NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: KEHILANGAN YANG TERENGGUT

Hujan turun sejak sore, tipis namun tidak berhenti, seperti langit yang tidak mampu menangis keras.

Paviliun itu berdiri jauh dari gedung utama—bangunan kecil bergaya Eropa yang dikelilingi taman sunyi. Lampu-lampu menyala hangat dari dalam, memantulkan cahaya ke genangan air di batu jalan. Tempat itu indah dengan cara yang membuat Melati semakin merasa tidak berada di tempatnya.

Kereta berhenti.

Pintu dibuka.

Melati tidak bertanya ke mana ia dibawa. Sejak jamuan malam itu, pertanyaan terasa seperti sesuatu yang tidak lagi memiliki ruang.

Willem menunggu di teras.

Ia tidak tersenyum.

Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu seperti permukaan air sebelum badai. Mata birunya tidak lagi sekadar menilai—ada sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang bercampur antara kemarahan dan ketakutan.

“Kau lama,” katanya.

Melati menunduk.

“Saya datang saat dipanggil.”

Jawaban itu biasanya membuat orang Belanda puas.

Tidak malam ini.

Willem berjalan mendekat. Sepatu botnya tidak keras, namun Melati tetap merasakan gema yang sama seperti pertama kali mereka bertemu.

“Edward berbicara padamu,” katanya.

Bukan pertanyaan.

Melati mengangguk kecil.

“Apa yang dia katakan?”

“Tidak banyak, Tuan.”

Willem menatapnya lama, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Dia suka mengambil apa yang bukan miliknya,” katanya pelan. “Aku tidak akan membiarkannya.”

Melati tidak mengerti sepenuhnya. Namun ia merasakan satu hal: ini bukan lagi tentang dirinya sebagai manusia.

Ini tentang kepemilikan.

Willem memberi isyarat.

“Masuk.”

Di dalam paviliun, semuanya terasa terlalu tenang.

Karpet tebal. Lukisan mahal. Aroma kayu dan anggur. Dunia yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah berlumpur atau suara kerja rodi.

Melati berdiri dekat pintu.

Willem membuka kancing jasnya perlahan, seolah mencoba mengatur napas.

“Kau takut padaku?” tanyanya tanpa menoleh.

Pertanyaan itu sederhana. Berat.

Melati menjawab jujur dengan cara yang aman.

“Saya takut membuat Tuan marah.”

Willem tertawa kecil, pahit.

“Semua orang takut membuatku marah. Tidak ada yang bertanya kenapa aku marah.”

Ia berbalik.

“Aku tidak suka dia melihatmu.”

Kalimat itu diucapkan seperti pengakuan dan peringatan sekaligus.

Melati menggenggam ujung kainnya.

“Saya tidak melakukan apa pun.”

“Aku tahu.” Willem mendekat satu langkah. “Itulah masalahnya. Kau tidak perlu melakukan apa pun untuk membuat orang ingin mengambilmu.”

Sunyi.

Hujan terdengar di atap kaca, ritmenya pelan, seperti jam yang menghitung sesuatu.

“Apa kau mengerti posisimu sekarang?” tanyanya.

Melati menunduk.

“Tidak sepenuhnya.”

Willem menatapnya lama.

“Kau menjadi sesuatu yang dilihat orang,” katanya. “Dan jika orang melihat… mereka akan mencoba memiliki.”

Melati merasakan kata itu lagi.

Memiliki.

Ia ingin berkata bahwa manusia tidak seharusnya dimiliki. Namun kata-kata itu tidak hidup di dunia mereka.

Willem mendekat lebih dekat. Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Justru itulah yang membuat napas Melati semakin pendek.

“Aku memilihmu lebih dulu,” katanya pelan. “Jangan lupa itu.”

Kalimat itu bukan romantis.

Itu klaim.

Melati menutup mata sesaat.

Di dalam dadanya, ada suara kecil yang ingin menolak, berlari, meminta pulang. Namun suara lain—yang lebih lama ia kenal—berbisik tentang keselamatan keluarga, tentang dunia yang tidak memberi pilihan.

“Tuan…” suaranya hampir tidak terdengar. “Saya tidak ingin menjadi masalah.”

Willem menyentuh dagunya, kali ini tanpa sarung tangan.

“Kau sudah menjadi masalah sejak aku melihatmu.”

Tidak ada kemarahan di suaranya. Hanya obsesi yang terasa sunyi.

“Aku tidak akan kehilangan sesuatu yang kupilih,” lanjutnya.

Melati merasakan air mata naik sebelum ia sempat menahannya.

“Apakah saya boleh pulang?” tanyanya pelan.

Pertanyaan sederhana yang memecah sesuatu di udara.

Willem terdiam.

Lalu sangat pelan, ia menggeleng.

