Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kericuhan antar saudara
"Hay adik-adik kecil kakak. Kalian apa kabar?" Tanya Nick saat masuk ke ruang keluarga dan melihat Nayra juga Nayla tampak begitu akur dengan berbincang perihal sekripsi
"Kak Nick?" Seru Nayra tampak begitu antusias melihat kedatangan sang kakak, Nayra yang hendak menghampiri Nick pun mengurungkan niatnya, karena di belakang Nick ada Nathan dan juga Nagara
"Akhirnya setelah satu bulan melalang buana di negeri asing dia balik juga" ucap Nayla berdiri dari duduknya, sedangkan Nayra masih ada rasa takut di tolak saat hendak ikut berdiri dari duduknya. Sehingga ia memilih tetap duduk dan hanya tersenyum ke arah Nick
"Kakak rindu kalian" ucap Nick memeluk Nayla dengan lembut
"Nay, kamu tidak ingin memeluk kakak seperti kak Ela mu memeluk kakak?" Tanya Nick menatap Nayra dengan dahi mengerut
"Sini" ajak Nayla yang sudah berada di pelukan Nick, Nayla tersenyum ke arah sang adik dengan lembut
"Apa boleh?" Tanya Nayra Ragu dengan menatap Nick dan kedua kakak lainnya yang berdiri di belakang Nick
"kau juga adik gue kocak, kenapa enggak boleh. Sini!" Seru Nick merentangkan tangan sebelah kiri, karena di tangan sebelah kanannya ada Nayla
"Kakak" lirih Nayra gegas menghamburkan tubuhnya ke pelukan sang kakak, ketiga nya berpelukan melepas rindu, sedangkan Nathan dan Naga hanya berdiri acuh tak acuh melihat interaksi ketiga saudara nya. Paper bag di tangannya juga tak kunjung ia letakkan ke meja, mereka seolah terpatung ingin bergabung untuk ikut berpelukan tapi rasa kesal dan benci terhadap Nayra masih menyelimuti diri mereka
"Ela, nih kakak beli buku buat menambah ide skripsi mu" potong Naga memecah keharmonisan antara Nick dan dua adik kembarnya
"Kakak juga beli banyak buku buat mu Ela" tambah Nathan membuat ketiga saudara yang masih berpelukan itu Gegas melepaskan pelukannya secara perlahan
"Terimakasih kak Naga, kak Athan!" Seru Nayla Gegas menghampiri kedua kakaknya antusias
"Buku buat Nay?" Tanya Nayla menatap kedua kakaknya secara bergantian
"Dia biar beli sendiri" jawab Nathan datar
"Kak, dia juga adik kalian, dia saudari kembar ku" sungut Nayla
"Aku tidak punya waktu" jawab Naga singkat
"Kak Naga, kau apa-apaan sih! kau enggak ingat pesan papa?" Tanya Nick menoleh ke arah Naga, Nayra menahan tubuh Nick yang hendak melangkah mendekati Naga
"Sudahlah masalah kecil enggak perlu di besar-besarkan juga kali" sengit Nathan sinis
"Athan! kau juga! Mau sampai kapan sih kau benci adik sendiri! Ingat. Mama meninggal itu karena takdir!" Seru Nick tampak kesal
"Takdir!" Sinis Nathan dengan tersenyum Sinis
"Kalau saja setelah melahirkan Nayla Mama tidak mengalami pendarahan post partum karena berat tubuh Nayra yang di atas normal Mama tidak meninggal kak, ini karena dia! 45 menit Mama pendarahan dan kesakitan! Mama berjuang melahirkan Nayra sampai mama meninggal. Lalu sekarang kau menyalahkan takdir!" Seru Nathan dengan rahang mengeras, tangannya mengepal. Mata nya merah menahan tangis sekaligus emosi
"Apa aku yang minta di lahirkan kak! Apa aku yang meminta mama meninggal?" Tanya Nayra dengan Terisak menatap Nathan penuh permohonan
"Apa salah kalau aku gemuk dalam kandungan kak? Itu bukan keinginan ku, it-" belum selesai Nayra berbicara Nathan buru-buru memotong ucapan nya
"Iya salah! Salah karena kau selalu merebut nutrisi milik Nayla, Nayla lahir dengan tubuh kurus, dan kau lahir dengan tubuh gemuk hingga membuat Mama pendarahan post partum!" Seru Nathan menatap Nayra tajam
"Kak! Kita hanya lah seorang bayi saat tumbuh di rahim mama secara bersamaan! Bayi mana yang tahu cara merebut nutrisi di dalam rahim! Jangan berlebihan deh kak!" Seru Nayla dengan berjalan untuk mendekap tubuh saudari kembarnya yang Terisak
"La! kau terlalu lembek! Saat di dalam rahim aja dia merebut nutrisi mu! Gimana kalau kedepannya dia merebut harta, pacar atau masa depan mu!" Seru Nathan menatap Nayla sinis
"Sudah!" Pekik Naga dengan suara menggelegar, Nagara yang merupakan pria tegas tanpa toleransi berhasil membuat keempat adiknya terdiam seketika
"Aku nyuruh kalian kumpul karena permintaan om Faisal, om Faisal mau menyampaikan pesan papa, bukan justru menyuruh kalian saling berdebat!" Seru Naga acuh tak acuh, Faisal sendiri merupakan asisten pribadi Lukas selama hidup
"Kak, kau saudara tertua kami, kau di luar sana terkenal sebagai pimpinan yang adil dan bijaksana, kau harus nya tunjukkin dong Sifat adil di rumah. kau atur dong adik-adik kita biar bisa akur seperti pesan papa sebelum meninggal" ucap Nick menatap Naga tajam
Nick menginjakkan kaki kanannya dengan keras ke lantai marmer, matanya membakar pandangan pada Nagara yang berdiri tegak di hadapannya. Suaranya bergema di ruang tamu megah itu, memecah kedamaian yang selama ini hanya jadi khayalan.
