Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOBIL BERGOYANG
Hujan turun semakin deras malam itu.
Mobil Rico berhenti di parkiran yang hampir kosong. Mesin sudah dimatikan, lampu dashboard redup, dan kaca mobil mulai dipenuhi titik-titik air yang berkejaran turun. Dunia di luar terasa jauh—hanya lampu jalan yang samar dan suara hujan yang terus-menerus.
Tidak ada yang membuka pintu.
Anela menoleh.
“Kita harus masuk.”
Namun Rico hanya menatapnya. Tatapan yang sudah terlalu Anela kenal—tenang, tapi penuh niat.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Rico mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Anela. Sentuhan itu lembut, ibu jarinya menyusuri garis rahang Anela dengan pelan. Napas Anela langsung berubah, sedikit lebih dalam.
“Kenapa kamu lihat aku seperti itu…” bisik Anela.
Rico tidak menjawab. Ia hanya mendekat.
Cukup dekat sampai napas mereka bertemu.
Lalu ciuman itu datang.
Awalnya pelan—hampir ragu. Namun hanya dalam beberapa detik, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih hangat, membawa semua kerinduan yang selalu muncul setiap kali mereka akhirnya sendirian.
Anela menghela napas kecil ketika Rico menariknya sedikit lebih dekat di kursi mobil yang sempit. Tangannya mencengkeram jaket Rico tanpa sadar.
Hujan semakin keras menghantam kaca mobil.
Suara tetesannya menjadi latar bagi napas mereka yang mulai tidak teratur.
Anela sempat tertawa kecil di sela napas.
“Serius, Rico… kita di mobil.”
Rico tersenyum tipis di dekat bibirnya.
“Justru itu masalahnya.”
Tangannya melingkari pinggang Anela, menariknya lebih dekat. Ruang mobil yang sempit membuat tubuh mereka hampir tidak memiliki jarak lagi.
Rico menundukkan wajahnya.
Ciumannya berpindah ke leher Anela—pelan, hangat, membuat perempuan itu memejamkan mata sejenak.
“Rico…” bisiknya pelan.
Ada peringatan di sana, tapi juga sesuatu yang lain.
Rico berhenti sebentar, menatap wajah Anela yang sedikit memerah oleh suasana yang semakin panas.
“Kamu mau aku berhenti?” tanyanya rendah.
Anela menatapnya beberapa detik.
Lalu tangannya menarik kerah jaket Rico dan menciumnya lagi.
Jawaban tanpa kata.
Rico tertawa pelan di sela napasnya, seperti seseorang yang akhirnya menyerah pada apa yang sudah terlalu lama ia tahan.
Ciuman mereka kembali bertemu, lebih dalam.
Tangan Rico menyusuri punggung Anela dengan perlahan, memeluknya erat. Anela bersandar lebih dekat, membuat kursi mobil terasa semakin sempit.
"Buka, sayang!" perintah rico lembut.
"Apanya?" tanya Anela.
Rico tidak menjawab, hanya mengarhkan pandangannya ke bagian intim bawah Anela.
Anela mengerti dan segera menurunkan kain penutup bawahnya, Rico menikmati adegan sexy itu dan sejurus kemudia membuka paha Anela, tak sabar menancapkan miliknya.
rico menuntun Anela untuk duduk dipangkuannya, Anela menyambutnya, memainkan proses penyatuan itu dengan menggantungkan dirinya di atas Rico yang sudah sepenuhnya siap.
"tambah nakal kamu sayang, cepet masukin!" perintah Rico tak sabar.
Anela menurutinya, perlahan melakukan penyatuan. Kendali ada pada Anela yang berada di atas Rico.
Mobil itu sedikit bergoyang ketika mereka bergerak.
Hujan di luar semakin deras, seperti menutupi semua suara yang mungkin keluar dari dalam mobil.
Beberapa saat kemudian setelah keduanya berhasil mencapai puncak, mereka terdiam, napas masih berat.
Anela menyandarkan dahinya ke bahu Rico, tertawa kecil karena menyadari situasi mereka.
“Kita benar-benar gila.”
Rico mengusap rambutnya pelan.
“Mungkin.”
Anela menatapnya lagi.
“Kalau ada orang lewat?”
Rico tersenyum.
“Biar hujan yang menyembunyikan kita.”
Di luar, air hujan terus turun tanpa henti.
Dan di dalam mobil yang mulai berkabut itu, dunia terasa mengecil menjadi hanya mereka berdua—napas yang masih hangat, tawa kecil yang tertahan, dan kedekatan yang selalu membuat mereka lupa pada waktu.