NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 7

Malam itu, Sektor Tujuh tidak pernah sesunyi ini. Kabar tentang "pertaruhan Mira" menyebar lebih cepat daripada aroma sampah di selokan saat hujan. Mira duduk di kursi plastik di teras rumahnya, dikelilingi oleh tumpukan KTP warga dan surat pernyataan kesediaan yang baru terisi sepertiganya.

"Kau terlalu berani, Mira," bisik ayahnya sambil meletakkan segelas teh hangat yang sudah mendingin. "Orang-orang seperti Romano tidak memberikan peluang karena mereka baik hati. Mereka memberikan peluang agar mereka punya alasan untuk menghancurkanmu lebih keras saat kau gagal."

Mira menengadah, menatap bayangan gedung Nusantara Group yang menjulang di kejauhan, lampunya berkelap-kelip seperti mata raksasa yang mengawasi. "Aku tahu, Yah. Tapi setidaknya sekarang aku tahu siapa musuhku yang sebenarnya. Arkan adalah pengecut yang bersembunyi di balik hukum, sementara Romano adalah monster yang jujur."

Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan gang—bukan SUV Romano, melainkan sebuah mobil box putih polos. Dua pria turun dan menurunkan beberapa peti kayu ke teras Mira.

"Dari Tuan Romano," ucap salah satu pria singkat sebelum pergi.

Mira membuka peti itu dan tertegun. Isinya bukan uang, melainkan ribuan brosur berkualitas tinggi yang berisi visualisasi proyek "Berdikari" versi Mira—lengkap dengan denah dapur komunal, area hijau, dan diagram pembagian hasil yang sangat mendetail. Di bagian paling bawah tumpukan, ada sebuah tablet dengan video simulasi 3D yang sangat profesional.

Romano tidak hanya memberinya waktu; dia memberinya senjata. Namun, Mira tahu ini adalah umpan.

Pagi harinya, Mira kembali ke lapangan. Ia tidak lagi mengenakan blazer hitam mahalnya. Ia memakai kemeja flanel tua dan celana jin, masuk ke setiap pintu, duduk di lantai bersama ibu-ibu pengupas bawang, dan menjelaskan kembali dengan bahasa yang mereka mengerti.

"Jika kita menyerah sekarang, anak-anak kita akan tetap menjadi buruh di gedung itu," tunjuk Mira ke arah menara Nusantara. "Tapi jika kita bertahan sebagai pemilik, mereka akan melihat kita sebagai rekan bisnis."

Satu per satu, tanda tangan mulai terkumpul. Namun, pada hari ke-sepuluh, sebuah sabotase terjadi.

Pasar kecil di tengah Sektor Tujuh terbakar hebat di dini hari. Isu menyebar bahwa kebakaran itu dipicu oleh anak buah Romano untuk menakut-nakuti warga yang belum menandatangani surat. Ketegangan memuncak. Warga yang awalnya mendukung kini berbalik marah, mendatangi rumah Mira dengan membawa obor dan amarah.

"Ini gara-gara kau, Mira! Kau membawa monster itu ke sini!" teriak seorang warga sambil melempar batu ke arah jendela rumah Mira. Prang! Kaca pecah berantakan.

Mira keluar dari pintu rumahnya, berdiri di teras tanpa pelindung. Di ujung gang, ia melihat mobil Romano terparkir. Pria itu keluar, bersandar pada pintunya sambil melipat tangan, memperhatikan kerusuhan itu dengan ekspresi datar yang dingin—seolah sedang menonton eksperimen laboratorium yang gagal.

Mira tidak menoleh pada Romano. Ia menatap warga. "Kalian pikir dia yang membakarnya? Lihat di sana!"

Mira menunjuk ke arah Arkan yang berdiri di sisi lain kerumunan, mencoba memprovokasi massa. "Arkan tahu jika pasar ini terbakar, kalian akan menyalahkan Romano dan membatalkan kesepakatan denganku. Dengan begitu, proyek ini macet, dan perusahaan Globalindo bisa masuk sebagai penyelamat. Dia menggunakan rumah kalian sebagai kayu bakar untuk ambisinya!"

