NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Tampan yang menyelamatkan

“Gue beli masker yang lagi viral ini, guys,” ucap Bunga dengan antusias sambil mengeluarkan beberapa kemasan masker dari paper bag yang ia bawa.

Saat ini mereka berempat sudah berkumpul di kamar Rania yang luas dan nyaman. Suasana kamar itu terasa hangat dengan tawa dan obrolan para sahabat yang akhirnya bisa berkumpul setelah seharian beraktivitas di sekolah.

“Gue pikir kalian bawa cemilan saja, ternyata masker juga,” ucap Rania sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.

“Masker ini kan yang lagi viral itu,” ucap Freya sambil memperhatikan kemasan masker yang dibawa Bunga.

“Iya,” balas Bunga bangga.

“Gue juga mau checkout, tapi kehabisan,” ucap Freya dengan nada menyesal.

“Ya udah ini, pakai aja. Gue sengaja beli banyak supaya kita maskeran bareng,” ucap Bunga sambil membagikan masker itu pada sahabat-sahabatnya.

Mereka langsung mengambilnya, lalu bergantian pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali dan mulai memakai masker masing-masing.

“Ran, mantan lo itu sudah balikin duit lo?” tanya Balqis sambil memperbaiki posisi maskernya di wajah.

“Udah. Jangan coba-coba lo laporin ke mami gue,” ancam Rania tanpa menoleh pada Balqis.

“Aman, asal lo gak keras kepala lagi,” balas Balqis santai.

Rania hanya mengangguk pelan.

Namun tiba-tiba pikirannya teringat pada kejadian saat pulang sekolah tadi.

Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Gue mau cerita.”

Nada suaranya membuat sahabat-sahabatnya langsung menoleh.

Hari ini, untuk pertama kalinya, Rania memutuskan ingin lebih terbuka pada mereka.

“Cerita aja, Ran,” ucap Bunga dengan penuh perhatian.

“Tadi gue dikeroyok Adrian sama temannya,” ucap Rania tenang.

“APA?!”

Keempat sahabatnya langsung berseru kaget.

“Huss… kalian jangan teriak. Nanti mommy gue dengar,” ucap Rania memperingatkan mereka.

“Serius lo, Ran?” ucap Bunga dengan mata membulat.

“Iya, gue serius.”

“Dasar brengsek! Apa dia gak takut ya sama ancaman gue?” geram Freya kesal.

“Terus lo apain dia?” tanya Balqis penasaran.

“Gue hajar lah. Masa gue diam dipukulin gitu,” ucap Rania santai, lalu tersenyum miring. “Dia kira gue gak bisa berantem apa.”

“Terus respon dia gimana? Setahu gue dia gak tahu lo jago bela diri,” tanya Bunga lagi.

“Sepertinya sih dia kaget. Gue hajar mereka habis-habisan sampai bonyok,” ucap Rania dengan nada sedikit bangga.

“Bagus, Ran. Lo harus keluarin kemampuan lo,” ucap Bunga mendukung.

“Ceritanya gimana sih, Ran?” tanya Balqis dengan penuh rasa penasaran.

Rania pun mulai menjelaskan semuanya—mulai dari saat Adrian mengikutinya, lalu ia masuk ke gang kecil, hingga akhirnya Adrian dan teman-temannya menghadangnya di tempat yang cukup jauh dari mansionnya.

“Dia sudah pasti merencanakan semua ini,” ucap Bunga.

“Itu sudah pasti. Dia memang sudah merencanakan dengan temannya,” sambung Balqis.

“Terus keadaan mereka gimana?” tanya Bunga lagi.

“Lo kasihan sama dia?” sahut Freya.

Bunga langsung menggeleng cepat. “Ya nggak lah, ogah banget. Gue cuma mau tahu keadaan mereka gimana. Lo tahu kan bagaimana bela diri Rania?”

“Cuma lebam aja,” ucap Rania santai.

Namun sahabat-sahabatnya langsung menatapnya tidak percaya.

Terakhir kali Rania menghajar preman di pasar saja, orang itu sampai masuk rumah sakit beberapa hari.

“Tadi gue juga ada yang bantuin gue,” sambung Rania.

“Siapa? Warga?” tebak Balqis.

“Bukan. Di sana rumah warga lumayan jauh,” jawab Rania.

“Terus siapa?” tanya Flora penasaran.

