NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GURU SEJATI

Tiga hari telah berlalu sejak insiden dengan Heuksim, agen Magyo itu.

Klan Namgung perlahan kembali normal—atau setidaknya, versi normal baru mereka. Para pelayan masih berbisik saat Namgung Jin lewat, tapi sekarang bisikannya berbeda. Bukan lagi ejekan, tapi rasa hormat bercampur rasa ingin tahu.

"Itu dia... Tuan Muda Jin..."

"Yang selamatkan Nyonya Kim..."

"Katanya, dia bisa melumpuhkan pendekar hanya dengan sentuhan..."

Namgung Jin berjalan melewati mereka tanpa menoleh. Omongan orang tidak penting. Yang penting adalah langkah selanjutnya.

Ia duduk di kamarnya, merenung.

Meridian keempat hampir terbuka. Dalam seminggu, ia akan memiliki naegong setara tiga tahun kultivasi normal. Masih sangat kecil, tapi cukup untuk menggunakan jurus-jurus dasar Kitab Sembilan Jurang.

Tapi itu bukan prioritas utamanya sekarang.

Prioritas utamanya adalah Heuksim dan Magyo.

"Mereka mencari Guru Sejati."

Ia tersenyum tipis. Ironis. Guru yang mereka cari ada di sini, dalam tubuh bocah enam belas tahun. Tapi tentu saja, tidak ada yang akan percaya jika ia bilang, "Hei, aku Cheon Ma-ryong yang asli, reinkarnasi setelah tiga ribu tahun."

Mereka akan mengira ia gila. Atau pembohong.

"Harus ada cara lain."

Cara untuk mengendalikan Magyo tanpa mengungkapkan identitas aslinya. Cara untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk melindungi klan ini, sekaligus membangun fondasi untuk balas dendam di masa depan.

Ia butuh informasi lebih banyak.

---

Malam harinya, ia mengirim kode pada Pemburu Kwon.

Mereka bertemu di gudang belakang—tempat yang sama di mana ia hampir mati beberapa minggu lalu. Ironis.

Pemburu Kwon datang dengan laporan baru. Wajahnya tegang.

"Tuan Muda, ada perkembangan."

"Bicara."

"Heuksim tidak pulang ke Magyo. Ia masih di sekitar sini, bersembunyi di desa terdekat. Dan ia tidak sendiri."

"Ada siapa lagi?"

"Dua orang. Dari penampilan mereka, kemungkinan besar algojo Magyo—pembunuh bayaran level tinggi." Pemburu Kwon menunduk. "Maaf, Tuan Muda. Aku tidak bisa mendekat untuk memastikan. Mereka terlalu kuat."

Namgung Jin mengangguk. "Kau sudah melakukan cukup."

Ia mengeluarkan kantong kecil berisi uang perak—upah untuk informan. Pemburu Kwon menerimanya dengan ragu.

"Tuan Muda, kau tidak perlu—"

"Upah adalah upah. Ambil."

Pria itu membungkuk, lalu pergi.

Namgung Jin duduk di gudang gelap, merenung.

"Dua algojo. Berarti Heuksim serius."

Magyo tidak akan mengirim algojo hanya untuk satu klan kecil. Pasti ada tujuan lain. Dan tujuan itu...

"Mencari Guru Sejati."

Ia harus bertemu Heuksim. Bukan untuk bertarung—itu bunuh diri dengan kondisinya saat ini. Tapi untuk berbicara. Untuk menguji seberapa jauh mereka tahu.

Tapi bagaimana caranya?

---

Dua hari kemudian, kesempatan datang.

Tetua Pyo memberitahu bahwa ada pasar malam di desa terdekat—pasar besar yang diadakan setiap bulan. Banyak orang dari berbagai daerah datang, termasuk kemungkinan para agen Magyo yang menyamar.

"Kau mau ikut?" tanya Tetua Pyo. "Mungkin kau butuh hiburan setelah semua ini."

"Aku bukan tipe orang yang butuh hiburan."

"Tapi kau butuh informasi." Tetua Pyo tersenyum tipis. "Di pasar malam, orang banyak bicara. Dan telinga kecil kadang menangkap hal-hal besar."

Namgung Jin memandang Tetua Pyo. Pria tua ini... semakin lama semakin cerdik. Mungkin memang pantas jadi tetua.

"Aku ikut."

---

Pasar malam di Desa Jangheung terletak sekitar setengah hari perjalanan dari Klan Namgung.

