Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Realita Pagi Hari dan Sangkar Baru
Sinar matahari pagi yang terang benderang menembus masuk melalui celah gorden otomatis yang perlahan terbuka dengan suara mesin yang sangat halus. Cahaya itu menyilaukan mata, memaksa Nadin Kirana untuk menarik kesadarannya kembali dari alam mimpi yang pekat.
Nadin mengerang pelan saat mencoba mengubah posisi tidurnya. Seketika itu juga, rasa nyeri yang tajam dan pegal yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di bagian bawah perut dan pangkal pahanya. Otot-ototnya terasa kaku, seolah dia baru saja dipaksa berlari maraton tanpa henti.
Perlahan, ingatan tentang apa yang terjadi semalam kembali menghantam kepalanya bagaikan godam besi. Perjanjian di rumah sakit. Penthouse yang dingin. Tatapan lapar Gilang Mahendra. Dan bagaimana pria itu menaklukkannya di atas ranjang ini tanpa memberikan ampun sedikit pun. Gilang telah menghancurkan setiap dinding pertahanannya, memaksanya untuk tunduk pada ritme gairah yang kasar, menuntut, namun entah bagaimana membuat Nadin kehilangan akal sehatnya hingga menjelang subuh.
Nadin membuka matanya sepenuhnya. Dia menyadari bahwa dia sendirian di atas ranjang berukuran raksasa itu. Sprei sutra berwarna abu-abu gelap di sekitarnya terlihat sangat berantakan, menjadi saksi bisu atas pergumulan liar mereka semalam. Nadin menarik selimut tebal itu hingga menutupi dadanya yang telanjang, merapatkan kain itu ke tubuhnya seakan mencari perlindungan.
Suara langkah kaki yang pelan namun tegas terdengar dari arah ruang ganti pakaian. Nadin menoleh dan mendapati Gilang berjalan keluar dari sana.
Pria itu sudah berpakaian sangat rapi. Gilang mengenakan kemeja abu-abu muda yang lengannya digulung hingga sebatas siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang dijahit dengan sempurna. Rambutnya masih sedikit lembap sisa air mandi, disisir rapi ke belakang. Tidak ada sedikit pun jejak kelelahan di wajah pria itu. Gilang terlihat segar, berkuasa, dan sangat mendominasi, berbanding terbalik dengan kondisi Nadin yang saat ini merasa seperti kain lap yang habis diperas habis-habisan.
Gilang berhenti di samping ranjang. Dia mengancingkan jam tangan bertahtakan safir di pergelangan tangan kirinya sambil menatap Nadin dengan ekspresi datar yang tidak terbaca.
"Kau tidur terlalu lama," ucap Gilang memecah keheningan. Suara baritonnya terdengar dingin dan tajam, sama sekali tidak mencerminkan keintiman gila yang mereka bagi beberapa jam yang lalu.
Nadin menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih. Dia memaksa dirinya untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang yang berlapis beludru. Nadin menatap mata hitam pria itu tanpa gentar, meskipun jantungnya berdebar sangat kencang.
"Saya butuh istirahat setelah Anda memaksa saya terjaga semalaman, Tuan Mahendra," balas Nadin dengan nada sinis. Suaranya terdengar serak dan kering.
Sudut bibir Gilang berkedut membentuk seringai tipis yang hanya bertahan sedetik. Pria itu mengambil sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil dan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang masih tersegel dari dalam saku celananya, lalu melempar kedua benda itu ke atas kasur, tepat di samping kaki Nadin.
"Buka," perintah Gilang singkat.
Nadin menatap benda-benda itu dengan curiga sebelum akhirnya meraih kotak beludru hitam tersebut. Saat dia membukanya, sebuah kartu kredit berwarna hitam legam dengan logo bank internasional tergeletak di atas bantalan sutra. Nama Nadin Kirana tercetak dengan huruf timbul berwarna emas di bagian bawah kartu tersebut.
"Itu kartu tanpa batas limit. Kau bisa menggunakannya untuk membeli apa pun yang kau butuhkan. Pakaian, tas, sepatu, perawatan tubuh, apa pun," jelas Gilang sambil berjalan menuju nakas untuk mengambil dompet kulitnya. "Dan ponsel itu sudah dilengkapi dengan nomor baru. Nomor saya, nomor Dimas, dan nomor dokter yang menangani adikmu sudah tersimpan di dalamnya. Ponsel lamamu sudah saya suruh Dimas untuk membuangnya ke tempat sampah tadi pagi."
