Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Semesta
Kepergian Arya ke Jakarta ternyata bukan akhir dari perjalanan dinasnya tahun ini. Tak lama setelah perselisihan panas di meja makan Menteng, sebuah surat perintah tugas (SPT) turun dari Mabes TNI. Kapten Pradipta Arya terpilih menjadi bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Perdamaian PBB yang akan dikirim ke Lebanon Selatan selama satu tahun.
Bagi Arya, tugas ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah prestasi luar biasa bagi karier militernya; di sisi lain, ini berarti ia akan terpisah ribuan kilometer dari Nina yang baru saja kehilangan ayahnya. Namun, bagi Nina, kabar ini justru menjadi suntikan kekuatan.
"Pergilah, Kak. Bawa nama baik Indonesia di sana," ucap Nina melalui sambungan telepon internasional suatu malam. Suara Nina terdengar tenang, meski ada getar kerinduan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Kakak khawatir meninggalkan kamu dan Ibu di Jogja, Nin. Apalagi setelah... kejadian di rumah kemarin," sahut Arya. Ia tidak menceritakan secara detail tentang kemurkaan Maminya, namun Nina cukup cerdas untuk menangkap nada bicara Arya yang berat.
"Jangan khawatirkan kami. Nina punya skripsi yang harus diselesaikan, Ibu punya jahitan yang menumpuk. Kami akan sangat sibuk sampai tidak sempat merasa sepi," canda Nina, mencoba meringankan beban di pundak perwiranya.
***
Bulan-bulan pertama Arya di Lebanon diisi dengan perbedaan waktu dan sinyal yang terkadang timbul tenggelam. Namun, teknologi menjadi jembatan bagi rasa yang tak mau padam. Setiap pagi di Lebanon—yang berarti siang hari di Yogyakarta—Arya selalu mengirimkan pesan singkat.
“Sudah bimbingan hari ini? Jangan lupa makan siang. Kakak baru saja selesai patroli, cuaca di sini mulai dingin.”
Pesan-pesan sederhana itu menjadi bahan bakar utama bagi Nina untuk menghadapi tumpukan literatur dan revisi skripsi yang melelahkan. Jurusan Seni Tari ISI Yogyakarta menuntut tidak hanya fisik yang prima untuk praktik, tapi juga ketajaman analisis untuk karya tulis. Nina mengambil judul yang sangat personal: "Transformasi Emosi Duka dalam Estetika Tari Tradisional Kontemporer". Sebuah kajian yang terinspirasi dari tariannya sendiri saat ayahnya tiada.
Setiap kali Nina merasa buntu atau lelah menghadapi coretan dosen pembimbing, ia akan melihat foto Arya yang mengenakan baret biru PBB. Sosok Arya yang tangguh di medan tugas seolah berbisik padanya bahwa menyerah bukanlah pilihan bagi seorang putri prajurit.
"Terima kasih sudah jadi penyemangat Nina, Kak," tulis Nina dalam salah satu pesannya.
"Kakak tidak melakukan apa-apa, Nin. Itu kerja kerasmu sendiri. Kakak hanya pengamat yang paling bangga padamu," balas Arya dari ribuan mil jauhnya.
***
Di rumah dinas Korem yang kini terasa lebih luas, Fatimah tetap menyibukkan diri dengan mesin jahitnya. Suara deru mesin jahit Singer tua itu menjadi musik harian yang menandakan kehidupan terus berputar. Meski uang pensiun bintara dari mendiang Hamdan sudah turun, Fatimah enggan berpangku tangan.
"Ibu tidak mau hanya duduk diam, Nin. Menjahit ini bukan cuma soal uang, tapi soal menjaga ingatan Ibu kalau Ayahmu dulu sangat bangga melihat Ibu produktif," ujar Fatimah saat Nina membantunya memotong pola kain.
Suatu malam, Arya menelepon dengan nada bicara yang sangat hati-hati. Ia tahu harga diri keluarga Nina sangat tinggi, namun nuraninya sebagai calon kepala keluarga mulai meronta.
"Nin, Kakak dapat tunjangan khusus selama penugasan di luar negeri. Kakak ingin... kalau kamu dan Ibu tidak keberatan, Kakak ingin mengirimkan sebagian untuk membantu biaya hidup atau tambahan modal usaha jahitan Ibu di Jogja," tawar Arya.
Nina terdiam sejenak. Ia menyentuh liontin sepatu balet di lehernya. Rasa haru menyeruak, namun akal sehat dan prinsipnya tetap tegak.
"Terima kasih banyak, Kak. Nina sangat menghargai niat baik Kak Arya. Tapi, mohon maaf, Nina dan Ibu belum bisa menerimanya," jawab Nina dengan lembut namun tegas.
