Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kelahiran
Satu hari sebelum persalinan, Ratu mulai merasakan kram yang melonjak menusuk perutnya.
"Arion…" panggilnya lirih.
Raja Arion yang sejak beberapa hari terakhir hampir tak pernah meninggalkan kamar itu segera bangkit dari kursi di samping ranjang.
Ia memegang tangan istrinya dengan perhatian.
"Aku di sini," katanya, suaranya tenang meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
"Tarik nafas pelan. Lihat aku."
Chelyne mencoba menurut. Nafasnya tersengal, namun sentuhan suaminya membuatnya tidak benar-benar tenggelam dalam rasa pusing yang mengancam. Ia menutup mata sebentar, menahan agar tubuhnya rileks.
"Aku merasa ingin pingsan," gumamnya.
"Tidak," Arion menggeleng pelan, hampir seperti membantah takdir.
"Kau tidak sendirian. Kita sudah sampai sejauh ini."
Chelyne merasa ingin pingsan saat itu juga.
"Yang Mulia, tolong minumlah ini." Pelayan memberikan air hangat untuk menenangkan sang ratu.
Arian membantu istrinya minum air dengan perlahan, memastikan Chelyne tidak tersedak.
"Chelyne, aku mohon bertahanlah. Dua hari lagi kita akan melihat putri cantik yang persis sepertimu." Bisik Arion
Di ambang pintu, langkah-langkah kecil terdengar berlari.
"Ayah!"
Thaddeus muncul dengan rambut sedikit berantakan, matanya berbinar antara cemas dan tak sabar. Ia itu berdiri di sana, ragu untuk mendekat, seolah takut kehadirannya akan mengganggu sesuatu yang sakral.
"Ibu akan melahirkan hari ini?" tanyanya.
Arion tersenyum kecil, menepuk bahu putranya.
"Dua hari lagi" ujar Arion
"Jadi aku benar-benar akan punya adik?"
"Kau sudah menanyakannya setiap hari," jawab Arion, kali ini ada tawa ringan di suaranya.
"Karena aku menunggunya," sahut Thaddeus jujur.
"Aku minta adik perempuan, ayah dan ibu ingat kan?"
Chelyne membuka mata dan tersenyum lemah mendengar itu.
"Ibu ingat," katanya pelan.
"Dan kau harus menepati janjimu menjadi kakak laki-laki yang baik."
Thaddeus mengangguk, seolah itu yang paling penting untuk ia ucapkan.
...****************...
Hari pertama berlalu dengan rasa nyeri yang datang dan pergi. Para pelayan mondar-mandir dengan wajah tegang, namun perintah raja jelas tidak ada kepanikan. Chelyne dipapah, didudukkan, dibaringkan kembali.
Setiap kali rasa pusing datang, Arion ada di sana. Tidak sekalipun ia meninggalkan kamar.
Hari kedua, kontraksi semakin jelas. Chelyne menggenggam seprai, keringatnya membasahi rambut. Anehnya, di balik rasa sakit itu, ada ketenangan ganjil yang tak ia rasakan saat melahirkan Thaddeus lima tahun lalu.
Dulu, rasa nyeri seperti membelah tubuhnya. Kali ini, sakit itu masih ada, tapi tertahan, seolah ada sesuatu yang menahan beban terburuknya.
Kupu-kupu kaca masih terlihat, tetapi tidak lagi masuk ke kamar. Mereka berterbangan di luar jendela ruang istirahat ratu, sayap bening mereka berkilau saat matahari menyentuhnya.
Chelyne sempat memperhatikannya lama, dengan perasaan yang sulit dimengerti.
Hari ketiga, Arion tak menunda apa pun.
"Panggil mereka," perintahnya tegas.
"Empat bidan yang sama."
Para penjaga bergerak cepat. Nama-nama lama kembali disebut, perempuan-perempuan yang pernah membantu kelahiran Thaddeus lima tahun silam. Mereka datang dengan wajah serius, membawa peralatan yang telah lama disiapkan, seolah waktu hanya berhenti sebentar sebelum kembali berjalan.
Chelyne dibawa ke ruang persalinan Castle Castavia. Ruangan itu bersih, luas, dan sunyi, hanya suara nafas dan langkah kaki yang terdengar. Arion tetap di sisinya, meski beberapa bidan sempat ragu.
"Tuan..." salah satu bidan membuka suara dengan hati-hati.
"Aku tidak akan ke mana-mana," potong Arion. Tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan keberatan apa pun.
