NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Siang hari itu rumah Kenzo terasa sangat sepi.

Dira duduk di sofa sambil menatap TV yang bahkan tidak benar-benar ia tonton. Kakinya bergoyang-goyang bosan.

“Bang Ken masih di kantor… aku di rumah terus,” gumamnya kesal.

Ia mengambil ponselnya lalu melemparkannya lagi ke sofa.

“Bosaaaan.”

Tiba-tiba suara mobil berhenti di depan rumah.

Dira mengerutkan kening. “Siapa sih?”

Ia berjalan ke jendela… lalu langsung mengenali mobil hitam itu.

“Om .. Elvan?”

Beberapa detik kemudian bel rumah berbunyi.

Dira membuka pintu.

Elvan berdiri di sana dengan jas rapi seperti biasa.

“Kamu siap?”

Dira bingung. “Siap apa?”

“Kita pergi.”

Dira langsung mengambil hoodie tanpa banyak berpikir.

“Yaudah. daripada aku mati bosan di rumah.”

Ia bahkan tidak tahu… ke mana mereka akan pergi. Yang penting ia tak kebosanan.

Mobil Elvan melaju cukup lama.

Dira duduk di kursi penumpang sambil melihat jalan.

“Kita mau ke mana om ?”

Elvan menjawab singkat. “Ada urusan.”

Dira menyipitkan mata.

“Urusan apa?”

Namun Elvan tidak menjawab lagi.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti. Dira menoleh ke luar jendela…

dan langsung membeku.

“...Gereja?”

Ia menoleh cepat ke Elvan. “Kita ngapain ke sini om?”

Elvan mematikan mesin mobil. “Turun.”

Dira mulai curiga.

“Om El… ini aneh.”

Namun Elvan sudah keluar dari mobil. Dengan ragu, Dira ikut turun

Begitu masuk ke dalam gereja…

Dira langsung melihat sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti.

Di depan altar sudah ada pendeta.

Dan di bangku depan…

Kenzo duduk di sana. Dira langsung melongo.

“BANG KEN?!”.

Kenzo menoleh dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Dir…”

Dira langsung menoleh ke Elvan dengan wajah panik.

“Jangan bilang—”

Elvan berkata tenang. “Ya. Kita menikah hari ini.”

Dira membeku beberapa detik. Bagaimana bisa? Menikah?....

Lalu tiba-tiba berbalik.

“AKU MAU PULANG!”

Ia mencoba berlari ke arah pintu gereja.

Namun sebelum sampai…

tangan Elvan sudah menarik lengannya dengan lembut tapi kuat.

“Tidak bisa.”

Dira menatapnya tidak percaya. “Ini gila om!”

Kenzo berdiri dari bangku sambil memegang kepala.

“El… aku masih merasa ini ide buruk.”

Dira langsung menunjuk Kenzo.

“BANG! Kamu juga masih setuju?!”

Kenzo menghela napas panjang.

“… tidak sepenuhnya juga....”

“LALU KENAPA ABANG DI SINI?!”

Kenzo menjawab lelah,

“Karena kalau kamu tetap keras kepala di luar sana, kamu bisa dalam bahaya lagi.”

Dira langsung menatap mereka berdua.

“Jadi solusi kalian adalah… MENIKAHKAN AKU?!”

Elvan mendekat sedikit. “Ini untuk melindungimu.”

Dira mundur selangkah. “Aku bahkan belum siap!”

Pendeta di depan altar berdehem pelan.

“Kalau boleh… kita bisa mulai ketika pengantin siap.”

Dira langsung menoleh.

“SAYA TIDAK SIAP!”

Kenzo menutup wajahnya dengan tangan.

Sementara Elvan… hanya menatap Dira dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu di matanya.

Keseriusan.

Dan juga… perasaan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

Hari itu… kehidupan Dira benar-benar akan berubah.

Di dalam gereja suasana masih tegang.

Dira berdiri beberapa langkah dari pintu, napasnya masih cepat setelah mencoba kabur.

Ia menatap Elvan dengan mata tidak percaya.

“Om serius mau nikah hari ini?!”

Elvan menjawab dengan tenang, “Iya.”

Dira langsung memegang kepalanya.

“Ini gila…”

Ia menoleh ke Kenzo yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Bang! Kamu bilang sesuatu dong!”

Kenzo menghela napas panjang. “Dir… dengar dulu.”

“Dengar apa?!”

Dira menunjuk Elvan dengan kesal.

“Dia bahkan nggak bilang apa-apa tiba-tiba bawa aku ke gereja!”

Elvan melangkah mendekat. “Aku sudah bilang sebelumnya.”

Dira langsung melotot.

“Itu aku kira om bercanda!”

Beberapa detik mereka saling diam.

Pendeta di depan altar bahkan terlihat sedikit canggung.

Elvan akhirnya berbicara lagi, kali ini suaranya lebih serius.

“Ini bukan keputusan mendadak.”

Dira mengerutkan kening.

“Lalu?”

Elvan menatap langsung ke matanya.

“Musuhku semakin dekat.”

Kenzo menambahkan pelan,

“Serangan ke rumah kita waktu itu bukan yang terakhir.”

Dira langsung terdiam.

Elvan melanjutkan,

“Kalau kamu berada di bawah perlindunganku secara resmi, mereka akan berpikir dua kali sebelum menyentuhmu.”

Dira masih terlihat ragu. “Tapi… menikah?”

Elvan mengangguk. “Ini cara paling cepat.”

Dira berjalan mondar-mandir di depan altar dengan frustasi.

“Aku masih sekolah!”

Kenzo menjawab,

“Statusmu tidak akan berubah sekarang. Kamu tetap sekolah seperti biasa.”

Dira berhenti berjalan. “Serius?”

Elvan mengangguk sedikit.

“Pernikahan ini hanya membuatmu lebih aman.”

Namun wajah Dira masih penuh konflik.

Gereja kembali sunyi.

Dira berdiri di tengah ruangan sambil menatap lantai. Beberapa detik terasa sangat lama. Kenzo akhirnya mendekat dan berdiri di samping adiknya.

“Dir.”

Dira menoleh. “Kenapa?”

Kenzo berkata pelan,

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memaksamu.”

Dira sedikit lega.

“Tapi…”

Kenzo menatap Elvan sebentar lalu kembali menatap Dira.

“Kalau ada orang yang bisa melindungimu… dia orangnya.”

Dira terdiam.

Ia menoleh ke arah Elvan yang masih berdiri tenang di dekat altar.

Tatapan pria itu tidak memaksa. Tapi jelas menunggu jawabannya.

Dira menggigit bibirnya pelan. “Kalau aku bilang tidak?”

Elvan menjawab jujur,

“Aku tetap akan melindungimu.”

Jawaban itu justru membuat hati Dira bergetar. Ia menghela napas panjang.

“Ya Tuhan…”

Lalu akhirnya berkata pelan,

“…aku bahkan tidak punya waktu buat dandan.”

Kenzo langsung tertawa kecil.

Sementara Elvan untuk pertama kalinya terlihat benar-benar tersenyum.

Pendeta berdehem lagi.

“Kalau begitu… apakah kita bisa melanjutkan upacaranya?”

Dira menatap Elvan dengan wajah masih setengah tidak percaya.

“Ini benar-benar terjadi ya…”

Elvan menjawab pelan, “Iya.”

" Serius aku bakal nikah hari ini?" batin dira

Dan beberapa menit kemudian…

pernikahan yang paling mendadak dalam hidup Dira akan dimulai.

Bersambung........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!