Namgung Jin pergi bersama Tetua Pyo dan beberapa pengawal—alasan resminya adalah "inspeksi wilayah". Tapi begitu sampai, mereka berpencar. Tetua Pyo pergi ke penginapan untuk bertemu kontaknya, sementara Namgung Jin berkeliling sendiri.

Pasar malam itu ramai. Ribuan orang dari berbagai penjuru datang berjualan atau membeli. Aroma makanan terbang, suara tawar-menawar, teriakan pedagang, dan tawa anak-anak bercampur menjadi satu.

Namgung Jin berjalan perlahan di antara kerumunan. Matanya bergerak konstan, mengamati setiap wajah, setiap gerak-gerik mencurigakan.

Dan ia menemukannya.

Di sudut pasar, di sebuah kedai kecil, duduk Heuksim. Pria itu sendirian, minum arak dengan wajah muram. Tanpa jubah hitam dan topi, ia tampak seperti pedagang biasa—kecuali bekas luka bakar di pipinya yang khas.

Namgung Jin tidak langsung mendekat. Ia duduk di kedai seberang, memesan teh, mengamati.

Satu jam berlalu. Heuksim tetap di tempatnya, minum. Dua gelas. Tiga gelas. Empat gelas. Ia mulai mabuk.

"Sekarang."

Namgung Jin berdiri, berjalan mendekat. Ia duduk di seberang Heuksim tanpa permisi.

"Heuksim-ssi."

Pria itu mendongak, mata merah karena alkohol. Lalu matanya membelalak.

"K-Kau?! Bocah sialan—"

"Diam." Suara Namgung Jin rendah, dingin. "Aku di sini bukan untuk bertarung. Tapi untuk bicara."

Heuksim menatapnya curiga. "Bicara? Apa yang mau kau bicarakan?"

"Guru Sejati."

Nama itu seperti sambaran petir. Heuksim langsung sadar, alkoholnya lenyap dalam sekejap.

"Apa kau tahu tentang itu?"

"Aku tahu lebih dari yang kau kira." Namgung Jin memanggil pelayan, memesan dua gelas arak. "Minum. Ini traktiranku."

Heuksim menatap arak itu, lalu menatap Namgung Jin. "Kau mau meracuniku?"

"Jika aku mau kau mati, kau sudah mati malam itu juga. Bukan dengan racun."

Argumen yang masuk akal. Heuksim mengambil gelas itu, meminumnya hati-hati. Tidak ada rasa aneh. Ia lega.

"Katakan, apa yang kau tahu?"

Namgung Jin menyesap tehnya—ia tidak minum arak. Tubuh ini masih terlalu lemah untuk alkohol.

"Magyo mencari Guru Sejati. Cheon Ma-ryong yang asli."

Heuksim terkejut. "Kau... kau tahu nama itu?"

"Semua orang tahu Cheon Ma-ryong."

"Tidak. Maksudku, kau tahu bahwa Guru Sejati adalah Cheon Ma-ryong? Itu rahasia tingkat tinggi."

Namgung Jin tersenyum. "Rahasia hanya rahasia jika tidak ada yang tahu."

Ia mencondongkan tubuh.

"Katakan padaku, Heuksim-ssi. Kenapa Magyo mencarinya? Bukankah dia sudah mati ribuan tahun lalu?"

Heuksim diam, bergumul dengan hatinya. Ini informasi rahasia. Tapi alkohol dan rasa penasaran membuatnya longgar.

"Ada... ada ramalan."

"Ramalan?"

"Dari Kitab Sembilan Jurang. Konon, di halaman terakhir, ada tulisan: 'Sang Iblis akan kembali saat dunia dalam kekacauan. Ia akan lahir kembali dalam tubuh yang lemah, tapi jiwanya tetap perkasa.'"

Jantung Namgung Jin berdetak kencang. Itu adalah kata-katanya sendiri—yang ia tulis tiga ribu tahun lalu, saat pertama kali menyempurnakan Hwasin.

"Magyo percaya bahwa ramalan itu akan terpenuhi. Dan tanda-tandanya... sudah mulai muncul."

"Tanda-tanda apa?"

"Bencana alam. Pergeseran kekuatan. Dan..." Heuksim menatapnya tajam. "...kemunculan orang-orang aneh dengan pengetahuan kuno."

Namgung Jin tidak bergeming. Tapi di dalam, ia waspada.

"Kau pikir aku salah satunya?"

