Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Matahari Selasa pagi ini terasa sangat menyengat, memantul di atas aspal parkiran Markas Kepolisian Resor yang padat. Ziva membenarkan letak helmnya yang sedikit miring, ia turun dari boncengan motor matic milik Nisa dengan wajah yang ditekuk habis-habisan.
"Kak, emangnya aku harus banget ikut ya? Ngapain sih kita di sini? Pulang aja yuk, mending kita cari seblak atau apa kek," gerutu Ziva sambil merapikan cardigan krem yang ia kenakan.
Nisa tertawa kecil, ia melepas helm dan merapikan jilbabnya di spion motor. "Bentar doang, Ziva. Mas Arga lupa bawa bekalnya tadi pagi, sekalian aku mau bawain kopi buat tim mereka. Mas Baskara juga pasti seneng kok liat kamu dateng tiba-tiba begini."
"Seneng apanya, paling juga dia bakal ceramah soal keselamatan berkendara atau nanya kenapa aku nggak pake jaket kulit," balas Ziva sinis. "Ayo deh cepetan, panas nih Kak."
Mereka berdua berjalan menyusuri area parkir menuju gedung utama. Namun, langkah Ziva mendadak melambat, lalu berhenti total. Matanya yang tajam menangkap sebuah pemandangan di sudut parkiran, tepat di bawah pohon peneduh di mana mobil patroli Baskara terparkir.
Di sana, Baskara berdiri dengan gagah mengenakan seragam dinas harian cokelatnya. Tapi yang membuat darah Ziva mendidih bukanlah kegagahan pria itu, melainkan tiga orang gadis remaja berseragam SMA yang mengerubunginya. Salah satu dari mereka, yang rambutnya diikat kuda dan memakai rok yang dipendekkan, tampak sedang tertawa centil sambil menyodorkan ponselnya ke arah Baskara.
"Duh, Pak Polisi... foto bareng dong! Buat konten TikTok kita, Pak. Bapak ganteng banget sih, kayak oppa-oppa di drakor," suara melengking salah satu gadis itu terbawa angin sampai ke telinga Ziva.
Baskara tampak mencoba bersikap sopan namun tetap dengan wajah kakunya. "Maaf, Dek, saya sedang bertugas. Silakan kembali ke sekolah, jam pelajaran sudah mulai kan?"
"Bentar doang, Pak! Id IG-nya apa sih, Pak? Nanti kita tag!" timpal gadis yang lain sambil berani menyentuh lengan seragam Baskara.
Ziva merasakan panas yang bukan berasal dari matahari menjalar dari perut hingga ke ubun-ubunnya. Tangannya mengepal kuat. Entah sejak kapan, melihat "om-om pemaksa" itu disentuh oleh orang lain membuatnya merasa hak miliknya sedang diinjak-injak.
"Ziva? Mau ke mana?" teriak Nisa saat melihat Ziva tiba-tiba melesat maju dengan langkah lebar. "Ziva! Tunggu!"
Ziva tidak menghiraukan panggilan Nisa. Ia berjalan lurus layaknya banteng yang melihat kain merah. Dengan sengaja, ia mempercepat langkahnya dan—BRAK!—ia menabrakkan bahunya dengan cukup keras pada gadis SMA yang paling centil tadi hingga gadis itu terhuyung ke samping.
"Heh bocil! Lo ngapain ada di sini bukannya sekolah?!" bentak Ziva dengan nada tinggi yang sangat mengintimidasi.
Ketiga gadis SMA itu tersentak kaget. Mereka menatap Ziva dengan bingung sekaligus sebal. "Eh, Kakak siapa sih? Main tabrak-tabrak aja! Kita cuma mau minta foto kok!"
Ziva berkacak pinggang, ia berdiri tepat di depan Baskara, seolah-olah sedang membangun barikade manusia. "Minta foto? Lo liat jam nggak? Ini jam sepuluh pagi! Anak sekolah harusnya belajar di kelas, bukan malah genit-genitan sama petugas di kantor polisi! Lo mau gue laporin ke guru BK lo atas tuduhan bolos?!"
"Dih, galak banget sih Tante ini. Emang Kakak siapanya Pak Polisi ini? Kakaknya ya?" tanya salah satu bocil itu dengan nada meremehkan.
Ziva tertawa sinis, tawa yang penuh dengan racun. "Tante? Mata lo katarak ya? Gue istrinya! Paham?! I-S-T-R-I! Sekarang cabut dari sini sebelum gue borgol kalian satu-satu pake borgol suami gue!"
Mendengar kata "istri", ketiga gadis itu langsung pucat pasi. Mereka melirik ke arah Baskara yang hanya terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara terkejut dan mungkin... sedikit terhibur?