Mata Nadin membelalak. Tangannya mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhnya. "Anda membuang ponsel saya? Di sana ada banyak data penting, kontak teman-teman saya, dan foto-foto mendiang ibu saya!"
Gilang menoleh, menatap Nadin dengan pandangan mengintimidasi yang membuat Nadin seketika terdiam.
"Kau tidak punya teman lagi, Nadin. Rentenir yang mengejarmu sudah meneror semua temanmu dan mereka semua sudah memblokir nomormu. Kau juga sudah tidak punya pekerjaan," ucap Gilang dengan kejujuran yang brutal dan menyakitkan. "Mulai hari ini, hidupmu hanya berpusat pada dua hal. Adikmu, dan saya. Kau tidak membutuhkan masa lalumu lagi."
Nadin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya memanas oleh air mata kemarahan, namun dia menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh. Pria di depannya ini bukan hanya membeli tubuhnya, tetapi pria ini secara sistematis sedang mengisolasi dirinya dari seluruh dunia luar. Gilang sedang membangun tembok sangkar emas ini setinggi mungkin agar Nadin tidak bisa ke mana-mana.
"Adikmu sudah dipindahkan ke ruang VVIP lantai sepuluh tadi subuh," lanjut Gilang, mengalihkan topik pembicaraan seolah dia tidak peduli dengan kemarahan Nadin. "Profesor Lee dan timnya mendarat di Jakarta setengah jam yang lalu dan sedang menuju rumah sakit. Mereka akan langsung melakukan observasi prabedah hari ini."
Mendengar nama adiknya disebut, amarah di dada Nadin sedikit mereda, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Gilang benar-benar menepati janjinya. Pengorbanannya semalam membuahkan hasil yang nyata.
"Saya ingin menemuinya," ucap Nadin cepat, nada suaranya berubah menjadi permohonan.
"Silakan. Sopir pribadi dan dua pengawal sudah menunggumu di lobi bawah. Mereka akan mengantarmu ke rumah sakit dan menjagamu di sana," kata Gilang sambil memasukkan dompetnya ke dalam saku. Pria itu melangkah mendekati sisi ranjang tempat Nadin bersandar. Dia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di atas kasur, mengurung Nadin di antara kedua lengannya yang kokoh.
Wajah Gilang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nadin. Aroma parfum vetiver yang bercampur dengan wangi maskulin pria itu kembali menyerang indra penciuman Nadin, memicu ingatan sensorik tentang sentuhan panas Gilang semalam.
"Tapi ingat aturan mainnya, Nadin," bisik Gilang tepat di depan bibir Nadin. Matanya menatap tajam, memberikan peringatan mutlak. "Kau boleh mengunjungi adikmu. Kau boleh berjalan-jalan di mal untuk menghabiskan uangku. Tapi kau harus kembali ke penthouse ini sebelum jam tujuh malam. Jika kau terlambat satu menit saja, atau jika kau mencoba lari dari pengawalku, aku akan menghentikan semua pengobatan adikmu detik itu juga. Kau paham?"
Nadin menelan ludahnya yang terasa kering. Dia membalas tatapan tajam Gilang dan mengangguk pelan. "Saya paham."
"Gunakan suaramu."
"Saya paham, Gilang," desis Nadin dengan rahang mengeras.
Gilang tersenyum puas. Pria itu mengecup bibir Nadin sekilas, sebuah kecupan ringan yang terasa sangat aneh dan tidak pada tempatnya, sebelum akhirnya dia berdiri tegak.
"Saya akan pulang jam delapan malam. Pastikan kau sudah mandi, wangi, dan menungguku di ranjang ini saat saya kembali." Gilang membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar utama tanpa menoleh lagi.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu utama penthouse yang ditutup dengan rapat.
Nadin menghembuskan napas panjang yang sedari tadi dia tahan. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar. Dia telah membuat perjanjian dengan iblis, dan sekarang dia harus hidup di neraka yang diciptakan iblis itu untuknya.
