NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pekerjaan ternyata bisa menjadi ruang penyiksaan yang paling lambat. Seminggu setelah pertemuan itu, tenggat waktu proyek besar memaksa kami berada di ruangan yang sama hingga jarum jam melewati angka sembilan malam.

Staf lain sudah pulang satu per satu, menyisakan deru AC dan bunyi ketikan kibor yang mengisi kesunyian di antara aku dan Baskara. Kami duduk berseberangan di meja panjang ruang kolaborasi.

"Data traffic bulan lalu sudah saya perbarui di folder bersama," ucapku memecah kesunyian. Suaraku terdengar serak, kontras dengan Baskara yang tampak masih segar dan fokus.

Ia hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. "Saya cek sebentar."

Suasana mendadak menjadi sangat canggung saat perutku berbunyi cukup nyaring. Aku merutuki diriku sendiri. Sejak siang aku memang belum sempat makan karena gugup harus berhadapan dengannya. Aku bersiap untuk mengabaikannya, namun gerakan tangan Baskara terhenti.

Tanpa suara, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti gandum serta sebotol air mineral. Ia mendorongnya ke arahku tanpa menoleh.

"Makan. Saya tidak mau pekerjaan ini terhambat karena kamu jatuh sakit," ucapnya dingin.

Hatiku mencelos. Perhatian itu—meski dibungkus dengan nada bicara yang datar—mengingatkanku pada Baskara yang dulu. Baskara yang selalu tahu kapan aku lapar bahkan sebelum aku mengucapkannya.

"Terima kasih, Bas," lirihku. Aku mengambil roti itu dengan tangan gemetar. "Kamu... masih suka bawa roti gandum?"

Baskara menghentikan ketikannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap mataku cukup lama. "Kebiasaan lama sulit hilang, Aruna. Tapi bukan berarti alasannya masih sama."

"Maksudmu?"

"Dulu aku menyediakannya untukmu. Sekarang? Aku menyediakannya untuk diriku sendiri agar tidak perlu membuang waktu keluar kantor," jawabnya telak.

Aku menelan ludah, rasa roti di mulutku mendadak terasa hambar. "Bas, soal setahun lalu... aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku jahat, aku tahu aku—"

"Berhenti, Aruna," potongnya cepat. Tatapannya kini tajam, menusuk tepat di ulu hatiku. "Jangan mengaduk genangan air yang sudah tenang. Kita di sini untuk profesional. Masa lalu itu sudah saya anggap sebagai biaya belajar yang sangat mahal."

Ia menutup laptopnya dengan suara keras, menandakan pembicaraan selesai. "Selesaikan bagianmu. Saya tunggu di email besok pagi jam delapan."

Baskara berdiri, menyampirkan tasnya, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Aku duduk terpaku di sana, memegang roti gandum pemberiannya yang kini terasa seperti bongkahan batu di tenggorokanku. Gema penyesalan itu kembali terdengar, lebih nyaring dari sebelumnya, mengingatkanku bahwa meski dia masih melakukan hal yang sama, hatinya sudah berada di tempat yang berbeda.

Aku masih terdiam di kursi itu beberapa menit setelah suara langkah kakinya menghilang di balik pintu kaca. Roti gandum di tanganku terasa dingin. Kata-katanya tentang "biaya belajar yang mahal" terus berputar di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.

Aku memutuskan untuk menyusulnya. Bukan untuk memohon, tapi setidaknya aku tidak ingin kami berakhir seburuk ini di hari pertama lembur. Aku menyambar tas dan berlari kecil menuju lift.

Beruntung, lampu indikator lift menunjukkan angka 22 dan pintu baru saja akan tertutup. Aku menahan pintu itu dengan tangan, napas terengah. Di dalam sana, Baskara berdiri tegak. Ia tidak terkejut melihatku, hanya mengerutkan kening tanda tidak suka.

Aku masuk dan berdiri di sudut terjauh darinya. Keheningan di dalam lift yang bergerak turun itu terasa lebih mencekik daripada di ruang rapat tadi.

"Bas," panggilku pelan, mataku lurus menatap angka lantai yang terus berkurang. "Perempuan yang waktu itu... di mall... apa dia alasanmu bisa secepat itu melupakan segalanya?"

Baskara tidak langsung menjawab. Ia justru mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang belum pernah kudengar darinya dulu. "Melupakan? Aruna, kamu terlalu percaya diri. Aku tidak melupakan, aku hanya belajar menghargai diriku sendiri."

Pintu lift terbuka di lantai lobi. Baskara melangkah keluar lebih dulu, namun ia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku. Di bawah lampu lobi yang terang, wajahnya tampak sangat lelah.

"Perempuan itu namanya Rasya Dia yang ada di sana saat aku hancur karena ulahmu. Dia yang tidak pernah mengabaikan pesanku meski sesibuk apa pun dia," ucapnya pelan namun tajam.

Tepat saat itu, sebuah mobil putih berhenti di depan lobi. Seorang wanita turun dengan senyum manis—wanita yang sama dengan yang kulihat setahun lalu. Dia melambaikan tangan ke arah Baskara.

"Bas! Maaf ya aku telat jemputnya," seru wanita itu.

Baskara menoleh ke arah wanita itu, dan sedetik kemudian, ekspresi dingin yang ia tunjukkan padaku menguap begitu saja. Ia tersenyum—senyum tulus yang dulu adalah milikku sepenuhnya.

"Nggak apa-apa, sya " jawab Baskara lembut.

Sebelum masuk ke mobil, Baskara sempat melirikku untuk terakhir kalinya. "Pulanglah, Aruna. Jangan biarkan gema masa lalu membuatmu tersesat lagi. Aku sudah menemukan rumah yang baru."

Mobil itu melaju pergi, meninggalkanku sendirian di lobi yang luas itu. Aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan malam ini: Dulu aku punya segalanya dari Baskara dan aku menyia-nyiakannya. Sekarang, aku menginginkan sedikit saja perhatiannya, tapi aku bahkan tidak punya hak untuk sekadar menyapa pacarnya.

Air mataku jatuh tanpa permisi. Gema penyesalan itu kini bukan lagi suara, melainkan rasa sesak yang membuatku sulit bernapas.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!