"Eh... maaf Kak, maaf Pak Polisi! Kita pergi sekarang!"
Ketiga bocil itu langsung lari terbirit-birit menuju gerbang keluar kantor polisi, meninggalkan Ziva yang masih napasnya memburu karena emosi.
Ziva berbalik dan langsung menatap Baskara dengan tatapan maut. "Lo juga! Ngapain diem aja digodain bocil-bocil itu? Seneng ya? Merasa awet muda?"
Baskara berdehem, ia mencoba menahan senyum tipis yang hampir muncul di bibirnya. Ia melihat betapa berantakannya rambut Ziva karena angin dan betapa merahnya wajah istrinya itu karena cemburu yang terang-terangan.
"Aku sudah suruh mereka pergi, Ziva. Tapi mereka keras kepala," jawab Baskara tenang. Ia melangkah maju, tangannya secara alami bergerak merapikan beberapa helai rambut Ziva yang menutupi wajahnya. "Kamu... sejak kapan sampai di sini?"
Ziva menepis tangan Baskara dengan kasar. "Baru aja! Dan untung gue dateng tepat waktu sebelum lo kasih nomor HP lo ke mereka!"
Nisa akhirnya sampai di tempat mereka dengan napas terengah-engah. "Ziva... ya ampun, kamu cepet banget jalannya. Mas Baskara, maaf ya, Ziva tadi..." Nisa melihat ekspresi Baskara dan kemudian melirik Ziva yang masih cemberut. Nisa langsung paham. "Ooh... ada yang cemburu nih?"
"Nggak! Siapa yang cemburu? Aku cuma nggak suka liat anak sekolah bolos, Kak!" bantah Ziva keras-keras.
Baskara menatap Nisa sekilas lalu kembali menatap Ziva. "Terima kasih sudah 'mengamankan' area parkir, Ziva. Sekarang, karena kamu sudah di sini, mau ikut ke dalam? Di ruangan tim ada AC, lebih dingin daripada di sini."
"Nggak mau! Gue mau pulang aja sama Kak Nisa!"
"Ziva, jangan gitu dong, aku kan mau ketemu Mas Arga dulu," bujuk Nisa sambil mengerlingkan mata ke arah Baskara.
Baskara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Ziva, mencegahnya untuk berbalik pergi. "Nisa, biar Ziva sama aku dulu sebentar. Arga ada di kantin belakang, kamu ke sana saja dulu."
Nisa tersenyum lebar. "Siap, Mas Bas! Ziva, aku tinggal ya! Semangat ya 'interogasi' suaminya!"
Ziva hanya bisa melotot saat Nisa meninggalkannya sendirian dengan Baskara di bawah pohon peneduh itu. Suasana mendadak menjadi canggung. Angin semilir meniup seragam Baskara yang rapi, sementara Ziva masih sibuk menenangkan detak jantungnya yang berisik.
"Kamu beneran marah?" tanya Baskara pelan.
"Pikir aja sendiri!" ketus Ziva. Ia mencoba melepaskan tangannya, namun Baskara justru menariknya sedikit lebih dekat.
"Aku nggak pernah kasih nomor HP-ku ke siapa pun, Ziva. Kecuali urusan dinas. Dan sejak ada kamu, aku rasa satu 'istri galak' di rumah sudah cukup buat bikin aku pusing, aku nggak butuh bocil-bocil itu," ucap Baskara dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.
Ziva mendongak, menatap mata Baskara yang kini tampak lebih lembut. Rasa marahnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa malu yang menjalar hingga ke telinga. Ia baru sadar betapa impulsifnya ia tadi mengaku sebagai istri Baskara di depan umum dengan suara lantang.
"Tadi... tadi gue cuma akting ya! Biar mereka kapok aja!" Ziva membela diri dengan sisa-sisa gengsinya.
"Iya, aku tahu. Akting kamu bagus banget, Ziv," goda Baskara. "Sampai-sampai semua polisi di gedung itu sekarang tahu kalau Inspektur Baskara punya istri yang sangat protektif."
Ziva ingin sekali menghilang dari bumi saat melihat beberapa rekan Baskara melambaikan tangan dari kejauhan sambil tertawa-tawa. Ia menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada seragam Baskara.
"Om-om nyebelin... benci banget gue sama lo," gumam Ziva pelan.
Baskara tertawa kecil, suara tawa yang tulus dan jarang terdengar. Ia membiarkan Ziva bersandar sejenak di dadanya, di bawah naungan pohon parkiran polres yang siang itu menjadi saksi bahwa barikade yang dibangun Ziva bukan lagi tentang kebencian, melainkan tentang rasa memiliki yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.