Arkan mencoba mengelak, tapi Mira mengeluarkan tablet dari sakunya. "Aku punya rekaman CCTV dari toko kelontong depan pasar. Mau lihat siapa yang menyiram bensin pukul dua pagi tadi?"

Itu adalah gertakan. Mira tidak punya rekaman itu. Tapi ia bertaruh pada ketakutan Arkan.

Wajah Arkan memucat. Ia mencoba mundur, namun warga yang sudah tersulut emosi mulai mengepungnya. Di saat genting itu, Romano melangkah maju. Suara langkah sepatunya yang mantap membuat kerumunan itu perlahan tenang.

Romano berhenti tepat di samping Mira. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas jas mahalnya dan memberikannya pada Mira untuk menutupi bahunya yang gemetar karena amarah.

"Tujuh puluh persen, Mira," suara Romano terdengar berat di telinganya. "Kau punya sisa empat hari. Dan sekarang, kau juga punya pasar yang harus dibangun kembali."

Mira menatap Romano, mencari celah di balik mata obsesif itu. "Kau yang melakukannya? Memberitahuku tentang Arkan dan kebakaran ini?"

Romano tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Aku hanya memastikan panggungnya bersih agar kau bisa menunjukkan pertunjukan terbaikmu. Ingat perjanjian kita, Mira. Jangan buat aku kecewa, karena aku sudah menyiapkan mahar yang sangat mahal untuk kemenanganmu."

Mira mengepalkan tangannya di balik jas Romano yang masih terasa hangat. "Aku tidak butuh maharmu, Romano. Aku butuh kepalamu di atas meja direksi saat aku berhasil nanti."

"Aku akan menyiapkan mejanya," balas Romano sambil berbalik pergi, meninggalkan Mira di tengah-tengah warga yang mulai kembali tenang, menyadari bahwa gadis di depan mereka adalah satu-satunya harapan yang tersisa.

Empat hari terakhir terasa seperti perang saraf yang panjang. Mira hampir tidak tidur, menghabiskan waktunya di antara tumpukan puing pasar yang mulai dibersihkan secara swadaya dan meja kayu di teras rumahnya. Arkan telah menghilang, melarikan diri dari kemarahan warga, namun bayang-bayang pengkhianatannya justru menjadi perekat bagi penduduk Sektor Tujuh. Mereka sadar bahwa jika bukan pada Mira, mereka tidak punya tempat lagi untuk berpaling.

Malam sebelum tenggat waktu berakhir, Mira duduk di depan meja kerjanya. Di hadapannya, map emas itu kini tidak lagi terasa berat karena ancaman, melainkan karena tanggung jawab. Ia baru saja menandatangani lembar terakhir dari 72% persetujuan warga.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Ayahnya masuk dengan wajah cemas, membawa sepucuk surat tanpa pengirim. "Ini baru saja diletakkan di bawah pintu, Mira."

Mira membukanya. Isinya bukan ancaman, melainkan sebuah dokumen legal yang menyatakan bahwa Romano telah membeli seluruh hutang piutang ayah Mira dari para lintah darat yang selama ini menghantui mereka. Di bagian bawah tertulis catatan tangan: Hutang ini dianggap lunas jika kau melangkah masuk ke ruang rapat besok tanpa keraguan. Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar.

Mira meremas surat itu. Romano tidak sedang berbaik hati; dia sedang memotong semua tali yang bisa digunakan orang lain untuk mengendalikan Mira, hanya agar dia sendiri yang memegang kendali penuh.

Esok paginya, gedung Nusantara Group tampak lebih angkuh dari biasanya. Mira melangkah masuk ke ruang rapat dengan langkah yang mantap. Kali ini, ia tidak hanya membawa blazer hitam, tetapi juga sebuah tas kulit berisi tumpukan surat pernyataan asli dari warga Sektor Tujuh.