Persalinan dimulai. Chelyne menggenggam tangan suaminya kuat-kuat. Nafasnya teratur, wajahnya pucat, tapi matanya terbuka penuh kesadaran. Ia merasakan sakit itu, jelas dan nyata, namun tidak sekejam yang ia ingat. Tidak ada teriakan panik, hanya erangan tertahan dan perintah pelan dari para bidan.
"Sedikit lagi, Yang Mulia."
Arion membisikkan kata-kata penguat yang bahkan ia sendiri tak yakin dari mana datangnya. Ia tidak melihat raja atau ratu di ruangan itu. Yang ada hanya seorang laki-laki yang menolak melepaskan tangan istrinya.
Tangisan bayi akhirnya terdengar. Chelyne terisak lega. Tubuhnya gemetar, air mata bercampur keringat. Arion menghela nafas panjang lega.
"Dia lahir," bisiknya.
Bayi itu dibersihkan, dibungkus kain lembut. Rambutnya terlihat jelas, berwarna coklat, sama seperti Arion. Matanya masih terpejam, wajahnya merah muda, tangisnya perlahan mereda.
Dua jam berlalu sebelum bayi itu akhirnya diserahkan ke dada Chelyne.
"Perempuan," ujar salah satu bidan pelan.
Arion tersenyum lebar.
"Thaddeus akan senang."
Chelyne menatap bayi itu lama. Ada kebahagiaan, tentu saja, tapi juga perasaan asing yang menyelinap tanpa permisi.
Saat itulah bayi itu membuka mata, pasutri itu terkejut. Mata sebelah kanan berwarna biru langit dan mata sebelah kiri berwarna hazel. Gadis itu heterochromia sama seperti ayahnya.
Ruangan persalinan seketika terasa tegang. Arion terdiam sambil jantungnya berdetak keras, bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang bercampur rasa bangga yang tak sempat ia sembunyikan.
Ia pernah melihat pantulan mata itu setiap pagi di cermin.
"Dia... mirip aku," gumamnya.
Namun Chelyne tidak ikut tersenyum.
Dadanya terasa mengencang. Ingatan tentang mitos lama, tentang bisikan neneknya, tentang kupu-kupu kaca yang hari ini tidak masuk ke ruangan, semuanya bertabrakan di kepalanya.
Menurut cerita lama kerajaan, jika anak laki-laki yang menurunkan genetik heterocrhomia maka akan dianggap baik tapi jika perempuan, akan dianggap membawa sial.
Di ruang persalinan, para pelayan perempuan mulai berbisik. Suara-suara kecil yang mencoba ditahan tapi tetap lolos dari celah-celah ketegangan.
Justru Thaddeus lah yang mirip dengan Chelyne, berambut pirang dan bermata biru. Ia tidak mewarisi genetik dari ayahnya.
Jadinya pewarisan genetik ini berbanding terbalik. Anak laki-laki mengikuti genetik ibu dan anak perempuan mereka mengikuti genetik ayah.
"Cukup!"
Suara Arion memotong semuanya. Tegas. Dinginnya membuat siapa pun menunduk.
"Tidak ada satu pun kata keluar dari ruangan ini."
Grace Claw, pelayan setia castle berdiri di antara para pelayan. Wajahnya pucat, matanya membesar sesaat sebelum kembali tertunduk. Ia terkejut, benar-benar terkejut, namun tidak berkata apa-apa.
Para bidan saling berpandangan. Mereka tahu mitos itu. Semua orang tahu.
Heterochromia adalah warisan keluarga kerajaan. Pada laki-laki, ia dianggap tanda keberuntungan. Pada perempuan, pertanda buruk. Dan selama bertahun-tahun, tidak pernah sekalipun bayi perempuan dengan mata seperti itu lahir.
Hingga hari ini, kesenjangan terjadi. Apa yang membuat bayi perempuan mengidap heterochromia yang harusnya diturunkan ke anak laki-laki.
"Berita ini dirahasiakan," ujar Arion. " Dari siapa pun."
Tidak ada yang membantah.
"Baik, tuan." Jawab pelayan.
"Grace, tolong siapkan tempat tidur bayi dikamar kami. Jika ada yang bertanya bilang saja perempuan. Jangan berkata apapun selain memberitahu jenis kelamin" ujar Arian pada pelayan Garce.
"Baik tuan, dimengerti." Ujarnya tanpa bantahan.
Di luar, kupu-kupu kaca tetap berterbangan, sayap bening mereka memantulkan cahaya. Kupu-kupu itu tidak masuk saat persalinan, hanya berterbangan disisi luar castle.
Chelyne memeluk putrinya erat-erat. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak kehamilan itu dimulai, ia merasa takut.