"JANGAN PERNAH BAWA-BAWA PAPA lagi!!"
Nathan melompat mendekat ke arah Nick, dadanya naik turun hebat. Bibirnya berdarah karena digigit sendiri terlalu kuat, dan matanya merah menyala karena amarah yang sudah menumpuk bertahun-tahun. "Bahkan saat Papa masih hidup, dia tidak pernah MENGANGGAP keberadaan Nayra ada di dunia ini! Papa MEMBENCI dia, karena kelahiran Nayra, Mama kita dicabut dari hidupnya! Papa kehilangan istri tercinta hanya karena sang bungsu yang lebih gemuk itu!"
"Kak Athan, TIDAK BENAR!"
Nayla berdiri tegap ke depan, tubuhnya bergetar menahan amarah namun tangannya tetap mengunci erat bahu Nayra yang sudah terengah-engah ketakutan. Air mata menyembur dari mata kedua gadis kembar itu bersamaan. "Di detik-detik terakhir nafas Papa, dia menyadari kesalahannya! Dia meraih tangan Nayra dan meminta maaf dengan suara bergetar! Papa bilang jangan pernah menyalahkan Nayra, dia pesan kita harus SALING MELINDUNGI, walau apa pun terjadi!"
"OTAKMU TERLALU DANGKAL, Than! Yang ada di dalamnya cuma dendam dan kebencian yang membusuk!"
Tanpa sadar, telapak tangan Nick sudah menghantam pipi kanan Nathan dengan kekuatan luar biasa. BUGH! Suara kerasnya membuat Nayla dan Nayra menjerit histeris.
"Kakak! TIDAKK!!" Pekik Nayra, tubuhnya menggoyang seperti kayu yang diterpa badai. Sementara Nayla langsung memeluk saudari kembarnya dengan erat, kedua wajah mereka memerah karena menangis dan takut yang meluap.
Sementara itu, Nathan tidak tinggal diam, dia menjawab pukulan itu dengan pukulan yang lebih keras ke rahang Nick. Dua orang lelaki kuat itu saling meraih kerah baju, tubuh mereka bergeser ke sana kemari, menyambar segala yang ada di sekitarnya. Vas bunga mahal terjatuh pecah, kaca berceceran di lantai yang bersih. Nagara mencoba memisahkan mereka dengan menggunakan seluruh kekuatannya, tapi kedua adiknya sama-sama kebakaran amarah dan tidak ada yang mau mundur sedikitpun.
"YA TUHAN MAS NATHAN, MAS NICK!!"
Bi Surti meneriakkan suara serak sambil menutup wajahnya, sementara pak Tarjo dengan cepat melesat ke tengah kerusuhan. Beberapa asisten rumah tangga yang menyelinap dari balik pintu hanya bisa berdiri kaku, tangan gemetar tak berani mendekat. Barulah dengan bantuan pak Tarjo, Nagara berhasil menarik Nathan menjauh, namun dalam amarahnya, dia menendang perut Nathan dengan keras hingga tubuh sang adik tersungkur ke lantai, wajahnya menyentuh pecahan kaca yang menusuk kulitnya.
"NICK!"
Nagara mendorong tubuh Nick dengan kekuatan yang membuatnya terpental ke dinding. Matanya yang biasanya tenang kini penuh dengan api kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Kamu yang lebih tua! seharusnya kamu yang berpikir jernih, bukan malah memicu kerusuhan!"
Saat itu pula, pintu besar ruang tamu terbuka dengan keras. Suara alas kaki kulit yang menginjak lantai membuat semua orang terhenti sejenak.
"Apa yang terjadi dengan kalian?"
Suara rendah namun tegas itu datang dari arah pintu. Faisal berdiri di sana dengan wajah serius, dan di belakangnya ada dua pria berpakaian jas hitam yang dikenal Nagara sebagai notaris terakhir yang menangani urusan Papa mereka. Pandangan mereka menyelimuti setiap sudut ruangan yang kini penuh dengan kekacauan.