"Kenapa? Kakak melakukannya dengan tulus, Nin. Kakak ingin memastikan kalian tidak kekurangan," Arya mencoba meyakinkan.
"Nina tahu Kakak tulus. Tapi Kak, Nina tidak mau hubungan kita dianggap sebagai hubungan yang berdasarkan asas manfaat. Nina ingin mendampingi Kakak karena Nina cinta, bukan karena Kakak adalah sumber keuangan kami. Selama tangan Nina masih bisa menari dan tangan Ibu masih bisa menjahit, kami ingin berdiri di atas kaki sendiri. Kakak simpan saja uang itu untuk masa depan... entah untuk apa nanti," pungkas Nina.
Arya di seberang sana hanya bisa menghela napas kagum. Inilah alasan mengapa ia rela menentang ibunya. Nina bukan sekadar cantik; ia memiliki integritas yang jarang ditemui. Ia adalah emas yang tidak butuh disepuh oleh kekayaan orang lain.
"Baiklah, Kakak mengalah. Tapi janji, kalau ada keadaan darurat, kamu harus bicara pada Kakak," pinta Arya.
"Siap, Komandan!" jawab Nina sambil tertawa kecil.
***
Memasuki semester akhir, beban keuangan memang sedikit terasa. Nina tidak mau terus-menerus mengandalkan hasil jahitan ibunya. Selain fokus pada skripsi, ia mulai mencari cara untuk menghasilkan uang sendiri.
Keberuntungan datang saat seorang pemilik sanggar tari ternama di Yogyakarta—yang pernah melihat penampilan Nina di Kepatihan—menawarinya posisi sebagai instruktur tamu untuk kelas anak-anak.
Maka, dimulailah babak baru dalam hidup Nina. Setiap sore, setelah berjam-jam berkutat dengan tumpukan buku di perpustakaan kampus, ia akan memacu motor matic-nya menuju sanggar.
Di sana, di sebuah ruangan luas dengan lantai kayu dan cermin besar, Nina menemukan kedamaian yang lain. Ia mengajar anak-anak kecil berusia lima hingga sepuluh tahun. Melihat wajah-wajah mungil yang antusias itu, Nina teringat pada dirinya sendiri saat pertama kali menari di asrama.
"Ayo, tangannya nyekiting, matanya fokus ke depan," instruksi Nina dengan sabar. Ia merapikan gerakan tangan seorang gadis kecil yang tampak kesulitan.
"Mbak Nina, nanti kalau aku sudah besar, aku bisa sehebat Mbak Nina nggak?" tanya salah satu muridnya yang paling mungil.
Nina berlutut, mensejajarkan tingginya dengan bocah itu, lalu tersenyum hangat. "Kamu akan jauh lebih hebat dari Mbak. Syaratnya cuma satu: jangan pernah berhenti menari, bahkan saat duniamu sedang hujan."
Mengajar tari memberikan Nina kepuasan batin sekaligus kemandirian finansial. Uang hasil mengajar itu ia gunakan untuk biaya cetak skripsi, membeli perlengkapan tari, dan sesekali membelikan ibunya makanan enak tanpa harus meminta.
Setiap pulang mengajar, dengan keringat yang masih menempel di dahi, Nina akan menceritakan kegiatannya pada Arya melalui pesan suara.
"Kak, hari ini murid-muridku lucu sekali. Ada yang menangis karena kakinya kesemutan, tapi langsung semangat lagi saat aku kasih permen. Rasanya capek skripsi langsung hilang kalau lihat mereka."
Arya biasanya akan membalas dengan rekaman suara juga, suaranya yang berat dan tenang selalu berhasil membuat Nina tidur nyenyak.
"Kamu hebat, Nin. Kamu bukan cuma penari, tapi sekarang kamu adalah guru. Teruslah melangkah. Kakak di sini selalu mengawasi dan mendoakanmu dari garis perbatasan."
Bab ini ditutup dengan pemandangan Nina yang duduk di teras rumahnya di bawah temaram lampu. Di pangkuannya ada laptop yang menyala dengan draf skripsi bab empat, sementara di telinganya terpasang earphone yang memutar rekaman suara Arya. Di sudut ruangan, ibunya masih asyik dengan jahitan terakhirnya untuk hari itu.
Nina menarik napas dalam, merasakan udara malam Jogja yang sejuk. Hidup memang penuh ujian, ayahnya telah tiada, dan kekasihnya berada di zona perang. Namun, di antara jahitan ibunya dan tarian anak-anak di sanggar, Nina tahu bahwa ia sedang membangun dunianya sendiri—dunia yang kuat, mandiri, dan penuh harapan, siap menyambut kepulangan Arya kapan pun takdir mengizinkan.