Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Lampu-lampu kristal di kamar pengantin kediaman Allen masih berpijar redup, membiaskan cahaya keemasan pada hamparan kelopak mawar yang menghiasi ranjang megah itu. Allen duduk bersandar di kepala tempat tidur, masih mengenakan jubah satin putihnya. Ia menatap pintu besar yang terkunci rapat dari dalam, menanti suara langkah kaki atau derit gagang pintu yang diputar.
Namun, satu jam berganti dua, dan keheningan di kamar itu justru semakin memekakkan telinga.
Di luar sana, di sebuah klub malam eksklusif yang tersembunyi di sudut gelap Berlin, Lucky Caleb sedang menenggelamkan dunianya ke dalam gelas-gelas wiski.
Asap cerutu melayang malas di udara, bergerak perlahan tertiup pendingin ruangan yang berdesis halus. Lucky menyandarkan kepalanya ke sofa kulit yang dingin.
Di hadapannya, Hans duduk membisu, sesekali menyesap minumannya sambil mengawasi sang bintang yang baru saja melepas status lajangnya dengan cara yang paling tragis.
"Hans..." suara Lucky terdengar serak, keluar di sela-sela napasnya yang berat. "Umumkan besok. Aku pensiun. Aku tidak mau lagi berdiri di bawah lampu sorot yang palsu itu."
Hans tertegun. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah takut suara benturan kaca akan menghancurkan suasana. "Pensiun, Luc? Kau sedang di puncak."
"Puncak yang sepi," Lucky tertawa getir, matanya menatap langit-langit klub dengan pandangan kosong. "Mari kita fokus saja pada bisnis otomotif yang kita bangun secara diam-diam selama ini. Aku ingin menghilang. Tapi sebelum itu... aku harus melakukan satu hal."
Lucky menegakkan duduknya, menatap Hans dengan binar mata yang mendadak tajam di balik pengaruh alkohol. "Buatkan aku rencana perjalanan ke Inggris. Malam ini juga. Tanpa Allen."
"Tapi dunia tahu kau harus berangkat bulan madu besok, Luc," protes Hans pelan.
"Maka berikan mereka apa yang mereka inginkan," desis Lucky. "Buat pengumuman bahwa kami berangkat bulan madu ke New York. Siapkan pengalih perhatian, siapkan tiket palsu atas nama kami berdua. Tapi aslinya... aku akan terbang ke London, lalu ke Oxford. Sendiri."
Hans terdiam cukup lama, menimbang risiko yang ada. Namun, melihat kehancuran di mata sahabatnya, ia akhirnya mengangguk. "Aku sudah melacak nomor yang mengirim pesan itu, Luc. Sinyalnya berasal dari sebuah perumahan elit di pinggiran Oxford. Kawasan yang sangat tertutup, bahkan untuk paparazi."
"Siapkan jetnya, Hans. Aku pergi sekarang."
Dini hari itu, sebuah mobil pribadi meluncur membelah kabut Berlin menuju bandara kecil yang tersembunyi.
Sementara media-media pagi sibuk menyiapkan tajuk utama tentang “Bulan Madu Mewah Sang Bintang ke Big Apple”, Lucky Caleb sedang melangkah masuk ke dalam kabin pesawat dengan langkah yang berat namun pasti. Ia meninggalkan istrinya yang masih tertidur dalam kesendirian, meninggalkan karier yang ia bangun dengan darah dan air mata, dan meninggalkan identitas lamanya di belakang.
Oxford, empat Belas Jam Kemudian.
Waktu seolah merambat lambat saat Lucky mengemudikan mobil sewaan melewati jalanan Oxford yang berbatu. Pepohonan besar di sisi jalan menggugurkan daun-daun cokelatnya, melayang jatuh satu per satu ke atas kap mobil, tertiup angin musim dingin yang lembut.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan rendah. Slow-motion. Lucky bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup lambat namun kuat di balik dadanya. Ia melewati gerbang perumahan elit yang dijaga ketat oleh pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Hans benar, tempat ini adalah benteng.
