NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Menghapus Jejak

Kereta kuda keluarga von Raven melesat membelah kegelapan Hutan Kabut dengan kecepatan yang membahayakan.

Di luar, suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta dan suara rantai yang beradu menciptakan kebisingan yang mengisolasi kabin penumpang dari dunia luar.

Di dalam ruangan sempit yang dilapisi beludru merah darah itu, atmosfer terasa begitu padat oleh amarah, kecemburuan, dan hasrat yang tertahan, seolah-olah oksigen telah habis terbakar oleh emosi pria-pria di dalamnya.

Aira duduk tersandar di sudut kursi, napasnya masih tersengal dan pendek.

Gaun sutra hitamnya sedikit berantakan di bagian kerah renda, dan yang paling mencolok—sebuah tanda merah keunguan di leher porselennya.

Itu adalah jejak dari ciuman paksa dan gigitan klaim Pangeran Valerius di aula istana tadi.

Tanda itu terasa panas, seolah-olah kulitnya masih terbakar oleh sisa napas sang Pangeran yang menjijikkan.

Julian, yang duduk di hadapannya, tidak lagi memiliki senyum manis yang biasa ia gunakan untuk memanipulasi dunia.

Matanya yang cokelat gelap kini berkilat dengan kegelapan yang murni saat ia menatap tanda di leher Aira.

Ia melepaskan jas luarnya, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh, dan bergerak maju. Ia berlutut di antara kedua kaki Aira, sebuah posisi yang sangat intim dan mendominasi bagi seorang pelayan.

"Tanda itu..." bisik Julian. Suaranya rendah, parau, dan bergetar karena amarah yang nyaris meledak.

"Sangat kotor. Pangeran itu berani menodai apa yang seharusnya hanya menjadi rahasia di dalam mansion."

Julian mengulurkan tangannya yang halus namun kuat, mencengkeram dagu Aira dan memaksanya untuk mendongak.

Jemarinya menekan leher Aira tepat di samping tanda merah itu. Aira terkesiap, rasa panas menjalar dari sentuhan Julian yang biasanya dingin.

"Kita harus menghapusnya, Nyonya," gumam Julian. Wajahnya mendekat, napasnya yang harum melati kini beradu dengan hawa napas Aira yang tidak teratur.

"Saya tidak akan membiarkan Dante melihat bahwa ada pria lain yang sudah berani meletakkan bibirnya di kulit Anda. Jejak kotor ini harus musnah."

Tanpa peringatan, Julian menundukkan kepala. Ia tidak menggunakan kain untuk membersihkannya; ia menggunakan lidahnya.

Aira tersentak saat merasakan lidah Julian yang hangat dan basah menyapu tanda merah itu dengan gerakan yang sangat posesif.

"Ah... Julian... hentikan..." desah Aira pelan, namun tubuhnya justru melengkung ke arah pria itu, mencari pegangan pada bahu Julian yang kokoh.

Tiba-tiba, pintu penghubung dari kursi kusir terbuka dengan sentakan keras.

Zane masuk ke dalam kabin setelah menyerahkan kendali pada asistennya. Matanya yang tajam seperti elang langsung menangkap pemandangan Julian yang sedang membenamkan wajahnya di leher Aira.

Zane tidak bicara, namun aura membunuhnya seketika memenuhi ruangan yang sempit itu. Ia menutup pintu dengan bantingan yang membuat kereta bergetar.

"Minggir, Julian," geram Zane. Suaranya rendah seperti geraman predator yang sedang terancam. "Kau terlalu lembut. Jejak pria itu tidak akan hilang hanya dengan jilatan manis-mu."

Zane duduk di samping Aira, tangannya yang besar dan kasar karena bekas luka segera meraih pinggang Aira, menarik wanita itu hingga terduduk di atas pangkuannya yang keras. Aira memekik pelan saat merasakan kerasnya otot paha Zane dan betapa posesifnya dekapan pria itu.

"Lihat ini," Zane berbisik tepat di telinga Aira, sementara Julian tetap berlutut di depan mereka, menatap Aira dengan rasa lapar yang sama gilanya.

"Kau membiarkan pria itu menyentuhmu. Kau membiarkan dia menaruh bibirnya di sini seolah dia memilikimu."

"Hanya kami yang boleh merusakmu, Isabella. Hanya kami yang boleh meninggalkan bekas di tubuhmu hingga kau tidak bisa lagi berpaling."

Kini Aira benar-benar kewalahan. Ia terjepit di antara dua pria yang sedang menggila karena cemburu.

Di depannya, Julian mulai membuka kancing kemejanya sendiri, matanya tidak lepas dari bibir Aira yang basah dan sedikit membengkak.

Di bawahnya, Zane mendekapnya begitu erat hingga Aira bisa merasakan detak jantung pria itu yang memburu di punggungnya.

Julian merangkak naik, menangkup wajah Aira dan menciumnya dengan gila. Itu bukan ciuman pelayan kepada majikan; itu adalah ciuman seorang pria yang sedang menuntut haknya atas jiwa yang ia puja.

Julian mengeksplorasi mulut Aira dengan cara yang sangat mendalam dan sensual.

"Mmhh... Zane... Julian..." Aira mendesah di sela-sela ciuman Julian. Tubuhnya berkhianat, merespons setiap sentuhan yang diberikan kedua pria itu dengan gairah yang menyiksa.

Zane merendahkan wajahnya ke leher Aira yang kini sudah penuh dengan tanda baru dari Julian. Ia menggigit tanda dari Pangeran itu sekali lagi, jauh lebih keras, seolah ingin menghancurkan setiap sel kulit yang pernah disentuh pria lain.

Aira melengkungkan punggungnya, kepalanya terkulai di bahu Zane saat ia merasakan kenikmatan dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu simfoni yang mengerikan.