"Kau tahu Samgyeolhyeol. Teknik yang hilang. Kau mengalahkan pendekar tanpa kekuatan. Kau menyelamatkan musuhmu." Heuksim tersenyum getir. "Itu tidak normal, bocah."

"Atau mungkin aku hanya pintar."

"Pintar?" Heuksim tertawa. "Kau lebih dari sekadar pintar. Kau... menakutkan."

Ia menuang arak lagi, meminumnya habis.

"Tapi sudahlah. Aku sudah terlalu banyak bicara. Cepat atau lambat, atasan akan mencarimu juga."

"Biarkan mereka datang."

Heuksim menatapnya heran. "Kau tidak takut?"

"Takut?" Namgung Jin tersenyum—senyum yang berbeda. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Heuksim-ssi, kau tahu apa yang paling ditakuti manusia?"

"Apa?"

"Bukan kematian. Bukan rasa sakit. Tapi ketidakpastian." Ia berdiri. "Dan aku... aku sudah tidak punya lagi yang tidak pasti."

Ia berbalik pergi.

"Tunggu!" Heuksim memanggil. "Kau tidak akan membunuhku? Melapor pada klanmu?"

"Untuk apa?" Namgung Jin menoleh. "Kau hanya pion kecil. Dan pion kecil tidak berbahaya."

Ia pergi, meninggalkan Heuksim yang tercengang.

---

Di perjalanan pulang, Tetua Pyo bertanya apa yang ia lakukan di pasar.

"Mencari informasi."

"Dapat?"

"Cukup."

Tetua Pyo tidak mendesak. Ia sudah belajar bahwa Namgung Jin hanya bicara jika mau.

Tapi malam itu, saat mereka beristirahat di penginapan, Namgung Jin menulis surat.

Surat itu pendek, hanya beberapa baris. Tapi isinya... berbahaya.

"Kepada Pemimpin Magyo,

Aku tahu kau mencari Guru Sejati. Aku tahu ramalan itu. Tapi kau mencari di tempat yang salah. Guru Sejati tidak akan muncul dengan sorak-sorai. Ia akan datang diam-diam, menguji, memilah yang layak dan tidak.

Jika kau benar-benar pengikutnya, buktikan. Tunjukkan bahwa Magyo masih layak disebut sekte iblis. Hancurkan musuh-musuh yang mengelilingi Klan Namgung. Jika kau berhasil, mungkin... mungkin ia akan muncul.

Dari seseorang yang tahu."

Ia memanggang lilin, menstempel surat itu. Lalu memanggil Pemburu Kwon.

"Kirim ini ke Heuksim. Pasti ia tahu cara menyampaikannya ke atasan."

Pemburu Kwon menerima surat itu dengan ragu. "Tuan Muda, ini... ini berbahaya."

"Aku tahu."

"Jika Magyo tahu kau yang menulis—"

"Mereka tidak akan tahu."

"Tapi—"

"Pergilah."

Pemburu Kwon menghela napas, lalu pergi.

Namgung Jin duduk sendirian, menatap lilin yang meleleh.

"Langkah kelima: mulai kendalikan Magyo dari bayang-bayang."

---

Seminggu kemudian, kabar datang.

Dua sekte kecil yang selama ini mengganggu perbatasan Klan Namgung—Sekte Macan Hitam dan Serikat Bayangan Malam—diserang habis-habisan. Markas mereka dibakar habis. Pemimpin mereka tewas dengan cara mengerikan—luka-luka yang persis seperti jurus khas Magyo.

Delapan Sekte Besar heboh. Mereka mengira ini serangan Magyo terhadap Murim. Tapi Namgung Jin tahu.

Ini adalah "tanda bakti" Magyo. Ujian yang ia minta.

"Mereka menggigit umpannya."

Ia tersenyum.

Sekarang, Magyo akan percaya bahwa "seseorang yang tahu" itu ada. Dan mereka akan terus mencari—sambil melakukan apa yang ia perintahkan.

Perlahan, ia akan mengendalikan mereka dari dalam, tanpa harus mengungkapkan identitasnya.

Tapi ada satu masalah.

Jika Magyo terus menyerang musuh Klan Namgung, Delapan Sekte Besar akan curiga. Mereka akan menyelidiki. Dan jika penyelidikan mengarah ke sini...

"Aku harus bergerak hati-hati."

Ia duduk bersila, memulai kultivasi malam.

Meridian kelima hampir terbuka. Kekuatannya bertambah.

"Tunggu aku, Mu-gi-ah. Aku akan segera menemuimu."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!