Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Jangan Racuni Aku!
Fasha menelan ludah. Nama Harlan bergema jelas di telinganya, membuat jantungnya menegang seketika.
Nama itu tidak mungkin salah.
'Bukankah itu ayah dari tokoh utama dalam novel Menjadi Kaya Setelah Menikahi Pria Kaya?'
'Dan juga… bajingan terbesar dalam seluruh cerita itu.'
“Tidak mungkin…” gumam Fasha lirih, tenggorokannya terasa kering. “Aku… masuk ke tubuh Fasha Madeline?”
Ingatan tentang alur cerita itu mengalir deras di kepalanya, begitu jelas seolah baru saja ia baca ulang.
Harlan berselingkuh tak lama setelah menikah dengan ibunya, anak haramnya hanya setahun lebih muda darinya.
Tiga bulan setelah ibu Fasha meninggal, wanita simpanan dan anak itu pindah ke rumah keluarga mereka, hidup nyaman seolah merekalah keluarga yang sah.
Sementara Fasha sendiri… hidupnya berubah menjadi neraka.
Sering dikurung di lemari, dipukuli, bahkan ayah kandungnya sendiri ikut menutup mata—atau lebih tepatnya, ikut memukul.
Fasha menggertakkan gigi.
'Dalam novel itu… Fasha hanya figuran yang mengenaskan,' pikirnya. 'Tokoh utamanya malah adik tiriku. Hidupnya bahagia, kaya, dapat pria bangsawan… sementara aku dibuang seperti sampah.'
Dan akhirnya mati tenggelam di kolam.
Tak ada yang peduli. Tak ada yang mencari.
Fasha menutup matanya, dadanya terasa sesak, 'Kenapa aku harus masuk ke karakter seperti ini…'
Ia tiba-tiba teringat bagaimana semalam ia mengamuk setelah membaca update terbaru.
Sander Carter—penjahat favoritnya—mati ditabrak truk. Jasadnya bahkan tidak utuh, dan baru ditemukan setelah sebagian tubuhnya digerogoti anjing liar.
“Penulisnya benar-benar keterlaluan,” gumamnya dengan suara bergetar. “Aku sampai nulis makian dua ribu kata”
Setelah itu ia menenggak sebotol cola dingin dalam keadaan emosi.
Dan sekarang…
'Hebat. Aku malah bangun di dalam novel.'
Ia tertawa hambar, lalu tiba-tiba merasa hidungnya perih. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
Tubuh ini memang mudah menangis, dan sekarang ia bahkan tidak punya tenaga untuk menahannya.
“Ini keterlaluan…” bisiknya.
Belum sempat ia menenangkan diri, selimut di tubuhnya tiba-tiba ditarik kasar.
“Apa kau masih mau berpura-pura sakit?” suara pria itu terdengar dingin dan penuh amarah.
Fasha tersentak.
“Jangan!” serunya refleks.
Pergelangan tangannya dicengkeram kuat, rasa sakit langsung menjalar sampai ke bahu.
“Sakit… lepaskan aku!” Fasha meronta, menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong pria itu.
Dorongan itu membuat Harlan kehilangan keseimbangan dan menabrak wanita di belakangnya.
“Ah!”
Mangkuk obat jatuh ke lantai dan pecah berantakan.
“Aduh! Sakit!” wanita itu menjerit, wajahnya langsung berubah pucat lalu merah karena marah.
Ia berpegangan pada bahu Harlan, lalu menatap Fasha dengan penuh kebencian.
“Dasar anak tak tahu diri! Apa yang kau lakukan, hah?!”
Gaun putihnya kini ternodai, dan darah tampak mengalir dari lengannya.
“Kau pikir bisa lolos begitu saja?” geramnya. Tangannya meraih vas di meja samping. “Kau benar-benar cari mati!”
“Jangan—!”
Namun vas itu sudah dilempar.
Fasha menarik selimut untuk melindungi dirinya. Vas menghantam dinding dengan suara keras.
Tanpa menunggu kesempatan kedua, Fasha melompat turun dari ranjang. Dengan kaki telanjang, ia berlari ke kamar mandi.
“Berhenti! Kembali ke sini!” bentak Harlan.
Pintu dibanting keras.
Klik.
Fasha mengunci pintu dan bersandar di sana, napasnya terengah-engah.
Jantungnya berdegup begitu kencang sampai telinganya berdenging.
Beberapa detik kemudian, suara gedoran terdengar dari luar.
“Buka pintunya!”
“Jangan sembunyi, dasar anak sialan!”
Fasha perlahan merosot ke lantai, tubuhnya gemetar. Ia menunduk, menarik ujung piyamanya yang compang-camping.
Lengan dan kakinya penuh memar.
Ia mengangkat bajunya sedikit dan melihat punggungnya di cermin.
Napasnya tercekat.
Luka-luka ungu kemerahan membentang jelas. Beberapa tampak masih baru.
“Ini… bukan cuma sekali dua kali,” bisiknya lirih.
Dadanya terasa perih, bukan hanya karena sakit, tapi juga karena kenyataan yang tak bisa dihindari.
Ia benar-benar telah masuk ke dalam hidup Fasha.
Dan hidup itu… jauh lebih kejam daripada yang tertulis di halaman novel.