Bukan kejam. Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang tidak terbiasa ditolak oleh dunia.

Hujan semakin deras.

Waktu terasa melambat menjadi potongan-potongan kecil: suara napas, detak jantung, kain yang bergesek, lampu yang bergetar.

Melati tidak melawan.

Itulah bagian yang paling tragis.

Ia diam seperti seseorang yang berdiri di hadapan gelombang besar dan tahu tubuhnya terlalu kecil. Penurut bukan karena tidak punya perasaan—tetapi karena hidupnya mengajarkan bahwa melawan sering membawa luka yang lebih luas dari dirinya sendiri.

Willem berbicara pelan, kata-kata yang bercampur antara pembenaran dan kebutuhan untuk percaya bahwa ia tidak sepenuhnya salah.

“Aku akan menjagamu.”

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.”

“Kau aman di sini.”

Kalimat-kalimat itu melayang seperti janji yang kehilangan bentuk.

Melati menatap lantai.

Di dalam hatinya, zikir berjalan tanpa suara. Bukan meminta keajaiban. Hanya meminta agar dirinya tidak hilang sepenuhnya di momen yang tidak ia pilih.

Lampu bergoyang pelan.

Dan malam bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.

Beberapa waktu kemudian, hujan masih turun.

Paviliun tetap hangat. Dunia tetap berjalan.

Namun bagi Melati, ada garis yang terlewati.

Ia duduk di tepi tempat tidur, kain sutra terasa berbeda di kulitnya. Bukan karena kain itu berubah—tetapi karena dirinya merasa berubah.

Willem berdiri di dekat jendela, membelakangi. Bahunya tegang, seolah kemenangan tidak membawa ketenangan yang ia bayangkan.

“Aku tidak menyakitimu,” katanya akhirnya, seperti mencari kepastian.

Melati tidak langsung menjawab.

Jawaban yang jujur tidak selalu bisa diucapkan.

“Saya mengerti,” katanya pelan.

Willem menutup mata sesaat.

Kalimat itu terdengar seperti penerimaan. Padahal itu kelelahan.

“Aku akan mengurus semuanya,” katanya. “Tidak ada yang akan mempermalukanmu.”

Melati mengangguk.

Namun rasa yang muncul bukan lega.

Hanya kosong.

Ia berdiri perlahan. Kakinya terasa jauh. Ia merapikan kainnya dengan gerakan mekanis, seperti seseorang yang mencoba kembali menjadi dirinya yang lama.

Willem menatapnya. Ada sesuatu di matanya—bukan penyesalan penuh, tetapi kesadaran samar bahwa sesuatu yang rapuh telah pecah.

“Kau membenciku?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat Melati berhenti.

Ia menoleh.

Dan untuk pertama kalinya Willem melihat betapa sunyinya mata seorang gadis yang baru kehilangan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa kekuasaan.

“Saya tidak berani,” kata Melati.

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebencian.

Kereta membawanya pulang menjelang dini hari.

Desa masih tidur. Hanya suara serangga dan sisa hujan di daun. Dunia tampak sama—dan terasa asing.

Ibunya membuka pintu dengan wajah cemas yang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dinamai saat melihat Melati.

Ibu tidak bertanya.

Ibu memeluk.

Dan pelukan itu membuat air mata Melati akhirnya jatuh tanpa suara.

Malam berikutnya, Melati kembali ke tikar salat.

Lampu kecil. Dinding sederhana. Tempat yang dulu selalu terasa aman.

Ia berdiri.

Takbir terasa berat.

Saat sujud, tangisnya pecah lebih keras dari malam-malam sebelumnya.

“Ya Allah…” bisiknya.

“Saya tidak tahu bagaimana membawa diri saya kembali…”

Ia merasa kotor—bukan karena tubuhnya, tetapi karena kehilangan pilihan. Karena sesuatu yang seharusnya datang bersama cinta berubah menjadi bagian dari permainan kekuasaan.

Zikirnya tersendat.

“Ampuni saya… jika saya lemah…”

Air mata membasahi tikar.

Di luar, fajar perlahan mendekat, tetapi di dalam dirinya malam masih panjang.

Melati tidak membenci Willem sepenuhnya. Itulah luka yang paling rumit. Ia melihat kesepian di mata lelaki itu, obsesi yang lahir dari dunia yang selalu memberi apa yang diminta.

Namun pemahaman tidak menghapus kehilangan.

Malam itu, Melati mengerti: ada hal yang tidak bisa dikembalikan, hanya bisa dibawa.

Dan seorang gadis desa, di bawah langit yang sama, belajar berdoa dengan hati yang retak—berharap Tuhan melihat bukan apa yang terjadi padanya, tetapi bagaimana ia mencoba tetap berdiri setelahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!