Butuh waktu lima belas menit bagi Nadin untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaganya agar bisa beranjak dari ranjang. Dia memungut kemeja putihnya yang tergeletak di lantai marmer, memakainya asal-asalan, lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Saat Nadin berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandi, dia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat dan matanya masih menyisakan sedikit kelelahan. Namun yang paling membuatnya terpaku adalah kulit leher, bahu, dan area tulang selangkanya. Terdapat banyak sekali tanda kemerahan dan bercak keunguan di sana. Jejak-jejak kepemilikan yang sengaja ditinggalkan oleh Gilang Mahendra.
Nadin menghidupkan keran air panas dan masuk ke bawah pancuran. Air hangat yang mengguyur tubuhnya terasa sedikit perih saat mengenai bekas-bekas gigitan kecil di kulitnya. Sambil membersihkan diri, Nadin mensugesti otaknya berulang kali. Ini hanya transaksi. Ini hanya kontrak. Tiga tahun. Dia hanya perlu bertahan selama tiga tahun, dan setelah itu dia bisa membawa Arya pergi jauh dari kota ini.
Setelah selesai mandi, Nadin membuka lemari raksasa di kamar tersebut. Gilang benar, tidak ada satu pun barang lamanya di sini. Lemari itu penuh dengan gaun-gaun elegan, kemeja sutra, rok pensil, dan celana kulot dari desainer ternama. Nadin memilih sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru muda berbahan jatuh yang sangat lembut untuk menutupi lehernya yang penuh tanda kemerahan, dipadukan dengan celana bahan berwarna putih.
Nadin mengambil kartu hitam dan ponsel barunya dari atas nakas, memasukkannya ke dalam sebuah tas selempang kulit kecil yang dia ambil dari lemari, lalu berjalan keluar dari penthouse.
Saat pintu lift terbuka di lobi lantai dasar, Dimas sudah berdiri menunggunya bersama dua orang pria berbadan besar yang mengenakan jas hitam seragam.
"Selamat pagi, Nona Kirana," sapa Dimas dengan nada datar dan sopan. Pria itu sedikit membungkuk. "Mobil Anda sudah siap. Kami akan mengawal Anda menuju rumah sakit sekarang."
Nadin hanya mengangguk kaku. Dia berjalan mengikuti Dimas menuju sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam yang diparkir tepat di depan lobi. Dua pengawal tadi masuk ke dalam mobil lain yang berada di belakang mereka, bertugas sebagai mobil pengawal. Nadin benar-benar merasa seperti seorang tahanan bernilai tinggi yang sedang dipindahkan.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu empat puluh lima menit. Nadin menghabiskan waktu dengan melihat ke luar jendela kaca mobil yang gelap. Jalanan ibu kota sangat macet, dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk berangkat kerja untuk mencari nafkah. Kemarin, Nadin adalah bagian dari mereka. Pekerja keras yang memeras keringat demi mendapatkan gaji bulanan. Hari ini, dia duduk di jok kulit mewah seharga ratusan juta rupiah, menjadi wanita simpanan seorang konglomerat. Perbedaan nasib yang bergulir hanya dalam semalam itu terasa sangat tidak nyata.
Setibanya di rumah sakit, Nadin dikawal oleh Dimas dan dua pria berjas hitam menuju lift khusus yang mengarah langsung ke lantai sepuluh. Lantai ini adalah area VVIP yang memiliki keamanan sangat ketat. Lorongnya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Dindingnya dihiasi lukisan abstrak yang mahal, dan tidak ada bau karbol menyengat seperti di lantai dasar. Semuanya berbau wangi lavender yang menenangkan.
Dimas berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu jati yang tebal bertuliskan nomor 1001.
"Pasien ada di dalam, Nona. Profesor Lee dan timnya sedang melakukan observasi. Kami akan menunggu di luar," ucap Dimas sopan, namun posisinya dan kedua pengawal itu jelas memblokir akses ke mana pun selain ke dalam ruangan tersebut.
Nadin membuka pintu dengan tangan yang sedikit gemetar. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat langkahnya terhenti.