“Gue lupa namanya. Tapi dia satu sekolah sama kita. Almamaternya sama,” jawab Rania sambil mencoba mengingat.

“Coba ingat dulu. Siapa tahu kita tahu tuh orang,” ucap Bunga.

“Cewek atau cowok, Ran?” tanya Balqis.

“Cowok,” jawab Rania sambil terus mengingat.

Beberapa saat kemudian ia berkata, “Gue sudah ingat. Dia yang nyanyi di galeri seni. Dia juga masuk ke kelas gue tadi.”

“Sejak kapan lo ke ruangan seni?” tanya Freya heran, karena sejak dulu Rania paling malas datang ke tempat seperti itu.

“Gue dipaksa Lara. Kalau gak ya kali gue mau,” jawab Rania.

“Terus kok lo tahu siapa namanya?” tanya Bunga lagi.

Rania mengangguk kecil.

“Revano.”

“Apa? Revano?!” ucap Bunga dengan nada terkejut.

“Kaget amat sih, Bun,” ucap Rania santai.

“Iya nih, bikin kuping gue sakit dengar suara cempreng lo,” ucap Balqis kesal.

“Serius lo, Ran? Namanya Revano?” ucap Bunga memastikan lagi tanpa mempedulikan komentar Balqis.

“Iya serius. Emang kenapa sih?” ucap Rania heran.

“Dia itu Most Wanted sekolah angkatan kita, Rania,” ucap Bela. “Dia ganteng kan?”

“Lumayan,” jawab Rania santai.

“Apa?! Lo bilang lumayan? Spek dewa Yunani lo bilang lumayan? Heran gue sama Rania,” ucap Bunga sambil menggelengkan kepala.

“Terserah pendapat gue lah,” balas Rania santai.

“Ah, andaikan gue yang jadi lo, Ran. Mungkin gue sudah pingsan lihat dia langsung,” ucap Bunga dramatis.

“Lo gak pernah lihat emang?” tanya Freya.

“Gak. Gue cuma lihat fotonya doang,” jawab Bunga.

“Lo dapat fotonya dari mana? Sosmed?” tanya Balqis.

“Gak. Gue masuk grup Most Wanted sekolah, hehe,” ucap Bunga sambil cengengesan.

“Lo masuk grup yang Bintang bilang itu?” tanya Rania.

“Iya, hehe,” jawab Bunga.

Ketiganya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat mereka yang satu ini.

Bela kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.

“Ini yang lo maksud?”

Rania melihatnya sekilas lalu mengangguk. “Iya, dia yang nolongin gue.”

Balqis dan Freya ikut melihat foto itu.

Keduanya langsung terpaku beberapa detik.

Benar juga kata Bunga—Revano memang sangat tampan.

“Tuh kan, kalian juga terpesona,” ucap Bunga puas melihat ekspresi mereka.

“Iya sih, dia memang ganteng,” ucap Freya santai.

“Gimana ceritanya Revano nolongin lo, Ran?” tanya Bunga penasaran.

“Saat gue lagi hajar Adrian sama temannya, tiba-tiba dari belakang gue teman Adrian yang satunya lagi mau pukul gue pakai balok. Tapi sebelum baloknya sampai ke gue, Revano sudah hajar dia duluan,” jelas Rania.

“Dia ngomong sesuatu gak?” tanya Bunga lagi.

“Dia cuma suruh gue pulang. Katanya dia yang akan menyelesaikan. Karena gue malas lihat Adrian, ya sudah gue biarin aja,” jawab Rania.

“Uh… gentleman banget sih,” ucap Bunga kagum.

“Udah, udah. Jangan bahas Revano lagi. Sekarang lo kasih pelajaran buat mantan lo itu, Ran. Dia gak ada kapoknya. Sudah gue kasih dia peringatan tetap saja ganggu lo lagi,” geram Freya.

“Gak usah. Gue sudah kasih dia pelajaran kok. Paling mereka bertiga sekarang sudah ada di rumah sakit,” ucap Rania santai. “Sekarang gue mau cuci muka dulu. Nih masker gue sudah kering.”

Rania kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah itu mereka bergantian membersihkan wajah masing-masing.

Setelah mencuci wajah, Rania tidak lupa memakai skincare seperti biasanya.

Ketika semuanya selesai, Rania mengambil ponsel yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.

Ting!

Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya.

Rania melihatnya sekilas.

{Revano_} Mengikuti Anda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!