NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Dia yang Menolak Bersinar

Namaku Rafan.

Jika SMA Cendekia adalah sebuah kerajaan, mungkin orang-orang akan menyebutku sebagai pangeran mahkotanya. Bukan, aku tidak mengatakan ini karena sombong. Aku mengatakannya karena itulah yang terus-menerus didengungkan oleh orang-orang di sekitarku sejak hari pertama orientasi siswa.

"Pagi, Rafan! Kamu sudah siap buat tes pemetaan kelas hari ini?" "Rafan, aku dengar kamu dulu juara Olimpiade Fisika tingkat nasional ya pas SMP? Keren banget!" "Rafan, boleh minta tolong ajarin materi stoikiometri nanti istirahat?"

Aku berjalan menyusuri koridor lantai satu dengan senyum yang sudah kulatih: sopan, ramah, dan terbuka. Tapi jujur saja, otot pipiku mulai pegal.

Di tanganku ada tumpukan buku tebal—bukan untuk pamer, tapi karena aku memang suka membaca. Seragamku rapi tanpa satu lipatan pun yang salah. Rambutku disisir ke samping dengan gaya comma hair yang kata anak-anak perempuan sedang tren.

Duniaku penuh dengan cahaya sorotan. Juara umum sejak SD, pemegang medali emas olimpiade sains, ketua kelas, idola sekolah. Mereka bilang aku jenius. Mereka bilang aku tidak tertandingi.

Setiap kali mendengar pujian itu, rasanya aku ingin tertawa. Tertawa miris.

Kalian tidak tahu apa-apa, batinku. Kalian menyebutku jenius karena kalian belum melihat monster yang sebenarnya.

Aku berhenti sejenak di depan mading sekolah, pura-pura membaca pengumuman sambil menunggu seseorang. Di sekelilingku, bisik-bisik kekaguman masih terdengar. Tapi pikiranku melayang ke masa lalu. Ke seseorang yang seharusnya berdiri di sini, di tempatku berdiri, menerima semua pujian ini.

Callen.

Banyak orang di sekolah ini yang tidak tahu, atau mungkin tidak sadar, kalau aku dan Callen sebenarnya tumbuh bersama. Kami tetangga sejak bayi. Bahkan, kalau kami sedang berjalan berdampingan memakai kaos yang sama, orang sering mengira kami saudara kembar.

Postur tubuh kami sama tingginya. Struktur rahang kami mirip. Bentuk mata kami hampir identik.

Bedanya hanya satu: Aura.

Jika aku adalah matahari yang hangat dan disukai semua orang, Callen adalah bulan di malam mendung. Dingin, misterius, dan pucat.

Secara fisik, harus kuakui—dan ini sedikit melukai harga diriku sebagai laki-laki—Callen sebenarnya lebih tampan. Kulitnya yang putih bersih warisan ibunya yang berdarah Eropa membuat fitur wajahnya lebih tegas dibandingkan kulit sawo matangku. Tapi dia selalu menunduk, memakai jaket kebesaran, atau menyembunyikan wajahnya di balik buku komik, seolah dia ingin menghapus eksistensinya sendiri dari dunia.

"Eh, liat tuh. Itu si Callen kan? Yang masuk ranking 30 pas tes masuk?" "Iya, denger-denger dia sombong banget pas SMP. Nggak mau gaul." "Hahaha, modal tampang doang kali bule nyasar."

Samar-samar, aku mendengar bisikan sinis dari sekelompok siswa yang dulu satu SMP dengan kami. Mereka menatap ke arah pintu masuk koridor.

Aku mengepalkan tangan di dalam saku celana.

Bodoh, makiku dalam hati pada mereka. Kalian pikir dia ranking 30 karena dia bodoh? Dia ranking 30 karena dia MEMILIH untuk ada di sana.

Kalau Callen mau, dia bisa mengisi lembar jawaban ujian masuk itu dengan mata tertutup menggunakan tangan kiri, dan dia masih akan mendapat nilai sempurna. Aku tahu itu. Aku pernah melihatnya mengerjakan soal olimpiade fisikaku saat kami kelas 2 SMP—soal tingkat internasional yang membuatku pusing tujuh keliling—dan dia menyelesaikannya dalam lima menit di sobekan kertas bungkus gorengan. Hanya karena iseng.

