

Ia bangun bersamaan saat yoga bergerak karna serangga

ia tidak tidur nyenyak karna masih khawatir terhadap ibunya meskipun Bella akui pelukan yoga hangat bikin mengantuk

Tai tidak ia mendengar seluruh percakapan yoga dan ibu nya ada rasa senang di hati bella tapi ada keraguan juga mengingat status antara yoga dan di rinya

"yoga aku juga nyaman sama kamu , aku jatuh cinta tai status kita.."

"Bukan masalah sederhana yang begitu saja bisa di selesaikan kita harus liat pandangan dunia terhadap perbedaan kita yang jauh"

Ia tidak berani membuka matanya ia hanya menyimak dan membalas dalam hati ucapan yoga sangat hangat dan membuat ia tambah nyaman dan jatuh cinta terhadap laki laki yang memeluknya saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!