Pikirannya melayang pada pesan singkat itu. “Semoga kau menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan padamu. - F.M”. Setiap kata itu terasa seperti pisau yang diputar perlahan di jantungnya.
Ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah bergaya Georgian yang anggun. Dindingnya ditutupi oleh tanaman rambat yang mulai mengering. Di depan rumah itu, terdapat sebuah taman kecil yang asri dengan ayunan kayu yang bergerak perlahan tertiup angin, seolah baru saja ditinggalkan oleh seseorang.
Lucky mematikan mesin mobil. Kesunyian Oxford segera menyergapnya. Ia menurunkan kaca jendela, menghirup udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan pinus.
Tiba-tiba, pintu depan rumah itu terbuka.
Lucky menahan napas. Gerakannya terhenti total.
Dari balik pintu, muncul seorang anak laki-laki kecil mengenakan jaket duffle berwarna biru tua. Anak itu berlari kecil menuju halaman, mengejar sebuah bola sepak yang menggelinding perlahan di atas rumput.
Lucky terpaku. Waktu benar-benar berhenti berputar.
Ia melihat anak itu dari kejauhan. Rambut cokelat gelap yang sedikit berantakan karena angin... cara anak itu berlari... dan saat anak itu menoleh ke arah pagar untuk mengambil bolanya, Lucky merasa dunianya seolah meledak dalam keheningan.
Mata itu. Mata cokelat yang jernih, dengan tatapan yang persis menyerupai tatapannya sendiri di depan cermin setiap pagi.
Lalu, seorang wanita keluar dari rumah. Ia mengenakan trench coat panjang berwarna krem, rambutnya dibiarkan terurai ditiup angin Oxford. Ia tidak memakai masker. Ia adalah Freya Montgomery yang sesungguhnya. Ia berjalan perlahan mendekati anak itu, meletakkan tangannya di bahu sang bocah dengan penuh kasih sayang.
"Alistair, pelan-pelan sayang. Lantainya licin," suara itu... suara yang selama lima tahun ini menghantui mimpi-mimpi Lucky, kini terdengar nyata terbawa angin musim dingin.
Lucky mencengkeram setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang selama ini ia tahan sejak di altar Berlin kini jatuh tanpa permisi. Ia melihat wanita yang ia cintai membesarkan seorang anak yang adalah duplikat dirinya.
Di sana, di Oxford yang tenang, Freya sedang menjalani hidup yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Freya mendadak berhenti. Ia seolah merasakan sesuatu. Ia menatap ke arah jalanan, ke arah mobil dengan kaca gelap yang terparkir beberapa puluh meter dari gerbang rumahnya. Untuk sesaat, mata mereka seolah bertemu melalui kegelapan kaca mobil.
Lucky ingin keluar. Ia ingin berlari, memeluk Freya, dan menanyakan segalanya. Namun, bayangan cincin pernikahan di jarinya dan sumpah yang baru ia ucapkan di Berlin terasa seperti rantai yang mengikat kakinya. Ia adalah suami orang lain sekarang. Ia adalah pria yang sudah memilih untuk menyerah pada tuntutan keluarganya.
"Ayo masuk, Leo. Udara semakin dingin," ucap Freya lagi, suaranya sedikit bergetar, seolah ia pun merasakan kehadiran jiwa yang ia kenali.
Ia menuntun anak itu masuk ke dalam rumah. Pintu besar itu tertutup dengan suara yang berat.
Lucky masih di sana, di dalam mobilnya, menangis dalam kesunyian yang mencekam. Ia datang ke sini untuk mencari jawaban, namun ia justru menemukan sebuah kebenaran yang jauh lebih menyakitkan: ia telah membiarkan harta paling berharganya hidup sendirian selama lima tahun, sementara ia sibuk dengan panggung sandiwaranya.
"Anakku..." bisik Lucky parau. "Frey... maafkan aku."
Di kejauhan, lonceng gereja Oxford berdentang, menandakan waktu terus berjalan bagi dunia, namun bagi Lucky Caleb, waktu telah mati di depan rumah berpintu cokelat itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt