Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emas dan Debu
Rumah Type 36 di kawasan perumahan subsidi di pinggiran Bekasi itu tampak seperti oasis di tengah lautan genteng yang serupa. Meski kecil, terawat rapi. Cat tembok putihnya masih tampak bersih, pot-pot bunga anggrek dan lidah mertua menghiasi teras depan yang sempit. Ini adalah hasil jerih payah Arman dan Rani selama lima tahun terakhir, KPR yang menjadi kebanggaan sekaligus beban bulanan yang tak pernah absen.
Di dalam, Rani, 32 tahun, sedang berdiri di depan tripod ponselnya yang sederhana. Warung sembako kecil di bagian depan rumah sudah ia tutup dengan tirai terpal.
Sekarang, ruang tamu yang berfungsi ganda sebagai ruang keluarga adalah studionya. Ia mengenakan atasan tunik bermotif bunga berenda leher yang rapi, dipadukan dengan celana jeans ketat.
Rambutnya disanggul rapi, anting-anting emas bentuk bulat bergelanting di telinganya, dan beberapa gelang emas berdenting lembut di pergelangan tangan kirinya. Riasannya natural tapi detail; alis yang rapi, bedak yang menyamarkan bekas lelah, dan lipstik warna salmon yang membuatnya terlihat segar.
“Oke, untuk step yang terakhir, kita tambahin minyak zaitun sedikit, aduk-aduk lagi… gampang banget kan, Bunda-bunda? Sambal tempe krecek yang biasa, jadi lebih istimewa dan pasti disuka suami.
Jangan lupa like, share, dan subscribe ya. Komen juga pengen sambal apa lagi minggu depan!”
Dengan senyum lebar yang ia latih di depan cermin, Rani menekan tombol stop perekaman di aplikasi editing-nya.
Ekspresinya yang semula begitu bersemangat langsung luruh. Ia menghela napas panjang, mengusap pelan dahi yang mulai berkeringat.
Ponselnya yang ia gunakan untuk konten adalah ponsel lama Arman, dengan kamera depan yang sudah buram dan baterai yang boros. Tapi itu satu-satunya alat yang ia punya.
Ia segera membuka aplikasi TikTok dan YouTube Studio. Notifikasi yang ia harap-harap cemas—penambahan subscriber, likes yang melonjak, komentar positif—hanya segelintir.
Sebuah video masaknya mendapatkan 23 like, 5 komentar (satu di antaranya spam), dan 0 share. Di YouTube, subscribernya stuck di angka 347.
Hati Rani sesak. Ia melihat feed-nya sendiri, kemudian beralih melihat feed rekomendasi. Ada seorang ibu muda, dengan dapur yang luas dan berkilau, memasak menu yang mirip.
Videonya mendapatkan ribuan like. Rani melihat sekeliling dapurnya yang mini, dengan peralatan seadanya. Lalu, matanya tertuju pada gelang emas di tangannya. Ia mengusap-usapnya, seperti mencari kekuatan.
Emas-emas itu adalah kebanggaannya. Sebuah kalung dengan liontin rantai, sepasang gelang tangan, anting, dan cincin kawin yang lebih besar dari ukuran aslinya berkat tambahan rangkaian bunga.
Itu adalah hasil menyisihkan uang belanja sedikit demi sedikit, atau ‘upah’ dari Arman kalau ia berhasil menekan pengeluaran bulanan. Bagi Rani, emas bukan sekadar perhiasan. Itu adalah penyangga harga diri.
Bukti bahwa meski suaminya ‘hanya’ ojol, meski ia berjualan di rumah, mereka tidak melarat. Ia masih bisa tampil layak. Setiap kali pergi arisan komplek atau pertemuan POMG TK, ia selalu memakainya. Tatapan iri dari beberapa ibu yang suaminya karyawan, membuatnya merasa menang dalam pertarungan diam-diam itu.
Pukul sebelas lebih, suara motor familiar akhirnya terdengar. Arman memarkirkan motornya yang penuh debu di depan. Saat ia masuk, tubuhnya seperti menyeret beban yang tak terlihat. Jaket hijau aplikasinya ia gantungkan di kursi, baunya campuran keringat, asap knalpot, dan angin malam.
“Duh, baru pulang, Man? Capek ya?” sapa Rani, sudah berdiri dari depan laptop bututnya. Ekspresi lelahnya tadi sudah berganti dengan senyum penyambut. “Aku panasin nasi sama lauk. Ada ayam goreng sambal terasi. Mandi dulu?”
“Langsung makan aja. Capek,” jawab Arman pendek, melepas sepatu bootsnya yang sudah lapuk.
