Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Anti Morgan
Liana melangkah menyusuri koridor Fakultas Ekonomi dengan deru napas yang masih tidak beraturan. Bayangan Derby yang diseret paksa oleh pria-pria suruhan Morgan terus menghantui pelupuk matanya. Di jarinya, ia bisa merasakan beban imajiner dari cincin yang belum terpasang, namun sudah terasa seperti borgol yang mendinginkan kulitnya.
"Kau pikir kau sudah menang, Morgan?" bisik Liana, jemarinya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. "Kau bisa mengunci pintuku, kau bisa mematikan listrikku, bahkan kau bisa menyingkirkan Derby. Tapi kau tidak bisa mengunci mulut semua orang di kampus ini."
Liana berbelok ke arah kantin belakang, sebuah area yang jarang dijamah oleh para dosen karena aromanya yang bercampur antara asap rokok ilegal dan gorengan murah. Di sana, di meja paling pojok yang kayunya sudah mengelupas, duduk dua orang pria yang tampak sedang merutuki tumpukan buku makroekonomi di depan mereka.
Jeffrey dan Albert. Liana mengenal mereka sebagai "Legenda Nilai E" di kelas Morgan. Jeffrey, pria bertubuh tambun dengan kaus oblong yang melar, sedang mencoret-coret wajah Morgan di sampul buku teksnya. Sedangkan Albert, pria kurus dengan mata cekung akibat terlalu banyak begadang, terus menggumamkan makian setiap kali ia membalik halaman jurnal.
Liana menghentakkan tas desainer miliknya ke atas meja mereka, membuat botol minuman plastik milik Jeffrey terguling.
"Si Dosen Es itu baru saja mempermalukan kalian lagi, kan?" tanya Liana tanpa basa-basi. Ia menarik kursi plastik yang reot, duduk dengan kaki menyilang yang menunjukkan aura menantang.
Jeffrey mendongak, matanya menyipit menatap Liana. "Siapa kau? Mahasiswi baru yang kena semprot tadi pagi, kan? Kenapa? Mau mengadu kalau kami merokok di sini?"
"Aku Liana Shine," Liana memajukan tubuhnya, memberikan tatapan yang penuh konspirasi. "Dan aku punya dendam pribadi yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai E. Aku ingin melihat Morgan Bruggman kehilangan kendali. Aku ingin melihat dia tidak berdaya di panggungnya sendiri—di kelasnya."
Albert tertawa sinis, ia meletakkan pulpennya dan bersandar, menatap Liana dengan minat yang mulai tumbuh. "Banyak orang ingin melakukannya, Manis. Tapi Morgan itu robot. Dia punya jawaban untuk segala hal. Dia tidak punya emosi. Bagaimana kau mau memancing seseorang yang bahkan tidak punya urat marah?"
"Setiap robot punya bug," sahut Liana. Ia mengambil pulpen Jeffrey dan menuliskan sebuah angka besar di atas coretan wajah Morgan: 130. "Itu frekuensi bas yang paling dia benci. Tapi lebih dari itu, dia benci ketidakteraturan. Dia benci ketika skenarionya berantakan."
Jeffrey dan Albert saling berpandangan. Mereka adalah mahasiswa tingkat tiga yang sudah muak dengan standar akademik Morgan yang mencekik leher. Bagi mereka, Morgan bukan sekadar dosen, tapi simbol penindasan intelektual.
"Apa rencanamu?" tanya Jeffrey, suaranya kini merendah, tertarik.
"Kelas Makro setelah ini," Liana mengetukkan jarinya ke meja dengan irama yang konstan, meniru detak jam yang sangat disukai Morgan. "Dia akan menjelaskan tentang teori pertumbuhan ekonomi. Aku ingin kalian menjadi 'suara sumbang'. Bukan sekadar berisik, tapi menyerangnya dengan argumen yang tidak logis secara masif. Aku yang akan memicu apinya, kalian yang menyiram bensinnya. Kita buat dia kehilangan wibawa di depan dekanat yang sering memantaunya."
