Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam ini suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.
Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas. Nara menutup buku catatannya perlahan, menghela napas pelan. Kepalanya sedikit pening setelah seharian kuliah dan menyelesaikan tugas praktik. Ia berjalan ke dapur, berniat membuat kopi, untuk dirinya sendiri.
Dua minggu tinggal di rumah Arkan, Nara sudah hafal letak segala sesuatu. Rak gelas, stoples kopi, sendok kecil, hingga cangkir favorit bosnya yang selalu diletakkan terpisah. Cangkir hitam polos, tanpa motif.
Saat air mulai mendidih, Nara melirik ke arah ruang tengah.
Arkan masih duduk di depan laptopnya.
Jas sudah dilepas, kemeja digulung hingga siku, ekspresinya serius, matanya fokus pada layar. Ia terlihat lelah, tapi tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan.
Nara ragu sejenak. Lalu ia mengambil satu cangkir lagi.
Arkan mendengar langkah kecil mendekat. Ia menoleh dan mendapati Nara berdiri canggung, membawa dua cangkir kopi. Aroma kopi hitam yang pekat menyebar pelan.
“Pak… ini kopinya,” kata Nara pelan.
Arkan mengangkat alis. “Kamu sudah paham selera kopi saya?”
Nara tersenyum kecil.
“Bapak selalu minum tanpa gula, sedikit pahit. Dan tidak terlalu panas.”
Arkan terdiam sesaat. Ia menerima cangkir dari Nara.
“Terima kasih.” kata Arkan.
Nara hendak pergi, namun Arkan menunjuk kursi di seberangnya.
“Duduk.”
Nara ragu, tapi menuruti.
Untuk beberapa menit, mereka hanya duduk diam.
Suara laptop. Denting sendok kecil. Dan dua cangkir kopi yang perlahan mendingin.
“Kamu tidak tidur?” tanya Arkan akhirnya.
“Biasanya saya tidur jam segini,” jawab Nara jujur. “Tapi kalau sudah menggambar atau menjahit, sering lupa waktu.” lanjut Nara.
Arkan mengangguk. “Kamu suka sekali dengan menggambar.”
Nara menatap kopinya.
“Satu-satunya hal yang tidak pernah membuat saya merasa bodoh.” Kalimat itu meluncur begitu saja.
Arkan menoleh. Nara tersenyum kecil, tapi matanya redup.
“Sejak sekolah, nilai saya selalu jelek, Pak,” kata Nara pelan.
“Orang-orang bilang saya tidak pintar. Bahkan orang tua saya sendiri.”
Arkan tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.
“Saya sudah terbiasa duduk di bangku paling belakang. Terbiasa dianggap tidak akan jadi apa-apa.” Nara menghela napas.
“Tapi setiap menggambar baju… saya merasa ada di tempat yang benar.” Tangannya menggenggam cangkir.
“Saat beasiswa itu datang, saya tahu orang tua saya tidak setuju. Tapi kalau saya tidak pergi waktu itu, mungkin saya akan menyesal seumur hidup.”
Arkan menatap Nara lama. “Jadi kamu berangkat sendiri?”
Nara mengangguk. “Modal nekat.” Nara tersenyum, getir tapi tenang.
Hening kembali menyelimuti mereka.
“Terima kasih,” kata Nara tiba-tiba.
Arkan mengernyit. “Untuk apa?”
“Untuk pekerjaan ini, Untuk tempat tinggal. Dan untuk makan gratis,” tambah Nara, sedikit malu.
Arkan mendengus pelan. “Kamu bekerja. Itu hakmu.”
Nara menggeleng, “Tidak semua orang mau memberi kesempatan pada orang seperti saya.”
“Kamu hanya menerima hak kamu” ujar Arkan akhirnya.
Nara tersenyum kecil, “Saya sudah terlalu sering ditolak, Pak. Jadi saya takut merepotkan.”
Arkan meneguk kopinya. “Kalau kamu butuh sesuatu, bilang.”
Nara menoleh cepat. “Tidak, Pak. Semua yang bapak berikan sudah cukup.”
Arkan tidak membantah. Ia hanya menyadari satu hal, gadis di hadapannya jauh lebih kuat dari yang terlihat.
Jam menunjukkan lewat tengah malam saat Arkan menutup laptopnya.
"Tidur, besok kuliah kan?,” kata Arkan.
Nara berdiri. “Selamat malam, Pak.”
“Selamat malam, Nara.”
Langkah Nara menjauh, meninggalkan aroma kopi dan sesuatu yang hangat di udara.
Arkan bersandar di sofa, menatap langit-langit rumahnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendiri.
Dan untuk pertama kalinya juga, ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang duduk di depannya malam itu.
Kopi tengah malam itu bukan sekadar minuman. Arkan merasa ini adalah perubahan hidupnya.
***
Sejak malam kopi bersama kopi waktu itu, ada kebiasaan baru yang lahir tanpa kesepakatan.