Rani segera beringsut ke dapur. Ia tak banyak bicara. Ia tahu isyarat itu. Ketika Arman berkata ‘capek’ dengan nada datar seperti itu, artinya hari itu berat, setoran pas-pasan, atau mungkin ada masalah dengan penumpang.
Ia menyiapkan nasi hangat, ayam goreng renyah, sambal terasi buatannya, dan lalapan mentimun di atas meja makan kecil. Segelas teh manis hangat juga sudah menunggu.
“Aldi udah tidur?” tanya Arman sambil menyendok nasi.
“Udah. Tadi nangis minta ditemenin bapaknya tidur, tapi ngantuk duluan. Bacain buku cerita tiga kali,” jawab Rani sambil duduk di seberangnya, memperhatikan suaminya makan. Matanya nanar. Ia ingin bercerita tentang ide konten baru, tentang komentar satu subscriber setia yang minta resep opor, tapi ia menahan diri.
“Tadi… dapet orderan banyak?” tanyanya hati-hati.
“Biasa aja. Macet dimana-mana. Dapat penumpang nyebelin juga,” gerutu Arman singkat, tanpa rincian.
Suasana hening, hanya terdengar suara kunyahan dan sendok yang berdentang di piring plastik. Rani memandangi Arman.
Kemeja biru mudanya yang ia setrika rapi pagi tadi, kini kusut dan basah di bagian punggung. Rambutnya yang sudah mulai menipis di bagian depan, berminyak. Ada kesedihan yang mengendap di matanya yang biasanya teduh.
Rani ingin mengusap punggungnya, menawarkan pijatan, tapi gerakannya terhenti. Sudah sering ia lakukan, dan Arman hanya diam, atau malah tidur lebih cepat. Seolah sentuhannya tak lagi berarti.
Setelah makan, Arman mandi cepat. Saat ia keluar, Rani sudah membereskan meja makan dan duduk kembali di depan laptop, membuka aplikasi editing dengan wajah penuh konsentrasi.
Arman meliriknya, melihat gelang emas di tangan istrinya berkilau diterangi lampu neon. Sebuah pikiran singkat, tajam, melintas: Duit buat beli emas itu kalo ditabung, mungkin bisa buat modal lain.
Tapi ia tak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan ke kamar, menengok Aldi yang sedang tidur pulas dengan boneka mobilnya. Wajah polos anaknya itu membuat dadanya sesak.
Ia keluar lagi, mengambil bungkus kopi sachet dan menuangkan air panas ke dalam gelas besar. Lalu, ia membuka pintu teras dan duduk di anak tangga paling atas.
Malam di perumahannya sepi. Hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing jauh. Angin malam berhembus pelan, membawa udara yang sedikit lebih dingin.
Arman menyeruput kopi pahitnya, menatap langit Jakarta di kejauhan yang tetap terang oleh polusi cahaya, walau bintang-bintang sudah tak terlihat.
Di keheningan itulah, semua pikiran yang ia tekan seharian, mulai bergemuruh.
Kenapa hidup gue… begini-begini aja?
Ia melihat ke dalam rumah melalui jendela.
Rani masih sibuk dengan ponselnya, alisnya berkerut. Dulu, waktu masih pacaran, Rani itu ceria. Selalu ada ide jalan-jalan murah meriah, tertawa melihat hal-hal sederhana. Ia juga penurut, selalu memujinya meski ia cuma karyawan toko elektronik yang gajinya pas-pasan. Rani bilang, yang penting jujur dan mau berusaha.
Sekarang? Usaha itu rasanya seperti lari di tempat. Narik ojol dari pagi sampai larut, hasilnya habis untuk cicilan rumah, listrik, air, susu Aldi, SPP, kebutuhan warung. Tidak ada sisa untuk ‘naik kelas’.
Dan Rani… Rani berubah. Bukan tidak baik. Ia tetap rajin, tetap memasakkan makanan, tetap jaga warung. Tapi obrolan mereka kini hanya seputar uang dan kebutuhan. “Man, listrik mau disetop,” “Man, uang kas RT belum bayar,” “Man, Aldi minta sepatu baru, yang lama sempit.”
Rani juga jadi lebih senang sendiri dengan dunianya: membuat konten yang menurut Arman tidak akan pernah menghasilkan, dan mengumpulkan emas yang ia pamerkan ke tetangga.
Di matanya sekarang, Rani adalah istri yang ‘begitu-begitu aja’. Tidak memberinya inspirasi, tidak membantunya melihat jalan keluar dari himpitan ekonomi. Ia hanya menjadi bagian dari rutinitas yang menjemukan.
Lalu, ingatannya melayang ke Budi. Ke senyum percaya diri temannya itu. “Istri pertama… istri kedua…” Dua sosok perempuan yang mendukungnya. Yang satu mungkin mengurus rumah tangga dengan sempurna, yang lain mungkin jadi partner bisnis yang cerdas.