Keadaan di dalam ruangan sangat tegang. Para direktur sudah duduk di tempat mereka, termasuk direktur tua yang sebelumnya menghina Mira. Romano duduk di ujung meja, memutar-mutar pena mahalnya, menatap Mira dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding pertahanannya.

"Dua minggu telah berlalu," suara Romano bergema, dingin dan profesional. "Silakan, Mira. Tunjukkan apakah idealismemu itu bernilai investasi atau hanya sampah emosional."

Mira meletakkan tasnya di atas meja marmer dengan bunyi gedebuk yang keras. Ia mengeluarkan tumpukan dokumen itu satu per satu. "Tujuh puluh dua persen warga telah menandatangani kesediaan untuk bergabung dalam skema 'Berdikari'. Mereka bukan lagi hambatan, mereka adalah fondasi."

Ia menyalakan layar proyektor, menampilkan data yang ia susun selama malam-malam tanpa tidur. "Berdasarkan simulasi ini, dengan melibatkan warga sebagai pemasok rantai kuliner dan jasa pemeliharaan, kita memangkas biaya operasional sebesar 15% setiap tahunnya. Tidak ada biaya hukum untuk sengketa lahan, dan yang terpenting, nilai properti ini akan naik karena kita menciptakan destinasi wisata sosial yang unik di tengah kota."

Para direktur mulai berbisik-bisik. Mereka memeriksa dokumen itu dengan teliti.

"Ini gila," gumam si direktur tua. "Kau memberikan mereka saham, tapi kau juga membuat mereka bekerja untuk kita dengan loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan gaji biasa."

"Itu karena mereka merasa memiliki proyek ini, Tuan," balas Mira tenang.

Romano berdiri, berjalan perlahan menuju kursi Mira. Ruangan itu mendadak sunyi. Ia mengambil salah satu lembar persetujuan warga, melihat tanda tangan kasar di atas materai, lalu menatap Mira dengan senyum miring yang sulit diartikan.

"Dewan Direksi," ucap Romano, suaranya memenuhi ruangan. "Saya secara pribadi menjamin proyek ini dengan aset pribadi saya sebagai jaminan tambahan. Mira telah membuktikan nilainya."

Ia kemudian membungkuk sedikit, berbisik tepat di telinga Mira sementara tangannya menyentuh punggung kursi gadis itu secara posesif. "Kau menang, Sayang. Sektor Tujuh tetap berdiri. Dan seperti janjiku... tanah itu adalah maharmu."

Mira menoleh, menatap mata Romano dari jarak yang sangat dekat. "Dan seperti kataku, Romano... ini adalah awal dari jatuhnya sang raja. Aku tidak lagi bekerja untukmu. Dengan saham yang kau berikan pada warga, dan kuasa yang mereka berikan padaku, aku sekarang memegang kendali atas jantung proyek terbesarmu."

Romano justru tertawa rendah, sebuah bunyi penuh kemenangan yang ganjil. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku memilihmu. Aku lebih suka bertarung dengan seorang ratu di sampingku daripada memerintah atas sekumpulan budak yang membosankan."

Mira berdiri, mengambil map emasnya, dan berbalik untuk meninggalkan ruangan. Namun sebelum sampai di pintu, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Jangan lupa satu hal, Romano. Mahar itu diberikan kepada mempelai wanita, bukan kepada rekan bisnis. Jadi jangan harap aku akan masuk ke 'sangkar emas'-mu hanya karena tanah ini."

Mira melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan ruangan yang penuh dengan pria-pria berkuasa yang kini mulai menyadari bahwa dinamika kekuatan telah berubah selamanya. Di luar, matahari Jakarta bersinar terik, dan untuk pertama kalinya, Mira merasa udara itu benar-benar miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!