Arkan mulai pulang lebih awal. Bukan lebih santai, pekerjaannya tetap sama banyaknya, namun langkahnya kini memiliki tujuan. Rumah. Dan seseorang di dalamnya.
Nara juga menyadarinya. Percakapan kecil mulai sering terjadi. Tentang kampus. Tentang tugas. Tentang masakan. Tentang hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah Arkan bicarakan dengan siapa pun. Dunia yang tadinya berjalan sunyi, kini memiliki suara.
Dan semua itu bermula dari satu hal yang tidak sengaja.
Siang itu, Arkan pulang lebih awal karena rapat dibatalkan. Ia membuka pintu rumah dengan langkah ringan, lalu berhenti ketika melihat pintu ruang kerja kecil terbuka.
Nara tidak ada di rumah. Namun di meja kerja, tergeletak sebuah buku sketsa terbuka.
Arkan tidak berniat mengintip. Sungguh. Tapi satu halaman yang terbuka menahan langkahnya.
Sketsa gaun. Bukan sekadar gambar. Garisnya tegas, detailnya matang, proporsinya presisi. Ada sentuhan elegan yang tidak dibuat-buat. Bahkan permainan lipatan kain dan potongan bahu digambar dengan pemahaman yang jelas.
Arkan menelan ludah. Ia membalik satu halaman. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Setiap halaman terasa hidup. Sebagai pemilik perusahaan properti dan investor di dunia fashion, Arkan terlalu sering melihat desain. Ia tahu mana yang asal-asalan dan mana yang lahir dari bakat murni.
Dan milik Nara, bukan biasa.
“Ini…” gumam Arkan pelan.
"Ada konsep. Ada karakter. Ada potensi." kata Arkan pelan.
Arkan menutup buku itu perlahan, mengembalikannya ke posisi semula. Ia tidak ingin Nara merasa dia melanggar batas.
Namun satu hal sudah terpatri jelas di pikirannya yaitu gadis yang ada di rumahnya bukan sekadar berbakat. Ia memiliki masa depan.
Sore itu, Nara pulang kuliah dengan langkah ringan, namun berhenti mendadak saat melihat sepatu Arkan di rak.
"Pak Arkan di rumah?" batin Nara. Ia masuk dengan ragu.
“Pak?” panggil Nara pelan.
“Ke sini,” suara Arkan terdengar dari ruang tengah.
Nara mendekat dan mendapati Arkan duduk santai, tanpa laptop, tanpa jas. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat seperti orang biasa.
“Duduk,” kata Arkan singkat.
Nara menuruti, jantungnya berdebar tanpa sebab jelas.
“Kamu sudah satu bulan di sini,” ujar Arkan.
“Iya, Pak.”
“Dan ini waktunya kamu gajian.”
Nara terdiam. “Oh… iya, Pak.” jawab Nara akhirnya.
“Nomor rekeningmu?”
Nara menyebutkannya dengan suara pelan, masih merasa canggung membicarakan uang. Arkan langsung mengetik di ponselnya tanpa banyak bicara.
“Sudah.” kata Arkan.
“Terima kasih, Pak,” jawab Nara cepat.
Nara berdiri hendak pergi, tapi ponselnya bergetar.
Notifikasi masuk. Dan Nara tahu itu notifikasi uang masuk.
Nara menunduk, menatap ponselnya, lalu matanya membelalak.
“Pak…?” suaranya nyaris bergetar.
Arkan menoleh. “Ada masalah?”
“Ini… gajinya dua kali lipat.”
Arkan mengangguk ringan. “Saya tahu.”
“Tidak, Pak. Ini terlalu banyak. Saya tidak bisa—”
“Duduk.” perintah Arkan. Nada Arkan tenang, tapi tidak memberi ruang bantahan.
“Kamu bekerja dengan baik,” lanjutnya.
“Kamu tidak pernah absen. Tidak banyak bicara. Tidak menuntut.”
“Tapi—”
“Dan,” Arkan memotong, “kamu punya bakat.”
Nara membeku. “Apa maksud Bapak?” tanyanya pelan.
Arkan menatapnya dalam.
“Saya tidak sengaja melihat sketsamu.”
Wajah Nara memucat. “S-saya minta maaf kalau—”
“Tidak.” Arkan menggeleng. “Kamu tidak salah.”
Arkan terdiam sejenak sebelum melanjutkan,
“Kamu berbakat. Lebih dari yang kamu kira.”
Mata Nara berkaca-kaca. Tidak ada ejekan. Tidak ada keraguan. Tidak ada kalimat kamu tidak pintar.
“Uang itu bukan belas kasihan,” kata Arkan pelan. “Itu upah. Dan bentuk kepercayaan.”
Nara menggigit bibir, menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.
“Terima kasih, Pak,” katanya lirih.
Arkan mengangguk. Dan saat Nara melangkah pergi, Arkan menyadari satu hal lagi, memberi ruang bagi Nara untuk berkembang, memberi arti baru bagi hidupnya sendiri.
Dunia Arkan memang luas. Namun sejak Nara hadir, dunianya terasa lebih hidup.