Budi pulang ke rumah yang berbeda, dengan suasana yang berbeda, menghindari kejenuhan. Bukankah itu yang ia butuhkan? Sebuah perubahan? Sebuah penyegaran?
Arman membayangkan andai ia punya istri lagi. Seorang perempuan yang lebih muda mungkin, yang melihatnya dengan mata berbinar, bukan mata yang lelah dan penuh tuntutan.
Perempuan yang mengerti impiannya jadi pengusaha, yang bisa diajak diskusi, yang bisa memberinya semangat baru. Dan andai ia punya dua istri, mereka bisa saling membantu. Satu jaga warung dan Aldi, satu lagi bantu ia urus bisnis atau bahkan menghasilkan uang dari konten yang benar-benar menghasilkan. Mereka akan saling menyayangi seperti di foto Budi.
Kehidupan akan lebih ringan, lebih berwarna.
Ia menenggak kopinya yang sudah mulai dingin. Rasanya makin pahit.
Dari dalam, Rani berjalan menghampiri. Ia sudah mengganti baju dengan daster motif bunga yang sederhana. Tanpa riasan, wajahnya terlihat lebih tirus dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya.
“Masih ngopi? Udah larut, Man,” ucap Rani lembut. “Aku mau tidur dulu, besok pagi harus buka warung jam setengah enam, ada yang mau beli kopi sachet sama roti.”
“Iya. Gue masuk bentar lagi,” jawab Arman, tanpa menoleh.
Rani berdiri sebentar, seperti menunggu sesuatu. Mungkin sebuah pelukan, atau sekedar pertanyaan, “Loe juga capek, udah nontonin video loe?” Tapi tak ada yang datang. Ia akhirnya membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah, menutup pintu kaca teras pelan-pelan.
Dan di teras itu, Arman terus larut dalam imajinasinya. Ia membayangkan istri keduanya yang ideal: mungkin seorang janda muda yang mandiri, atau perempuan karir yang jenuh dengan kehidupan kantor dan ingin kehidupan rumah tangga yang sederhana namun penuh perhatian. Ia membayangkan bagaimana ia akan memperlakukan mereka dengan adil.
Mungkin ia bisa menyewa rumah kontrakan kecil yang murah di dekat sini. Rani pasti marah-marah dulu, tapi lama-lama akan menerima juga, seperti istri-istri poligami lain yang akhirnya bisa akur.
Dalam lamunannya yang semakin dalam, semua terasa mungkin. Masalah ekonomi? Nanti bisa dicari. Penolakan Rani? Nanti bisa dilunakkan. Ia bahkan merasa ini adalah sebuah ‘panggilan’ untuk memperbaiki hidupnya, seperti yang dikatakan Budi: memberkahkan rezeki.
Tiba-tiba, suara Aldi terbatuk-batuk dari dalam kamar membuyarkan khayalannya. Suara Rani yang setengah tertidur terdengar membujuk,
“Iya, Nak, minum ya…”
Realitas itu kembali, keras dan tak tergoyahkan. Ia masih di teras rumah KPR-nya yang cicilannya masih 15 tahun lagi.
Istrinya adalah Rani, perempuan yang ia kenal sejak lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan uang di dompetnya, mungkin cuma cukup untuk bensin besok dan membeli susu formula serta membayar kurangnya SPP.
Angin malam bertiup lebih kencang, menerbangkan debu dan sobekan plastik di jalanan sepi. Arman merasakan getar ponsel di saku celananya. Secara refleks ia mengeluarkannya, berharap ada notifikasi orderan tengah malam yang ajaib. Bukan. Itu hanya pengingat kalender: “Besok: Bayar Listrik – Estimasi Rp 450.000.”
Dia memandangi langit lagi, lalu menutup mata. Khayalan tentang istri kedua, tentang kehidupan bahagia ala Budi, masih tersisa seperti sisa rasa kopi di lidahnya: pahit, tapi membuatnya terjaga.
Namun, batu ujian yang sesungguhnya bukanlah di dalam pikirannya, melainkan di dunia nyata yang akan ia hadapi esok hari: mengejar setoran di tengah macet, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menghadapi kenyataan bahwa hidup yang ia jalani—dengan segala kekurangan dan kejenuhannya—adalah hidup yang harus ia pikul, seorang diri dengan satu istri, di atas garis batas yang nyaris tak terlihat antara bertahan dan… berkhayal.
Benih “andai saja” yang bertunas di babak pertama, kini mulai merambat di kegelapan, mencari celah untuk tumbuh, sementara akar kenyataan masih mencengkeram kuat di tanah kehidupan mereka yang sesungguhnya.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.