"Jangan pernah berpikir untuk berpaling," bisik Zane di sela-sela napasnya yang memburu.

"Bahkan jika kau bukan Isabella yang kami kenal, kau tetap milik kami."

Julian melepaskan ciumannya, menatap Aira dengan mata yang sudah sayu karena gairah yang gelap.

"Kita sudah membersihkannya, Nyonya," bisik Julian sambil mengusap bibir Aira yang basah dengan ibu jarinya. "Jejak Pangeran sudah hilang. Sekarang yang tersisa hanyalah jejak kami berdua."

Di sudut gelap kereta, Aira seolah melihat pantulan Isabella yang asli di jendela yang bergetar.

Sosok itu tertawa tanpa suara, matanya berkilat senang melihat bagaimana Aira mulai hancur di tangan para pelayannya sendiri. Aira menyadari bahwa ia telah benar-benar terjatuh ke dalam neraka yang paling indah dan mematikan.

Cahaya rembulan yang masuk dari jendela kereta yang berguncang memberikan rona perak pada kulit Aira yang kini penuh dengan tanda kepemilikan baru. Julian perlahan melepaskan pagutannya, namun jemarinya tidak berhenti bergerak.

Ia menelusuri garis rahang Aira yang masih gemetar, sementara Zane tetap mendekapnya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Aira yang terekspos.

"Kau dengar itu, Nyonya?" bisik Zane, suaranya kini lebih berupa geraman halus yang bergetar di kulit Aira.

"Hanya detak jantungmu yang boleh mengisi kesunyian di antara kita. Bukan nama Pangeran itu, bukan pula janji-janji kosongnya."

Aira hanya bisa memejamkan mata, merasakan bagaimana kedua pria ini—yang seharusnya menjadi pelayan setianya—kini justru menjadi tuan atas setiap jengkal perasaannya.

Julian mengambil seutas pita hitam dari sakunya, lalu dengan gerakan yang sangat posesif, ia melingkarkannya di leher Aira, tepat di atas tanda-tanda yang baru saja mereka buat. Ia mengikatnya dengan simpul yang cantik namun terasa seperti jerat yang manis.

"Pita ini akan menyembunyikan 'kebersihan' yang baru saja kami lakukan dari mata Dante untuk sementara," ujar Julian sambil mengecup ujung simpul itu. "Tapi di baliknya, Anda tahu siapa yang benar-benar memiliki tanda itu sekarang."

Aira mendesah panjang, sebuah suara yang terdengar seperti kepasrahan sekaligus pengakuan.

Ia merasa jiwanya semakin jauh dari Aira yang dulu, dan semakin dalam tenggelam ke dalam kegelapan The Velvet Manor.

Hasrat yang tertahan di dalam kabin kereta ini seolah menjadi sumpah tak tertulis bahwa mulai malam ini, mereka tidak akan membiarkan siapa pun dari dunia luar menyentuh raga maupun jiwa sang Nyonya.

Saat roda kereta akhirnya menyentuh jalanan berkerikil di depan gerbang utama, suasana kembali menjadi sunyi dan kaku.

Namun, di bawah kain gaun sutra yang sedikit berantakan itu, Aira masih bisa merasakan panas dari sentuhan mereka—sebuah rahasia yang akan ia bawa masuk ke dalam rumah yang penuh dengan mata yang mengawasi.

Kereta mulai melambat saat gerbang besi The Velvet Manor terlihat di kejauhan. Julian dan Zane segera merapikan pakaian Aira dan pakaian mereka sendiri dengan kecepatan yang menakutkan, kembali ke topeng pelayan yang sempurna dalam hitungan detik. Namun, aroma parfum melati yang bercampur dengan bau keringat maskulin yang tertinggal di tubuh Aira menceritakan rahasia yang jauh lebih gelap.

Di depan pintu mansion, Dante sudah menunggu dengan lentera di tangan. Tatapannya yang biru es menembus ke dalam kereta saat pintu dibuka, menatap Aira yang wajahnya masih merona dan napasnya belum stabil.

"Selamat datang kembali, Nyonya," ujar Dante dengan suara yang tenang namun menusuk. "Saya harap perjalanan ini memberikan hasil yang... memuaskan bagi Anda semua. Terutama untuk 'kebersihan' jiwa Anda."

Aira turun dari kereta dengan kaki yang lemas, menyadari bahwa interogasi Dante di dalam kamar nanti akan jauh lebih menyiksa daripada apa yang baru saja ia lalui di dalam kereta.

1
Airin
Suka banget update babnya banyak👍
Senja_Puan: Semangat dong kak💪
total 1 replies
Syifa234
semuanya ada, kecuali Kael. Jangan diskriminasi Kael Thor. mentang-mentang dia yang paling petantang, petenteng
Senja_Puan: Kael aman kak🤭
total 1 replies
Syifa234
Plot twist banget et dah/Scowl//Sob/
Senja_Puan: Banget kak???
total 1 replies
Senja_Puan
makasih kakak-kakak sayang😍
Anisa675
min jadi double ngasih cermin nya
Senja_Puan: lah iya yah kak😄 makasih kak Anisa
total 1 replies
Anisa675
Typo thor😄

btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Senja_Puan: Makasih kakak sayang🤭 Suka kalau ada yang jeli dan kasih masukan😍
total 1 replies
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Anisa675: wkwkw nah loh ditagih Mulu thor🤭
total 2 replies
Irsyad layla
kael mana?
Anisa675: wah ada yang sama sadar juga atas ketiadaan Kael
total 2 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Senja_Puan: nah kaget kaaaaan
total 1 replies
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
Senja_Puan: Jangan dibayangin kak. cukup mereka aja yang rasain😄
total 1 replies
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!