Ruangan itu sangat luas, lebih mirip seperti kamar hotel bintang lima daripada kamar rumah sakit. Terdapat sofa kulit yang nyaman, televisi layar datar berukuran besar, meja makan kecil, dan sebuah jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang pasien otomatis tercanggih tempat adiknya, Arya, terbaring lelap.
Tiga orang dokter yang mengenakan jas putih sedang berdiri mengelilingi ranjang Arya, berdiskusi dengan bahasa Inggris yang cepat. Dokter yang terlihat paling tua, dengan rambut beruban dan kacamata berbingkai tipis, menoleh saat mendengar pintu terbuka.
"Ah, Anda pasti Nona Kirana," sapa dokter tua itu dengan senyum ramah dan logat Singapura yang kental. Dia berjalan menghampiri Nadin. "Saya Profesor Lee. Tuan Mahendra sudah menghubungi saya secara pribadi mengenai kasus adik Anda."
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Nadin langsung, tidak memedulikan basa-basi. Kakinya melangkah mendekati ranjang adiknya.
Arya masih terlihat pucat, namun wajah adiknya itu tampak jauh lebih tenang dibandingkan kemarin malam. Mesin cuci darah yang besar dan menakutkan masih terpasang di samping ranjang, bekerja tanpa henti menyaring racun dari tubuh anak laki-laki berusia lima belas tahun tersebut.
"Kondisinya stabil saat ini. Kami sedang melakukan pemetaan jaringan untuk persiapan transplantasi," jelas Profesor Lee dengan nada optimis. "Tuan Mahendra telah memberikan akses tanpa batas kepada bank organ internasional untuk mencari donor ginjal yang cocok secepat mungkin. Dengan dana yang ada, saya yakin kita bisa menemukan donor dalam waktu kurang dari dua bulan. Selama masa tunggu, kami akan memberikan perawatan penunjang terbaik agar tubuhnya kuat menjalani operasi besar nanti."
Mendengar penjelasan itu, pertahanan Nadin runtuh. Dia mengusap wajah Arya yang dingin dengan sangat lembut. Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Nadin. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang menghimpit dadanya selama setengah tahun terakhir seolah terangkat sebagian. Adiknya akan selamat. Adiknya akan hidup.
Dan pada detik itu juga, Nadin menyadari dengan sepenuh hati bahwa dia tidak menyesali apa pun. Jika dia harus menjual tubuhnya kepada Gilang Mahendra seribu kali untuk melihat Arya bernapas dengan tenang seperti ini, dia akan melakukannya tanpa ragu.
"Nadin?"
Sebuah suara bariton yang lembut dan sangat familier terdengar dari arah pintu masuk. Nadin buru-buru menghapus air matanya dan menoleh.
Berdiri di ambang pintu adalah Dokter Adrian. Dia adalah dokter spesialis penyakit dalam muda yang selama ini menangani Arya sejak awal masuk rumah sakit. Adrian mengenakan kemeja biru muda yang dibalut jas putih kebesarannya, dengan stetoskop menggantung di lehernya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat ramah dan memancarkan aura kehangatan yang tulus.
Adrian berjalan masuk dengan raut wajah bingung sekaligus takjub melihat Profesor Lee dan fasilitas mewah di sekitarnya. Pandangan Adrian kemudian beralih menatap Nadin. Senyum ramah di wajah dokter muda itu perlahan memudar saat dia menyadari penampilan Nadin yang berubah drastis.
Adrian menatap kemeja sutra mahal yang dipakai Nadin, lalu matanya melirik ke arah dua pengawal berjas hitam yang berdiri tegap di luar pintu kaca. Terakhir, pandangan dokter muda itu tanpa sengaja menangkap sekilas tanda kemerahan yang mengintip dari balik kerah kemeja Nadin yang sedikit terbuka di bagian leher.
"Nadin," panggil Adrian lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan dan dipenuhi oleh nada kekhawatiran yang mendalam. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu semalam?"
Nadin terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang karena panik. Di bawah tatapan khawatir Adrian yang begitu tulus, Nadin merasa seolah semua dosa dan rahasia kotornya ditelanjangi di bawah cahaya terang. Dia menelan ludah, berusaha menyusun kebohongan terbaiknya, sadar bahwa mulai hari ini, dia harus hidup dalam tumpukan kepalsuan demi melindungi kesepakatannya dengan sang iblis.