Lalu suasana di ruang kuliah utama terasa lebih berat dari biasanya. Morgan masuk tepat pukul 11.00. Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih yang begitu bersih hingga menyilaukan mata. Tidak ada satu pun rambutnya yang keluar dari tatanan pomade-nya yang rapi.
Liana duduk di barisan tengah, diapit oleh Jeffrey di sebelah kiri dan Albert di sebelah kanan. Ia bisa merasakan tatapan Morgan menyapu ruangan, dan sejenak, mata dingin itu berhenti tepat di wajah Liana. Morgan memperbaiki letak kacamatanya dengan gerakan jari tengah yang elegan, sebuah isyarat kecil yang bagi Liana terasa seperti tantangan.
"Pertemuan kali ini kita akan membahas tentang Solow-Swan Growth Model," suara Morgan menggema, datar dan berwibawa. Ia mulai menuliskan rumus-rumus rumit di papan tulis digital dengan kecepatan yang membuat sebagian besar mahasiswa mengeluh pelan.
Liana memberikan kode dengan sikunya pada Albert.
"Maaf, Pak Morgan," Albert mengangkat tangannya dengan gaya yang sangat malas, bahkan tanpa meluruskan punggungnya. "Saya rasa asumsi yang Bapak tulis itu sampah. Di dunia nyata, modal tidak pernah menyusut secara konstan. Itu hanya teori di atas kertas untuk orang-orang yang terlalu lama duduk di perpustakaan."
Suasana kelas mendadak sunyi. Beberapa mahasiswa menahan napas. Morgan berhenti menulis. Ia berbalik perlahan, meletakkan stylus pen di meja dosen dengan bunyi tek yang tajam.
"Saudara Albert," Morgan berjalan ke depan meja, menyandarkan pinggulnya di sana sambil melipat tangan di dada. "Jika Anda memiliki data empiris yang bisa mematahkan teori peraih Nobel ini, silakan maju dan presentasikan. Jika tidak, simpan opini emosional Anda untuk jam istirahat di kantin."
"Tapi saya setuju dengan Albert, Pak!" Jeffrey menyambar, suaranya sengaja dikeraskan hingga terdengar ke koridor. "Bapak selalu bicara soal efisiensi. Tapi bagaimana dengan faktor keberuntungan? Bapak tidak pernah memasukkan variabel 'nasib' dalam rumus Bapak. Apakah karena hidup Bapak terlalu sempurna sampai Bapak lupa kalau manusia bisa gagal tanpa alasan?"
Liana melihat otot rahang Morgan mengeras. Itu adalah kemenangan kecil pertama.
"Keberuntungan adalah istilah bagi mereka yang tidak siap menghadapi variabel yang terukur," sahut Morgan, suaranya mulai merendah, tanda bahwa ia sedang menekan amarahnya. "Dan Saudara Jeffrey, jika Anda mengharapkan 'nasib' untuk meluluskan Anda dari kelas saya, saya sarankan Anda pindah ke fakultas teologi."
Tawa pecah dari beberapa mahasiswa, namun Liana segera memberikan tatapan tajam yang membungkam mereka. Aliansi "pembangkang" ini sudah menyebarkan pesan di grup obrolan rahasia mahasiswa untuk ikut serta dalam sabotase hari ini.
"Tapi Pak," Liana akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun penuh provokasi. "Bukankah Bapak sendiri yang mengajarkan bahwa ekonomi adalah ilmu sosial? Kenapa Bapak bersikap seolah ini adalah matematika murni yang tidak punya ruang untuk kesalahan manusia? Atau mungkin ... Bapak takut jika ada satu saja variabel yang tidak bisa Bapak kendalikan, seluruh hidup Bapak akan runtuh?"
Morgan menatap Liana. Kali ini, tatapan itu lebih lama. Ada kilatan kemarahan yang tertahan di balik lensa kacamatanya. Morgan melangkah menuruni podium, berjalan perlahan melewati barisan kursi hingga ia berdiri tepat di depan meja Liana.