Tapi bukan itu yang paling menakutkan dari Callen.

Ingatanku mundur ke tujuh tahun lalu. Saat kami masih berumur 9 tahun.

Ayah Callen adalah orang yang keras. Obsesif, mungkin kata yang lebih tepat. Dia ingin Callen menjadi manusia sempurna. Bukan hanya otak, tapi juga fisik. Sejak balita, Callen tidak diberi mainan. Dia diberi ensiklopedia dan barbel.

Umur 7 tahun, dia dipaksa ikut karate. Umur 9 tahun... aku tidak akan pernah melupakan hari itu.

Sebuah turnamen karate tingkat provinsi. Kategori umum dewasa. Pesertanya adalah mahasiswa dan orang-orang berumur 20-an tahun dengan sabuk hitam. Dan di sana, berdiri seorang bocah 9 tahun dengan tatapan kosong.

Callen kecil.

Dia bergerak seperti mesin pembunuh. Tidak ada emosi, tidak ada rasa takut. Dia mematahkan serangan lawan yang berat badannya tiga kali lipat darinya dengan teknik yang terlalu presisi untuk anak seumur itu. Dia juara. Dia membawa pulang piala itu dengan wajah datar, sementara tubuhnya penuh memar yang dia sembunyikan.

Masa kecil Callen adalah neraka yang dibungkus dengan pita emas prestasi. Tuntutan untuk menguasai segalanya—matematika, bahasa, bela diri, musik—membuat jiwanya lelah sebelum waktunya.

Itulah sebabnya, saat masuk SMA dan lepas dari tekanan ayahnya yang mulai sakit-sakitan, Callen berubah. Dia berhenti berusaha. Dia muak menjadi jenius. Dia ingin menjadi... biasa.

"Ngapain senyum-senyum sendiri?"

Suara datar yang khas itu membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh. Di sana, di tengah keramaian koridor yang bising, dia berdiri. Callen.

Dia baru saja datang. Tasnya disandanng hanya pada satu bahu, rambutnya sedikit berantakan seolah baru terkena angin ribut dengan kacamata bulat di wajahnya, dan wajahnya—seperti biasa—tanpa ekspresi. Dia terlihat sangat kontras denganku yang rapi jali. Tapi bagi siapa saja yang jeli melihat, kami seperti cerminan satu sama lain dalam versi dunia paralel.

Beberapa siswi yang tadi mengerubungiku menahan napas melihat Callen. Biarpun mereka tidak suka sikapnya yang tertutup, tidak ada yang bisa menolak fakta bahwa wajah campuran Indo-Eropa itu memang mempesona.

"Pagi, Cal," sapaku, tulus. Senyumku melebar, bukan senyum palsu untuk fans, tapi senyum untuk sahabat.

Callen hanya mendengus pelan, tapi aku tahu dia tidak marah. "Pagi, Raf. Masih betah jadi pajangan koridor?"

Aku tertawa kecil. "Seseorang harus menyambut rakyat jelata sepertimu, kan?"

Callen memutar bola matanya, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit. Hampir tak terlihat.

Kami berdua berjalan beriringan menuju kelas. Bahu kami sejajar. Langkah kaki kami senada.

Orang-orang melihatku dan berpikir: Itu Rafan, si jenius kebanggaan sekolah, sedang berbaik hati menemani teman masa kecilnya yang suram.

Tapi aku tahu kebenarannya.

Aku hanyalah seorang pekerja keras yang beruntung. Sedangkan dia... dia adalah monster yang sedang tertidur pulas. Dan aku berdoa, demi ego semua orang pintar di sekolah ini, semoga Callen tidak pernah memutuskan untuk bangun dan serius.

Karena kalau dia bangun, kami semua hanya akan terlihat seperti butiran debu.

"Gerbang depan rusak lagi sensornya," gumam Callen pelan saat kami menaiki tangga.

"Oh ya? Macet lagi?" tanyaku.

"Hm. Engselnya memuai. Harusnya ditendang dikit tadi."

Aku tersenyum miring. Tuh kan. Selalu begitu.

"Ayo masuk kelas, Tuan Jenius Rendahan," ledekku pelan.

Callen tidak menjawab, hanya melangkah malas masuk ke dalam ruang kelas X-A, kembali ke dalam bayang-bayang, tempat di mana dia merasa paling aman.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!