Aroma parfum Morgan—campuran jeruk nipis dan kayu manis yang dingin—menusuk hidung Liana. Morgan membungkuk sedikit, menumpukan kedua tangannya di meja Liana, mengurung gadis itu dalam ruang pribadinya.
"Saudari Liana," bisik Morgan, suaranya hanya cukup didengar oleh Liana dan dua temannya. "Jangan mencampuradukkan ketidakmampuanmu memahami materi dengan filosofi hidup yang dangkal. Jika kau ingin menyerangku, gunakan otakmu, bukan mulutmu yang masih berbau dendam semalam."
"Oh, aku menggunakan otakku, Pak," Liana membalas bisikan itu dengan senyum miring, tangannya dengan sengaja menyentuh pulpen Morgan yang ada di meja. "Dan otakku mengatakan bahwa kelas ini sudah bosan dengan diktator yang tidak punya hati."
Seketika, Jeffrey dan beberapa mahasiswa lain mulai mengetukkan pulpen ke meja secara serempak. Tak. Tak. Tak. Bunyi itu menciptakan irama yang mengganggu, meniru provokasi frekuensi bas yang dilakukan Liana di apartemen.
"Kami butuh dosen yang manusia, bukan robot!" teriak Albert.
Suasana kelas mulai kacau. Morgan berdiri tegak kembali. Ia merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat tenang, meski Liana bisa melihat napas Morgan sedikit lebih berat dari biasanya. Morgan berbalik menuju meja dosen, mengambil tasnya, dan mematikan proyektor.
"Kelas hari ini selesai," ucap Morgan singkat.
Mahasiswa bersorak, mengira mereka menang. Namun, Morgan belum selesai.
"Dan karena Saudari Liana, Saudara Jeffrey, dan Saudara Albert merasa teori ini tidak relevan, maka saya memberikan tugas pengganti," Morgan menatap mereka bertiga dengan senyum paling dingin yang pernah ada. "Tulis esai sepuluh ribu kata mengenai kegagalan pasar, dikumpulkan besok pagi pukul tujuh di ruangan saya. Jika terlambat satu menit, nilai semester kalian otomatis E. Dan bagi seluruh kelas ... terima kasih kepada ketiga teman kalian ini, karena tugas mingguan kalian akan saya lipat gandakan."
Sorakan kegembiraan seketika berubah menjadi desahan kecewa dan tatapan benci yang kini berbalik arah kepada Liana dan gengnya. Liana terpaku. Ia tidak menyangka Morgan akan menggunakan strategi "hukuman kolektif" untuk memecah aliansinya.
Morgan berjalan menuju pintu kelas, namun ia berhenti sejenak di samping Liana.
"Aliansi yang lemah, Liana," ucap Morgan tanpa menoleh, suaranya sedatar es. "Kau baru saja membuat seluruh kelas membencimu. Itulah yang terjadi jika kau mencoba bermain politik di wilayahku. Aku tunggu esaimu besok pagi ... Istriku."
Kata terakhir itu diucapkan dengan sangat pelan, nyaris seperti desisan yang hanya bisa didengar oleh Liana, namun dampaknya lebih dahsyat daripada ledakan bom. Morgan melangkah keluar dengan wibawa yang tetap utuh, meninggalkan Liana yang kini harus menghadapi tatapan sinis dari teman-teman sekelasnya.
Jeffrey dan Albert tampak pucat. "Sepuluh ribu kata? Besok pagi? Liana, kau bilang ini akan berhasil!"
Liana tidak menjawab. Ia menatap punggung Morgan yang menjauh di balik kaca pintu kelas. Ia sadar, di kampus ini, Morgan bukanlah sipir penjara yang bisa ia provokasi dengan kebisingan. Di sini, Morgan adalah dewa kecil yang memegang pena takdirnya, dan ia baru saja memberikan Morgan alasan legal untuk menyiksanya lebih jauh.